Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Mendapatkan Ijin


__ADS_3

Sejak Anggi masuk ke sekolah yang ada di Amerika sini, dia memang sudah memegang handphone. Sama seperti siswa-siswi yang lainnya juga.


Dan Anggi, tidak sama seperti kakaknya, Ara atau keluarganya. Dari mereka berempat, hanya Anggi yang punya akun sosial media, sama seperti orang-orang kebanyakan pada umumnya.


Tapi, dia hanya membagikan informasi kegiatan sekolah atau jika sedang bersama dengan teman-temannya saja.


Jika ada unggahan foto atau video, bersama dengan kakak atau ayah bundanya, wajah mereka selalu di_blur, agar tidak dikenali oleh orang lain.


Itu sudah menjadi kesepakatan bersama mereka. Jadi, Anggi juga tidak mau melanggar aturan yang ditetapkan oleh anggota keluarganya sendiri.


"Ide bagus kan Kak?" tanya Anggi, menangapi apa yang dikatakan oleh calon kakak iparnya itu.


"Bagus. Tapi, sepertinya Kamu lebih baik konsentrasi sekolah aja Dek," ujar Awan, sambil tersenyum. Apalagi, setelah itu dia melihat bagaimana wajah Anggi yang menjadi masam.


"Eh, kok gak disuruh masuk kak Awan nya?"


Dari arah belakang, muncul bundanya, yang langsung menegur Anggi.


Karena sedari tadi, Awan masih ada di depan pintu, karena tidak bisa masuk ke dalam rumah.


Awan terhalang badannya Anggi, yang tadi sedang membukakan pintu untuknya.


"Hehehe... ayo Kak masuk!"


Anggi terkekeh sendiri, karena sadar jika dia sedari tadi menghalangi jalannya Awan, sehingga tidak bisa masuk.


"Ck. Dasar si Adek."


Ara muncul dan berdecak dari arah belakang bundanya. Dia baru mendengar perkataan bundanya, yang tadi sedang menegur kelakuan adiknya itu.


"Sorry!"


Anggi hanya bisa meminta maaf, dengan dua jarinya yang membentuk huruf V.


Sekarang, Awan sudah masuk dan menyalami tangan Anjani. Dia juga mencium pipi bundanya Ara, yang memang sudah dia anggap sebagai bundanya sendiri.


Baru setelah itu, dia mencium pipi Ara sekilas. Dan itu membuat Anggi bertepuk tangan.


Plok plok plok!


"Yeeee..."


Anggi juga berteriak senang, saat bertepuk tangan.


"Hihhh... apaan sih Dek!"


Ara menjadi salah tingkah, karena digoda oleh adiknya itu. Padahal, itu adalah hal yang biasa.


"Ehem..."


"Eh, Ayah."

__ADS_1


Anggi nyengir kuda, saat terdengar ayahnya sedang berdehem.


"Syukurin..."


Ara meledek adiknya itu, karena sudah menggodanya tadi.


"Weee..."


"Sudah-sudah, ayok! Kuta segera makan. Keburu dingin nanti makanannya."


Anjani memotong kalimat Anggi, yang mau membalas ledekan dari kakaknya, Ara.


Tak lama kemudian, mereka semua sudah duduk mengelilingi meja makan. Siap untuk acara makan malam mereka bersama.


*****


"Kamu sudah siap kan Wan, saat Ayah kembali ke Indonesia nanti?" tanya Abimanyu, pada calon menantunya itu.


Dia bertanya tentang kesiapan Awan, yang akan menggantikan posisinya di perusahaan milik keluarganya Awan sendiri.


"Ayah tidak mau mengubah keputusan ini?" Awan balik bertanya, supaya kepemimpinan perusahaan tetap Abimanyu yang memegangnya.


"Tidak bisa Wan. Ayah tidak bisa lama lagi di sini."


Awan hanya diam saja, saat Abimanyu kembali mengatakan semua alasannya, kenapa dia harus segera bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini.


"Iya Yah. Awan sudah pasti siap."


Dia berpikir bahwa, selama ini sudah banyak belajar bagaimana cara untuk bekerja di perusahaan tersebut.


Dari Abimanyu juga, dia belajar mengatasi berbagai macam permasalahan, yang seringkali ada di dalam sebuah perusahaan. Terutama bagi pemimpin, yang sering mendapatkan masalah dari beberapa karyawannya.


Apalagi masalah keuangan, yang tentunya sangat riskan, untuk semua jenis usaha dan bisnis.


Karena jika terjadi sesuatu pada pengelolaan keuangan, perusahaan bisa rugi dan bangkrut.


Itulah sebabnya, Abimanyu mewanti-wanti agar Awan memperhatikan setiap laporan keuangan, dan berkas-berkas yang harus dia tanda tangani.


