
Sudah tiga hari Anjani berada di Bogor. Dia sudah merapikan kembali rumahnya yang tidak begitu terawat. Sekarang dia duduk-duduk di bawah pohon jambu, yang ada di samping rumah. Dia menikmati udara yang segar, meskipun letak rumahnya ini, tidak berada di daerah kawasan puncak.
Sekarang Anjani mulai berpikir untuk memulai kehidupan yang baru. Dia ingin bisa beraktivitas lagi agar bisa melupakan semua kenangan dan kejadian yang lalu.
"Aku mau usaha apa ya sekarang?" tanya Anjani, pada dirinya sendiri dengan bingung.
Dia berpikir, jika kembali ke sangar olah raga itu tidak mungkin. Meskipun dia terlihat sudah sehat dan tidak kekurangan, tapi dia merasa jika dia sudah tidak lagi sanggup jika harus melatih secara fisik.
"Tulang dan otot-ototku, pasti tidak lagi senormal dulu. Meskipun tidak terasa, Aku yakin jika ada saja yang cindera dan tidak bisa kembali baik lagi seperti dulu."
Anjani, terus berdialog dengan dirinya sendiri. Berpikir untuk kelanjutan hidupnya ke depan.
Handphone yang dia pegang, bergetar. Ada pesan masuk dan saat Anjani ingin membuka, ternyata hanya pemberitahuan dari operator seluler.
Di layar handphone miliknya, ada tayangan gambar iklan online yang menurutnya menarik. Anjani, jadi ingin melihat dan tahu, apa isi dari iklan tersebut.
Beberapa saat kemudian, Anjani tersenyum. Handphone dia matikan, karena iklan sudah selesai dia tonton. Sekarang, dia mendapat ide untuk membuat usaha yang akan dia jalani nanti.
Anjani, masuk ke dalam rumah, kemudian menuju ke kamar. Dia mengambil dompet dan membukanya.
ATM pemberian Elang, sewaktu dia masih menjadi istrinya dulu, masih ada dan jarang dia pakai. Sekarang, dia berpikir untuk menggunakan uang yang ada di dalam ATM tersebut untuk memulai usahanya nanti.
"Aku harus mencari secepatnya, untuk semua hal yang berkaitan dengan usahaku nanti," kata Anjani, sambil membuka handphonenya lagi, untuk mencari barang-barang yang dia perlukan.
Hampir seminggu lamanya, Anjani berhasil menyulap pekarangan rumahnya, menjadi sebuah kafe dengan tema home garden.
Dibantu oleh beberapa tukang yang dia pekerjakan, Anjani berhasil menata tanaman dan pohon-pohon yang ada di rumahnya, sedemikian rupa sehingga menjadi cantik dengan gasebo-gasebo yang mengisi pekarangan rumah, di bawah pohon-pohon yang rindang.
Dia juga meminta beberapa tetangga yang ahli memasak untuk bisa bekerja di kafe yang akan dia buka tidak lama lagi.
__ADS_1
"Wah, jadi bagus begini ya Jani," kata salah satu tetangga yang akan ikut bekerja dengannya jika kafe dibuka.
"Wah, adem dan terkesan mewah. Pasti betah ya makan sambil berbincang-bincang dengan tenang dan bebas. Ada area bermain untuk anak-anak juga ya?" tanya yang lain, saat melihat prosotan dan ayunan serta aquarium besar dengan ikan-ikan hias di dalamnya.
"Iya teh, ini kan temanya home jadi pengunjung bisa merasakan jika sedang makan di rumah dengan perasaan tenang dan tidak khawatir dengan adanya anak-anak yang ikut juga."
Anjani menjelaskan, pada kedua tetangganya itu. Dia tersenyum melihat keduanya juga merasa antusias dan semangat untuk bisa bergabung dengannya.
"Terima kasih ya teteh. Sudah mau ikut membantu Jani, untuk mewujudkan usaha ini," kata Jani pada tetangganya itu.
"Wah, justru kami yang berterima kasih Jani. Kami jadi bisa ikut bekerja tanpa harus pergi jauh-jauh dari rumah. Soalnya, ini kan dekat dari rumah kami," sahut salah satu dari mereka berdua.
Dengan tersenyum, Anjani mengangguk. Dia berharap agar kedepannya bisa membantu para tetangga yang lain, agar bisa bekerja juga di lain tempat, jika dia bisa berhasil membuka cabang, suatu hari nanti.
