Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Usai Sidang


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, kasus papanya Dika sudah mulai disidangkan. Meskipun keluarga Ara sudah memberikan maaf, tapi proses hukum masih tetap berlanjut.


Dari beberapa keterangan yang diberikan oleh papanya Dika, akhirnya polisi juga mengembangkan penyidikan pada beberapa orang, yang disebut sebagai komplotan sindikat perdagangan manusia.


Untungnya, papanya Dika bersikap kooperatif. Jadi, dia juga bisa diberikan keringanan untuk hukuman yang seharusnya dia terima.


Tapi itu tidak menjadi persoalan berat bagi papanya Dika yang sudah sadar.


Baginya yang terpenting adalah, bagaimana anaknya bisa terjamin kelangsungan perawatan medisnya. Karena dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada anaknya yang sedang koma di rumah sakit.


"Om menyerahkan semuanya pada kamu nak Awan. Maafkan Om."


"Mungkin ini terkesan seperti barter. Dengan apa yang Om lakukan, dengan apa yang Kamu lakukan juga. Tapi sungguh, Om menyesali semuanya ini memang terlambat."


Papanya Dika, berkata kepada Awan. Saat Awan mendekati dirinya, setelah persidangan perdananya. Sebelum dia dibawa kembali ke sel tahanan.


"Ya Om. Tidak apa-apa. Dika tetap aman, dan menjadi tanggung jawab Awan."


"Terima kasih nak Awan. Terima kasih banyak atas semua bantuan yang sudah Kamu berikan pada Dika. Om sangat malu, sungguh!"


Papanya Dika mengengam tangan Awan, dengan berurai air mata.


"Mari Pak. Sudah waktunya kembali," ajak salah satu anggota polisi, yang datang untuk menjemput papanya Dika. Dan membawanya kembali ke tempat yang seharusnya.


"Sampaikan salam Om pada Dika nak Awan!"


Awan mengangguk mengiyakan permintaan dari papanya Dika. Dia juga tersenyum, mengantar kepergiannya bersama dengan anggota polisi tadi.


Pluk!


"Awan, ayok!"


Elang menepuk pundak anaknya, untuk dia ajak kembali pulang.


Awan datang ke pengadilan, untuk mengikuti jalannya sidang, bersama dengan Ara dan juga ayahnya, Elang.


Dari pihak keluarga Ara, ada Abimanyu dan Anjani yang datang. Sedangkan Anggi, sebagai salah satu korban, tidak bisa ikut hadir dalam persidangan. Dengan alasan harus tetap sekolah karena waktunya ujian sudah dekat.


Anggi hanya diwakili oleh lawyer. Sedangkan Ara, yang menjadi salah satu korban juga, bisa hadir sendiri.

__ADS_1


Tampak Abimanyu dan Anjani yang sedang berbicara dengan Ara. Di deretan kursi peserta sidang bagian belakang. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Karena Ara tampak terkejut, saat ayahnya selesai bicara.


"Ada apa Dek?" tanya Awan, begitu dia sampai di dekat istrinya.


"Kakak. Eh, Ayah. Duduk sebentar Yah, Kak!"


Ara meminta pada Awan dan Elang, agar duduk terlebih dahulu sebentar. Karena dia masih berbincang dengan ayahnya, Abimanyu.


Sekarang, Awan dan Elang sudah ikut duduk bersama dengan mereka bertiga. Mendengarkan perkataan Abimanyu kepada anaknya, Ara.


"Ayah akan pergi ke Bogor dua minggu ke depan. Mungkin, ada pengobatan alternatif yang bisa membuat Ayah sehat. Tolong, sebentar-sebentar Kamu tengok Anggi ya!" pinta Abimanyu, yang semakin terlihat lemah pada tubuhnya.


Awan mengeryit bingung, mendengar perkataan ayah mertuanya itu.


Begitu juga dengan Elang. Dia tidak tahu, apa yang terjadi pada besannya, yang merupakan suami dari mantan istrinya juga.


"Yah. Gak ke rumah sakit yang lebih canggih saja Yah?" tanya Ara, memberikan usulan.


Ara berpikir bahwa, tekhnologi kesehatan saat ini sudah semakin canggih. Dokter-dokter juga semakin pintar dengan penelitian dan penemuan berbagai macam obat serta terapi.


Tapi Abimanyu mengelengkan kepalanya, mendengar perkataan dari anaknya.


"Kecerdasan dan kecanggihan teknologi kesehatan, kadang kala malah membuat istilah penyakit baru, yang tidak bisa diterima oleh masyarakat."


Abimanyu terengah-engah sebentar, saat mengucapkan kalimatnya. Kini, dia kembali mengatakan semua yang ingin dia katakan.


