Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kemauan Anak-anak


__ADS_3

Sebulan kemudian, program hamil yang diikuti oleh Anjani berhasil. Dia dinyatakan positif hamil, dan sudah berumur dua minggu.


Berita ini, tentunya membuat dirinya dan Abimanyu merasa sangat bahagia. Apalagi Ara. Dia sangat senang, karena pada akhirnya akan memiliki seorang adik, yang bisa dia ajak bermain-main, nantinya.


"Bunda. Ara mau adik cewek ya Bun," kata Ara dengan antusias.


"Cowok dong Sayang. Kan ayah maunya punya anak cowok juga. Karena sudah ada Ara yang cewek." Anjani, memberitahu tentang keinginan ayahnya, Abimanyu.


"Ah, Ayah. Cowok besoknya lagi saja!" Ara merajuk, minta adik cewek. Dia tidak mau adik cowok, karena merasa jika, adik cewek bisa sama-sama saat bermain-main. Beda dengan adik cowok, yang tidak bisa dandani dan diajak bermain boneka juga.


"Eh, emangnya Ara mau adik berapa?" tanya Anjani ingin tahu, apa yang diinginkan oleh anaknya itu.


"Ara pokoknya mau cewek, jadi kalau ayah mau cowok ya Bunda buat lagi cowok setelah yang cewek," jawab Ara, yang membuat bundanya tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha... memangnya bikin kue ya Sayang, kok asal buat? Ini adiknya belum ketahuan juga jenis kelaminnya Sayang. Kalau Bunda, mau cewek atau cowok, sama saja. Asal dia sehat dan selamat sampai lahir nanti. Kan yang kasih adik itu Tuhan Sayang, bukan kita pesan kayak bikin kue. Jadi, Ara tidak boleh ngambek juga, karena dulu, saat Ara ada di perutnya Bunda, semua juga tidak tahu, apa Ara lahir nanti cewek apa cowok Sayang. Kita yang penting berdoa ya, semoga Tuhan melindungi calon adiknya Ara."


Ara cemberut. Dia ngambek karena tidak bisa memilih untuk jenis kelamin adiknya nanti. Tapi pada akhirnya, dia juga tersenyum dan memeluk bundanya, dengan meminta maaf karena sudah memaksa bundanya, untuk mendapat adik cewek.


"Bunda. Ara minta maaf ya Bun. Jadi, dulu waktu Ara ada di perut Bunda, semua orang juga tidak tahu, Ara cewek?" tanya Ara, setelah meminta maaf terlebih dahulu.


"Iya. Bunda dan ayah juga tidak tahu, apa Ara cewek apa cowok. Baru setelah empat bulan lebih, Ara baru ketahuan jika cewek saat diperiksa oleh dokter Sayang," jawab Anjani menerangkan.


"Besok-besok, kalau Bunda mau periksa ke dokter kandungan, Ara ikut ya! Ara juga mau lihat, adiknya Ara, cewek apa cowok. Tapi Ara tidak marah kok, misalnya adiknya Ara nanti cowok."


Anjani mengelus rambut anaknya itu, dengan lembut. Dia tidak mau, jika ada kecemburuan nanti, antara Ara dan adiknya, jika sudah lahir.


"Ara juga tidak boleh nakal ya. Bunda dan ayah, sayang dengan Ara. Jadi, saat adik adik lahir, tidak ada bedanya. Ara dan adik, sama-sama anaknya Bunda dan juga ayah."


Anjani berusaha untuk memberikan penjelasan dan pengertian pada anaknya itu.


Ara pun mengangguk mengiyakan perkataan bundanya.

__ADS_1


Dia memeluk bundanya sekali lagi, sambil mencium perut bundanya, yang belum tampak jika sedang hamil.


Abimanyu, yang ikut melihat bagaimana Anjani memberikan penjelasan kepada anaknya, ikut tersenyum. Dan pada akhirnya, dia ikut mendekat dan memeluk keduanya juga.


"Kalian semua, adalah penyemangat Ayah selama ini. Apapun itu, Kalian tetap yang utama bagi Ayah. Dan untuk adik, dia mau cowok ataupun cewek, ayah juga tidak akan protes kok Bunda," kata Abimanyu, pada istrinya, Anjani.


Anjani mengangguk mengiyakan perkataan Abimanyu. Dia merasa sangat senang, karena anak dan suaminya itu, saling mengerti dan tidak egois lagi.


Sekarang, mereka bertiga melanjutkan acara mereka yang tadi tertunda.


"Ayo kita makan. Lihat itu, makanannya di anggurin di meja makan," kata Anjani mengajak anak dan juga suaminya, untuk pergi makan.


Ara dan Abimanyu mengangguk mengiyakan ajakan Anjani. Mereka bertiga, sekarang berjalan bersama-sama, menuju ke arah meja makan.


Mereka menikmati makan bersama, meskipun hanya sederhana saja.


