
"Ayo pulang Ra, atau Kamu sedang ada acara lain?" tanya Nanda, yang bermaksud untuk mengajak Ara pulang.
Nanda bertanya seperti itu karena, Ara masih saja berbincang-bincang dengan temannya di dalam kelas, padahal bel pulang sekolah sudah sedari tadi.
Awalnya, Nanda menuggu di teras samping kelasnya Ara. Tapi, Ara tidak muncul-muncul juga.
Nanda merasa khawatir, dan akhirnya memutuskan untuk melihat keberadaan Ara, yang siapa tahu, dia masih ada di dalam kelas. Dan ternyata, Ara memang masih ada di dalam sana, bersama dengan temannya.
"Eh, i_iya. Iya Kak." Ara menjawab dengan gugup.
"Aku duluan ya!" Ara pamit pada temannya itu.
"Ya Ra. Maaf ya, Aku ajak ngobrol malah lupa pulang."
Temannya Ara, memang menunggu mamanya, yang tadi datang ke sekolah dan saat ini ada di ruang administrasi kantor sekolah.
Sebenarnya, tadi Ara sudah hampir keluar, menunggu kedatangan Nanda, di depan kelasnya, seperti biasanya. Tapi karena temannya itu mengajaknya bicara, Ara jadi lupa, dan keasyikan ngobrol dengan temannya tadi.
"Maaf," ucap Ara, begitu sampai di depannya Nanda.
"Iya gak apa-apa. Kakak cuma khawatir pas gak liat Kamu. Kakak coba nunggu, tapi Kamu gak muncul juga. Akhirnya Kakak coba periksa di dalam kelas, ternyata memang masih ada di dalam."
Ara tersenyum canggung. Dia merasa bersalah, karena sudah membuat kakak sepupunya itu merasa khawatir dengan dirinya.
"Kakak pikir, diculik cowok tadi."
"Ihsss Kakak. Apaan sih! Siapa juga yang mau nyulik Ara. Gak guna, hehehe..."
Ara terkekeh geli, menyadari jawabannya sendiri yang asal.
"Entar Kakak aja yang nyulik kalau gitu," sahut Nanda, menimpali jawaban yang diberikan oleh Ara.
"Hehehe... dengan senang hati ikut deh."
Ara justru menimpali lagi, dengan nada bergurau. Dia asal saja bicara, dan tidak memperhatikan perubahan warna pada wajahnya Nanda.
"Ya_yakin, jika suatu saat nanti, Kakak yang nyulik Kamu akan ikut dengan senang hati?"
Nanda memperjelas pertanyaan n, sesuai dengan apa yang tadi dikatakan oleh Ara padanya.
"Lah ini, tiap hari juga udah di culik sama Kakak kan?" tanya memberikan contoh dari perkataannya yang tadi.
"Ah, tidak usah di bahas lagi. Yuk!"
__ADS_1
Dengan mengangguk, Ara tersenyum mendengar ajakan kakak sepupunya itu.
Mereka berdua, berjalan beriringan menuju ke arah tempat parkir motor warung Pak Lek. Tapi ternyata, di tempat parkir motor tersebut, Awan dan Dika juga masih ada di sana. Mereka berdua, belum pulang.
"Eh, Gue masih bisa lihat wajahnya Diyah hari ini. Gue pikir, seharian gak liat, bakalan gak liat sampai besok pagi. Ternyata, Tuhan mendengar keluhan Gue barusan."
Temannya Awan, si Dika, berbicara sendiri, saat melihat kedatangan Ara, yang berjalan bersama dengan Nanda, ke tempat parkir motor warung Pak Lek. Di mana saat ini, dirinya dan Awan berada.
"Pantes aja, di ajak pulang sedari tadi ogah!" Awan mengerutu sendiri, dengan kelakuan temannya itu.
Padahal sebenarnya, Awan juga merasa dag-dig-dug, saat melihat kedatangan Ara, yang berjalan bersama dengan kakak sepupunya itu.
'Tumben mereka berdua baru keluar,' kata Awan dalam hati.
"Hehehe... kan tadi masih liat motor itu bodyguard masih narsis di tempatnya. Ya udah, gue alasan aja pas Loe ajak pulang. Hahaha..."
"Sialan," sahut Awan mengumpat, sambil menepuk pundak temannya, si Dika.
Begitu sampai di tempat parkir, dan melihat keberadaan Awan serta temannya, Dika, Ara mengangguk dengan tersenyum ramah. Padahal, Nanda bersikap biasa saja, dan tidak tampak ada senyuman di wajahnya.
"Tumben sekali baru balik Dek?" tanya si Dika. Padahal, pertanyaan si Dika itu, sama seperti yang diajukan oleh Awan, meskipun cuma bertanya dalam hati.
"Sok akrab," gumam Nanda, yang tidak begitu suka dengan temannya Awan.
