
"Jadi kayak gitu tadi kita, ya kan Miko?"
Anggi mengakhiri ceritanya, dan minta dukungan dari apa yang dia ceritakan kepada Miko.
"Ya-ya kayak gitu tadi," jawab Miko, menyakinkan bahwa, apa yang diceritakan oleh Anggi memang benar adanya.
Mereka berdua, tidak tampak sedih dan merasa jika apa yang mereka alami adalah sebuah musibah.
Apalagi, kaki mereka juga terluka. Lecet-lecet dan berdarah. Tapi sepertinya, mereka berdua tidak merasakan bahwa itu adalah beban.
Mereka tampak bahagia dan bangga. Dengan apa yang tadi mereka berdua alami.
Menurut cerita Anggi, yang juga diiyakan oleh Miko, pada saat melintas di sebuah gang yang ada polisi tidur, Anggi terpental dan jatuh dari boncengan, dan itu memang bukanlah sebuah boncengan.
Anggi terpental dan jatuh di dekat polisi tidur. Tapi dia tidak menangis. Justru terkekeh, karena dia tidak bisa membayangkan, bagaimana caranya dia bisa terpental tadi.
Selanjutnya, mereka berdua kembali naik sepeda dengan berganti posisi.
Anggi yang didepan, dan Miko membonceng, dengan posisi yang sama seperti yang tadi dilakukan oleh Anggi.
Beberapa putaran di gang, memang aman. Tidak ada polisi tidur yang bisa membuat mereka terjatuh.
Tapi pada saat di tikungan, yang mau menuju ke arah gang rumah Anggi, ada seekor kucing yang melintas.
Karena Anggi tidak ingin menabrak kucing tersebut, dia mencoba untuk mengalihkan arah laju sepeda.
Sayangnya, mereka berdua justru jatuh di ke parit atau selokan yang tidak terlalu dalam. Tapi tentu saja, wajah mereka cemong dengan air yang ada di selokan tersebut.
"Aduh!"
Anggi berteriak keras, karena tertimpa tubuhnya Miko.
Tapi sepertinya itu tidak masalah. Mereka berdua justru tertawa-tawa senang. Mentertawakan keadaan mereka berdua yang tidak bisa dikenali, akibat air selokan.
Karena jeritan Anggi yang mengaduh dan cukup keras, membuat seseorang keluar dari dalam rumah.
"Ehhh... aduh. Kenapa ini?" tanya orang tersebut, yang tentunya juga merasa kaget, saat melihat keadaan mereka berdua.
"Emhhh... "
Anggi tidak bisa menjawab pertanyaan dari orang tersebut, karena takut air selokan akan masuk ke dalam mulutnya.
"Umhhh..."
Miko juga sama. Tidak bisa membuka mulutnya, karena tetesan air selokan yang ads di wajahnya.
Orang tersebut akhirnya mengajak keduanya untuk mampir ke rumahnya. Dia membantu Anggi serta Miko membersihkan wajah mereka dengan air.
Dan setelah bersih, barulah wajah keduanya bisa dikenali.
__ADS_1
"Ya ampun, Anggi, Miko. Bagaimana bisa kalian berdua jatuh seperti itu?"
Anggi dan Miko, hanya meringis saja. Dan tidak menjawab pertanyaan dari orang yang sudah menolongnya itu.
Setelah merasa wajahnya tidak lagi ada air selokan, keduanya pamit pulang.
"Tante, Kami pulang dulu. Nanti dicariin bunda sama mamanya Miko."
Anggi pamit pulang, dan tanpa menunggu jawaban dari orang tersebut, mereka berdua berjalan dengan pincang.
Dan Miko menuntun sepedanya sendirian.
Orang yang tadi menolong, sebenarnya sudah berniat untuk mengantar mereka berdua. Tapi Anggi menolak tawaran tersebut.
"Tidak apa-apa Tante. Kami bisa kok pulang sendiri," ujar Anggi, menolak tawaran untuk diantar pulang oleh orang yang tadi dia sebut dengan Tante.
"Yakin bisa Anggi?" tanya orang itu memastikan.
Anggi mengangguk pasti. Begitu juga dengan Miko. Meskipun sebenarnya, luka di beberapa bagian tubuhnya terasa perih.
"Tapi luka kalian..."
"Gak apa-apa Tante. Nanti diobati di rumah saja," sahut Anggi, memotong kalimat yang diucapkan oleh si Tante.
Tapi pada saat mereka ingin naik sepeda itu lagi, ternyata rantainya putus. Itulah sebabnya, terpaksa mereka menuntunnya hingga sampai di rumah.
Anjani hanya menggeleng sambil tersenyum, mendengar cerita yang disampaikan oleh anaknya itu.
Begitu juga dengan Sekar, yang membersihkan dan mengobati luka-luka yang ada di tubuhnya Miko.
"Kapok gak nih?" tanya Anjani, ingin tahu.
