Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Masih Di Pesta Pernikahan Yasmin


__ADS_3

Pesta yang seharusnya tenang dan penuh kebahagiaan, menjadi sebuah kesedihan untuk Anjani dan Abimanyu.


Sekarang mereka berdua, sedang berada di rumah sakit, untuk mengetahui keadaan kandungan Anjani.


Tadi saat berada di rumah, Anjani mengeluh tentang perutnya yang sakit. Saat di tanya Abimanyu, dia mengatakan tidak tahu. Dia hanya merasakan kesakitan yang luar biasa. Itulah sebabnya, Abimanyu segera melarikan istrinya itu ke rumah sakit, setelah meminta ijin pada ayah dan ibunya.


"Huh, lagi repot kok ada-ada saja dia berulah!" ibu Sofie bersungut-sungut dengan kesal, saat di mintai ijin anaknya, Abimanyu.


Ayah Edi, sebenarnya mau ikut Abimanyu mengantar Anjani ke rumah sakit, tapi di cegah oleh ibu Sofie. Dia menunjukkan pada suaminya itu, jika tamu undangan masih banyak yang datang.


Akhirnya, ayah Edi berkata pada Abimanyu, "Kalian berangkat terlebih dahulu ya, semoga Anjani tidak kenapa-kenapa. Ayah akan segera datang, jika tamu-tamu sudah pulang dan pesta ini selesai."


"Iya Yah, terima kasih." Abimanyu berangkat sendiri ke rumah sakit, bersama dengan Anjani. Ini karena semua orang, sedang sibuk dan Abimanyu, tidak mau menunda-nunda untuk membawa Anjani, agar segera mendapatkan penanganan medis.


"Lho, mbak Jani dan mas Abi kemana Yah?" tanya Sekar, saat kembali dari kamar mandi.


Tadi, Sekar meninggalkan tempat, dimana dia menerima tamu bersama dengan Anjani, karena ingin pergi ke kamar mandi sebentar saja. Tapi begitu kembali, Anjani sudah di bawa kakaknya. Dan dia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada kakak iparnya itu.


"Ayah juga tidak tahu Sekar. Tadi kakak iparmu itu mengeluh tentang perutnya yang sedang sakit. Entah kenapa sakitnya bertambah, dan dia tidak bisa menahannya lagi. Akhirnya, mas_mu bawa dia ke rumah sakit. Ayah tidak bisa ikut, karena masih ada banyak tamu. Nanti, kalau sudah dpt tidak banyak tamu yang datang, Ayah akan menyusulnya."


Sekar jadi merasa khawatir. Dia merasa cemas dengan keadaan kakak iparnya, Anjani. Apalagi kata ayahnya, yang dikeluhkan Anjani adalah perutnya. "Semoga kandungan mbak Jani baik-baik saja," doa Sekar penuh harap. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istri kakaknya, Abimanyu.


"Yang cuma main-main dan tidak berharap adanya anak, bisa kuat dan tidak terjadi apa-apa. Masak kandungan mbak Jani yang sudah dinantikan oleh semua orang tidak bisa bertahan sih! ahhh, kenapa Aku jadi mikir dan membandingkan yang tidak-tidak, tentang kandungan Yasmin dan mbak Jani. Semoga saja tidak apa-apa," batin Sekar, yang memikirkan bagaimana keadaan bayi kakak iparnya.


Ibu Sofie, datang mendekat. Dia yang tidak tahu menahu tentang keadaan Anjani, bertanya pada Sekar, dimana kakak iparnya, Anjani. "Sekar, Anjani kemana? Kamu kok sendiri, tadi kan dia ada di sini."


Dengan mata memicing, ibu Sofie menyelidik curiga, jika menantunya itu mengeluh capek dan mengajak suaminya, Abimanyu, untuk pergi sebentar, sekedar mencari alasan dengan memanfaatkan kehamilannya itu. Bisa jadi, Anjani meminta ini dan itu, dengan alasan ngidam, agar Abimanyu menuruti keinginannya.

__ADS_1


"Dasar udik, pantes sih dia bersikap sok manja gitu, kan waktu nikah yang dulu, dia tidak di anggap gitu. Jadilah sekarang seperti ini, minta di manja-manja. Alasan ngidam, biar diturutin semua maunya dia," kata ibu Sofie, dengan mencibir menantunya, yang saat ini dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


"Ibu ini ngomong apa sih," sahut Sekar dengan kesal. Dia jengkel melihat kelakuan ibunya, apalagi dengan perkataannya yang semuanya itu tidak benar sama sekali.


"Apa? bela saja kakak ipar Kamu yang sok kecantikan itu!" ucap ibu Sofie, membentak Sekar, yang bingung melihat kearahnya.


Sekarang, ayah Edi menengahi keduanya. Dia menceritakan tentang kebenaran yang sedang dialami Anjani. Dia juga mengatakan, jika tadi, Abimanyu sudah ingin meminta ijin juga pada ibunya, tapi karena ibu Sofie sedang sibuk dengan Risma, ayah Edi memintanya untuk segera pergi saja. Ini dikarenakan keadaan Anjani yang semakin kesakitan. Ayah Edi, berpikir jika secepat mungkin Anjani harus mendapatkan perawatan medis.


"Makanya, Ibu jangan asal bicara, karena belum tentu, apa yang Ibu pikiran itu adalah benar," kata ayah Edi, mengakhiri segala nasehat yang dia katakan pada istrinya, ibu Sofie.


"Terus kenapa tidak ajak siapa gitu, buat teman dia!" tanya ibu Sofie, masih meragukan perkataan suaminya sendiri.


