
Permintaan ijin Elang untuk rehabilitasi Adhisti, istrinya, ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Elang, harus melakukan berbagai macam prosedur yang diminta oleh pihak kepolisian. Apalagi dari tes urine yang dilakukan, istrinya itu ternyata positif mengandung zat-zat yang ada pada obat-obatan terlarang.
Apalagi, Adhisti tidak hanya sebagai pecandu karena pemakaian obat-obatan tersebut, tapi atas nama Adhisti juga kegiatan pesta obat itu diadakan. Itu dikarenakan nama Adhisti yang selalu tercantum dalam daftar tamu, yang menjadi pelanggan untuk booking kamar hotel selama ini.
Dari bukti tersebut, pihak kepolisian ingin menelusuri jejak pengedar yang lainnya. Diperkirakan Adhisti tidak hanya kenal dan tahu dari sekian banyak pengedar. Tidak hanya satu orang pengedar saja, tapi lebih dari dua atau tiga orang yang selama ini berhubungan baik dengan Adhisti.
Semua bukti yang terkumpul, membuat Elang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak menyangka jika sejauh itu kegiatan yang dilakukan oleh istrinya di luar rumah.
Padahal selama ini, Adhisti hanya membuat alasan jika akan bertemu dengan kenalan atau pergi arisan bersama dengan teman-teman sosialitanya. Elang, tidak pernah berpikir macam-macam dari semua kegiatan istrinya itu.
"Apa Aku yang terlalu percaya dengan dia ya? Dia jadi merasa bebas sehingga lupa, dengan apa yang dulu pernah dia lakukan, sampai-sampai kami ada di Batam sini. Padahal, Aku memberikan kebebasan dan apa saja yang dia mau juga. Tapi, kenapa dia jadi kebablasan kayak gini?" gumam Elang, bertanya-tanya sendiri dalam hati.
Elang harus minta bantuan pada pihak pengacara untuk bisa membawa istrinya, Adhisti, ke panti rehabilitasi.
Tapi ternyata, semua tidak semudah bayangan Elang, meskipun sudah meminta bantuan pada banyak pihak. Banyak sekali hal yang harus dia lakukan untuk memenuhi persyaratan dari pihak kepolisian. Termasuk untuk melakukan tes kesehatan mental pada istrinya itu.
Elang tidak hilang akal. Dia meminta bantuan pada salah satu kenalannya, yang memiliki pengaruh di instansi pemerintah yang ada di Batam, untuk bisa secepatnya mengeluarkan Adhisti dari dalam tahanan. Tapi ternyata semua itu juga tidak mudah. Pihak kepolisian, justru semakin banyak membuat permintaan yang harus dilakukan untuk bisa membawa Adhisti keluar dari dalam tahanan.
Tapi, semua kesabaran dan usaha yang dilakukan oleh Elang membuahkan hasil juga.
Setelah dua minggu sibuk bersama dengan pengacaranya, memenuhi semua persyaratan dan apa-apa yang sesuai prosedur yang diminta, akhirnya Adhisti berhasil di bawa pulang oleh Elang.
Adhisti, segera di antar ke panti rehabilitasi, untuk penanganan lebih lanjut. Dia akan berada di panti tersebut untuk jangka waktu yang cukup lama, sampai dinyatakan 'bersih' oleh petugas panti rehabilitasi. Dan semua sudah ditandatangani oleh Elang, sebagai penanggung jawab atas Adhisti nanti, terkait dengan materi untuk administrasi, selama perawatan Adhisti di panti tersebut.
Elang pulang sendiri ke rumah. Dia disambut oleh anaknya, Awan.
"Ayah-ayah, temani Elang main Yah!" teriak Awan, begitu Elang turun dari mobil.
"Iya Sayang. Nanti ya, kalau Ayah sudah selesai mandi. Kan Ayah baru pulang, ini kotor," jawab Elang, sambil menunjuk ke baju yang dia kenakan.
Awan mengangguk senang. Dia berlari lagi menuju ke arah pengaruhnya, baby sitter, yang selama ini menemani Awan di rumah ataupun di sekolah anak.
__ADS_1
Elang memang lebih sering menemani Awan untuk bermain dan belajar, serta pergi ke tempat-tempat yang disukai Awan, jika Elang sedang tidak disibukkan dengan kegiatan-kegiatan dan pekerjaannya di kantor.
Awan tidak begitu dekat dengan bundanya, Adhisti. Itulah sebabnya, saat Adhisti tidak ada di rumah, Awan juga tidak merasa kehilangan ataupun kesepian. Dia jarang bertanya tentang bundanya itu.
Sikap Awan bukan tanpa sebab. Ini karena Adhisti sendiri yang tidak mau lebih dekat dengan anaknya sendiri. Jika akan pergi, Adhisti selalu berpesan pada Awan.
