Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Ketemu Orang Yang Dulu


__ADS_3

Anak-anak baru, yang ada di kelas tujuh, sedang berbaris di depan kelas masing-masing, yang hanya ada tiga kelas. Karena sekolah ini memang sekolah khusus, yang tidak mementingkan kuantitas murid dan jumlah kelasnya, tapi lebih mengutamakan kualitas dari para murid-murid, yang tentunya bukan hanya sekedar pintar, tapi juga cerdas.


Perbedaan antara pintar dan cerdas adalah asal dari keduanya. Misalnya pintar adalah kualitas yang datang melalui pembelajaran dan mengadopsi perilaku yang dipelajari, sedangkan kecerdasan adalah kualitas bawaan dan sifat yang diperoleh.


Cerdas merupakan kata sifat perilaku yang digunakan untuk menggambarkan kualitas seseorang. Meskipun banyak orang yang mengira, kedua kata tersebut memiliki arti yang sama, padahal ada perbedaan makna atau arti dari pintar dan cerdas.


Ketika kamu belajar, kamu menjadi lebih pintar dalam materi pelajaran. Sedangkan cerdas adalah, sesuatu yang didapatkan sejak orang itu dilahirkan.


IQ adalah ukuran kecerdasan dari seseorang, dan itu tidak bisa berubah, karena itu adalah ukuran kemampuan seseorang untuk belajar.


Jadi, keduanya berbeda, meskipun sama-sama saling bersanding dan sering digunakan dalam artian yang sama, oleh masyarakat pada umumnya.


Dan di sekolah inilah, semua dibutuhkan. Karena tidak hanya kecerdasan tapi juga di tuntut untuk bisa pintar, mematuhinya semua aturan dan akan di tegur dengan surat peringatan untuk orang tua, jika ada pelanggaran dan prestasi anak menurun.


Ini dilakukan oleh pihak sekolah, untuk menjaga keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan juga perhatian dari orang tua, saat berada di rumah. Hal yang seharusnya bisa seimbang, sehingga tidak ada ketimpangan dalam pendidikan sekolah dan rumah.


Ara sudah duduk di kursi tempatnya berada. Beberapa teman barunya, tadi sudah saling berkenalan, duduk dengan tenang, menunggu guru yang datang.


Hari pertama mereka, digunakan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah dan juga aturan-aturan yang berlaku, dengan semua konsekuensi yang harus mereka dapat, seandainya melanggar aturan tersebut.


Ara dan semua murid baru, tentu saja sangat senang dengan pengenalan terhadap lingkungan sekolah, yang tentunya masih sangat baru untuk mereka, yang tadinya ada di tingkat sekolah dasar.


Beberapa acara, juga akan mereka ikuti, untuk melakukan penyambutan siswa baru. Dan panitia, di ambil dari beberapa dewan guru, yang juga meminta bantuan pada siswa SMA, yang ada di gedung sebelah, yang menjadi panitia penerimaan siswa baru juga, di sekolah tingkat mereka.


Di gedung sebelahnya, yang merupakan sekolah tingkat selanjutnya, SMA, dengan siswa yang baru, di tingkat kelas sepuluh, sebelas, dan dua belas, ada juga acara yang sama untuk kelas sepuluh.


Bedanya, di tingkat SMA, panitia terdiri dari anggota OSIS semua, dan bukan dewan guru,. sama seperti yang ada di tingkat SMP.


"Awan. Loe diminta bantu sama ketua OSIS, untuk bantu-bantu di kelas tujuh!"


Teman Awan yang lain, memberitahu dirinya.


"Kapan nyuruh? kenapa gak langsung ke Gue?" tanya Awan, sambil mengerutkan keningnya melihat ke arah temannya yang tadi.

__ADS_1


"Tau tuh! mungkin dia sedang sibuk," jawab temannya acuh.


"Paling takut saingan Bro," sahut temannya yang lain.


"Saingan dari mana?" tanya Awan tidak paham.


"Yeee... kan tiap ada acara kayak gini, Kamu tuh jadi pusat perhatian cewek-cewek. Jadi siapa tahu, ada cewek yang sedang di incar, dan takutnya, cewek itu malah cuek dan perhatian ke Loe!" jawab temannya lagi, dengan menjelaskan lebih detail tentang alasan Awan ditugaskan ke tingkat SMP dan membantu guru-guru yang ada di sana.


"Halah, gak jelas itu alasan yang Loe pikir. Jangan mengada-ada. Gue gak tau dan gak pernah punya pikiran kayak gitu kali!"


