
Seharian ini, Abimanyu mengurus video yang melibatkan istrinya, Anjani. Dia bahkan tidak masuk ke kantor, dan hanya menelpon mama Amel, untuk meminta ijin.
..."Ada masalah apa Bi? jika ada yang busa Tante bantu, Tante bisa kok bantu permasalahan Kamu itu."...
Begitulah tadi, jawaban yang diberikan oleh mama Amel, saat Abimanyu menelponnya.
Abimanyu hanya mengucapkan terima kasih. Dia tidak ingin melibatkan orang lain, yang tidak tahu permasalahan yang sebenarnya.
Dan setelah semua terungkap, malam hari Abimanyu menyerahkan segala sesuatu yang diperlukan ke pihak kepolisian.
Dia bersama dengan ayah Edi dan pihak pengacara yang ditunjuk, melaporkan Wawan sebagai pembuat dan penyebar video asusila, dengan mengedit sedemikian rupa sehingga menyerupai Anjani. Istrinya Abimanyu.
Sedangkan untuk urusan Yasmin, Abimanyu sudah tidak lagi ikut campur. Dia hanya berharap supaya Nanda, bisa dia ambil lagi dan kembali bersama dengan keluarganya dan diasuh oleh Anjani. Agar Nanda tidak terpengaruh dengan kelakuan dan perilaku ke-dua orang tuanya yang selalu membuat masalah.
Ayah Edi juga sudah pasrah. Dia tidak mau lagi, membela anaknya, Yasmin, yang ternyata masih bisa dipengaruhi oleh mantan suaminya, Wawan.
Ibu Sofie, yang belum bisa menerima kenyataan bahwa anaknya, Yasmin, kembali lagi pada Wawan, hanya bisa menangis sesenggukan.
Sekar berusaha untuk menenangkan pikiran ibunya. "Sudah Bu, tidak usah ditangisi. Jika itu jalan yang diinginkan oleh Yasmin, kita mau apa? dia sudah besar dan bisa memutuskan apa yang baik untuk dirinya sendiri. Jika suatu hari nanti, dia kembali datang dan meminta bantuan pada kita, kita bilang saja kalau sudah tidak ada lagi tempat buat dirinya," kata Sekar menasehati ibunya, ibu Sofie.
"Iya benar. Aku hanya minta pada pihak kepolisian untuk mengamankan Nanda, supaya bisa aku minta pada pihak pengadilan untuk hak asuhnya. Jika perlu, kita semua jadi saksi jika kedua orang tuanya, tidak bisa mendidik Nanda dan hanya pengaruh negatif yang akan dia dapatkan." Abimanyu, sudah gregetan terhadap kedua orang tersebut, Wawan dan Yasmin.
Semua sudah dipasrahkan pada pihak pengacara untuk menangani hak asuh Nanda, meskipun Abimanyu tahu, jika hal ini akan sulit dan banyak sekali rintangannya. Tapi jika ada kasus yang menyertai dan itu terjadi saat ini, apalagi menyangkut aspek sosial dan moral, pengadilan, pasti akan mempertimbangkan pengajuan hak asuh Nanda, yang diajukan oleh Abimanyu.
Semua ini juga atas permintaan Anjani, karena dia tidak mau, jika Nanda akan menjadi seperti orang tuanya di kemudian hari.
"Anjani yakin mau merawat Nanda?" tanya ayah Edi ragu. Bukan ragu soal kemauan dan kemampuan menantunya itu, tapi lebih mengkhawatirkan keadaan Anjani sendiri, seandainya Nanda tahu, jika pengasuhannya ini harus melewati jalur hukum, yang membuat kedua orang tuanya terseret ke dalam penjara.
__ADS_1
"Maksud ayah?" tanya Abimanyu bingung.
"Ayah takut, jika Nanda tahu suatu hari nanti, dan merasa dibohongi sehingga marah dan malah membuatnya balas dendam. Ayah takut, jika dia memiliki sifat yang sama seperti papanya, Wawan, yang sulit untuk dikendalikan dan diarahkan."
Penjelasan yang diberikan oleh ayah Edi, membuat Abimanyu mengangguk paham. Tapi dia yakin bahwa, Anjani mampu mengatasi keponakannya itu.
"Anjani pasti bisa Yah. Bukankah kemarin Nanda sudah begitu dekat dengan Anjani? bahkan, saat Yasmin pulang, Nanda tidak mau pulang bersama dengan Yasmin, dan memilih ikut bersama dengan Anjani." Abimanyu mengatakan, beberapa alasan yang membuat dirinya mendukung keinginan istrinya, Anjani.
