
"Ngapain sih Dek?"
Anggi mendongak menatap ke arah kakaknya, yang datang bersama dengan bundanya. Dia belakang kakaknya, ada ayah dan juga Miko. Yang tadi memutuskan untuk ikut berjalan saja ke rumah eyangnya.
"Gak ngapa-ngapain," jawab Anggi, setelah memasukkan kembali handphone miliknya ke dalam kantong kaos stiwer, yang saat ini dia kenakan.
Sekarang, Anggi tidak menaiki sepedanya Miko lagi. Tapi dia justru menuntun sepeda tersebut, dan ikut berjalan bersama mereka semua, ke rumah eyangnya.
"Adek kenapa sih Bun?" tanya Ara pada bundanya. Karena dia merasa jika, sikap adeknya itu tidak seperti biasanya.
"Bunda juga gak tau Kak. Mungkin, dia masih ngambek sama Miko. Atau bisa jadi, dia sedang ingat teman-temannya di Amerika sana," ujar Anjani, memberikan beberapa kemungkinan yang terjadi pada anaknya yang nomer dua itu.
Di belakangnya Ara, sebenarnya Miko ingin bertanya pada Anggi. Tapi dia masih jengkel dengan apa yang terjadi tadi di rumah. Pada saat mereka berdebat mengenai siapa yang baik dan membonceng sepeda.
Meskipun akhirnya Miko yang mengalah, tapi dia merasa jika sepeda itu adalah miliknya.
Dia hanya diam saja sedari tadi. Dia tidak mau memulai pembicaraan apa pun. Apalagi dengan Anggi. Miko masih ngambek dengannya.
Tiba di rumah ayah Edi.
"Assalamualaikum..."
"Assalamualaikum Eyang!"
Anjani dan Ara, bersama-sama mengucapkan salam.
Sedangkan Abimanyu, Miko dan juga Anggi menjawab salam dari keduanya dari belakang.
Ibu Sofie tampak membuka pintu rumah. "Waallaikumsalam..." jawab ibu Sofie, sambil memeluk Ara, kemudian berganti dengan Anjani.
"Eyang, Anggi gak?"
"Hahaha... sini-sini!"
Ibu Sofie melepas pelukannya pada Anjani, kemudian berganti dengan Anggi. Yang baru saja selesai menyenderkan sepedanya di dekat pintu gerbang rumah.
Abimanyu dan Miko, hanya tersenyum-senyum sendiri. Melihat bagaimana manjanya Anggi yang tadi ngambek-ngambek di rumah.
"Lho, Miko ikut juga? Eh, adik Kamu kenapa tadi? kok mama Kamu jadi gak balik ke rumah eyang."
Ibu Sofie, bertanya kepada cucu yang sekarang ini sudah menjadi remaja. Dan bukan lagi anak-anak. Meskipun tingkah lakunya, masih saja sama seperti anak-anak yang lain.
Miko tidak menjawab pertanyaan dari eyang putrinya. Dia hanya cengengesan, melihat wajah orang-orang, yang melihatnya dengan artian sebagai pengajuan sebuah pertanyaan yang sama juga.
__ADS_1
Hanya Anggi saja yang tersenyum kecut. Karena dia tahu, apa yang sebenarnya terjadi di rumah Miko.
Kejadian yang mengakibatkan adiknya Miko terluka. Sehingga dia mendapatkan omelan dari mamanya, Sekar.
Sebab karena itu juga, Miko pergi ke rumah Anggi mengunakan sepedanya.
Dari pada mendengar mamanya, Sekar, yang terus memberikan ceramah pada dirinya sejak pulang, hingga adiknya tertidur.
"Lho Buk, kenapa masih di luar? Ayok masuk!"
Dari dalam rumah, ayah Edi keluar. Dia melihat istrinya yang masih berdiri di depan pintu masuk, sehingga anak-anak dan cucu-cucunya, tidak bisa masuk ke dalam rumah.
"Hufhhh..."
Miko bernafas lega. Sedangkan ibu Sofie, hanya tersenyum canggung. Karena lupa mempersilahkan anak dan cucunya itu masuk ke dalam rumah.
"Yok-yok masuk!"
*****
Di rumah mama Amel.
Elang sedang memeriksa beberapa berkas di ruang kerjanya. Karena hari ini dia tidak masuk ke kantor. Itulah sebabnya, dia menyelesaikan beberapa pekerjaan, yang tadi dikirim oleh asistennya ke rumah.
"Yah. Ayo makan dulu."
