Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kebahagiaan Yang Diinginkan


__ADS_3

"Eyang!"


Teriak Ara dengan histeris, disaat melihat eyang kakung dan putrinya, ada di luar rumah. Mereka berdua, ayah Edi dan ibu Sofie, menyambut kedatangannya bersama dengan ayah dan juga bundanya.


"Eh, Ara. Eyang baru saja mau datang ke rumah Kamu Sayang." Ibu Sofie, mengatakan apa yang sebenarnya tadi mau dia kerjakan, bersama dengan suaminya, ayah Edi.


"Benar eyang Kung?" tanya Ara, beralih pada ayah Edi, yang saat ini sudah berada di dekat mereka berdua.


"Iya. Eyang baru mau keluarin mobil," jawab ayah Edi, sambil memeluk cucunya itu.


Kini, mereka bertiga bersama-sama melihat Anjani dan Abimanyu yang datang dari arah belakang.


"Assalamualaikum Yah, Bu."


Anjani mengucapkan salam kepada kedua mertuanya, yang saat ini sudah bersama dengan anaknya, Ara.


"Waallaikumsalam Jani. Kami baru mau ke rumah kalian tadi," jawab ibu Sofie, dengan mengatakan jika dirinya dan ayah Edi, sedang berniat untuk datang ke rumah mereka.


"Berarti, keduluan kita yang datang ke sini ya Mas," ujar Anjani, pada suaminya, Abimanyu.


Abimanyu, mengangguk mengiyakan perkataan istrinya. Dia menyalami kedua orang tuanya, sama seperti yang dilakukan oleh istrinya, Anjani.


Akhirnya, mereka semua masuk ke dalam rumah, untuk bisa berbincang-bincang di ruang tengah.


"Oh ya Bu, ini Jani tadi bawa kebab dari depan. Buat kita semua. Ara yang awalnya pengen kebab ini tadi," kata Anjani, dengan menaruh bungkusan plastik yang berisi kebab Turki yang dia beli sewaktu pulang dari klinik, saat memeriksakan kondisi kandungnya.


"Wah, terima kasih. Tapi ini banyak sekali Jani?" tanya ibu Sofie, setelah melihat isi plastik tersebut.


Jani akhirnya menjelaskan tentang alasannya membeli kebab itu. Ini untuk mereka semua, termasuk bibi pembantu rumah, yang bisa ikut menikmati makanan tersebut.


"Oh ya Ara, tolong panggil bibi ya. Bilang juga untuk buat minuman untuk kita semua. Ara bisa ikut bantu kan di dapur?"


Ibu Sofie, meminta pada cucunya itu, untuk memberitahu bibi pembantu rumah, untuk membuatkan minuman.


Ara mengangguk, dan segera berjalan menuju ke arah dapur. Melaksanakan tugas yang diberikan eyang putrinya, untuk bibi pembantu. Dia juga ikut membantu bibi pembantu, menyiapkan minuman itu.

__ADS_1


Di ruang tengah, ibu Sofie bertanya kepada Anjani tentang kondisi kehamilan yang kedua ini. Dia tidak tahu, Jiak tadi, mereka sudah pulang dari pemeriksaan. Ibu Sofie pikir, Anjani belum berangkat periksa, dan mampir terlebih dahulu ke rumahnya ini.


Anjani akhirnya menceritakan tentang keadaan kandungannya, dan juga prediksi jenis kelamin bayi yang ada di dalam perutnya.


"Jadi, Ibu akan punya cucu cewek lagi?" tanya ibu Sofie dengan mata berbinar-binar. Dia merasa sangat senang, karena akhirnya akan memiliki cucu cewek lagi, selain Ara. Ini karena cucu dari kedua anak perempuannya, sama-sama cowok.


Anaknya Sekar dan Yasmin cowok semua.


"Hahaha... iya. Ayah juga senang punya cucu. cewek. Nanti sama-sama comel kayak Ara juga," kata ayah Edi, yang terdengar sama Ara, yang baru saja datang bersama dengan bibi pembantu, membawa minuman untuk mereka semua.


"Ihsss Eyang Kakung. Masak Ara di bilang comel sih. Ara kan cantik!" kata Ara dengan cemberut karena mendengar perkataan kakeknya tadi.


"Hahaha..."


Ayah Edi, justru tertawa senang, karena melihat cucunya itu, yang saat ini dalam keadaan cemberut.


Sekarang, rumah ayah Edi kembali ramai, dengan adanya Ara dan kedua orang tuanya, Anjani dan Abimanyu, yang datang berkunjung.