Di rumah baru mereka ini, tidak ada lagi pembantu dan juga baby sitter untuk Ara, karena Ara sudah besar dan tidak perlu pengasuh lagi. Jadi, Anjani yang menjaganya sendiri.


Bibi pembantu rumah yang dulu ikut Anjani, kembali pulang ke Bogor, dan membantu saudaranya, teteh koki, untuk mengurus kafe rumah milik Anjani.


Sedang baby sitter Ara, tidak mau ikut dan kembali ke yayasan, tempatnya dulu belajar dan sekarang sudah mendapat majikan baru juga.


Dan Anjani tetap bersyukur, atas semua yang sudah mereka jalani selama ini. Baik untuk pertumbuhan anaknya, Ara, ataupun untuk kesehatan dan kesembuhan suaminya, Abimanyu.


Apalagi sekarang, Abimanyu juga sudah bisa bekerja lagi, meskipun tidak akan pernah bisa sama seperti dulu lagi. Tapi setidaknya sekarang ini, mereka sudah memiliki rumah sendiri lagi, meskipun tidak sebesar yang dulu. Yang penting rumah ini, bisa mereka tempati bersama dengan penuh cinta dan kebahagiaan yang mereka ciptakan dan rasakan.


*****


Di Taiwan, Nanda yang batu saja di sana untuk sebulan, merasa tidak betah.


Selain kehidupan di sana yang berbeda dengan di Jakarta, makanan, cuaca dan kebiasaan masyarakatnya juga berbeda. Nanda tidak bisa langsung beradaptasi. Dia ingin pulang ke Jakarta saja.

__ADS_1


"Ma. Nanda mau pulang saja Ma," kata Nanda meminta pada mamanya, Yasmin, untuk pulang ke Jakarta saja.


"Sayang. Kamu belum terbiasa dengan keadaan saja. Nanti, jika sudah beradaptasi, Kamu juga betah kok."


Yasmin, mencoba untuk menenangkan hati anaknya, Nanda, supaya bersabar dan mencoba untuk beradaptasi terlebih dahulu, dengan keadaan negara Taiwan, yang memang tidak sama seperti di Jakarta.


"Tapi Ma. Nanda tidak ada teman, yang bisa diajak bermain dan bercanda, sama seperti saat ada di rumah eyang," kata Nanda lagi, yang ingat dengan adik sepupunya, Ara.


"Kamu kan belum masuk sekolah. Nanti, jika sudah masuk sekolah, Kamu juga punya teman dan ada kegiatan. Jadi tidak akan pernah memikirkan untuk pulang lagi. Sekolah di sini asyik lagi Sayang," ujar Yasmin, dengan iming-iming sekolah yang berkualitas untuk Nanda.


Akhirnya, Nanda hanya bisa pasrah dan mengikuti apa kemauan dari mamanya itu. Dia juga tidak mungkin bisa pulang sendiri ke Jakarta, jika tidak dengan mamanya atau dengan papa tirinya.


"Ya sudah. sekarang kamu makan dulu ya. Papa Aksan, juga baru pulang nanti malam. Setelah ini, mama mau berangkat ke toko lagi. Apa Kamu mau ikut, biar tidak suntuk di rumah sendiri?"


Yasmin, mencoba untuk mengajak Nanda pergi ke toko.


Di Taiwan, Yasmin sudah membuka sebuah toko sendiri. Dan suaminya, Aksan, ada kerjasama dengan seorang pengusaha setempat, untuk melakukan pembangunan sebuah mall, yang tidak jauh dari toko tempat Yasmin membuka usahanya.


"Baiklah. Nanda ikut Mama ke toko saja. Biar Nanda juga sekalian belajar memperlancar bahasa Nanda, yang belum begitu fasih. Biar saat masuk sekolah nanti, Nanda juga sudah busa berbahasa negara ini, dengan lancar."


Akhirnya, Nanda memutuskan untuk ikut bersama dengan mamanya, menjaga toko.


Dia ingin ada kesibukan dan melatih bahasa setempat, untuk memperlancar kegiatannya nanti, saat sudah bersekolah di Taiwan ini.


Negara yang sudah memberikan kehidupan baru, untuk mamanya, Yasmin.


Nanda akan mengikuti kemauan mamanya, dan berharap bisa membahagiakannya juga. Dua tidak ingin melihat mamanya bersedih hati, sama seperti waktu dia masih kecil dulu, saat masih bersama dengan papanya, Wawan.


Dan Nanda, sudah tidak pernah tahu, bagaimana keadaan dan keberadaan papa kandungnya sendiri, yaitu Wawan.


Nanda seakan-akan, sudah tidak mau lagi mengingat semua tentang kenangan bersama dengan papanya itu. Karena semua kejadian waktu itu, membuatnya sangat sedih, dan ada trauma masa lalu yang dia simpan di dalam hatinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2