Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Berusaha Dengan Rencana


__ADS_3

Keesokkan harinya, di sekolah.


Ara berjalan menuju ke arah kelasnya, saat ada satu suara cowok memangil namanya.


"Diyah!"


Ara menoleh. Dia tahu, jika yang memangilnya sekarang ini adalah temannya Awan. Karena hanya satu orang saja yang memanggil namanya dengan nama Diyah.


"Ya Kak," sahut Ara, saat teman Awan sudah ada di dekatnya.


"Huh!"


Teman Awan, membuang nafas lega terlebih dahulu, sebelum melanjutkan kata-katanya.


Ternyata, temannya Awan mengatakan bahwa, dia ingin mengajak Ara untuk pergi jalan-jalan sebentar, sepulang sekolah nanti.


Tapi Ara tidak bisa ikut. Dia mengatakan jika, pak ojek yang biasa mengantar dan menjemput dia sekolah, tidak mungkin membiarkan dia untuk pergi sendiri, sepulang dari sekolah.


"Wah, terus kapan bisa?" tanya teman Awan, dengan penuh harap. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi, untuk rencananya yang dulu. Dia masih ingin, memberikan hukuman untuk Ara.


"Maaf Kak, sepertinya tidak bisa."


Ara masih saja kekeh, jika dia tidak bisa ikut.


"Emhhh, kalau gitu boleh tahu rumah Kamu?" tanya teman Awan lagi. Sepertinya, dia sedang berusaha untuk mencari cara, supaya bisa lebih dekat dengan Ara.


"Jika Kakak mau tahu, ikuti saja dari belakang, saat Aku pulang nanti," jawab Ara, dengan nada bercanda dan tersenyum tipis. Dia tidak yakin, jika candaannya itu, akan dijalankan juga oleh kakak kelasnya yang ngotot ingin tahu.


"Boleh. Tunggu Kakak ya nanti sore!"


Setelah mengatakan itu, teman Awan kembali berjalan menuju ke arah bangunan sekolah SMA. Dia tampak tersenyum tipis, karena berharap bisa mengetahui di mana letak rumah adik kelasnya itu.


Dari tempatnya berdiri, Ara mengeleng. Dia merasa sangat aneh, dengan sikap teman Awan. "Eh, Kak Awan kan udah tahu rumahku, entar dia cerita-cerita gak ya ama temannya itu?" gumam Ara seorang diri.


Sekarang, Ara merasa khawatir, jika Awan akan menceritakan kepada temannya itu, dengan apa yang dia ketahui tentang dirinya.


"Tapi... sepertinya Kak Awan gak ember sih orangnya. Nyatanya, dia tidak bicara kok. Setahu Aku sih, gak tahu jika ama temannya itu. Ah, sudahlah. Tidak penting juga," gumam Ara, dengan menaikkan kedua bahunya.


Akhirnya, Ara mencoba untuk melupakan semua ini. Dia kembali berjalan menuju ke arah kelasnya sendiri.

__ADS_1


*****


Di dalam kelasnya Awan.


Awan baru saja datang, sebelum lima menit bel sekolah berbunyi. Dia langsung duduk di tempatnya, yang tidak jauh dari tempat duduk temannya.


Krekk!


Awan menoleh. Ternyata, temannya itu menarik kursinya, untuk bisa lebih dekat dengan tempat duduknya Awan.


Sekarang, dia bercerita tentang Diyah, adik kelasnya yang ada di kelas tujuh. Cewek yang ingin dia kasih pelajaran, dari kejadian di awal masuk sekolah.


Temannya itu bercerita bahwa, Ara menolak tawarannya, untuk dia ajak pergi jalan-jalan. Pada saat dia memberikan tawaran untuk mengantar pulang, Ara juga menolak. Padahal, dia hanya ingin tahu, di mana rumahnya.


Tapi teman Awan bercerita dengan tersenyum senang, karena usulan dari Ara, yang memintanya untuk mengikuti dirinya, saat pulang sekolah nanti.


"Gimana menurut Loe Wan?" tanya teman Awan, meminta pendapatnya.


Awan hanya mengangguk-anggukan kepalanya, tanpa memberikan komentar apa-apa. Dia juga tidak bercerita bahwa, dia sudah tahu banyak tentang Ara.


"Serah Loe aja," jawab Awan, sambil membuka tas ranselnya, untuk mengambil buku yang akan dipelajari pagi ini.


Awan mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan dari temannya itu. Dia juga tidak bisa mengatakan apa-apa, tentang semua rencana temannya, yang sudah lama bekum juga terlaksana.


"Lupain aja lah rencana Loe ini. Nyesel ntar," ujar Awan, tanpa menjawab pertanyaan dari temannya tadi.