Bibi pembantu, yang ikut makan kebab bersama dengan mereka semua, juga ikut merasa senang dengan adanya mereka yang datang sore ini.


"Assalamualaikum!"


Sekar dan Juna, mengucap salam dari luar rumah, dan langsung masuk tanpa menunggu untuk dibukakan pintunya, karena pintu rumah, masih dalam keadaan terbuka.


"Waallaikumsalam."


Jawab mereka semua, dari arah ruang tengah.


"Tante Sekar!"


Ara berteriak senang, saat melihat kedatangan tantenya, yang pertama kali dia liat. Baru setelah itu Juna, yang sedang mengendong anaknya, terlihat di belakang Sekar.


"Om Juna, adik Miko!"


Ara, menyebut nama mereka berdua, yang memang belum terlihat tadi.

__ADS_1


Sekarang, rumah ayah Edi jadi semakin ramai dengan kedatangan keluarga Sekar.


Gak yang membuat mereka berdua, ayah Edi dan ibu Sofie, merasa sangat senang, karena bisa melihat wajah-wajah anak dan cucunya, yang datang berkunjung, meskipun hanya sebentar saja. Karena rumah mereka yang dekat, sehingga tidak perlu menginap, dan butuh waktu lama untuk bisa datang ke rumahnya.


Hal yang harus disyukuri oleh keduanya juga, karena anak-anak mereka, saling membantu dalam urusan apa pun, yang bisa mendekatkan mereka semua dalam ikatan tali persaudaraan dan kekeluargaan.


Sama seperti diwaktu Abimanyu belum bisa bekerja, dan masih dalam keadaan lumpuh. Adik-adiknya, ikut banyak membantu Kakaknya, dalam hal materi, maupun tenaga, saat diperlukan.


Ayah Edi berharap, anak-anaknya, akan terus hidup rukun dan saling menyayangi satu sama lainnya. Meskipun sekarang ini, mereka semua sudah memiliki keluarga sendiri-sendiri.


Harapan yang sama juga dengan cucu-cucunya kelak. Agar mereka bisa saling mengenal dan menyayangi, serta saling mendukung satu sama lain juga. Meskipun saat ini, Nanda ada di luar negeri bersama dengan mamanya.


*****


Beberapa tahun sudah berlalu. Dan saat ini, Awan sudah duduk di bangku SMA. Dia bersekolah di sekolah yayasan besar, dengan siswa siswi yang kebanyakan berasal dari keluarga kaya. Selain anak para pengusaha, banyak juga anak-anak artis atau pun para pejabat.


Di sekolah Awan ini, tidak semua orang bisa masuk ke sekolah tersebut dengan mudah. Harus dengan seleksi yang ketat dan tidak hanya sekedar mahal, tapi juga berprestasi.


Siswa siswi di yayasan tempat Awan sekolah, semua pintar dan cerdas. Mereka semua, anak-anak yang tidak hanya mengandalkan kekayaan orang tua mereka, tapi juga otak mereka harus encer.


Jadi, persaingan tetap ada, untuk sebuah prestasi, bukan hanya sekedar penampilan mereka saja yang modis.


Yayasan besar itu juga bukan hanya untuk SMA, tapi juga yang ada di tingkat bawahnya, yaitu tingkat SMP. Ada juga sekolah dasar dan sekolah tinggi, tapi gedungnya tidak bergabung bersama dengan sekolah SMP dan SMA nya. Tapi ada di daerah lain, meskipun tidak jauh dari lokasi sekolah tersebut.


Awan sudah bersekolah di yayasan ini sejak SMP, jadi dia sudah tidak lagi asing dengan pergaulan anak-anak yang lain.


Awan juga sudah banyak teman, dan bergaul dengan mereka, layaknya anak-anak yang sedang tubuh dan berkembang sebagai remaja pada umumnya.


Tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang tampan, menjadikan Awan salah satu siswa populer di sekolah tersebut Bahkan di luar sekolah, dia juga cukup terkenal, sehingga banyak cewek-cewek, yang mengidolakan dirinya.


Tapi sikap Awan yang cukup cuek dan acuh, tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang idola di sekolah. Dia bersikap seperti biasanya dan tidak ada yang berbeda, baik saat berada di sekolah maupun saat berada di rumah.


Bagi Awan, sama saja.


Di rumah, dia anak tunggal. Di sekolah, dia sama sekali teman-temannya yang lain. Sama-sama siswa, yang harus belajar untuk bisa tetap berprestasi dan juga membuat orang tua mereka, menjadi bangga dengan prestasi anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2