
Sudah seminggu ini Anjani berada di rumah, yang ada di depan rumah Adhisti. Dia ditemani satu asisten rumah tangga, sama seperti Adhisti juga.
Kadang, saat Adhisti merasa jenuh, dan tidak ada teman untuk berbincang-bincang, Adhisti datang berkunjung ke rumah Anjani, sekedar untuk mengobrol dengannya. Mereka berdua, membicarakan tentang banyak hal.
Anjani, memang tidak pernah keluar rumah. Dia juga tidak pernah pergi berkunjung ke rumah Adhisti. Dia tidak mau, orang lain akan merasa takut ataupun jijik, jika melihat wajahnya yang rusak dan menakutkan itu.
Elang, juga tidak merasa keberatan jika Anjani hanya di rumah saja. Dia tahu, Anjani belum bisa menerima kenyataan jika wajahnya kini sudah tidak lagi sama seperti dulu, saat belum terjadi kecelakaan itu.
"Mbak Adhis. Mbak gak jijik kan melihat wajahku?" tanya Anjani suatu hari, saat Adhisti datang untuk menghilangkan rasa sepi dan ngantuk.
"Kenapa harus jijik? Aku justru yang minta maaf, karena itu juga penyebabnya adalah Aku juga. Maaf ya Jani," jawab Adhisti dengan wajah sendu.
"Gak apa-apa Mbak. Sudah nasib Saya ini. Semoga, besok anak Mbak, tetap cantik kayak Mbak, atau tampan kayak papanya." Anjani, berdoa untuk calon bayi yang masih ada di dalam kandungan Adhisti.
"Aamiin. Semoga lancar juga ya nanti lahirannya. Doain lho ya..." Adhisti, mengamini doa Anjani. Dia juga minta doa agar dilancarkan saat melahirkan nantinya.
"Aamiin... Jani jadi gak sabar, ingin melihat bayi mungilnya lahir. Aku sedari dulu anak tunggal Mbak, jadi gak tahu rasanya rumah rame itu kayak gimana," kata Anjani bercerita.
"Wah, kebalikan dengan Aku kalau begitu. Sayangnya, Aku tidak pernah tahu siapa kedua orang tuaku. Aku justru hidup dalam keramaian panti asuhan Jani. Jadi, banyak sekali anak-anak yang sebaya ataupun di bawahku. Ada juga yang diatasku, tapi itu sedikit. Kebanyakan dari kami, anak-anak panti asuhan, jika sudah berusia empat atau lima tahun, ada yang minta untuk dijadikan anak angkat. Pernah ada yang mau ambil Aku sebagai anak angkat, tapi karena syarat-syarat yang diperlukan belum mengaku, pihak panti tidak berani melepasku. Dan entah sampai Aku dewasa mereka tidak lagi datang ke panti asuhan kami. Mungkin dia ambil anak angkat dari panti asuhan lainnya. Tapi Aku tetap bersyukur, sebab, Aku bisa banyak belajar juga di panti asuhan. Aku belajar bagaimana menangani anak-anak kecil dan tahu apa yang anak-anak suka dan tidak suka jika sedang marah, ngambek atau minta sesuatu yang belum bisa terpenuhi.
"Wah, kayaknya seru ya Mbak waktu kecil di panti. Aku sendirian, tidak ada teman. Ibuku tidak bisa punya anak lagi, karena terpaksa rahimnya diangkat. Dan ayah, hanya bisa pasrah saja, meskipun tidak ada keturunan dari pihaknya." Anjani, ikut bercerita, bagaimana tentang masa kecilnya dulu. Anjani juga bercerita tentang ibunya, yang sudah meninggal, dengan sesekali menyeka air matanya.
"Maaf ya Jani. Aku jadi mengingatkan Kamu tentang ibu Kamu." Adhisti, merasa bersalah dan tidak enak hati karena Anjani jadi bersedih hati.
"Tidak apa-apa Mbak. Aku memang suka sedih, jika ingat ibu."
__ADS_1
"Aku pamit balik dulu ya, mau istirahat. Kamu juga jangan lupa istirahat yang cukup dan minum obatnya juga ya," kata Adhisti, mengingatkan Anjani.
"Iya Mbak. Terima kasih ya, sudah mau menemani Jani."
