Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Berkunjung Ke Rumah Mami


__ADS_3

Nanda memenuhi permintaan dari papanya, Wawan, yang menyuruhnya untuk bisa datang ke rumah Mami.


Jadi, Nanda langsung ke rumah tersebut, begitu dia pulang dari kampus.


Hati sudah sore, saat dia tiba di rumah istri dari papanya.


"Assalamualaikum..."


Nanda mengucapkan salam, setelah motor dia parkir dan dia turun dari atas motor.


"Waallaikumsalam!" Mami, yang memang sedang ada di pangkalan barang-barang miliknya, membalas salam dari Nanda.


"Eh, Kamu sudan datang Nda. ayok sini!"


Mami mengajak Nanda, untuk duduk di kursi yang ada di pangkalan tersebut. Dia juga menyiapkan meja, yang tadi tidak ada di tempatnya.


"Maaf ya! Tempatnya berantakan. Maklum saja, namanya juga pangkalan barang-barang bekas," ucap Mami, yang memang menyadari bahwa, tempatnya ini lebih mirip dengan pembuangan sampah.


Karena ada banyak sekali onggokan barang-barang, di setiap tempat dan sudut ruangan.


Mami dan Wawan, bersama dengan dua karyawannya, memang harus bisa memilah barang-barang bekas tersebut.


Mereka harus memisahkan mana yang bisa diperbaiki dan dijual lagi, atau memang barang tersebut menjadi barang rongsokan yang harus di daur ulang. Tapi harus disetor terlebih dahulu ke pabrik. Yang punya mesin daur ulang barang bekas.


"Aya Mi. Gak apa-apa. Memang kerjaannya seperti itu. Yang penting kan halal Mi."


"Ya Nda. Alhamdulillah sih. Di berikan kemudahan. Jadi, ada aja barang yang laku."


Nanda menyalami tangan si Mami, sebelum dia duduk di kursi yang disediakan oleh Mami untuknya.


"Nda," sapa Wawan, saat sudah ada di depan anaknya.


Nanda ganti menyalami tangan papanya, setelah tadi menyalami tangannya Mami.


"Sini Mas! duduk temani Nanda. Aku buat minum dulu," ujar Mami pada suaminya, Wawan.


Dengan demikian, Wawan duduk di kursi yang lain, yang ada di dekatnya Nanda. Sedangkan Mami, masuk ke dalam rumah. Membuatkan minum untuk mereka semua.


"Kamu bagaimana kuliahnya?" tanya Wawan, saat mereka hanya berdua saja.


"Baik Pa," jawab Nanda, sambil meletakkan tas yang tadi masih dia gendong ke atas meja.


"Kapan wisudanya Kamu?" tanya Wawan lagi.


"Emhhh... masih lima bulan lagi."


Wawan menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang menjadi jawaban anaknya.

__ADS_1


"Kamu harus bisa lulus dan sarjana Nda. Dulu, Papa tidak bisa jadi sarjana. Mama Kamu juga. Ah... maafkan Papa."


Nanda hanya diam saja, mendengarkan semua perkataan papanya. Yang tentu saja, dia sudah tahu bagaimana ceritanya.


"Bagaimana kabar Mama Kamu?"


Tiba-tiba, Wawan bertanya tentang mamanya Nanda. Mantan istrinya yang pertama. Yaitu Yasmin.


"Mama baik. Papa Aksan juga baik."


Mendengar jawaban tersebut, Wawan menghela nafas panjang. Dia melihat bagaimana Nanda sekarang ini, sudah tumbuh menjadi seorang pemuda. Yang seumuran dengannya pada waktu menikah dengan Yasmin. Sedangkan Yasmin, masih ada di awal-awal masa kuliah.


"Sampaikan salam Papa untuk Mama Kamu. jika Kamu sedang menghubungi dirinya."


Nanda hanya mengangguk saja, tanpa menyahuti perkataan yang diucapkan oleh papanya.


Tak lama kemudian, Mami keluar dari dalam rumah.


Dia membawa nampan berisi minuman untuk mereka bertiga. Ada juga sepiring kue manis legit untuk pendamping minum teh sore ini.


"Maaf ya, Mami cuma ada ini. Nanti, jika ada bakso atau siomay lewat, tolong hentikan Mas. Beli untuk kita ya!" pinta Mami pada suaminya, Wawan.


"Tak apa Mi. Ini juga cukup kok," ujar Nanda, dengan menyingkirkan tas miliknya yang ada di atas meja.