"Selain Ayah ingin berobat alternatif, Ayah juga ingin beristirahat di Bogor. Mungkin, dengan udara yang bersih dan tenang dari hiruk pikuk kota besar di Jakarta ini, Ayah bisa kembali sehat."


Anjani sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis dalam diam dan menunduk. Dengan mengengam tangan suaminya, Abimanyu.


Elang memperhatikan semua itu. Meskipun dia tampak diam, kemudian segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Ara dan Awan, membujuk Abimanyu, agar mau berobat ke luar negeri. Tapi Abimanyu hanya menggeleng sambil tersenyum, mendengar kekhawatiran yang ada pada anak-anaknya itu.


"Tenanglah kalian. Ayah tidak ke mana-mana. Ayah hanya ingin tenang di Bogor, bersama dengan Bunda Kalian."


Abimanyu menepuk-nepuk punggung tangan Anjani, yang sedari tadi mengengam tangannya.


"Abi. Sebaiknya Kamu istirahat, sesuai dengan Kamu inginkan. Tapi jika tidak ada kemajuan, sebaiknya Kamu mau mengikuti saran dari anak-anak. Tidak ada salahnya mencoba."

__ADS_1


Elang akhirnya tidak tahan lagi untuk bicara. Dia merasa kasihan dengan Abimanyu. Tapi dia juga merasa kasihan dengan Anjani. Karena ada sesuatu yang menusuk hatinya, di saat melihat Anjani menangis seperti ini.


"Iya Mas. Terima kasih," ucap Abimanyu, menganggukkan ke arah Elang.


Abimanyu menyadari tubuhnya yang tidak lagi normal. Karena seringnya sakit yang dia rasakan di area punggung dan area bawah, di tulang ekor.


Mungkin ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang pernah dia alami puluhan tahun yang lalu. Karena dia juga sudah pernah menjalani operasi untuk tulang belakangnya.


Abimanyu merasa usianya sudah tidak lagi muda. Jadi kelenturan otot dan tulang tidak lagi sama seperti dulu juga.


Jika harus menjalani operasi lagi, dia khawatir, hasilnya tetap tidak bisa optimal. Dan itu malah membuatnya merasa sangat cemas, akan kegagalan operasi. Karena bisa berakibat pada kelumpuhan pada tubuhnya secra cepat.


Karena itu juga, dia ingin menjalani hidup sehat, tanpa banyak berpikir dengan hidup di Bogor. Udara yang bersih dan tidak berpikir macam-macam.


Tapi dia masih ada satu anak yang harus dia pikirkan. Yaitu Anggi.


"Yah. Anggi bisa ditemani Ara. Yang penting, Ayah bisa sehat lagi. Apapun yang Ayah inginkan, lakukan."


Akhirnya, Ara mengalah untuk mengikuti kemauan Abimanyu. Dia tidak mau jika, ayahnya akan memiliki beban pikiran yang berat. Hanya karena Anggi.


"Terima kasih Kak," ucap Abimanyu dengan tersenyum senang, mendengar kesanggupan Ara menjaga Anggi.


"Bunda. Terima kasih atas semua yang sudah Bunda lakukan untuk Ayah. Cinta yang tulus buat Ayah. Maaf ya, Ayah sering membuat Bunda repot terus selama ini."


"Ayah ngomong apa sih," ucap Anjani, yang merasa malu dengan ucapan suaminya sendiri.


Elang tersenyum canggung, mendengar perkataan kedua orang yang ada di depannya saat ini. Di hatinya, ada rasa cemburu juga. Karena membayangkan bagaimana keadaan dirinya dulu, yang pernah dekat dengan Anjani. Tapi tidak pernah bisa seperti itu.


"Ayah kapan mau ke Bogor nya?" tanya Awan, memecah kecanggungan yang ada pada ayahnya sendiri.


"Dua hari lagi. Nunggu acaranya Nanda," jawab Anjani, mewakili Abimanyu.


"Acara kak Nanda? Acara apa Bun?" tanya Ara cepat. Dia tidak tahu jika, kakaknya Nanda, akan melamar kekasihnya, Mita.


"Kak Nanda mau melamar Mita Ra."


"Hah, kok gak bilang-bilang ke Ara Bun?" tanya Ara lagi, yang merasa sekarang ini kakaknya itu mengabaikan dirinya.


"Mungkin lupa, atau dia mau buat surprise sama Kamu," ujar Anjani, menduga-duga apa yang dipikirkan Nanda. Sehingga belum memberitahu Ara, tentang rencana lamaran tersebut.

__ADS_1


"Awas saja kak Nanda!"


"Eh, apa kok awas-awas?" tanya Abimanyu, yang tidak mau jika terjadi sesuatu pada anak-anaknya. Meskipun itu hanya hal kecil, yang sudah biasa terjadi pada mereka.


__ADS_2