Awan datang ke ruang kerja ayahnya. Karena tadi dia mengetuk-ngetuk pintu, tapi ayahnya tidak menyahuti. Akhirnya Awan masuk sendiri tanpa dipersilahkan oleh ayahnya, Elang.
Dengan sedikit terkejut, Elang mendongak menatap ke depan. Awan tersenyum, karena mereka telah membuat ayahnya itu terkejut.
"Maaf Yah. Tadi, Awan sudah mengetuk-ngetuk pintu. Tapi Ayah tidak dengar juga."
Elang mengangguk mengiyakan. "Sebentar. Ini ayah simpan dulu," sahut Elang, dengan merapikan beberapa berkas yang berserakan di atas meja kerjanya.
Setelah dirasa cukup rapi, Elang berdiri. Dia berjalan dan mengajak anaknya itu, untuk keluar bersama-sama dengan dirinya.
"Ayok!"
Mereka berdua, Elang dan Awan, akhirnya keluar dari ruang kerja bersama-sama.
Di meja makan, mama Amel dan papa Ryan, sudah duduk menunggu mereka berdua. Setelah melihat kedatangan anak dan cucunya, mama Amel tersenyum.
"Lang. Libur dulu kenapa kerjanya. Ini juga malam hari, waktunya untuk beristirahat. Besik dilanjutkan lagi di kantor!"
__ADS_1
Elang mengeleng cepat.
"Ini laporan yang akan dibacakan metting besok pagi Ma. Elang harus pelajari malam ini. Kasihan asisten Elang, yang sudah capek-capek datang mengantarkan berjas tadi. Jika Elang tidak juga memeriksanya."
Mama Amel hampir menyahuti lagi perkataan anaknya itu. Tapi dengan cepat, papa Ryan berkata, "ya gak apa-apa Lang. Pelajari dan pahami sebelum besok dibicarakan di metting. Itu bagus, karena Kamu adalah pemimpinnya. Jadi harus tahu apa dan bagaimana dengan laporan-laporan yang masuk. Jangan sampai kejadian yang dulu terjadi lagi."
Mendengar apa yang dikatakan oleh papanya, Elang mengangguk mengiyakan.
Sedangkan mama Amel, menghela nafas panjang. Dia tahu jika, apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar adanya.
Dia hanya tidak mau jika, Elang terlalu memforsir dirinya. Padahal acara pernikahan anaknya akan segera dilaksanakan.
Tapi karena beberapa kejadian yang dulu, Mama Amel tidak lagi membantah ataupun melarang Elang.
"Tapi jika Kamu mengantuk, lebih baik tidur saja. Dari pada Kamu malah terlambat datang besok pagi," sambung papa Ryan menasehati anaknya itu.
Kini, Mama Amel tersenyum sendiri. Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya itu.
Dia sadar jika, suaminya itu tidak mungkin membiarkan anaknya dalam keadaan payah dan sakit. Meskipun kepentingan perusahaan sangat penting, tapi kesehatan tetaplah menjadi prioritas utama.
"Wan. Kamu akan menetap di sini kan? Gak balik ke Amerika kan?"
Tiba-tiba, mama Amel bertanya pada cucunya, tentang rencananya setelah menikah.
"Kenapa Oma?" tanya Elang, yang memang belum membicarakan tentang hal ini pada keluarganya sendiri.
"Bantu Ayah Kamu. Di Amerika, serahkan ke orang lain saja. Kita hanya sebagai penanam saham. Bagaimana?" tanya mama Amel, tentang usulan dan rencananya itu.
"Tapi Oma, Ara ada panggilan sebagai dosen di sana. Dia akan menjadi dosen muda di almamater kampus tempatnya belajar dulu."
"Tapi, Oma ingin Kamu dan Ara di Indonesia saja. Iya kan Pa, Lang?"
Mama Amel meminta dukungan dari suami dan anaknya. Dia ingin, bisa melihat keluarga Awan berbahagia. Dengan anak-anak mereka nantinya.
"Hemmm..."
Awan tidak bisa memberikan jawaban kepada omanya sekarang. Dia belum membicarakan tentang hal ini pada Ara.
Elang dan papa Ryan hanya saling pandang tanpa bicara apa-apa.
Meskipun sebenarnya, mereka berdua juga menginginkan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh maka Amel tadi.
Mungkin untuk beberapa waktu kedepannya, semua akan diserahkan kepada Awan dan Ara saja. Membiarkan pasangan baru itu menentukan langkah apa yang akan diambil.
__ADS_1
Tapi yang terpenting adalah, mereka sudah mengatakan apa yang ingin mereka sampaikan. Untuk masa depan mereka berdua, dan keluarga besar mereka juga.