Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Nanda Prasetyo


__ADS_3

"Kok di ajak? Kan beda tingkatan Nda?"


Satu dari mereka, yang cewek, protes karena mendengar keputusan yang diambil oleh Nanda, dengan menuruti permintaannya tadi, tapi juga mengajak cewek SMP juga.


Cewek tersebut tidak tahu jika anak SMP yang dia remehkan itu adalah adik sepupunya Nanda sendiri.


Dia berpikir bahwa, anak SMP tersebut, tidak ada sangkut pautnya dengan urusan mereka, yaitu pemilihan ketua OSIS yang akan dilakukan besok pagi.


Dan hari ini adalah penentuannya, untuk semua kandidat yang sudah di pilih.


"Ya sudah, Aku balik."


Nanda hampir berbalik dan mengajak Ara, untuk kembali berjalan menuju ke tempat parkir motor warung Pak Lek, yang ada di seberang jalan.


"Nda. Eh ya deh. Ajak gak papa."


"Iya. Bentar ini kok."


Akhirnya, Ara di ajak juga ke ruang OSIS tingkat SMA. Di ruangan tersebut, sudah ada beberapa orang anggota, yang duduk menunggu kedatangan Nanda.


"Kak. Ara di sini aja deh," kata Ara, meminta pada Nanda, supaya membiarkan dirinya duduk di kursi, yang ada di luar, tidak jauh dari ruangan itu berada.


"Gak apa-apa. Ayok ikut masuk!"


"Eh, gak ah. Malu."


Ara beralasan bahwa, dia tidak mengenal siapa-siapa, yang ada di dalam ruangan tersebut. Dia juga tidak punya kepentingan apa-apa, di organisasi sekolah, yang ada di tingkat SMA.


Jadi, Ara bersikukuh untuk tidak masuk ke dalam ruangan OSIS.


"Ya sudah. Awas,. jangan ke mana-mana!"


"Iya-iya Kak."


Setelah itu, Nanda masuk ke dalam ruangan, dengan di kawal oleh dua orang yang tadi mencarinya. Sedangkan Ara, duduk sendirian di luar ruangan tersebut.


Di dalam ruangan OSIS, sudah ada anggota tetap, dan baru.


Ada juga ketus OSIS, yang kemarin menemui Nanda. Bahkan, Awan dan temannya, si Dika, juga ada di dalam ruangan OSIS ini.


"Wan. Si Nanda tuh!"


Dika memberi tahu Awan, saat melihat kedatangan Nanda. Bahkan saat ini, Nanda juga duduk di kursi, tempat para kandidat ketua OSIS, untuk periode tahun ini.

__ADS_1


Tentu saja, ini membuat Dika bertanya-tanya. Bagaimana bisa, Nanda yang baru saja masuk ke sekolah ini, menjadi salah satu kandidatnya.


Sedangkan calon yang lebih baik, ada banyak di antara mereka, yang menjadi adik-adik kelasnya.


Awan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Dika, dan ternyata benar. Di kursi depan, ada Nanda yang baru saja mendaratkan pantatnya.


'Jadi, sedari tadi yang ditunggu-tunggu itu si Nanda? kenapa dia nyalon jadi ketua OSIS?'


Pertanyaan demi pertanyaan, muncul di benak Awan. Dia merasa jika tidak baik bagi Nanda sendiri, jika menjadi ketua OSIS periode tahun ini, karena Nanda juga belum tahu seluk-beluk sekolah ini.


Menurut Awan, Nanda akan sedikit kesulitan, karena dia juga tidak pernah mengikuti kegiatan di sekolah ini, selama dia bersekolah dalam dua bulan ini.


"Wan. Ini loh, calon ketua OSIS yang Gue tanyakan kemarin-kemarin sama Lo."


Salah satu temannya, cewek, yang kemarin mengikutinya dari belakang saat pulang sekolah, memberitahu pada Awan.


Tapi Awan tidak menyahut perkataan teman ceweknya itu. Dia hanya memperhatikan, bagaimana Nanda duduk dengan santai tanpa ada beban sedikit pun.


Tidak sama seperti calon-calon ketua OSIS yang lain.


"Ok teman-teman. Sekarang ini, acara selanjutnya yaitu, pengenalan terhadap calon ketua, yang akan membacakan visi, misi dan program yang akan dijalankan, saat mereka terpilih sebagai ketua nantinya.


Di depan, ada tiga calon ketua OSIS. Satu cewek dan dua cowok, termasuk Nanda sendiri.


Padahal, Nanda tidak ada persiapan sama sekali. Bahkan, Nanda saja tidak mencalonkan dirinya sendiri, sebagai ketua OSIS yang baru nanti.


Sekarang giliran Nanda, yang berdiri untuk melakukan hal yang sama seperti kedua temannya, yang sudah selesai.