Ayah Edi, menghela nafas panjang saat mendengar perkataan istrinya, yang tidak mudah percaya dengan orang lain. Apalagi, jika itu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai. Susah-susah gampang.


"Ya sudah, pesta ini Ibu saja yang lanjutkan. Ayah mau menyusul Abimanyu ke rumah sakit," kata ayah Edi berpamitan.


Ayah Edi, yang sudah mengantongi kunci mobil, tidak perlu lagi masuk ke dalam rumah. Dia hanya perlu ke teras tetangga, dimana mobilnya berada. Ayah Edi, menitipkan mobilnya itu, di rumah tetangga, karena rumahnya sendiri penuh dengan kursi dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pesta pernikahan anaknya, Yasmin.


Sekar, yang mengikuti langkah ayahnya dari belakang, ikut masuk ke dalam mobil. Dia juga ingin tahu keadaan kakak iparnya, Anjani.


"Huh, gara-gara Anjani, semua malah pergi. Kalau ada tamu yang nyari ayah gimana ini? Ihsss, dasar Ayah. Tidak mementingkan kepentingan anaknya sendiri."


Ibu Sofie, terus menggerutu sendiri, mengingat keadaan pesta pernikahan anaknya, yang sekarang tidak ditunggui oleh suaminya dan juga anak-anaknya, Sekar dan Abimanyu.


"Semua ini gara-gara Anjani. Coba kalau tidak dalam keadaan hamil seperti itu, Aku tidak akan membiarkan dia beristirahat barang sejenak. Dia harus tahu diri, supaya belajar dewasa dan tidak manja."


Yasmin yang turun dari pelaminan, mendekat ke tempat ibunya berdiri. Dia menepuk-nepuk punggung ibunya, kemudian bertanya pada ibunya itu, tentang keadaan pestanya, yang ditinggalkan oleh keluarganya sendiri, terutama ayahnya yang ikut pergi bersama dengan kakaknya, Sekar. Apalagi, kepergian mereka berdua, ayah Edi dan Sekar, selang beberapa menit, setelah kepergian kakaknya, Abimanyu, yang telah pergi terlebih dahulu bersama dengan istrinya, Anjani.

__ADS_1


"Ada apa Bu? kok semua pada pergi. Apa pestanya ini sudah selesai?" tanya Yasmin ingin tahu.


"Itu dia Yasmin. Anjani, katanya perutnya tiba-tiba sakit, dan sekarang menuju ke rumah sakit, untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan medis."


Yasmin tampak kaget, mendengar jawaban dari ibunya. Dia juga tersenyum miring, seakan-akan merasakan kepuasan, setelah mendengar jawaban dari ibunya.


"Kamu kembalilah ke atas pelaminan Yasmin. Nanti kalau ada tamu yang ingin mengucapkan selamat, malah jadi susah karena harus mencari-cari keberadaanmu. Sana pergi!"


Yasmin menuruti perkataan ibunya. Dia kembali lagi ke atas panggung pelaminan, bersanding dengan Wawan, yang sekarang ini sudah menjadi suaminya.


Sambil berjalan, Yasmin berpikir dan bertanya-tanya dalam hati, bagaimana keadaan Anjani sekarang ini. Ada semacam perang batin, yang tidak terlihat dan tidak ingin dia ungkapkan pada orang lain juga.


"Aku pikir tidak mempan. Ternyata masih bereaksi, padahal Aku sudah menunggunya dari semalam. Tapi, cukup kuat juga ternyata dia. Dan itu, calon anaknya juga, bisa bertahan hingga suang begini. Aku benar-benar tidak menyangka, jika masih berguna juga obat itu. hehehe..."


"Sayang. Ada apa?" tanya Wawan, saat Yasmin sudah kembali duduk di sampingnya.


"Tidak apa-apa. Itu kakak ipar, istrinya mas Abi, kata ibu perutnya sakit. Sekarang sedang di bawa ke rumah sakit sama mas Abi. Dan Ayah bersama dengan kak Sekar, menyusulnya barusan," jawab Yasmin, acuh tak acuh.


"Oh, Aku pikir ada apa."


"Sayang, kita sudah boleh satu kamar kan nanti?" tanya Wawan, sesaat setelah mereka berdua saling diam.


"Iya lah Sayang. Kan sekarang kita sudah nikah. Ayah tidak mungkin melarang juga kali. Ayah bilang, kita tidak boleh sekamar sebelum menikah kan?"


Wawan, mengangguk mengiyakan jawaban yang diberikan oleh Yasmin. Dia tersenyum penuh arti, setelah Yasmin selesai berbicara. Dia juga menggenggam tangan Yasmin, kemudian menyiumi punggung tangan istrinya itu, beberapa kali. Seakan-akan ingin memperlihatkan kemesraan mereka berdua, pada para tamu undangan yang datang di pesta pernikahan mereka ini. Agar orang-orang tahu, jika dia benar-benar mencintai Yasmin, yang sekarang ini sudah menjadi istrinya yang sah.


Wawan tidak tahu, jika salah satu dari tamu yang datang, ada mantan kekasihnya yang dulu, sahabat Sekar. Tamu itu baru saja menyelesaikan makannya. Dia melihat keadaan, namun tidak melihat keberadaan Sekar, kemudian tamu itu bersiap-siap untuk naik ke atas panggung pelaminan. Memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Mantan kekasihnya, yang sekarang sedang berbahagia bersama dengan selingkuhannya, yaitu Yasmin.

__ADS_1


__ADS_2