Adhisti, hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian berjalan keluar rumah menuju ke rumahnya sendiri, yang berada di depan rumah Anjani ini.
*****
Elang, harus bisa membagi waktu antara Adhisti, istrinya yang sedang mengandung, dengan Anjani, istri sirinya yang masih dalam masa pemulihan pasca komanya.
Hari ini, adalah giliran Elang untuk berada di rumah Anjani. Dia langsung membuka pintu, kemudian turun dari mobil, saat supir menghentikan mobilnya.
"Bapak boleh pulang. Jika ada perlu saya akan panggil saja, atau Saya bisa pakai mobil yang ada di rumah."
"Baik Tuan."
"Mas," sapa Anjani dengan suara pelan. Dia tidak ingin mengagetkan suaminya itu.
"Bagaimana urusan paspor, sudah ada orang jadi belum?" tanya Elang sambil mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Orang yang Mas Elang suruh, belum datang lagi. Mungil besok atau lusa. Kemarin kan dia bilang dia mingguan Mas," jawab Anjani mengingatkan Elang, suaminya.
"Aku pusing Jani. Pabrik sedang ada masalah keuangan. Sepertinya ada yang tidak beres, antara pembukuan dan pengeluaran yang seharusnya. Sejak Adhisti tidak ikut kerja dan menangani keuangan, Aku jadi tidak bisa fokus. Banyak sekali yang tidak beres saat ini."
"Harusnya rencana kita ke Korea di tunda Mas. Aku takut, jika Mas tinggal malah tambah kacau nanti." Anjani, jadi merasa cemas dan merasa bersalah jika harus memaksa untuk pergi ke Korea.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Masih ada waktu sekitar seminggu ini. Semoga saja, Aku bisa mengatasinya."
"Tapi, sayang dananya Mas. Bisa menutup kekurangan pabrik jika kita tidak jadi pergi."
Elang, tidak menanggapi perkataan Anjani. Dia hanya menghela nafas panjang dan bersandar pada sofa.
"Mas. Jika Mas mau cerita, cerita saja Mas. Aku memang tidak bisa bantu apa-apa. Tapi, setidaknya, Aku bisa ikut mendengarkan. Jadi Mas ada teman bicara, atau bisa juga Mas bicarakan ini dengan mbak Adhis. Mungkin dia ada solusi yang baik. Kan dia lebih tahu tentang banyak hal di pabrik." Anjani, memberikan beberapa pendapatnya.
"Aku tidak mau membebani pikiran Adhisti. Kamu tahu sendiri, dia sedang hamil muda. Aku maunya, dia tidak banyak berpikir yang macam-macam."
Anjani, akhirnya hanya bisa mengangguk saja Dia tidak mau jika Elang, merasa tersinggung dan berpikir, jika dia tidak mau dijadikan tempat berkeluh kesah tentang keadaan kantor dan usaha garmen milik Elang.
*****
Usai makan malam. Elang mengajak Anjani, untuk berbincang di teras rumah bagian samping.
Sebenarnya tadi, Elang ingin mengajak Anjani, sesekali makan keluar.Tapi Anjani menolak. Dia masih tidak percaya diri, jika harus keluar rumah di kerumunan ramai. Anjani takut, orang-orang akan melihatnya dengan timpang, karena berjalan dengan Elang yang tampak sempurna.
"Kita ke teras rumah saja ya Mas. Aku malu, kalau harus pergi-pergi," kata Anjani beralasan.
"Ya sudah. Kita ke teras saja kalau begitu."
Akhirnya Elang, yang ingin menikmati malam yang cerah di luar rumah, dengan pergi jalan-jalan atau makan, hanya bisa menyetujui permintaan Anjani. Berbincang di teras rumah bagian samping.
Adhisti, yang sedang berada di dekat jendela kamar, melihat keakraban antara Elang dan Anjani. Mereka tampak berbincang-bincang dengan santai, dan sesekali juga terlihat sedang tertawa-tawa kecil.
__ADS_1
"Mas. Aku juga ingin, Mas mengajakku berbincang santai seperti itu," kata Adhisti dengan mata berkaca-kaca. "Aku Cemburu Mas," sambung Adhisti, hanya pada dirinya sendiri.