Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Perasaan Cemas


__ADS_3

"Bunda. Anggi beneran pacaran dengan teman Arab nya itu?"


Anjani tidak mengerti, apa yang ditanyakan oleh Miko padanya siang ini. Dia pikir, Miko tidak hanya merasa jika, akhir-akhir ini, Anggi sedang sibuk dan tidak banyak bermain dengannya.


"Bunda. Miko liat di akun sosial milik Anggi. Teman Arab nya itu men_tag Anggi. Dia menyebut Anggi dengan sebutan crush. Itu berarti seseorang yang diidolakan, dikagumi, dan disuka orang itu. Jadi, Anggi bagaimana Bunda?"


Anjani, sebenarnya tidak menyalahkan Miko maupun Anggi. Dia juga tidak menyalahkan Ahmed, yang saat ini memang dekat dengan Anggi.


Bahkan, Anjani juga melihat bagaimana cara Ahmed memandang Anggi, yang terlihat berbeda sedari ada di Amerika sana.


"Bunda," panggil Miko, dengan menggoyang-goyangkan tangan Anjani, yang dia pegang sedari tadi. Karena Anjani tidak juga merespon perkataan yang dia lakukan untuk tadi.


"Bunda. Bunda-bunda!"


Anjani tersadar dari lamunannya, saat mendengar Miko yang kembali memanggil-manggil dirinya.


"Eh, iya Miko. Ada apa Sayang?"


"Ihsss... Bunda malah melamun, gak dengar Miko curhat!"


Miko merasa kesal, karena Anjani tidak mendengarkan curahan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. Karena diabaikan begitu saja oleh Anggi.


"Sayang, Miko. Bunda bikin lapis legit. Tadi sedang dipanggang. Mau coba gak? Siapa tahu sekarang sudah matang. Yuk!"


Anjani mencoba untuk mengalihkan perhatian keponakannya itu, dengan jenis kue yang tadi dia buat. Karena biasanya, jurus ini akan berhasil membuat Miko tidak lagi merasa kesal.


"Beneran Bunda? Kok gak bau wangi dari arah dapur?" Miko tidak yakin, dengan apa yang dikatakan oleh Anjani.


"Itu karena hidung Miko sedang bermasalah. Kan sedang kesal, jadi ya... hidungnya ikut kesal juga," jawab Anjani asal.


Tapi ternyata, jawabannya itu direspon dengan serius oleh Miko.


"Yang bener Bun? Terus kalau Miko makan dengan kesal juga gak akan terasa enak dong nanti?"


"Iya dong. Kak Miko kalau kesal, makan gak pakai doa dulu. Jadi, diikuti setan. Makan banyak dan enak tapi gak dirasakan sama Miko sendiri."


Keterangan yang diberikan oleh Anjani, membuat Miko mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah itu, dia menghela nafas panjang, agar dia tidak lagi merasa kesal.


"Udah Bun, ayok!" ajak Miko, dengan berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Ayok ke mana?"


Sekarang, Anjani yang lupa dengan ajakannya sendiri. Yang menawari Miko dengan kue lapis legit tadi.


"Ah, Bunda. Kuenya nanti gosong. Kan gak enak," ujar Miko, dengan bibir manyun.


"Oh iya. Hehehe... ayok!"


Akhirnya, Anjani juga ikut berdiri. Kemudian berjalan bersisian dengan Miko menuju ke arah dapur.


Ternyata, bau harum di dapur baru terasa di indera penciuman Miko.


"Wah... harum banget Bun. Pasti enak!"


Anjani hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh keponakannya itu.


"Nah kan, udah gak kesel. Bau kue jadi bisa di cium oroma_nya sama hidung Miko. Makanya kalau ke rumah bunda jangan kesel ya!"


Miko mengangguk patuh. Dia tidak sabar ingin mencicipi kue lapis legit buatan bundanya Anggi. Dia seakan lupa, dengan rasa kesal yang tadi ada di dalam hatinya, pada Anggi.


*****


"Kalian gak apa-apa sendiri ke sana?" tanya Abimanyu, karena Elang sudah kembali ke kantor.


"Gak apa-apa Yah," jawab Ara, karena tahu jika, ayahnya itu akan pergi ke rumah sakit lain.


Abimanyu ada janji temu dengan dokter, yang akan memberikan keadaannya sekarang. Karena dia sering mengeluh pada tulang belakang yang dulu cidera saat kecelakaan.