"Calon berikutnya adalah teman kita, Nanda Prasetyo!"


Semua cewek-cewek, bertepuk tangan dengan antusias. Mereka semua, menyambut Nanda dengan semangat.


"Nda, ini!"


Salah satu dari calon ketua OSIS yang cewek, yang saat ini duduk di tengah-tengah ketiga calon ketua, memberikan Nanda selembar kertas berukuran kecil, untuk visi dan misi mereka.


Tapi Nanda tidak menerima kertas tersebut. Dia langsung berdiri dan berkata pada semua orang yang ada di ruangan tersebut bahwa, Dia mengundurkan diri.


"Maaf, Saya rasa ini tidak benar. Saya tidak pernah me_nyalonkan diri sendiri, untuk menjadi ketua OSIS periode tahun ini. Jadi, silahkan kalian semua, para anggota OSIS yang ada, memproses pemilihan ketua yang baru, sesuai dengan rencana dan aturan yang ada. Tanpa Saya."


Semua orang, termasuk Awan dan juga si Dika, kaget saat Nanda selesai mengatakan semua itu.


"Oh... terus, menurut Loe, siapa kira-kira yang mencalonkan Nanda ya Wan?"

__ADS_1


Awan hanya mengangkat kedua bahunya, tanda jika dia tidak tahu juga.


"Tapi Nanda. Ini tidak bisa. Jika Kamu tidak ikut, progam pencalonan ketua baru tidak bisa dilanjutkan."


Salah satu dari seksi kegiatan, mencegah Nanda saat ingin mengundurkan diri sebagai calon.


"Terus?" tanya Nanda, yang menjadi tidak nyaman, karena acara ini jadi sedikit kacau karena dirinya.


"Ya Kamu tetap ikut. Dan hanya sekedar formalitas saja. Toh pemilihan ini dilakukan secara langsung, jadi kita semua tidak tahu juga, selain anak-anak yang tidak ikut menjadi pengurus OSIS, bisa jadi mereka tidak ada yang mengenal dan juga tidak memilihmu."


Ketua OSIS yang sekarang, memberitahu Nanda, dan juga menyarankan agar dia tetap ikut dalam kegiatan ini.


"Tapi Saya tidak ada persiapan apa-apa," sahut Nanda, memberikan alasan.


"Tidak masalah. Kamu hanya perlu mengatakan bahwa, Kamu akan meneruskan visi dan misi kegiatan yang ada, dan berusaha untuk lebih baik lagi."


Semua orang bertepuk tangan, dengan apa yang dikatakan oleh ketua OSIS tersebut. Dan itu sudah dianggap sebagai wakilnya Nanda.


'Aneh-aneh saja acara ini,' batin Nanda.


Awan hanya menggeleng, melihat keadaan yang ada di dalam ruangan OSIS. Sekarang dia tahu, bagaimana caranya Nanda bisa sampai ada di dalam daftar peserta calon ketua OSIS yang baru.


Ini adalah ulah para cewek-cewek, yang kebanyakan ada dan menjadi peserta keanggotaan OSIS.


"Huh! Ternyata begitu."


Si Dika, akhirnya juga sadar, dengan apa yang terjadi di dalam ruangan ini.


"Wan. Kayak drama aja nih. Males Gue!"


Awan tidak menanggapi perkataan dari temannya itu. Dia hanya bisa diam dan menunggu hingga acara ini selesai.


Awan ingin segera pulang, dan beristirahat. Apalagi, dia juga harus memberikan jawabannya untuk pertanyaan dari omanya, yang belum dus jawab hingga saat ini.


Padahal, waktu pada di kelas dua belas, atau kelas tiga SMA, sangatlah pendek. Tidak ada dua belas bulan, dan dia akan dinyatakan lulus sekolah, sehingga tidak bisa lagi di sebut dengan seorang siswa.


Tak lama lagi, Awan akan segera memasuki babak baru dalam perjalanan studinya. Yaitu menjadi seorang mahasiswa.


Dan inilah yang membuat Awan sedikit galau dari kemarin-kemarin. Omanya, menyarankan kepada Awan, supaya melanjutkan kuliahnya di luar negeri saja.


Itu artinya, Awan harus rela, untuk tidak pernah lagi bertemu dengan seseorang, yang sudah ada di dalam hatinya.


Di luar ruangan OSIS, Ara menunggu Nanda dengan membaca novel online kesukaannya. Dia tidak tahu, apa yang sedang terjadi di dalam sana.

__ADS_1


Bagaimana kakaknya, Nanda, mengatasi kemauan-kemauan anggota yang kebanyakan adalah cewek-cewek.


Ara tetap asyik dengan bacaannya, dan tidak sadar, jika ada dua pasang mata, yang saat ini kaget, melihat keberadaannya di luar ruangan OSIS.


__ADS_2