
Suasana malam yang semakin larut, membuat Elang merasa tidak enak pikirannya. Dia akhirnya keluar dari ruangan kerjanya, menuju ke arah teras depan rumah, yang berhadapan langsung dengan rumah di depan, yang dulunya di tempati oleh Anjani bersama dengannya, sewaktu masih menjadi suami istri. Meskipun sebenarnya, Elang sadar jika hubungannya dengan Anjani tidak sehat selama ini.
Elang menghela nafas panjang beberapa kali. Mencoba untuk membuang rasa sesak yang sedang dia rasakan saat ini.
"Hah! maafkan aku Jani. Harusnya, Aku tidak mengikuti perasaan yang sedang emosi dan tidak baik-baik saja." Elang, mencoba membuang rasa bersalahnya selama menjadi suaminya Anjani.
"Aku tidak bisa adil dalam memperlakukan dirimu dan Adhisti. Aku pikir, Aku tidak mungkin bisa memiliki rasa ini pada wanita lain. Ternyata Aku salah. Sekarang, Aku baru sadar, jika hatiku telah kamu bawa sebagian. Apa yang harus aku lakukan sekarang ini Jani?" keluh Elang, dengan terus menatap ke depan, ke rumah Anjani.
Dari dalam rumah, Adhisti melihat tingkah laku suaminya yang sedang melamun sendiri di teras depan rumah. Dia tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh Elang saat ini.
"Kamu kangen Jani ya Mas? Apa Aku sudah tidak ada lagi di dalam hatimu?" tanya Adhisti dalam hati. Dia menitikkan air mata, menangisi kebahagiaan yang dia impikan selama ini, dan itu hanyalah semu belaka. Nyatanya, dia tidak bisa merasa lebih baik, meskipun Anjani telah pergi dari rumah itu.
"Mas," sapa Adhisti mendekati Elang.
Sepertinya, Elang tidak mendengar suara Adhisti, yang menyapanya pelan. Dia masih terdiam dan menatap ke arah depan.
"Mas Elang," panggil Adhisti, dengan memegang lengan suaminya itu.
"Eh, apa?" tanya Elang kaget. Dia tidak menyangka jika Adhisti akan menyusulnya ke teras.
"Mas melamun ya?" tanya Adhisti menyelidik, meskipun sebenarnya dia sudah tahu,.kalau Elang memang melamun.
"Tidak. Aku hanya sedang menikmati keindahan malam ini dengan melihat langit dan bintang-bintang yang bertaburan. Jarang kan bintang terlihat jelas di kota ini, sebab lampu kota mengalahkan sinarnya."
Elang, melihat ke atas, dimana langit memang sedang cerah, sehingga ada beberapa bintang yang bisa dia lihat sekarang ini. Dia tidak mau, jika Adhisti tahu, apa yang sedang dia pikirkan. Tentang Anjani, dan tentang semua cerita dari mama dan juga papanya tadi.
"Mas. Jika Mas ingin Jani balik, Aku tidak apa-apa Mas. Jika Jani tidak mau ada dua wanita dalam pernikahannya, Aku akan minta supaya Mas mau menceraikanku, supaya Mas bisa bahagia dengan Anjani nantinya."
__ADS_1
Perkataan Andhisti, membuat Elang menyipitkan matanya dan tersenyum samar. Dia membuang nafas kasar, berharap jika semua ini hanya mimpi.
"Hah! Harusnya Aku bisa lebih berpikir panjang dan menjadi lebih dewasa saat nasehat-nasehat dari mama Aku dengar. Tapi Aku seperti remaja labil, yang buta akan rasa semu ini," kata Elang dengan wajah datar.
"Maksudnya Mas?" tanya Adhisti, karena tidak paham dengan perkataan suaminya itu.
"Dhis. Honey. Apa Aku tidak bisa membahagiakan dirimu selama ini? Apa ada yang kurang baik dalam perlakuan yang Aku berikan padamu? Katakanlah dengan jujur, dan semuanya akan bisa kita perbaiki nanti."
Adhisti, mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan yang diucapkan oleh suaminya, Elang. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengannya saat ini.
"Dhis, jujur padaku. Apa yang sedang Kamu rencanakan?" tanya Elang, melanjutkan kata-katanya yang tadi.