"Iya Yah. Terima kasih untuk semua yang sudah Awan pelajari selama ini."


Setelah beberapa saat terdiam, Awan pun mengatakan keinginannya, untuk bisa mengajak anaknya, Ara, besok sore.


"Emhhh... Besok, Awan minta ijin pulang awal Yah. Mau ajak Ara jalan. Boleh?"


Abimanyu tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia terdiam sejenak, dan baru menjawab saat Awan sudah merasa khawatir jika, dia tidak mendapatkan ijin.


Sedangkan Ara sendiri, yang memang tidak tahu jika Awan ingin mengajaknya pergi, menahan nafas. Dia takut jika ayahnya itu tidak memberikan ijin.


"Mau ke mana?"


Tapi, apa yang keluar dari mulut Abimanyu, bukanlah sebuah jawaban. Tapi dia justru balik bertanya, tentang keinginan yang tadi sudah disebutkan oleh awan padanya.

__ADS_1


"Emhhh... itu Yah. Mau... mau lihat opera. Kemarin, Awan dapat undangan dari kampus Awan. Dan opera ini untuk amal."


"Oh..."


Mulut Abimanyu hanya membola, saat mendengar penjelasan yang diberikan oleh Awan.


"Jangan pulang terlalu malam."


Hanya itu saja, jawaban yang diberikan oleh Abimanyu atas ijin yang diminta oleh awan padanya.


"Ya Yah. Terima kasih."


Ara, yang mendengar perbincangan mereka berdua, dari tempatnya duduk bersama dengan Anggi dan juga bundanya, tersenyum. Dia bisa bernafas lega, setelah mendengar ijin yang diberikan oleh ayahnya itu.


Begitu juga dengan Awan. Dia merasa lega juga. Apalagi, dia dan Ara memang jarang sekali pergi berdua saja. Selain untuk mengantar dan menjemput Ara kuliah.


"Anggi boleh ikut gak?" Tiba-tiba Anggi bertanya.


Tapi sorot mata Ara terlihat keberatan dengan apa yang diinginkan oleh adiknya itu.


"Adek. Ini acara kampus. Dan Kak Awan hanya mendapatkan undangan saja. Karena Kak Awan alumni dari kampus itu."


Ara mencoba untuk memberikan penjelasan kepada adiknya. Agar adiknya itu mengurungkan niatnya, untuk bisa ikut bersama dengan mereka berdua.


Awan tersenyum tipis, karena merasa tidak enak hati jika menolak permintaan dari Anggi.


"Adek ikut bunda saja. Besok, bunda ada acara di bawah. Mau?"


Akhirnya, Anjani mencoba untuk mengalihkan perhatian anaknya, Anggi, supaya tidak lagi ingin ikut bersama dengan kakaknya.


Abimanyu hanya diam saja. Dia tidak mau ikut memberikan penjelasan pada Anggi. Karena itu bisa membuat Anggi curiga, jika dia memang tidak diperbolehkan untuk ikut serta dalam urusan kedua kakaknya itu.


"Acara apa Bun?" tanya Anggi cepat.


Anggi berpikir jika, bundanya itu jarang memiliki acara. Dan jika ikut dalam suatu acara, pasti akan ada menu makanan yang banyak dan bervariasi juga.


"Besok sore, bunda dapat undangan untuk pembukaan gerai nur di bawah. Yang sebelah mini market itu lho Dek!"


"Lho, bukannya itu salon kecantikan Bun?" tanya Anggi, yang tentunya hafal dengan tata letak Yoko dan mini market yang ada di bangunan apartemennya ini.


"Iya. Salon tersebut kan udah pindah Dek seminggu yang lalu. Sekarang ganti toko kue."


Dan apa yang dikatakan oleh bundanya itu, membuat Anggi tersenyum senang. Matanya juga berbinar-binar, karena membayangkan bagaimana rasanya besok sore, dia bisa mencicipi semua kue di toko tersebut.


"Bisa di buat konten gak Bun?" tanya Anggi, yang sudah gatal, karena lama tidak mengunggah video yang menarik untuk akun sosial miliknya.


"Besok tanya saja sama pengelola toko. Pasti diperoleh Dek. Kan bisa jadi ajang promosi gratis juga buat mereka." Ara memberikan pendapatnya, tentang pertanyaan yang diajukan oleh adiknya itu.


"Asyikkk!"


Akhirnya, Anggi berteriak senang. Karena dia ada kegiatan, selama tidak ada kakaknya di rumah besok sore hingga malam.

__ADS_1


Dia tidak akan merasa kesepian juga. Dan yang paling penting, dia bisa makan dan merasakan kue-kue yang enak.


__ADS_2