
Ahmed masih menunggu Anjani untuk menjawab pertanyaan yang tadi dia ajukan. Tapi, Anjani justru tersenyum saja.
"Apa benar itu Bun?" tanya Ahmed lagi, dengan tidak sabar.
Anjani mengangguk mengiyakan pertanyaan tersebut. Dia juga ingin tahu, apa yang sebenarnya menjadi maksud dari kedatangan Ahmed kali ini. Karena yang dia tahu, Anggi dan Ahmed hanya berteman saja.
Meskipun dari gerak-gerik mereka berdua, dan dari perhatian Ahmed pada Anggi, Anjani bisa menyimpulkan bahwa, anak tampan yang saat ini ada di rumahnya, memiliki perasaan yang lebih terhadap anaknya, Anggi.
"Padahal Tante, I yang memaksa papa dan mama untuk pindah lagi ke Amerika sini. Melanjutkan usaha mama yang sempat ditinggal dan hanya dikelola oleh orang lain."
"Itu karena, i ingin dekat dengan anaknya Tante Anggi."
Akhirnya, Ahmed mengatakan maksud kedatangannya ke rumah Anjani.
Ini tentunya membuat Anjani terbelalak kaget. Mendengar langsung apa yang dikatakan oleh Ahmed barusan.
Anjani berpikir bahwa, anak lelaki ini terlalu cepat menyimpulkan perasaan yang dia miliki terhadap Anggi. Dan akhirnya, Anjani bertanya kepada Ahmed, "Kalian masih kecil lho Nak Ahmed. Apalagi Anggi. Apa ini tidak terlalu cepat menyimpulkan perasaan nak Ahmed sendiri?"
"Tidak Tante. I suka dengan Anggi, sejak awal pertama i jumpa Anggi di sekolah. Sayangnya, tidak berani bilang jika i suka. Dan sampai hari ini juga, i belum bisa mengatakannya secara langsung."
"Tapi jika waktunya ini tidak lama, i bisa apa? Dan belum tentu juga Anggi suka sama i. Jadi, i mohon Tante tidak bicara soal ini pada Anggi juga."
Anjani menjadi bingung sendiri, karena perkataan dari Ahmed yang dirasa aneh.
Dia mengatakan suka, pada bundanya Anggi. Tapi tidak ingin Anggi tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya.
Karena Anjani bingung, akhirnya dia pun bertanya lagi pada murid memaksanya itu. "Lalu, apa yang Nak Ahmed inginkan?"
"I hanya ingin memastikan jika apa yang i tahu itu benar. Dan untuk urusan perasaan i ini, biarlah nanti ada waktunya juga i akan bicara pada Anggi."
Meskipun sebenarnya Anjani masih belum paham, dia tidak lagi bertanya-tanya pada Ahmed. Dia tahu, Ahmed itu anak yang cerdas dan kreatif. Meskipun Anjani belum lama mengenalnya, tapi selama sebulan lebih menjadi guru masak dadakan Ahmed, dia tahu jika, anak laki-laki di depannya saat ini punya keberanian dan keyakinan dengan semua yang dilakukan.
Jiwa wirausaha yang dimiliki Ahmed, mungkin juga ada pada perasaan yang ada di dalam hatinya. Secara, Anggi itu anak yang kurang peka dan acuh dengan sekitarnya.
Bisa jadi, sebenarnya Ahmed sudah memberikan sinyal-sinyal yang mengarah kepada perasaannya sendiri. Tapi karena sikap Anggi yang acuh, Ahmed harus mengendalikan perasaannya sendiri, agar tidak cepat-cepat menyatakan perasaannya itu.
Ahmed pasti merasa takut jika, Anggi tidak merespon dan justru menjauhi dirinya saat. Begitu Anggi tahu, bagaimana perasaan Ahmed yang sebenarnya.
Anjani hanya tersenyum tipis, mendengar pengakuan yang diberikan oleh Ahmed. Dia mengagumi sosok anak kecil di depannya saat ini. Bukan hanya sekedar bermain-main dengan rasa suka, tai justru mengatakannya kepada salah satu orang tua dari orang yang dia incar.
__ADS_1
Secara, ini aneh dan tentunya jarang ditemukan. Karena biasanya, seseorang yang menyukai lawan jenis, akan malu jika ketahuan orang tuanya. Apalagi, jika dia sendiri belum berani mengatakan perasaannya itu.