"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya! Semoga, papanya Dika mau mengakui dan sadar dengan apa yang dia lakukan. Karena itu adalah salah."


"Iya Yah. Siapa tahu, jika dia mendengar kata-kata dari kami, dia akan merespon juga. Kan dia udah lam lama banget gak ketemu kita." Ara mengatakan harapannya, agar Dika, bisa segera pulih.


"Iya juga ya Dek. Siapa tahu, itu bisa merespon kesadaran Dika."


Awan juga menyetujui perkataan yang diucapkan oleh istrinya itu. Dia juga ingin, supaya teman lamanya itu sembuh dan sadar dari kesalahan demi kesalahan yang dia lakukan selama ini.


Akhirnya, Awan dan Ara pergi ke rumah sakit, di mana Dika di rawat. Sedang Abimanyu, pergi ke rumah sakit, di mana dia sudah punya janji temu dengan seorang dokter ahli tulang.


Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Awan bertanya kepada Ara. "Bagaimana jika papanya Dika juga ada di rumah sakit itu?"

__ADS_1


"Maksud Kakak?" Ara balik bertanya, karena tidak paham dengan maksud pertanyaan yang diajukan oleh suaminya.


"Emhhh... jika papanya Dika ada di rumah sakit, dan tahu, jika kita datang untuk menjenguk anaknya. Apa ya kira-kira pemikiran dan responnya nanti?" tanya Awan, yang tidak bisa membayangkan apa yang terjadi nanti di rumah sakit.


"Semoga saja papanya Dika tidak ada niatan untuk mengusir kita Kak. Kan kita datang juga dengan maksud baik."


Awan mengangguk mengiyakan. Dia juga berharap demikian. Karena dia hanya ingin membantu Dika. Bukan untuk membuat perhitungan dengan apa yang sudah dilakukan oleh papanya Dika.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil Awan memasuki halaman parkir rumah sakit.


Pada saat mereka baru saja keluar dari dalam mobil, mereka melihat seorang yang mereka kenal. Tak jauh dari tempat parkir mereka, tampak papanya Dika sedang menelpon seseorang. Dan dia tampak kesal, karena tangannya meremas rambutnya sendiri.


"Kak. Itu..."


"Iya. Itu papanya Dika."


Awan masih mengenali papanya Dika, meskipun dalam jarak yang cukup jauh.


"Apa kita dekati sekarang?" tanya Ara, memastikan apakah langkah yang harus mereka lakukan sekarang ini.


"Tunggu dia selesai menelpon Dek. Nanti dia merasa terganggu dengan kedatangan kita," jawab Awan, memberikan alasan supaya menuggu saja terlebih dahulu.


Ara mengangguk setuju. Dia pun akhirnya hanya diam saja, dan tidak jadi melanjutkan langkahnya. Bahkan, mereka berdua sekarang kembali masuk ke dalam mobil lagi. Menuggu hingga papanya Dika selesai berbincang melalui panggilan telpon.


Setelah beberapa saat kemudian, papanya Dika tampak menutup panggilan teleponnya. Dia memasukkan telpon tersebut, ke dalam saku jaketnya.


Awan dan Ara bergegas keluar dari dalam mobil, kemudian mendekat ke tempat papanya Dika berdiri sedari tadi.


"Om," sapa Dika, yang sudah berdiri di depan papanya Dika. Bersama dengan Ara juga.


Papanya Dika tentu saja merasa sangat terkejut. Apalagi, saat melihat keberadaan Ara. Dia tampak cemas, dan melihat ke segala arah. Mungkin dia merasa takut jika, ada pihak kepolisian yang datang bersama dengan Awan dan juga Ara.


"Tenang Om. Kami datang sendiri," ucap Awan cepat. Saat melihat kepanikan di wajah papanya Dika.


"Mau apa Kalian berdua?"


Papanya Dika mundur dua langkah. Dia bersiap untuk pergi dari tempat itu.


"Kamu datang dengan maksud baik Om. Jadi, lebih baik Om tidak berbuat sesuatu, yang bisa mengundang perhatian keamanan untuk datang ke sini."

__ADS_1


Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Awan, akhirnya papanya Dika tidak lagi mundur atau melakukan pergerakan yang mencurigakan. Dia hanya tetap waspada, dan memasang wajah tidak bersahabat.


__ADS_2