
"Jadi, bunda sudah pernah menikah dengan orang lain, sebelum menikah dengan Ayah?" tanya Ara kaget, saat ayahnya, Abimanyu, selesai bercerita.
Mereka sedang berada di dalam mobil, namun masih berada di area parkir pemakaman.
Mereka berdua, baru saja selesai nyekar dan juga berdoa, di makam sang kakek, ayahnya Anjani. Ayah mertua Abimanyu, sama seperti yang tadi dilakukan oleh Elang.
"Iya. Tapi bunda masih gadis saat menikah dengan Ayah," jawab Abimanyu, sambil tersenyum sendiri, mengingat masa-masa awal menikah dengan Anjani.
Dia ingat betul, bagaimana Anjani yang sudah janda, tapi masih gadis, saat mereka berdua menikah.
Hal yang tidak akan pernah dipercayai oleh orang lain, termasuk Abimanyu, jika bukan Abimanyu sendiri yang mengalami.
"Maksudnya Yah?" tanya Ara, yang tidak mengerti, apa maksud dari jawaban dan penjelasan dari ayahnya itu.
"Hahaha... besok, kalau Ara sudah besar, Ara juga tahu kok, apa yang Ayah maksud. Sekarang kita kembali ke villa. Kita beristirahat di sana, sambil menikmati pemandangan dan makanan yang enak-enak. Besok baru kita pulang. Setuju?"
Ara mengangguk cepat. Dia begitu bersemangat dengan ajakan ayahnya itu. Meskipun pertanyaannya tadi belum mendapatkan jawaban, yang bisa menjelaskan secara rinci dan bisa dia mengerti, tapi Ara tidak lagi memikirkannya. Dia hanya ingin menikmati apa yang tadi disebutkan oleh ayahnya barusan.
Akhirnya, mobil yang dikendarai oleh Abimanyu dan Ara, meninggalkan arena parkir pemakaman, menuju ke villa, di mana mereka berdua menginap semalam.
"Kita akan mampir ke rumah bunda yang biasanya gak Yah?" tanya Ara, saat sudah berada di perjalanan.
"Ara mau mampir?" tanya Abimanyu balik.
"Terserah Ayah. Kalau Ayah tidak capek dan ada waktu, mampir saja sebentar Yah. Ara mau minta asinan buah dari kafe, buat dibawa pulang. Untuk oleh-oleh Bunda dan Anggi." Ara mengatakan keinginannya.
"Ya sudah. Kita mampir juga ke sana, tapi besok, saat kita mau pulang ya? sekarang kita telpon kafe saja, buat pesan. Atau mau telpon bunda, biar bunda yang kasih kabar ke pihak kafe?" tanya Abimanyu, memberikan beberapa pilihan untuk mampir ke kafe rumah milik istrinya, Anjani.
"Ara telpon bunda aja deh. Biar bunda yang mintain."
Akhirnya, Ara memutuskan untuk menghubungi bundanya, Anjani, agar memberi kabar lada pihak kafe rumah miliknya, jika besok dia dan ayahnya akan mampir ke kafe, untuk minta asinan buah.
Tut
Tut
Tut
..."Halo Mas!"...
..."Bunda. Ini Ara!"...
..."Oh, iya Ara. Bagaimana kabarnya? kapan balik ke Jakarta?"...
..."Besok Bunda. Ini tadi habis dari makam kakek."...
..."Hemmm, terus pergi jalan-jalan?"...
__ADS_1
..."Gak Bunda. Kita mau balik ke villa, karena pemandangan di sana juga bagus kok. Gak capek jalan-jalan kan?"...
..."Eh gitu."...
..."Besok pas waktunya pulang, Ara dan ayah mau mampir ke kafe rumah. Ara mau minta asinan buah dari kafe Bunda. Boleh ya Bun?"...
..."Gak apa-apa. Nanti Bunda kasih kabar ke teteh koki."...
..."Asyikkk! Makasih Bunda."...
..."Oh ya, ayah nyetir ya?"...
..."Iya Bun. Bunda mau ngomong sama ayah!"...
..."Gak usah Sayang. Ayah kan lagi nyetir. Kalian hati-hati ya. Cepat pulang. Rumah sepi ini, gak ada kalian juga di rumah."...
..."Iya Bun."...
..."Hati-hati ya Ara, Ayah!"...
..."Iya Bunda."...
..."Iya Sayang!"...
Abimanyu juga ikut menyahut, masi dengan keadaan menyetir. Dia mendengar semua pembicaraan antara anaknya, Ara, dengan istrinya, Anjani.