"Awan tidak usah rewel dan menangis. Tidak usah cari-cari bunda, dan ikut baby sitter saja. Jika ayah sudah pulang dan ada di rumah, minta pada ayah untuk menemani Awan. Pokoknya jangan bikin mama ribet dan susah."
Begitulah kata Adhisti pada Awan. Dan dia akan marah jika Awan bertanya, "Bunda mau kemana? Awan ikut ya Bunda? Awan mau sama Bunda."
Setelah itu, Adhisti akan mengomel pada baby sitter, dan mintanya untuk menjaga Awan.
Dulu, sebenarnya mama Amel sudah pernah mengusulkan dan meminta pada Elang, untuk membawa Awan ke Jakarta saja. Ini karena mama Amel, mendapat laporan dari bibi pembantu rumah, tentang sikap Adhisti yang sedikit temperamental jika berhadapan dengan anaknya, Awan.
Bahkan, bibi pembantu dan baby sitter, juga seringkali mendapat amarah dari Adhisti, tanpa alasan yang jelas.
Mama Amel, meminta Awan untuk di bawa ke Jakarta, bukannya ingin menguasai cucunya itu. Dia berpikir jika, ini akan memudahkan mama Amel agar bisa ikut menjaga cucunya, sehingga Elang dan Adisti bisa mengembangkan usaha mereka dengan baik tanpa harus memikirkan Awan.
Tapi Elang tidak mau mengikuti usulan dari mamanya. Dia memang tidak sependapat dengan mamanya sedari dulu. Sama seperti saat hubungannya dengan Adhisti ditentang oleh mamanya, meskipun pada akhirnya mama Amel, merestui juga.
Begitu juga saat Elang memutuskan untuk pindah dari Jakarta ke Batam. Mama Amel awalnya juga tidak mau menyetujui, tapi karena alasan Elang ingin memulai hidup baru, jauh dari Jakarta, akhirnya mama Amel mengalah dan membiarkan anaknya itu, membuat keputusan untuk masa depannya sendiri.
"Maafkan Elang Ma. Elang terlalu sering mengecewakan mama. Elang tidak pernah mendengar nasehat-nasehat mama. Padahal, itu untuk kebaikan Elang sendiri. Elang pikir, Elang sudah dewasa dan berhak untuk memutuskan sendiri bagaimana jalan kehidupan yang harus Elang jalani. Tapi ternyata, pengaruh orang tua, terutama ibu sangat besar sekali dalam kehidupan seorang anak. Maafkan Elang ma."
Elang menangis sendiri di dalam kamar, saat berpamitan pada anaknya untuk pergi mandi.
Dia baru saja pulang mengantar istrinya, Adhisti, ke panti rehabilitasi untuk para pencandu obat-obatan terlarang.
"Ma. Maafkan Elang Ma," gumam Elang sambil menghela nafas panjang. Setelah itu, dia pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya sendiri sebelum menemani anaknya bermain-main. Sama seperti ajakan anaknya tadi.
*****
__ADS_1
Di Jakarta, saat Yasmin baru saja sampai di rumah, sepulangnya dari Taiwan, bersama dengan calon suaminya. Aksan.
Pintu rumah, sudah di buka dari dalam dan muncul Sekar bersama dengan anak-anak, Ara dan Nanda.
"Selamat datang di rumah Yasmin," kata Sekar, sambil memeluk adiknya itu.
"Mama!" panggil Nanda, karena Sekar lama tidak melepas pelukannya dari Yasmin.
"Anaknya Mama."
Yasmin, langsung memeluk anaknya, Nanda, begitu pelukannya pada Sekar terlepas.
Yasmin menangis bahagia, karena melihat Nanda yang sudah terlihat lebih besar dari terakhir mereka bersama.
"Mama tambah cantik," kata Nanda sambil mengusap air mata mamanya.
Semua orang tertawa senang, mendengar perkataan dari Nanda tentang mamanya.
Dari dalam rumah, Anjani datang bersama dengan suaminya, Abimanyu.
Anjani mendorong kursi roda Abimanyu, sambil tersenyum juga, karena mendengar perkataan dari keponakannya, Nanda.
"Kamu!"
Abimanyu berteriak keras, saat melihat wajah adiknya Yasmin. Wajahnya terlihat memerah karena marah.
Tentu saja, sikap Abimanyu ini membuat semuanya bingung dan bertanya-tanya.
"Mas," panggil Anjani, mencoba untuk menenangkan suaminya.
"Aku tidak mau melihatnya!"
__ADS_1
Abimanyu mengeleng beberapa kali, dan memejamkan mata agar tidak melihat keberadaan adiknya, Yasmin.