Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Peluru Enak


__ADS_3

Pihak rumah sakit, memberikan penjelasan dan laporan pada orang, yang ditugaskan Awan untuk menjaga Dika.


Dan dengan segera, orang tersebut juga melaporkan semuanya kembali pada Awan.


Setelah mendapatkan laporan dari orang tersebut, jadilah sekarang Awan bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Padahal, rencananya dia dan Ara tidak akan pergi ke mana-mana. Dan hanya menghabiskan waktu bersama seharian ini.


"Ara ikut ya Kak?" pinta Ara, di saat Awan sudah selesai mandi. Sedang dia sendiri, baru akan masuk ke dalam kamar mandi.


Di rumah saja Dek. Kamu kan masih capek. Dan itu... kasihan juga dibuat jalan-jalan kan?"


Ara kembali tersipu malu, di saat jari Awan menunjuk ke arah tubuhnya yang bagian tengah, tepat di bawah perut. Sambil tersenyum menggoda istrinya.


"Ah, Kakak sih!"


Bibir Ara jadi mengerucut. Dia kesal karena harus berada di rumah sendirian kali ini. Karena Anggi, baru pulang sore hari. Bahkan kadang-kadang hingga malam tiba.


Sedangkan Miko yang biasanya mampir, belum tentu juga siang nanti mampir ke rumahnya ini.


Wajah Ara yang masam dengan bibir mengerucut, membuat Awan merasa kasihan juga. Sehingga dia tidak mau membuat istrinya itu semakin merasa diabaikan.


"Ya udah, buruan mandi! ikut Kakak."


"Beneran Kak?"


Seketika mata Ara berbinar-binar, karena bayangan jenuh seharian di rumah hilang seketika.


"Iya. Makanya buruan mandi! Jika tidak mau Kakak makan lagi, dan ditinggal di rumah sendirian karena semakin capek."


"Aaa..."


Clek!


Ara langsung berlari menuju ke arah kamar mandi dengan berteriak. Kemudian segera menutup pintu kamar mandi juga. Karena dia menghindar dari Awan, yang sudah bersiap untuk menangkap tubuhnya.


Awan mengelengkan kepalanya, melihat tingkah Ara yang kekanakan.


"Lucu juga melihat sisi kekanakan Ara yang muncul tiba-tiba seperti itu."


Awan yang terbiasa sendiri di rumah besar omanya, jadi menemukan bagaimana rasanya menikmati hidup dengan adanya kegiatan yang tidak itu-itu saja.


Mungkin ini karena efek dari kehidupan barunya, sebagai seorang suami. Tentu saja akan berbeda, di saat dia masih berstatus sebagai Awan yang masih single dulu.


Setelah beberapa menit menuggu, akhirnya Ara keluar juga dari dalam kamar mandi. Sayangnya, dia lupa membawa baju ganti. Dan sekarang ini, Ara hanya menguntungkan jubah mandi saja.


Dengan malu-malu, Ara berjalan pelan-pelan menuju ke almari pakaian.


"Kak," panggil Ara, yang ingin meminta bantuan pada Awan.

__ADS_1


"Hemmm..."


Jawaban Awan yang tidak jelas, membuat Ara menolehkan kepalanya. Ternyata Awan sedang menatap ke layar handphone, bukan ke arahnya.


"Ihsss... gak peka."


Akhirnya Ara berusaha sendiri untuk mengambil baju ganti, yang terletak di rak paling atas.


Tapi karena tubuh mungilnya, dia tetap saja kesulitan. Dan pada saat dia mau mengambilnya dengan bantuan kursi yang ada di meja rias, Awan sudah mengangkat tubuhnya sehingga lebih tinggi.


"Aaa..."


Ara tentu saja merasa kaget dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Dia merasa seperti naik kincir angin.


"Kakak ngagetin ihhh!"


"Kenapa gak minta tolong?"


"Tadi udah manggil Kakak. Tapi Kakak nya aja gak denger!" sahut Ara dengan wajah masam.


"Oh..."


Mulut Awan hanya membola. Dan Ara mengerutkan keningnya, melihat keadaan Awan yang sudah kembali pada mode datar. Sama seperti biasanya, jika ada di luaran sana.


'Tadi kak Awan liat apa? atau ada kabar apa? Kok jadi berubah datar lagi itu wajah tampannya.'


Karena bisa dipastikan bahwa, seandainya Awan mendengarnya, tidak akan percaya dan mengatakan Ara hanya ingin mendapatkan perhatian lagi. Atau yang paling parahnya, dikiranya Ara ingin bermain-main seperti tadi, atau semalam.


