
"Assalamualaikum..."
Ara mengucapkan salam, sebelum masuk ke dalam rumah. Dia masuk sendiri, karena Awan berhenti di luar halaman rumah Ara.
Awan tidak mau mampir, dan hanya mengantar Ara, di depan, agar orang rumah, bundanya Ara, tidak tahu, jika anaknya pulang sekolah, bukan bersama dengan Nanda.
Jika sampai bundanya Ara tahu, itu akan menjadi pertanyaan besar, buat Ara, Nanda dan juga Awan sendiri.
Dan itu di setujui oleh Ara. Dia juga tidak mau, membuat masalah baru untuk kakak sepupunya, Nanda.
Karena bisa dipastikan jika, Ara juga akan kena dampaknya, dengan mendapatkan nasehat-nasehat yang akan dia dengar, tidak hanya dari bundanya, tapi juga dari ayahnya, Abimanyu.
"Lho Kak, kok gak kedengaran itu suara motor Nanda?"
Ternyata, dari suara motor saja, Anjani sudah merasa cukup curiga.
"Kak Nanda langsung balik Bun."
Ara hanya menjawab, apa yang kadang di lakukan oleh Nanda, jika mengantarkan dirinya pulang ke rumah.
"Ohhh, ya sudah. Kakak buru mandi gih, udah malam ini."
Anjani meminta pada Ara, agar cepat mandi, karena adzan magrib sudah terdengar dari masjid komplek perumahan.
Ara hanya mengangguk saja, dan patuh dengan apa yang dikatakan oleh bundanya.
Sedangkan Anggi, sedang melihat cartoon kesukaannya.
Tak lama kemudian, dari arah luar rumah, terdengar suara motor ayahnya, Abimanyu.
"Ayah pulang!"
Anggi berteriak senang, sambil berdiri dan berlari menuju ke arah pintu keluar. "Ayah-ayah!"
Abimanyu, tersenyum senang, di sambut oleh Anggi, yang terlihat sangat senang, karena melihat dirinya sudah pulang dari kantor.
"Bagaimana sekolahnya tadi Dek?" tanya Abimanyu, saat Anggi salim dan mencium tangannya.
"Emhhh, biasa aja Yah," jawab Anggi cepat.
Dari dalam rumah, Anjani berjalan menyambut kedatangan suaminya itu.
Dia juga melakukan hal yang sama, seperti yang tadi dilakukan oleh anaknya, Anggi. Tapi, Anjani juga mengambil alih tas kerjanya Abimanyu, yang berupa tas gendong, atau tas ransel.
"Kakak mana?" tanya Abimanyu, yang tidak melihat keberadaan anak tertuanya, Ara.
"Kakak sedang mandi," jawab Anjani, dengan meletakkan tas ransel tersebut, di atas meja, yang ada di dekat pintu kamarnya.
Tak lama kemudian, Ara sudah keluar dari dalam kamar, dengan pakaian rumahnya. Itu artinya, Ara sudah selesai mandi.
"Ayah," sapa Ara, dengan menyambut tangan Abimanyu.
Setelah menyalami tangan ayahnya, Ara diajak bundanya, untuk membantu dirinya menyiapkan makan malam, tapi nanti, setelah melaksanakan ibadah magrib_nya.
*****
Di lain tempat.
Nanda masih kebingungan dengan pencarian yang dia lakukan, untuk menemukan adik sepupunya, Ara.
Dia belum berani pulang terlebih dahulu, karena takut jika Ara belum sampai di rumah.
Sedari tadi, Nanda sudah mencoba untuk menghubungi Ara. Tapi handphone milik Ara tidak aktif, sehingga tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Ara. Kamu sudah pulang belum?" gumam Nanda, bertanya kepada dirinya sendiri.
Sekali lagi, Nanda berusaha untuk menghubungi Ara. Dia ingin memastikan keberadaan Ara saat ini.
Tut!
Tut!
Tut!
Tapi sepertinya handphone milik Ara, belum juga aktif.
Dengan memejamkan matanya, Nanda mencoba memberikan dirinya sendiri, untuk menghubungi bundanya, Anjani. Dia ingin memastikan bahwa, Ara ada di rumah atau belum.
Apapun yang terjadi nanti, Nanda siap dengan segala resikonya.
Tut!
Tut!
Tut!
..."Allo Kak Nanda!"...
Untungnya, yang menerima panggilan telpon dari Nanda adalah Anggi.
Ini membuat Nanda sedikit lebih lega, karena dia bisa pura-pura bertanya hal yang lainnya terlebih dahulu.
..."Anggi ya?" ...
..."Ihhh, Kakak! Yang diingat cuma kak Ara aja sih!"...
Terdengar suara Anggi di buat seperti orang yang sedang ngambek. Dan Nanda yakin, jika saat ini Anggi sedang manyun.
..."Hahaha... Anggi sedang apa?"...
