
Abimanyu sampai di rumah pada saat hari benar-benar telah berganti dengan malam. Padahal, dia tidak mampir terlebih dahulu ke kantor, untuk mengambil motornya. Karena jika dia harus ke kantor terlebih dahulu, dia akan lebih malam lagi, untuk bisa sampai di rumah.
Pintu rumah sudah tertutup rapat, karena hari memang sudah malam.
Tok
Tok
Tok!
"Assalamualaikum..."
Abimanyu mengucapkan salam, sebelum masuk ke dalam rumah. Dia juga mengetuk pintu terlebih dahulu, agar istrinya datang membukakan pintu untuknya.
"Waallaikumsalam."
Terdengar suara Anjani, yang menjawab salam dari Abimanyu.
Clek!
Pintu terbuka, tampak Anjani tersenyum dari dalam rumah. Dia menyambut kedatangan suaminya itu, dengan suka cita.
"Alhamdulillah, sudah sampai di rumah Mas. Gimana kerjaannya?" tanya Anjani, sambil membantu suaminya itu membawa tas kerjanya, yang ada dua buah.
Abimanyu tersenyum senang, mendapatkan sambutan yang hangat dari istrinya.
Mereka berdua saling bercerita, tentang apa saja yang mereka lakukan seharian ini.
Abimanyu dengan beberapa pekerjaan yang harus dia lakukan, sedang Anjani, menceritakan tentang keadaan rumah. Baik apa yang dia lakukan dan juga tingkah anak-anak mereka. Ara dan Anggi.
Anjani juga bercerita tentang Ara, yang pulang sekolah dalam keadaan menangis.
"Kenapa?" tanya Abimanyu heran.
"Mandi dulu saja Mas. Nanti Jani cerita," jawab Anjani, kemudian mempersiapkan air hangat untuk suaminya mandi terlebih dahulu.
Setelah Abimanyu pergi untuk mandi, Anjani mempersiapkan makan malam untuknya. Ara, yang ada di dalam kamar, sedang belajar keluar, karena mendengar bundanya yang sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk makan malam mereka.
"Ayah sudah pulang Bun?" tanya Ara, yang langsung ikut menata peralatan makan malam.
__ADS_1
"Sudah. Ayah sedang mandi Kak." Anjani menjawab pertanyaan dari Ara, sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
"Bun," panggil Ara, yang tidak melanjutkan kalimatnya.
"Ya, ada apa Kak?"
Anjani mengehentikan pekerjaannya, dan menatap ke arah anaknya itu. Dia tahu, sekarang ini, Ara sudah tumbuh remaja. Itu artinya, dia butuh bimbingan, agar tidak salah langkah dalam pergaulannya. Baik di sekolah ataupun di luar sekolah.
Tapi sepertinya Ara belum bisa mengatakan, apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan pada bundanya. Dia terlihat cemas, tapi belum mau bercerita.
Padahal sore tadi, saat datang diantar oleh Nanda, dia juga langsung pergi ke kamar dalam keadaan menangis. Dan sewaktu Anjani bertanya pada Nanda, yang mungkin tahu permasalahan Ara, juga tidak menjawab dengan jelas.
Nanda hanya mengatakan bahwa, ada cowok yang sedang cemburu, karena Ara dijemput olehnya. Tapi Nanda juga tidak tahu, siapa sebenarnya cowok tersebut. Karena Ara hanya mengatakan bahwa cowok itu temannya Awan.
"Jadi cerita gak nih?" tanya Anjani, yang melihat anaknya itu justru melamun dan tidak menjawab pertanyaan darinya.
"Gak jadi deh. Besok-besok aja kalau Ara ingat."
Anjani tersenyum mendengar jawaban dari anaknya itu. Dia merasa jika, Ara sedang kesulitan untuk menjawab pertanyaan darinya. Padahal, sebenarnya hanya sekedar bercerita tentang teman ataupun seseorang yang tadi membuat masalah dengan dirinya, sewaktu pulang sekolah. Sama seperti yang diceritakan oleh Nanda pada Anjani.
"Ya sudah kalau tidak mau cerita sama Bunda. Kakak bisa kok cerita-cerita sama ayah nanti," ujar Anjani, memberikan kesempatan kepada Ara, untuk bercerita pada ayahnya. Karena Anjani tahu jika anaknya itu, lebih dekat dengan ayahnya, jika menyangkut masalah seperti ini.
Ara hanya mengangguk mengiyakan. Sekarang, Ara duduk menunggu yang lain, untuk bisa memulai makan malam mereka.
Beberapa saat kemudian, Abimanyu sudah rapi, dengan pakaian rumahnya. Dia berjalan menuju ke meja makan, di mana keluarga mereka bisa berkumpul setelah seharian tidak bertemu dengannya.