"Eh, napa?" tanya teman Awan dengan cepat.


"Gak tahu. Hehehe..."


Teman Awan memukul pundaknya dengan cepat.


"Sial! Gue pikir apaan," kata teman Awan mengumpat kesal.


Sekarang, mereka berdua tertawa bersama, dengan pemikiran yang berbeda, dengan apa yang akan terjadi nanti.


Teman Awan berpikir bahwa, dia akan berhasil dengan semua rencana yang dia miliki, untuk membuat Ara takluk dengan usahanya. Dia ingin Ara tahu, jika dia sudah berusaha untuk dekat dengannya.


Sedangkan Awan berpikir bahwa, temannya itu akan membuat dirinya merasa malu sendiri. Apalagi jika dia tahu bahwa, bundanya Ara adalah, ibu-ibu yang pernah dia tolong bersama dengan Awan, dari kejaran para preman beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


Tapi Awan juga tidak bisa berpikir, seandainya temannya itu juga tahu jika, bundanya Ara adalah, mantan istri dari ayahnya, Elang.


Dan Awan juga tidak tahu, bagaimana reaksi dari temannya itu, jika dia tahu kalau Awan sudah tahu semua tentang Ara, kemarin. Bahkan, dia juga datang pada saat Ara ulang tahun.


Tapi Awan tetap saja tidak berbicara apa-apa. Dia tidak mengatakan apapun tentang Ara, pada temannya itu.


"Sudah ah. Pokoknya, Gue harus bisa. Loe gak usah ikut campur ya!"


Awan hanya mengangguk, mendengar perkataan temannya, yang memberinya peringatan, untuk tidak ikut campur dalam urusannya kali ini.


"Serah Loe aja. Moga berhasil," kata Awan pelan. Mungkin, suaranya juga tidak bisa didengar oleh temannya itu, karena dia sudah membawa kembali kursinya sendiri, untuk ditempatkan di tempatnya semula. Di tempat duduknya sendiri.


*****


Di tempat kerja Abimanyu.


Abimanyu sedang bersiap-siap pergi tugas, untuk meninjau ulang, di pabrik garmen milik mama Amel, yang ada di daerah Tangerang.


Mama Amel belum datang, karena dia mampir ke beberapa tempat terlebih dahulu, bersama dengan papa Ryan, suaminya mama Amel.


Yang ada di kantor, sebagai bos, hanya Elang. Dan Elang sudah memberikan tawaran pada Abimanyu, untuk pergi bersama dengan supir kantor saja.


Tapi Abimanyu justru menolak tawaran dari Elang. Dia ingin pergi sendiri, mengunakan taksi online yang sudah dia pesan.


"Terima kasih Mas tawarannya. Tapi, Saya mau pergi dengan taksi saja. Soalnya, Saya juga ada beberapa kerjaan, yang tidak dari kantor ini. Tidak baik, mengunakan fasilitas kantor, untuk keperluan yang bukan urusan kantor."


Begitulah Abimanyu memberikan alasan, kenapa dia menolak tawaran Elang.


Padahal, Elang tidak mempermasalahkan soal itu. "Tidak apa-apa, pakai saja. Sepertinya hari ini tidak ada tugas keluar untuk supir kantor. Dari pada dia nganggur," ujar Elang, yang tidak mempermasalahkan soal alasan yang diberikan oleh Abimanyu.


"Tidak Mas. Tidak apa-apa. Saya sudah pesan taksi kok. Taksi itu akan mengantar Saya nanti. Itung-itung kasih orderan buat supir taksinya," jawab Abimanyu, sambil tersenyum.


Abimanyu tidak mau, jika dibilang memanfaatkan kesempatan dan kebaikan dari para bos-bosnya, yang selama ini memang baik terhadap dirinya, bahkan keluarganya juga.


"Ya sudah kalau tidak mau. Tidak apa-apa. Yang penting, tugas berjalan dengan baik."


Akhirnya, Elang tidak lagi memaksa pada Abimanyu, untuk mengunakan fasilitas kantor, untuk keperluan tugasnya. Elang kembali ke ruang kerjanya, sedangkan Abimanyu, juga melangkah menuju ke ruangannya sendiri.


Setelah selesai menyiapkan segala sesuatunya, untuk tugasnya nanti, Abimanyu segera berangkat. Supir taksi online yang dia pesan, juga sudah memberikan kabar padanya, jika mobil sudah siap di depan kantor. Tinggal menunggu dirinya saja.

__ADS_1


Abimanyu, sangat bersemangat untuk tugasnya kali ini. Selain tugas kantor, ada beberapa tugas free dari perusahaan lain, yang akan memberikan dia banyak penghasilan, untuk tambahan pendapatannya bulan-bulan ke depan nanti.


__ADS_2