"Maksud Mas Elang apa?" tanya Adhisti, dengan wajah cemas dan terlihat pucat.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya saja, yang mungkin Aku tidak tahu selama ini."
"Apa mungkin..." Adhisti, tidak berani melanjutkan pertanyaan yang dia ajukan untuk dirinya sendiri.
"Ada apa Sayang?" tanya Elang, yang melihat wajah istrinya itu menjadi pucat dan terdiam.
"Tadi... maksud dari pertanyaan Mas Elang apa?" tanya Adhisti dengan suara bergetar. Dia merasa, jika Elang menyembunyikan sesuatu yang tidak dia ketahui.
"Harusnya, Aku yang bertanya Dhis. Apa maksud dari semua ini? apa yang Kamu rencanakan?" jawab Elang, dengan mengajukan pertanyaan yang sama pada Adhisti.
"Aku... Aku melakukan apa?" tanya Adhisti, pura-pura tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu.
Elang, menghela nafas panjang. Dia juga memejamkan matanya untuk meredam emosi yang tiba-tiba datang. Dia tidak bisa mengatakan secara langsung dengan Adhisti, istrinya yang sudah memberinya seorang putra. Istri, yang dia harapkan bisa memberikan kebahagiaan yang selama ini, mereka impikan. Yang sudah dia kenal, bahkan sedari masa sekolah dulu.
__ADS_1
"Kamu masih mau hidup bersama denganku, atau Kamu ada pemikiran sendiri yang selama ini tidak Aku sadari?" tanya Elang, tanpa menjawab pertanyaan dari Andhisti.
Pertanyaan Elang, kembali membuat wajah Adhisti pucat. Dia berpikir, jika Elang sudah tidak lagi mempunyai keinginan untuk hidup bersama dengannya lagi.
"Apa Mas mau Aku pergi dari sini Mas? Apa ini ada hubungannya dengan Anjani?" Adhisti, justru mengkaitkan perdebatan mereka berdua pada Anjani. Orang yang jelas-jelas sudah tidak ada hubungannya dengan mereka berdua.
"Kenapa selalu mengaitkan dengan Anjani? Apa hanya itu alasan yang Kamu miliki, yang membuat Kamu begitu tega membuatku hancur?"
sekarang, Elang menatap wajah istrinya yang sedang berada didepannya itu, dengan tatapan menuntut. Dia ingin mendapatkan jawaban yang pasti dari mulut Adhisti sendiri.
"Aku... Aku tidak tahu, apa yang Mas bicarakan." Adhisti, mengelak dari berbagai pertanyaan yang diajukan oleh suaminya.
"Kamu jelas-jelas paham, apa maksud dari pertanyaan yang Aku tanyakan ini!" jawab Elang, dengan suara yang sedikit keras.
Andhisti mendongak menatap wajah Elang yang terlihat marah. Dia merasa takut, karena tidak pernah melihat Elang dalam keadaan seperti sekarang ini.
"Katakan Adhisti. Apa yang membuatmu tega merencanakan semua ini padaku? Padahal, Aku tulus mencintaimu selama ini, dan ini adalah hal yang Kamu sendiri ketahui sejak lama. Aku melawan nasehat mama dan papa tentang penilaiannya terhadapmu. Aku tetap nekad menikahimu, semua ini karena Aku benar-benar mencintaimu Andhisti Andriani."
Adhisti, merasa jika semuanya sudah terbuka. Dia tidak bisa lagi lari dari kenyataan yang sebenarnya. Semua sudah diketahui oleh suaminya sendiri, meskipun dia tidak tahu, dari mana Elang mengetahui bahwa dialah orang yang sudah menghancurkan semua usahanya, secara perlahan-lahan, tanpa di sadari oleh Elang sendiri.
"Jawab Adhisti!" teriak Elang, dengan menggoyang-goyangkan bahu Adhisti yang dia pegang.
"Mas, Aku..."
"Bilang sekarang, atau Aku akan segera melaporkan semuanya pada pihak yang berwajib." Elang, memotong kalimat Adhisti, agar tidak membuat banyak alasan sebagai jawaban yang akan diberikan.
Adhisti memejamkan matanya, sebelum dia mengeluarkan suaranya untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu. Sedangkan Elang, menuggu jawaban yang akan segera diberikan oleh istrinya, Adhisti Andriani.
__ADS_1