"Gak lah Bun. Asyik tahu!"
"Ck, dasar kalian berdua." Sekar berdecak, mendengar jawaban yang diberikan oleh Anggi, atas pertanyaan yang diajukan oleh bundanya.
"Nanti sepedanya suruh papa benerin ya Ma. Besok kita mau muter-muter lagi, tapi di taman bermain," kata Miko, meminta bantuan pada mamanya.
"Mereka berdua belum tahu Dek. Bagaimana rasanya tubuh mereka nanti malam. Pasti pada kaku dan perih lukanya."
"Iya Mbak. Sekarang sih, mereka berdua belum merasakan bagaimana rasanya habis jatuh," sahut Sekar, menimpali perkataan kakak iparnya itu.
*****
Di rumah Mita.
Ara dan Nanda berpamitan untuk pulang. Tapi mama dan papanya Mita justru menahan keduanya, dan meminta mereka supaya ikut makan malam bersama terlebih dahulu.
"Terima kasih Om, Tante. Tapi kami harus pulang. Kami tidak ijin untuk pulang lebih lebih malam. Mungkin, besok-besok, saat ada waktu untuk berkunjung ke sini lagi, kami menerima tawaran untuk makan malam bersama."
__ADS_1
Ara memberikan penjelasan kepada kedua orang tuanya Mita.
Nanda hanya mengangguk saja, tanpa memberikan jawaban yang lain lagi.
"Ma, Pa. Ara ini adalah tunangannya Awan lho Pa," kata Mita, memberitahu bahwa, temannya itu adalah tunangannya Awan. Anak dari pemilik PT SAMUDERA GROUP.
"Oh benarkah? Wah, selamat ya Nak!"
Papa dan mamanya Mita, bergantian menyalami Ara, sebagai bentuk ucapan selamat.
"Terima kasih Tante, Om."
Papa dan mamanya Mita tahu, siapa Awan. Karena mereka berdua memang sudah memiliki kerjasama dengan PT SAMUDERA GROUP terlebih dahulu, sebelum PT ANTARA GROUPS, milik orang tuanya Dika.
Tapi karena Awan dan Mita tidak pernah mempublikasikan diri mereka sebagai anak-anak dari kalangan atas, mereka berdua juga tidak saling tahu.
Dan ternyata, antara mereka berdua, Mita dan Awan, masih tergolong keluarga dari kakek buyut mereka.
"Kemarin memang Mas Elang bilang, jika anaknya mau bertunangan. Sayangnya acara hanya untuk keluarga inti. Jadi kami tidak bisa hadir," tutur mamanya Mita, memberitahu pada Ara.
"Oh iya Tante. Kami memang tidak membuat acara yang besar. Karena kami tidak ada banyak waktu. Kak Awan juga sudah kembali ke Amerika."
Ara memberikan penjelasan, kepada mamanya Mita. Kenapa acara pertunangannya dengan Awan, tidak diadakan secara besar-besaran.
"Iya-iya, tidak apa-apa. Besok, kalian harus buat acara pesta pernikahan yang besar dan semuanya di undang."
Ara hanya tersenyum saja, menanggapi perkataan yang diucapkan oleh mamanya Mita.
"Maaf ya Tante, Om. Kami permisi dulu."
Akhirnya, Ara dan Nanda pulang setelah berpamitan pada kedua orang tuanya Mita, dan juga Mita sendiri.
"Ra. Jangan lupa kasih kabar ya, jika mau balik ke Amerika!"
Ara mengacungkan jempolnya pada Mita. Tanda jika dia menyanggupi permintaan darinya.
Setelah Ara dan Nanda pulang, Mita memeluk mamanya dengan berurai air mata.
"Hiks... Ma. Hiks..."
"Ada apa Sayang?" tanya mamanya Mita, dengan membelai rambut anaknya itu.
Papanya Mita, hanya mengelus-elus pundak anaknya, yang ada di dalam pelukan istrinya.
"Hiks... kenapa kak Dika tidak bisa berkabar? Apa dia tidak sayang sama Mita lagi?" tanya Mita, yang masih saja memikirkan kekasihnya, Dika.
"Sabar Sayang. Dika pasti akan memberikan kabar, jika keadaan sudah membaik." Mamanya Mita, mencoba untuk menenangkan hati anaknya.
'Tapi, itu jika dia benar-benar masih peduli dengan Kamu Sayang," lanjut suara hati mamanya Mita, yang tidak mungkin bisa dia ucapkan pada anaknya itu.
__ADS_1
Dia merasa jika, kekasih anaknya, Dika, tidak punya rasa peduli lagi dengan Mita. Sejak tahu jika Mita punya penyakit yang serius.
Tapi tentunya dia tetap diam, dan tidak bicara apa-apa. Dia tidak mau jika, anaknya itu semakin terpuruk, dalam keadaan seperti sekarang ini.