"Ya. Mas liat ke jalan dulu. Siapa tahu, ada yang sedang berhenti di sebelah sana," sahut Wawan, kemudian berdiri untuk mencari tukang bakso atau siomay keliling.


"Tidak usah Pa!"


"Udah biarin Nda. Orang cuma di depan situ kok!"


Akhirnya, Nanda hanya tersenyum tipis mendengar perkataan di Mami.


Sedangkan Wawan, sudah berjalan menuju ke arah jalan besar. Dia mencari keberadaan penjual bakso atau siomay yang biasanya banyak berkeliling di sekitar jalanan ini.


"Kamu kapan wisudanya Nda?"


Sekarang, Mami yang bertanya pada Nanda. Pertanyaan yang sama seperti yang diajukan oleh papanya tadi.


"Lima bulan lagi Mi," jawab Nanda.


"Oh, masih lumayan lama juga ya," komentar si Mami.


"Ya Mi," sahut Nanda, membenarkan.


"Kamu jika ada butuh uang, ke sini saja! Gak apa-apa kok jika Kamu mau minta sama Papa Kamu. Mami gak marah," kata Mami, memberitahu Nanda.


"Ya terima kasih Mi. Tapi, Mama selalu transfer ke rek Nanda tepat waktu."

__ADS_1


Di Mami mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh anak suaminya itu.


"Mama Kamu di mana? apa masih ada di Taiwan?" tanya si Mami lagi. Dia tidak tahu jika, mamanya Nanda sudah tidak bekerja di Taiwan cukup lama.


"Mama sudah tidak lagi bekerja di sana. Sudah lama. Sekarang Mama ada di kampung. Di tempatnya Papa Aksan."


"Oh... Mami pikir masih kerja di sana."


Nanda kembali tersenyum tipis, mendengar perkataan dari istri papanya itu.


"Soalnya, Mami denger ini dari Papa Kamu. Udah lama sih. Dan setelah itu dia tidak pernah lagi membicarakan tentang mama Kamu Nda."


"Iya. Maaf ya Mi, jika ada kelakuan papa yang menyakiti hatinya Mami!" ucap Nanda, yang justru memintakan maaf untuk papanya pada Mami.


"Hehehe... Mami udah kebal dengan kelakuan papa Kamu Nda. Jangan di tiru ya!"


Dengan tersenyum, Nanda mengangguk mengiyakan nasehat yang diberikan oleh si Mami.


Nanda tahu, jika si Mami adalah orang yang baik. Mami terlihat judes hanya karena keadaan. Dan pekerjaannya yang berat sedari dulu, membuatnya memiliki suara yang besar dan sedikit kasar.


Mungkin karena terbiasa dengan keadaan, di mana dia bekerja dan berteman.


Itu di maklumi oleh Nanda. Dia berharap agar, papanya tidak lagi berulah, dan tidak menyakiti hatinya Mami. Dan tidak lagi punya niatan untuk menikah lagi, di kemudian hari.


"Mi. Adanya yang lewat pempek sama bubur ayam. Mau yang mana?" Wawan berteriak dari depan. Di pinggir jalan.


"Kamu mau yang mana Nda?" tanya Mami, pada Nanda.


"Bubur ayam juga gak apa-apa Mi," jawab Nanda, menentukan pilihan.


"Bubur ayam aja Mas!"


Wawan tampak menganggukkan kepalanya paham, mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya.


"Papa Kamu pasti gak beli. Dia gak suka bubur."


"Iya Mi. Papa gak suka yang lembek."


Dan benar saja. Wawan hanya membawakan dua mangkuk bubur ayam, untuk Nanda dan istrinya, Mami.


"Kamu makan apa Mas? kok cuma dua ini," tanya Mami, meskipun sebenarnya dia sudah tahu, jika suaminya itu tidak suka dengan bubur.


"Aku pesen pempek tadi. Masih di goreng," jawab Wawan, dengan menunjuk ke arah jalan, menggunakan dagunya.


"Ayo Nda di makan! Mumpung belum dingin," ajak Mami, mempersilahkan pada Nanda untuk makan buburnya terlebih dahulu, dan tidak perlu menunggu papanya yang pesanannya belum jadi.


"Iya Mi. Biar agak adem sedikit," jawab Nanda, memberikan alasan.

__ADS_1


Padahal, dia hanya ingin menunggu papanya, yang kembali ke depan untuk mengambil pempek pesanannya.


__ADS_2