"Semoga, Aku bisa mewujudkan impian ini." Anjani, mengucapkan harapan untuk kehidupannya yang akan datang.
*****
Banyak pengunjung yang datang, untuk menikmati makanan dan suasana yang berbeda dengan kafe lain pada umumnya. Mereka yang berkunjung, juga bisa tenang jika membawa anak-anak, karena ada area bermain yang aman.
Karena kafe semakin rame, Anjani akhirnya merekrut beberapa pemuda di sekitar rumah yang belum memiliki pekerjaan agar bisa ikut bekerja di tempatnya, sebagai pelayan.
Mereka dengan senang hati, menerima tawaran yang diberikan oleh Anjani. Apalagi, Anjani bukan tipe atasan yang banyak bicara. Dia jarang menegur mereka asalkan pekerjaan beres, dan bisa melayani pelanggan dengan baik.
"Wah, kafe ini langsung rame ya Jani. Kamu pinter promosi. Sekarang, saatnya berpikir untuk kemajuan usaha Kamu ini, misalnya buka cabang di tempat lain, dengan ciri khas tema dan masakan yang sama," usul salah satu koki, pada Anjani.
"Nanti dulu Teteh. Ini biar jalan dulu dengan lancar. Jani juga harus mikir modal untuk kontrak tempat atau beli. Kan itu butuh banyak. Kalau di rumah ini, Jani tidak perlu sewa tempat jadi keuntungan bisa dari situ. Tapi Jani juga mikir kok untuk mengembangkan dan buka lagi. Tapi, kira-kira dimana yang bisa ramai kayak di rumah ini nanti?"
Jani meminta pendapat dari orang-orang yang mendukungnya dalam usaha kafe ini. Dia sadar, tidak akan bisa menjalankan usaha ini tanpa mereka juga.
__ADS_1
"Wah, kalau itu perlu survei Jani. Kamu harus datang mengira-ngira tempat yang strategis juga. Kalau Teteh gak tahu soal ini, bisanya cuma bantu masak saja," jawab di Teteh.
Anjani tersenyum, mendengar jawaban dari kokinya itu. Dia harus bisa melakukannya sendiri, atau merekrut karyawan dengan sistem managemen yang baik.
"Harus seperti itu mungkin ya, biar bisa berkembang dan menjadi semakin baik nantinya," kata Anjani, menimbang-nimbang sendiri dalam hati.
*****
Suatu hari, di waktu sore. Kafe sedang ramai dengan pengunjung yang datang. Anjani, ikut sibuk melayani pelanggan langsung, tanpa rasa canggung.
Sekarang, Anjani menjadi terbiasa diantara banyak orang. Sifat pendiam yang dimiliki Anjani, lama-lama tidak terlihat lagi, karena terbiasa ikut serta melakukan semua yang bisa dia kerjakan untuk kelangsungan usahanya ini.
Ijin untuk pendirian kafe miliknya ini, juga sudah dia dapatkan dari dinas terkait. Anjani terlihat menikmati hari-hari sibuknya yang baru. Dia tidak lagi merasa sedih dan bisa mengalihkan perasaannya yang tidak menentu kemarin-kemarin.
"Anjani," sapa seseorang, yang baru saja datang.
Anjani, yang baru saja selesai mengantarkan pesanan pelanggan, menoleh ke sumber suara.
Di depan Anjani saat ini, tampak seorang pemuda yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Apa kabar Kamu?" tanya orang tersebut dengan wajah yang masih berhias senyuman yang manis.
"Mas... Mas Abi, bagaimana bisa sampai di sini?" tanya Anjani gugup karena ada Abimanyu, yang sekarang ini ada di hadapannya.
"Kenapa? apa Aku di larang ke mari?" tanya Abimanyu lagi, tanpa menghiraukan pertanyaan dari Anjani.
"Bu... bukan begitu Mas. Jani... kaget saja," jawab Anjani, mencoba untuk menetralkan wajahnya, juga suaranya.
"Oh. Aku pikir ada larangan khusus untukku, sehingga tidak diperbolehkan untuk datang ke tempat ini."
__ADS_1
Anjani menunduk, karena tidak sanggup untuk melihat tatapan mata Abimanyu, yang terlihat berbeda sedari dulu, dari dia pertama kali bertemu di kampus, saat menjadi mahasiswi baru, sedangkan Abimanyu, bertugas memberikan orientasi.