Tapi dalam jarak yang tidak terlalu jauh, Abimanyu melihat anaknya, Ara, yang diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Ara juga tidak menyapa dirinya, begitu dia sampai di dekat tempat duduknya Ara.
"Oh, ternyata dia sedang melamun," gumam Abimanyu, dengan kelakuan anaknya itu.
"Kak. Kak Ara," panggil Abimanyu, berusaha untuk menyadarkan Ara dari lamunannya.
Tapi ternyata lamunan Ara terlalu asyik, sehingga dia tidak mendengar panggilan dari ayahnya.
Dengan tersenyum, Abimanyu menyentuh rambut anaknya itu agar tersadar dari lamunannya. "Kakak melamun apa?" tanya Abimanyu, sambil tersenyum melihat ke arah Ara, yang terkejut saat dia mengelus rambutnya.
"A... Ayah. Ti... tidak. Ara tidak melamun kok." Ara mengelak dari apa yang sebenarnya terjadi.
Abimanyu mengangguk saja. Dia tidak memaksa anaknya itu, dengan mengajukan pertanyaan yang lain lagi.
__ADS_1
"Ayah-ayah!"
Dari arah kamar, Anggi berteriak-teriak memanggil Abimanyu. Padahal dia sedang ada di dalam gendongan bundanya, Anjani.
"Eh, Adek. Hemmm... nyenyak tidurnya?"
Abimanyu beralih pada anaknya yang ke-dua. Dia meminta pada istrinya, Anjani, agar memberikan Anggi padanya, karena Anggi meronta-ronta sendiri, minta untuk dilepaskan dari gendongan bundanya. Anggi ingin meminta pada ayahnya itu untuk ganti mengendong dirinya.
"Huuu... Anggi manja!" ledek Ara, pada adiknya. Anggi.
"Gak weee... kan Ayah sendiri yang mau gendong," elak Anggi, sambil menjulurkan lidahnya membalas ledekan kakaknya.
Suasana di meja makan menjadi ramai, karena Ara dan Anggi saling berbalas ledekan.
"Sudah Kak, Adek. Kita makan dulu, biar gak kemalaman. Yuk!"
Anjani menengahi perdebatan keduanya. Dia harus berusaha untuk tetao tenang dalam menghadapi kedua anaknya itu. Apalagi Ara dan Anggi terpaut cukup jauh, jadi tentu saja pemikiran mereka tidak bisa seimbang.
Untungnya, Ara tidak selalu merasa paling benar dan mau mengalah. Sedang Anggi, tidak selamanya merajuk seperti anak kecil yang lain.
Usai makan malam, Anjani membereskan peralatan makan mereka, dibantu dengan Ara. Sedangkan Abimanyu, menemani Anggi yang sedang belajar menulis.
"Bunda. Mulai besok, kak Nanda sekolah di yayasan tempat Ara. Terus kalau Ara bareng kak Nanda, pak ojek gimana?" tanya Ara bingung.
"Oh, itu udah di kasih tahu sama ayah. Pak ojek akan ganti untuk antar jemput Anggi dan Miko. Jadi, bibi pembantu rumah tante Sekar, hanya mengantar Miko sampai rumah ini saja. Setelah itu ganti di antar pak ojek."
Ara mengangguk paham dengan penjelasan bundanya. Dia cuma merasa tidak enak, jika pak ojek harus kehilangan pendapatannya, yang tetap sebagai pengantar dirinya ke sekolah.
Meskipun nanti bayaran pak ojek berbeda dengan yang dulu saat mengantar Ara, tapi setidaknya masih ada meskipun tidak sebesar kemarin.
Abimanyu juga tidak mungkin memutus hubungan dengan pak ojek, yang sudah biasa mereka gunakan jasanya.
Jadi sebisa mungkin, Abimanyu sudah mempertimbangkan dan menyiapkan pekerjaan yang lain, untuk pak ojek. Meskipun sebenarnya, pak ojek mengatakan bahwa dia tidak apa-apa.
Tapi begitulah Abimanyu. Dia akan merasa tidak enak hati, jika mengabaikan perasaan orang lain yang sudah banyak membantu dirinya dan keluarganya juga.
Ara tersenyum dengan bangga, mendengar penjelasan dari bundanya, tentang jasa ojek yang biasa dia gunakan. Dia juga merasa lega, karena ternyata ayahnya sudah lebih dulu memikirkan bagaimana cara yang terbaik untuk mereka semua.
"Ayah memang baik ya Bun," ujar Ara, memuji ayahnya itu, pada bundanya.
__ADS_1
"Iya dong. Makanya, bunda mau nikah sama ayah. Hehehe... Ara juga harus mencontoh ayah tuh, untuk membuat perasaan orang lain juga nyaman dan aman saat ada bersama dengan kita." Anjani ikut-ikutan memuji suaminya sendiri, agar Ara mengambil contoh yang baik dari sifat ayahnya, Abimanyu.