"Kami pulang dulu Kak," pamit Ara, pada Awan dan temannya. Si Dika.
"Ya hati-hati Dek," sahut Dika cepat, sedangkan Awan, hanya mengangguk dengan samar.
Nanda dan Ara, pergi dari area parkir motor tersebut, menuju ke arah rumah. Tapi saat di jalan, Nanda berhenti sebentar. Dia menceritakan tentang pesan yang dia terima, tadi siang kepada Ara.
"Sebaiknya Kakak nemuin orang itu tidak ya Ra?" tanya Nanda, meminta pendapat pada Ara, terkait pesan dari nomer yang tidak dia kenal.
"Memang Kakak pernah ada kenalan atau janji dengan seseorang gitu?" Ara balik bertanya, tentang siapa yang kemungkinan besar mengirim pesan tersebut.
"Gak ada. Kakak kan gak ada temen di sini Dek," jawab Nanda, yang memang tidak memiliki hubungan pertemanan dengan siapa-siapa, sejak dia tinggal di Taiwan sana.
"Ah, biarin aja lah. Entar, kalau orangnya ada perlu penting, pasti menghubungi lagi, bisa juga datang langsung ke rumah eyang. Ya kan?"
Akhirnya, Nanda memutuskan untuk tidak jadi datang, ke tempat yang di minta oleh seseorang, lewat pesan singkat yang dia terima tadi siang.
Nanda dan Ara, langsung pulang ke rumah, dan mengabaikan pesan tersebut.
*****
__ADS_1
..."Iya Yah. Anjani yang bertemu dengan Wawan kemarin siang."...
Abimanyu, menghubungi ayahnya, ayah Edi, dan memberitahu tentang keberadaan Wawan lagi di area perumahan mereka.
..."Lho kok Anjani gak cerita sendiri kemarin itu? malah ngomong sama Kamu, yang sedang ada di luar kota."...
..."Anjani gak enak Yah, ada banyak orang. Lagipula, Yasmin baru saja pulang kan kemarin? Ada Aksan dan banyak tetangga juga."...
..."Hemmm, ya sudah tidak apa-apa. Semoga dia tidak ada kemauan untuk membuat kerusuhan lagi. Ayah sudah bosan dengan semua tingkahnya selama ini."...
..."Semoga saja Yah."...
..."Tapi tetap saja, kita harus berhati-hati, jika ada dia. Ayah tidak mau jika, dia berbuat apa-apa pada keluarga kita lagi Bi."...
..."Ya Yah. Abi akan bilang sama Anjani, supaya berhati-hati. Oh ya Yah, salam buat Yasmin dan Aksan. Maaf belum sempat tengok."...
..."Iya, Kamu juga hati-hati ya!"...
..."Iya Yah. Terima kasih."...
Klik!
Sambungan telpon, di tutup oleh Abimanyu.
Siang ini, Abimanyu menghubungi ayahnya, menceritakan tentang pertemuan Anjani dengan Wawan. Mantan menantu ayah Edi dan ibu Sofie. Yang artinya, Wawan adalah mantan adik iparnya Abimanyu sendiri.
Abimanyu masih mengaku, jika saat ini, dia sedang ada di luar kota. Itulah sebabnya, dia belum datang berkunjung ke rumah ayahnya itu, untuk menjenguk adiknya Yasmin, yang baru saja melahirkan anak laki-laki keduanya.
"Bagaimana tanggapan ayah Mas?" tanya Anjani, memastikan apakah ayahnya itu merasa kaget atau tidak, dengan keberadaan Wawan di sekitar mereka.
"Tidak apa-apa. Ayah biasa saja tanggapnya. Yang penting, kita tetap berhati-hati saja, kalau-kalau Wawan barulah lagi."
Anjani mengangguk mengiyakan perkataan suaminya itu, yang merupakan pesan dari ayah mertuanya, ayah Edi.
Dengan adanya kasus-kasus yang dulu pernah dilakukan oleh Wawan, tentu saja, banyak orang yang tidak bisa percaya dengan mudah, apa yang sekarang ini dia ceritakan.
Kesuksesan dan keberhasilan yang dia miliki, belum tentu benar, dan bisa jadi, itu hanya sebuah rekayasa, untuk mencari simpati dan dukungan dari orang-orang yang mengenalnya.
Tapi yang dikhawatirkan oleh Anjani adalah, tentang Nanda. Meskipun Nanda tidak dekat dengan papanya sedari kecil, tapi pertalian darah diantara mereka berdua, tetap saja ada.
Dan itu bisa membuat Nanda terpengaruh oleh cerita-cerita dari Wawan, yang memang pandai dalam mengolah kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Ibarat kata, mulut Wawan itu lebih manis dari pada madu, tapi yang sebenarnya, justru lebih pahit dari pada empedu.
__ADS_1