
Keadaan di rutan, rumah tahanan negara, tidak jauh berbeda. Mamanya Dika terguguk dan terus mengelengkan kepalanya. Menyadari semua kesalahan yang sudah dia lakukan selama ini.
Bahkan, di saat dirinya sudah berada di dalam penjara sekalipun, dia belum juga menyadari. Bahkan memupuk rasa benci dan dendam setiap harinya.
Di saat anak semata wayangnya juga dalam keadaan tidak berdaya, dia tetap belum sadar juga.
Tapi kini, melihat dan mengetahui ada anak-anak yang jauh di bawah umur nya, memiliki kebesaran jiwa dengan memaafkan. Juga mau merawat anaknya yang sudah ada diantara hidup dan mati, mamanya Dika barulah menyadari semua kesalahan yang dia lakukan selama ini.
Sungguh miris. Karena dia baru sadar, di saat semuanya hampir terlambat. Karena bisa dipastikan, suaminya juga akan menyusulnya ke dalam penjara.
Sedang anaknya, Dika, masih belum bisa dipastikan kapan akan kembali sadar.
Mamanya Dika masih dalam keadaan menangis, tanpa bisa mengeluarkan suara. Pandangannya juga kabur, akibat air mata yang menutupi matanya.
Sedangkan suaminya, papanya Dika, yang duduk di istrinya, kini sudah beralih ke sampingnya. Berdiri dengan memeluknya, yang masih dalam keadaan duduk.
Papanya Dika, juga menangis dalam diam. Hatinya penuh dengan penyesalan yang sama, seperti istrinya juga.
Setelah beberapa menit kemudian, mamanya Dika sudah memulai bisa menguasai perasannya sendiri. Tidak lagi menangis seperti tadi.
"Nak Awan. Nak Ara. Saya... Saya secara pribadi, meminta maaf pada Kalian berdua. Dan... dan pada keluarga Kalian."
"Tante... Tante salah. Salah besar. Sebenarnya, ini... ini kesalahan yang tidak bisa dimanfaatkan. Tapi, tapi ternyata kalian berdua sangat baik. Tante merasa malu. Hiks..."
Mamanya Dika kembali terisak-isak. Setelah mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
Suaminya, masih ada disampingnya, dengan menepuk-nepuk pelan bahunya. Memberikan semangat dan kekuatan. Agar mereka bisa melewati semuanya dengan hati yang lapang. Dengan tidak adanya dendam, yang akan lebih menghancurkan mereka lagi.
Dua polisi dan lawyer yang ikut datang dan ada di rutan, juga merasakan keharuan suasana sore ini. Bahkan, sore sebentar lagi akan berganti dengan malam.
Setelah semuanya dirasa cukup. Mamanya Dika kembali ke dalam sel tahanan. Sedangkan papanya Dika, di bawa ke kantor polisi. Dia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Sedang lawyer, akan kembali pulang. Karena jam kantornya, memang sudah selesai sedari tadi.
Mereka berpisah di area parkir rutan.
Awan dan Ara masuk ke dalam mobil. Tapi sebelum Awan menghidupkan mesin mobilnya, Ara bertanya tentang rencana mereka setelah ini.
"Kak. Kita jadi balik ke rumah sakit?" tanya Ara, mengingatkan pada suaminya sendiri. Jika tadi, mereka berdua memang punya rencana untuk kembali menjenguk Dika.
"Iya. Kita ke sana. Kita lihat bagaimana keadaan Dika sekarang," jawab Awan, kemudian menghidupkan mesin mobilnya.
*****
__ADS_1
Abimanyu tiba di rumah pada saat malam hari. Dia tampak lelah, dengan tubuhnya yang memang tidak lagi sesehat dulu.
"Mas," sapa Anjani, begitu melihat kedatangan suaminya.
Abimanyu tersenyum, mendengar suara istrinya dari arah dapur. Dia yakin, jika istrinya itu sedang memasak makanan untuk makan malam mereka.
"Anggi mana Bun?" tanya Abimanyu, karena tidak melihat keberadaan anaknya yang kecil.
"Di kamar Yah."
"Ayah mau mandi dulu atau mau makan langsung?"
Abimanyu tidak langsung menjawab pertanyaan dari istrinya. Dia justru duduk terlebih dahulu, untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Dengan cepat, Anjani mengambilkan air minum untuk suaminya.
Beberapa saat kemudian.
"Ini Mas, minum dulu."
Abimanyu menerima gelas berisi air putih hangat, yang diberikan oleh Anjani untuknya.