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Anggi, Nanda membuang nafas lega. Dia merasa sangat senang, karena akhirnya tahu juga, di mana keberadaan adik sepupunya, Ara, yang tadi sedang ngambek dengan dirinya.
..."Ohhh, ya udah. Kakak ke rumah ya? tapi besok pagi aja. Hehehe..."...
..."Huhhh... Kakak. Kirain sekarang!"...
..."Besok aja kakak ke rumahnya. Besok kita muter-muter lagi, sebelum Kakak berangkat sama kak Ara. ...
..."Asyik!"...
..."Ya sudah, Kakak tutup ya telponnya."...
..."Ya Kak!"...
Klik!
"Huhfff..."
Nanda benar-benar merasa lega, karena sudah mengetahui keberadaan Ara sekarang ini. Apalagi mengetahui jika Ara sudah berada di rumah, itu lebih melegakan hatinya, yang merasa bersalah atas perbuatannya yang tadi.
Sekarang, Nanda bersiap untuk pulang. Hari sudah semakin malam, dengan jam di layar handphonenya, yang menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.
*****
"Tumben Wan?"
Awan menoleh saat suara omanya, mama Amel, menegurnya.
__ADS_1
"Ya Oma."
Hanya itu saja jawaban yang diberikan oleh Awan pada omanya.
"Bagaimana Ara?" tanya omanya lagi, yang masih ingin berbincang-bincang sebentar, untuk menanyakan tentang hadiahnya pada Ara.
"Biasa aja."
Mama Amel, mengeryit heran, mendengar jawaban yang diberikan oleh Awan.
Dari beberapa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehnya, mama Amel tidak bisa menyimpulkan, bagaimana perasaan Awan sekarang.
Sifatnya yang pendiam, dan wajahnya yang tampak datar, membuat orang lain susah untuk menerka-nerka, apa yang sebenarnya terjadi dan dirasakan oleh Awan saat ini.
"Awan mandi dulu ya Oma," kata Awan, berpamitan untuk pergi mandi terlebih dahulu, sebelum omanya itu bertanya-tanya lagi padanya.
Mama Amel hanya mengangguk, mengiyakan perkataan cucunya.
"Tas itu udah di kasih ke Ara belum ya? kok Awan gak jawab yang bener sih," gumam mama Amel, yang tidak yakin, jika cucunya itu sudah memberikan hadiahnya pada Ara.
Di dalam kamar, Awan tidak langsung pergi ke kamar mandi. Dia merebahkan tubuhnya terlebih dahulu, di atas tempat tidur.
"Huhfff..."
Awan membuang nafas lega. Dia merasa deg-degan sedari tadi, saat bertemu dengan Ara di jalan.
Apalagi saat Ara membonceng motornya. Awan seperti tidak bisa bernafas dengan baik. Ada semacam batu besar, yang menghimpit dadanya. Terasa sangat sesak.
Dia merasa gugup, diantara rasa bahagia yang ada di dalam hatinya juga.
Setelah beberapa saat kemudian, pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Tok tok tok!
Awan tersadar dari lamunannya. Dia segera berlari ke arah kamar mandi, dan menghidupkan kran shower. Ini untuk memanipulasi keadaan, seandainya omanya itu sampai masuk ke dalam kamarnya.
Apa yang dilakukan oleh Awan, untuk membuat omanya tahu tanpa harus bertanya lagi, jika Awan belum juga selesai mandi.
Dan benar saja dugaan Awan. Omanya itu masuk ke dalam kamarnya, karena tidak ada sahutan dari dalam kamar.
"Oh, belum selesai mandi dia," gumam mana Amel, karena mendengar suara air yang mengalir dari dalam kamar mandi.
Itu berarti Awan memang ada di dalam dan sedang mandi.
Dengan mengedarkan pandangannya ke arah meja belajar Awan, mama Amel tidak melihat keberadaan paper bag, yang dia berikan pada Awan kemarin.
Itu artinya, Awan memang sudah memberikan hadiah tersebut pada Ara.
Tok tok tok!
Mama Amel mengetuk pintu kamar mandi. "Wan. Sudah selesai belum mandinya?"tanya mama Amel, memastikan bahwa Awan benar-benar ada di dalam kamar mandi.
"Ya Oma. Sebentar!"
Awan menjawab dengan berteriak dari dalam kamar mandi juga.
"Wan. Buru ya!"
Mama Amel berteriak lagi, dari luar pintu kamar mandi, agar cucunya itu segera menyelesaikan mandinya.
"Ya Oma!"
Terdengar suara sahutan Awan dari dalam kamar mandi lagi. Dan itu sudah membuat mama Amel merasa lebih lega.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mama Amel tampak keluar dari dalam kamar Awan, menuju ke arah meja makan. Dia akan menunggu kedatangan yang lain, suaminya, papa Ryan dan anaknya, Elang.
Mereka semua, akan makan malam bersama, seperti biasanya.