Tapi Anjani tidak mengomentari tentang sikap Ahmed. Dia tidak mau mencampuri urusan anak-anak. Apalagi menurut Anjani, mereka berdua masih terlalu kecil. Untuk mengenali perasaan mereka masing-masing.
Seiring berjalannya waktu dan jarak yang ada, kemungkinan besar mereka juga akan melupakan semua kenangan dan perasaannya itu.
Apalagi, jika ke depannya nanti ada seseorang yang bisa mengisi waktu dan hari-hari mereka.
Begitulah kira-kira pemikiran yang ada di dalam hatinya Anjani. Perasaan yang dimiliki anak-anak ini hanya cinta monyet, yang akan cepat berganti dengan keadaan dan kondisi yang ada pada saat itu juga.
*****
Di sekolah Anggi.
Teman-temannya Anggi, heboh dengan apa yang dikatakan oleh Anggi pada mereka.
"Aku mau pindah sekolah ke Indonesia. Kita ketemu di akun sosial ya!" kata Anggi memberitahu.
"What?"
"Hei! Jangan bercanda Anggi!"
"Kenapa mendadak?"
Teman-temannya Anggi, memeluknya dengan cara melingkari dirinya.
"Huhuhu... kita akan kehilangan Kamu Anggi," ujar salah satu dari mereka.
"Sepi Anggi, jika tidak ada Kamu," sahut yang lainnya.
"Gak ada yang punya ide jahil dong!" timpal satunya lagi.
"Kita tidak bisa seperti kemarin-kemarin." Seseorang menimpali, dengan wajah sedih.
Anggi jadi merasa terharu. Melihat bagaimana cara teman-temannya itu mengatakan keberatannya untuk berpisah nanti.
Dia tidak tahu jika, ayahnya sudah dalam perjalanan menuju ke tempat sekolahnya ini. Untuk mengurus segala sesuatunya, demi kepentingan pindah sekolahnya di Jakarta nanti.
Dalam suasana yang tiba-tiba terasa sedih, tapi juga mengharukan, layar di depan kelas menampilkan kepala sekolah yang ada di office.
__ADS_1
Kepala sekolah, meminta pada Anggi untuk pergi ke ruangannya sekarang juga.
Di sekolah Anggi, setiap kelas ada layar monitor yang bisa digunakan untuk proses belajar. Tapi juga bisa digunakan untuk keperluan pihak office untuk melakukan panggilan pada siswanya atau pada guru, pada saat ada kelas.
Bisa juga digunakan untuk memberikan tugas tanpa gurunya harus masuk ke dalam kelas tersebut.
"Ya Sir. Saya berangkat ke ruangan Office sekarang juga."
Teman-temannya Anggi, merasa terkejut dengan panggilan kepala sekolah tersebut pada Anggi.
"Kamu tidak ada kesalahan kan?"
"Kenapa kepala sekolah memintamu datang Anggi?"
"Apa Kamu sudah melaporkan, bahwa Kamu akan pindah?"
Pertanyaan demi pertanyaan, diajukan oleh teman-temannya Anggi. Tapi, dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan tersebut.
Anggi hanya bisa menaikan kedua bahunya. Tanda jika dia juga tidak tahu, apa yang terjadi. Sehingga dia di minta datang ke ruangan kepala sekolah.
"Aku pergi dulu ya gaesss!"
Setelah itu, Anggi berjalan dengan cepat menuju ke lantai bawah. Di mana ruangan office dan ruangan kepala sekolah juga ada di lantai bawah sana.
Dalam perjalanan menuju ke office, Anggi juga memiliki pemikiran dan pertanyaan yang sama seperti yang tadi diajukan oleh teman-temannya.
"Ada apa ya? Aku merasa tidak punya kesalahan apa-apa," gumam Anggi, sambil menekan tombol lift.
Tentu saja Anggi mengunakan lift, karena selain tangga, ada fasilitas lift untuk naik dan turun di sekolahnya ini.
Pada saat tiba di lantai bawah, suasana cukup sepi. Anggi terus melangkahkan kakinya, menuju ke arah ruang kepala sekolah.
Tok tok tok!
"Masuk!"
Clek!
Pintu di buka Anggi, di saat kepala sekolah mempersilahkan dirinya untuk membuka pintu.
__ADS_1
Anggi terkejut, di saat melihat keberadaan ayahnya, yang duduk bersama dengan kepala sekolah.
"Ayah!"