Anjani mengangguk dan duduk disebelah suaminya. Dia menunggu hingga suaminya itu akan bercerita dengan sendirinya nanti. Jika selesai minum.
Dan benar saja. Setelah selesai meminum air putih hangat yang dia berikan, Abimanyu meletakan gelas di atas meja, kemudian berkata kepadanya. "Bun. Ayah... ayah terkena komplikasi tulang."
Anjani mengerutkan keningnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh suaminya itu. Dia tidak tahu, apa yang dikatakan oleh Abimanyu sekarang ini.
"Maksud Ayah, komplikasi tulang bagaimana?" tanya Anjani bingung.
Dia belum pernah mendengar istilah komplikasi tulang. Karena selama ini, penyakit komplikasi hanya diperuntukkan bagi penderita penyakit dalam, yang tidak hanya satu penyakit. Tapi ada beberapa penyakit yang disandang oleh pasien tersebut.
Akhirnya, Abimanyu menjelaskan tentang apa itu komplikasi tulang, yang tadi dia sebut.
Komplikasi tulang bisa terjadi akibat cedera saraf tulang belakang. Pada umumnya disebabkan oleh keterbatasan otot tubuh dalam bergerak, antara lain: Jaringan otot mengecil ( atrofi otot ) dan ini bisa membatasi ruang gerak dari penderita. Bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan.
Anjani termangu sendiri, menatap ke wajah suaminya yang bersedih hati. Dengan memberikan penjelasan kepadanya.
"Mas. Mas harus tetap semangat dan yakin. Kita sudah lama hidup bersama dalam keadaan apapun."
"Bahkan, di saat Jani masih mengurus Ara dan Nanda waktu kecil dulu. Apa itu masih Mas ragukan? Apa Mas ragu dengan perasaan Jani pada Mas selama ini?"
__ADS_1
Abimanyu menghela nafas panjang, saat mendengar perkataan istrinya itu. Dia merasa sangat bersalah, karena telah membuat Anjani bersedih hati.
"Bukan Bunda. Ayah bukan meragukan cinta Bunda pada Ayah. Tapi... Ayah hanya merasa sangat sedih. Karena merepotkan Bunda sedari dulu."
Anjani segera memeluk suaminya dengan mata berkaca-kaca. Dia akhirnya menangis dan tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan air matanya.
"Mas. Jangan bilang seperti itu lagi. Jani bahagia hidup bersama dengan Mas Abi. Apapun keadaan mas Abi."
Kini, Abimanyu juga memeluk tubuh istrinya itu. Dia mengelus-elus rambut Anjani, dengan perasaan yang membuncah. Dia merasa sangat bersyukur. Karena bisa beruntung dengan mendapatkan istri seperti Anjani.
"Maaf Bunda. Ayah malah buat Bunda nangis ini," ucap Abimanyu, dengan mengecup kening istrinya berkali-kali.
Dari arah samping, Anggi muncul dengan mata memicing. Dia merasa heran, dengan kedua orang tuanya yang sedang berpelukan.
"Ayah, Bunda kenapa?"
Abimanyu dan Anjani langsung menoleh ke arah Anggi. Dengan cepat, Anjani mengusap air matanya, agar tidak lagi menetes. Dan ini akan menjadi pertanyaan besar bagi Anggi nanti.
"Gak apa-apa Dek. Memang gak boleh Ayah dan Bunda berpelukan?"
"Sini-sini Dek. Mau ikut pelukan juga gak?"
Mereka berdua justru menawari Anggi, untuk ikut berpelukan bersama dengan mereka berdua.
Anggi tentu saja mengangguk dengan cepat. Dia segera memeluk kedua orang tuanya itu.
"Anggi kangen kak Ara Yah," ucap Anggi, saat ada di dalam pelukan hangat kedua orang tuanya.
"Iya. Bunda juga kangen dengan kak Ara," sahut Anjani, yang memang sudah beberapa hari ini, tidak bertemu dengan anak pertamanya itu.
"Tadi dia ke rumah sakit bersama dengan Awan," kata Abimanyu, memberitahu pada mereka berdua.
"Ke rumah sakit?"
"Kak Ara kenapa Yah?"
Anjani dan Anggi, sama-sama mengajukan pertanyaan kepada Abimanyu. Tapi dengan pertanyaan yang berbeda.
"Gak. Kak Ara gak kenapa-kenapa."
"Terus, ke rumah sakit ngapain?" tanya Anggi lagi dengan cepat. Dia mengejar ayahnya, supaya menjelaskan alasan kakaknya pergi ke rumah sakit, setelah pertemuan mereka dari kantor lawyer tadi siang.
__ADS_1