"Oh ya Yah, buku tabungan Nanda? apa ada di kamar Yasmin?" tanya Abimanyu, saat teringat dengan buku tabungan, yang baru saja dia berikan pada Yasmin kemarin, bersama dengan Anjani.
"Buku tabungan? buku tabungan apa?" tanya ayah Edi bingung.
Begitu juga dengan ibu Sofie dan Sekar, yang sama-sama tidak mengetahui tentang buku tabungan yang dimaksud oleh Abimanyu.
Akhirnya, Abimanyu menceritakan tentang buku tabungan yang dia berikan kepada Yasmin kemarin. Dan pada saat itu juga, Abimanyu dan Anjani, memergoki mereka berdua, Wawan dan Yasmin, berbincang di rumah ini.
Dia tidak menyangka, jika anaknya itu sudah bertemu dengan Wawan sebelum kejadian kemarin malam.
"Iya Bu. Aku dan Anjani, memergoki mereka berdua. Dan Wawan langsung pergi begitu saja," jawab Abimanyu sambil mengangguk lagi.
Abimanyu menduga jika Wawan hanya memanfaatkan Yasmin. Apalagi, Yasmin baru pulang dari luar negeri, dan dikira Wawan banyak uang. Padahal, uang terakhir Yasmin, sudah dibelikan motor, yang saat ini dipakai Yasmin.
"Sekar, coba Kamu cari buku tabungan yang dimaksud Mas Kamu. Mungkin ada di kamar Yasmin. Di laci atau di lemari," kata ibu Sofie, meminta pada Sekar, untuk mengeledah kamar Yasmin.
Ayah Edi, tidak sabar hanya dengan menunggu. Dia ikut bersama dengan Sekar, masuk ke dalam kamar Yasmin, dan memeriksa laci dan lemari yang ada di kamar Yasmin.
"Ada hak Yah?" tanya Sekar, saat tidak menemukan apa-apa.
__ADS_1
"Tidak ada. Apa dia membawa buku tabungan itu juga?" tanya ayah Edi, menebak-nebak.
"Coba lemari pakaian Nanda. Siapa tahu dia menaruh buku tabungan itu di sana," kata ayah Edi, menduga-duga.
Sekar menurut. Dia melangkah ke arah lemari anak, dan memeriksa semua bagiannya.
Beberapa saat kemudian, Sekar tampak menghela nafas lega.
"Ketemu?" tanya ayah Edi cepat.
"Ini kan Yah?" tanya Sekar, menunjukkan sebuah buku kotak, yang mirip dengan buku tabungan asuransi.
"Iya kayaknya. Ayo kita bawa ke bawah. Kita tanyakan pada Mas Kamu. Benar buku tabungan ini atau tidak. Soalnya, siapa tahu, itu buku tabungan milik Yasmin sendiri."
Ayah Edi mengajak Sekar untuk turun dan menemui Abimanyu, untuk menanyakan tentang buku tabungan yang ditemukan Sekar.
"Mas-mas, ini kan buku tabungannya?" tanya Sekar, begitu menginjakkan kaki pertama setelah anak tangga terakhir.
Abimanyu yang sedang berbicara dengan ibunya, ibu Sofie, menoleh. Dia melihat buku tabungan yang dipegang oleh Sekar dan tersenyum lega.
"Iya. Untungnya tidak terbawa. Mungkin dia tidak kepikiran untuk membuat klaim asuransi pendidikan Nanda. Karena jatuh temponya masih lumayan lama. Lagi pula, tidak bisa dicairkan dengan cepat, jika tidak dalam keadaan mendesak dengan menunjukan surat kematian dari pihak rumah sakit, dan juga pihak kepolisian."
Mendengar perkataan Abimanyu, ibu Sofie mengerutkan keningnya bingung.
"Serumit itu?" tanya ibu Sofie tidak menyangka, jika ada asuransi pendidikan yang serumit ini aturannya.
"Gak Bu. Ini hanya untuk antisipasi manipulatif dari nasabah. Ini asuransi, teman Abi ada yang kerja di sana, dan membuat aturan itu. Ini untuk mengamankan uang tabungan tersebut dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tabungan ini bisa cair dengan mudah dan cepat, jika memang sudah waktunya." Abimanyu menerangkan tentang buku tabungan pendidikan milik Nanda.
__ADS_1
Tapi dengan kesulitan untuk bisa mencairkan buku tabungan tersebut, ayah Edi dan ibu Sofie, menjadi lebih lega, karena Yasmin ataupun Wawan, tidak akan bisa menikmati tabungan anaknya itu.