Ara bergidik ngeri, membayangkan apa yang terjadi antara mereka berdua. Meskipun sebenarnya, dia juga menikmati perannya sebagai seorang istri.


Tapi Ara juga mengelengkan kepalanya, karena tidak pernah menyangka jika, dia pun bisa menyeimbangi apa yang diinginkan oleh suaminya itu. Padahal awalnya dia takut jika membuat kecewa. Tapi nyatanya, hal semacam itu tidak perlu pengalaman ataupun pelajaran.


Secara naluriah, semuanya bisa dia atasi dengan baik. Dan dengan kesabaran dari suaminya juga.


Karena sebenarnya, mereka berdua juga sama-sama gugup. Di saat melakukan tugas dan kewajiban mereka sebagai sepasang suami istri.


*****


Dua jam kemudian, mobil yang dikendarai oleh Awan dan Ara tiba di rumah sakit.


"Kita langsung ke ruang observasi. Katanya Dika baru saja dipindah ke ruang tersebut."


Sebelum mereka berangkat ke rumah sakit ini, orang yang menjaga Dika, memberikan kabar lewat pesan singkat, bahwa Dika sedang dalam proses kepindahannya ke ruang observasi.


Ruang observasi merupakan ruangan untuk mengobservasi kondisi pasien, yang memerlukan monitoring secara ketat sampai kondisi pasien stabil.


Selain mengumpulkan data, observasi dilakukan dengan tujuan mendapatkan sebuah kesimpulan mengenai obyek yang diamati. Observasi juga bertujuan untuk menggambarkan sebuah obyek dan segala hal yang berhubungan dengan obyek yang dikaji.

__ADS_1


Pelayanan observasi pasien adalah pelayanan yang dilakukan di Unit Gawat Darurat, untuk memonitor pasien secara periodic yang dilakukan oleh perawat atau dokter. uUntuk mengevaluasi kondisi pasien, atau menentukan kebutuhan pasien apakah akan dipulangkan, diinapkan atau dirujuk kerumah sakit lainnya. Yang lebih baik pelayanan dan fasilitasnya.


Namun karena Dika bukan pasien baru, tentu saja observasi yang dilakukan oleh tim kesehatan berbeda. Dan tentunya di ruangan yang berbeda juga.


Dengan langkah yang cepat, Ara berjalan menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah suaminya. Dan ini membuatnya meringis. Sehingga tanpa sadar dia mengaduh pelan.


"Auhhh..."


"Kenapa?"


Ternyata keluhan yang dirasakan Ara tanpa sengaja ini didengar oleh telinga suaminya.


"Aaa..."


Ara kembali berteriak kaget, di saat tiba-tiba tubuhnya seakan-akan melayang dan kakinya tidak lagi menginjak lantai.


"Kakak!"


Ternyata ini adalah ulahnya Awan, yang kembali membopong tubuhnya, tanpa aba-aba terlebih dahulu.


"Kakak turunin! Malu di lihat banyak orang." Ara melihat dengan celingak-celinguk, karena takut menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar jalanan rumah sakit.


"Istrinya kenapa Pak?" tanya security yang datang tergesa-gesa, karena melihat awan yang sedang membopong tubuhnya Ara.


"Oh gak apa-apa Pak. Cuma kena serangan peluru aja kok," jawab Awan santai.


Tapi ternyata itu tidak untuk security tadi.


"Waduh, peluru apa Mas? Saya panggilkan perawat dan dokter segera ya Mas. Sabar ya!"


Ara tentu saja kaget saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh security tadi. Ternyata security itu menanggapi perkataan Awan yang ambigu secara serius. Dan beranggapan bahwa, Ara benar-benar terkena peluru dari sebuah senjata api.


"Kak!"


Ara protes dengan apa yang akan terjadi nanti. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya dipermalukan, seandainya perawat dan dokter UGD benar-benar datang untuk memeriksa keadaan dirinya.


"Ehhh... gak usah Pak!"


Awan dengan cepat memanggil security, yang hampir saja berlari menuju ke arah ruang IGD.


"Ini peluru yang enak kok!"


Awan kembali berkata, di saat security tadi berbalik dan melihat ke arahnya dengan wajah bingung.


Tapi sedetik kemudian, security tersebut tertawa terbahak-bahak. Karena menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh awan itu memang terdengar ambigu.


"Dasar Masehhh... Ada-ada saja Kamu."

__ADS_1


__ADS_2