Awan mengeleng beberapa kali, meskipun pada akhirnya dia berjalan juga meninggalkan ruangan OSIS, menuju ke arah bangunan SMP yang ada di seberang lapangan upacara, yang ada di tengah-tengah bangunan sekolah.


"Bro, tunggu! Kan yang di minta bantu dua orang. Jadi Gue ikut aja deh, nemenin Loe."


Awan menatap ke arah temannya, yan tadi memberitahu bahwa dia diminta untuk datang ke sekolah SMP. Di saat temannya itu mengangguk mengiyakan perkataan temannya yang satunya lagi, Awan akhirnya diam dan mengangguk mengiyakan permintaan temannya itu.


Sekarang, mereka berdua berjalan ke arah SMP, dan siap untuk melaksanakan tugas dari guru-guru SMP yang menjadi panitia penerimaan siswa baru juga.


"Sama aja kan tugasnya? Bahkan lebih gampang di SMP, karena mereka semua itu masih kecil-kecil dan gampang untuk diatur."


"Bro. Ngomong kek!" ucap temannya, dengan menepuk pundak Awan.


Temannya itu adalah teman yang sama, saat Awan menolong ibu-ibu yang sedang dikejar oleh dua preman.


"Apa?" tanya Awan acuh.


"Kamu ini, sekali-kali itu jangan nurut aja ma ketua OSIS. Kan bisa sewenang-wenang dia," ujar temannya itu.


"Biarin aja, gak urusan gue ini," sahut Awan datar.


Teman Awan, tampak mengeleng dan mendengar jawaban yang diberikan oleh Awan.


Tak terasa mereka berdua sudah tiba di bangunan sekolah SMP. Mereka mencari kantor guru, untuk bertanya tentang bantuan yang busa mereka berdua berikan.

__ADS_1


Tapi ternyata mereka berdua salah, karena masuk ke dalam kantor guru. Padahal, para guru yang menjadi panitia penerimaan siswa baru sudah berada di kelas tujuh dan di ruangan kelas masing-masing.


"Silahkan ke ruang kelas langsung Mas!" kata salah satu guru SMP, yang masih berada di dalam kantor.


Awan dan temannya, mengucapkan terima kasih, saat tahu jika mereka berdua, seharusnya langsung ke kelas tujuh, karena memang di kelas tujuh juga acara penerimaan siswa baru dilakukan, dan bukannya ada di dalam kantor.


"Ah, jadi malu Gue. Bisa-bisanya, gak fokus dan gagal paham." Temannya Awan, kembali mengeluhkan tentang kesalahan mereka, yang bertanya ke ruang kantor dan bukannya langsung ke ruang kelas.


"Udahlah. Kan kita juga gak tahu," ujar Awan merasa tidak bersalah.


Akhirnya, mereka berdua kembali berjalan, menunju ke ruang kelas tujuh, di mana tujuan mereka yang seharusnya.


"Masuk ke kelas tujuh yang mana kita?" tanya temannya tadi, saat mereka berdua sudah berada di deretan kelas tujuh yang ada tiga ruang.


Awan hanya mengangkat kedua bahunya, karena dia juga tidak tahu, kemana harus masuk.


"Asal masuk ajalah. Yok!"


Awan masuk terlebih dahulu, baru kemudian disusul oleh temannya, yang ada dibelakangnya.


"Pagi Pak."


Awan mengucapkan salam kepada guru, yang ada di ruangan kelas tujuh, yang ada di deretan pinggir.


"Ya pagi. Ada apa ya Kak?" Guru tersebut justru bertanya bingung pada Awan.


Tapi sebelum Awan menjawab, guru tersebut buru-buru meminta maaf, dan juga berkata, "Oh, maaf Mas. Mungkin kalian berdua ini OSIS yang bantu tugas panitia ya?"


Awan dan temannya, mengangguk mengiyakan perkataan dan pertanyaan dari guru tersebut.


Setelah itu, guru tadi menjelaskan pada Awan, jika dia diminta untuk datang ke kelas tujuh, yang ada di sebelah ruang kelas ini, karena guru yang bersangkutan untuk mengisi, sedang berhalangan hadir, karena sedang sakit.


Ara, yang sedang duduk di bangkunya sendiri, mengerutkan keningnya, melihat siapa yang datang ke kelasnya.

__ADS_1


"Itu kan kakak panitia, yang Aku tanya arah toilet, saat tes penerimaan beasiswa dulu," gumam Ara seorang diri.


Ara yakin, jika apa yang dia lihat saat ini tidak salah. "Huh, awas saja dia. untungnya, kemarin itu Aku tanya orang lain lagi. Dan Aku tidak jadi terlambat karena ternyata, arah yang ditunjukkan orang tersebut ke arah toilet salah."


__ADS_2