"Bunda yang akan memberitahu pihak kafe Yah. Besok kita tinggal datang ke sana," kata Ara memberitahu. Dia terlihat sangat senang karena bisa mampir ke rumah bundanya.
Rumah masa kecil Anjani, yang sekarang ini sudah di sulap menjadi sebuah kafe, yang nyaman dan aman, untuk pengunjung, meskipun mereka membawa semua anggota keluarganya, termasuk anak-anak yang masih kecil.
*****
Awan, yang sedang tidur-tidur di dalam kamar, diminta oleh omanya untuk keluar.
omanya, mama Amel, mengetuk pintu kamar Awan berkali-kali, agar Awan segera membukakan pintu, dan keluar, sesuai dengan permintaannya.
Tok
Tok
Tok
"Awan. Ayo keluar Sayang! Oma mau lihat luka-luka Kamu itu. Udah pada kering belum?"
Mama Amel terus mengetuk pintu. Dia merasa yakin, jika cucunya, Awan, sebenarnya tidak dalam keadaan tertidur. Awan hanya tidak ingin diganggu saat beristirahat, meskipun tidak dalam keadaan terpejam.
Tapi karena mama Amel yang terus-menerus mengetuk pintu kamar, akhirnya Awan beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah pintu.
__ADS_1
Clek!
Pintu kamar terbuka. Awan pura-pura menguap lebar, supaya omanya merasa menyesal, karena sudah menganggu tidurnya.
"Ada apa Oma?" tanya Awan setelah menguap.
"Luka Kamu itu lho, sudah kering belum? kalau belum Oma kasih obat lagi," jawab mama Amel, sambil menarik tangan Awan, yang ada lukanya.
"Aduh! Oma, kenapa di tarik?" Awan meringis karena merasa sakit pada bagian lengannya, saat tangannya ditarik oleh mama Amel, omanya.
"Makanya bilang kalau sakit, jangan hanya diam saja!"
Sekarang, justru Awan menyesal karena memperlihatkan rasa sakitnya, yang mengakibatkan omanya menjadi ngomel-ngomel, pada dirinya sendiri.
"Kamu ini kebiasaan. Gak mau ngomong kalau sakit atau ada apa-apa. Kan bisa keterusan sakitnya, kalau tidak diobati. Ayo kita ke rumah sakit saja!" kata mama Amel, mengajak cucunya itu untuk periksa ke rumah sakit, agar lukanya di rawat oleh dokter.
"Gak apa-apa Oma. Ini kan luka biasa. Nanti kalau sudah kering dan gak memar juga gak terasa sakit lagi kok!" ujar Awan, menolak ajakan omanya.
"Ihsss... tapi perlu tahu, ada tulang yang retak atau patah. Kan perlu rekam medis itu Sayang," kata mama Amel, sambil mengelus-elus punggung tangan cucunya.
"Ah, Oma. Gak usah lebay deh. Aneh-aneh saja Oma ini," sahut Awan mengeleng.
Dia tentu merasa jika omanya itu terlalu berlebihan dengan keadaannya. Padahal dia sendiri, tidak begitu mengkhawatirkan keadaan dirinya sendiri.
"Ya sudah kalau tidak mau. Tapi, Kamu jangan di kamar terus. Kan Oma tidak ada temannya. Ayah Kamu belum pulang. Opa juga baru rencana pulang minggu depan. Oma mau ada teman ngobrol Awan."
Mama Amel, mengatakan maksud dari dirinya mengetuk pintu kamar cucunya itu. Dia hanya ingin ditemani, oleh Awan, sama seperti waktu dia masih kecil dulu.
Akhirnya, Awan mengalah dan ikut omanya itu untuk ke ruang tengah. Mereka berdua berbincang-bincang seperti biasa.
"Kamu kan mau tes kenaikan kelas. Jangan main-main, apalagi ada kejadian kayak gini. Kamu kan bisa cari bantuan juga, ke orang lain, jika ada pada situasi seperti kemarin," kata mama Amel, menasehati cucunya.
"Oma. Kemarin itu, situasi mendadak. Tidak ada kesempatan untuk mencari bantuan. Lagipula, dua preman itu sudah datang, di saat yang bersamaan. Mana ada kesempatan untuk mencari bantuan."
Mama Amel, mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan dari cucunya.
"Tapi Oma bangga dengan sikap Kamu, yang bisa menyelamatkan orang lain yang membutuhkan. Ahhh, Oma bangga pokoknya!" kata mama Amel, dengan tersenyum dan memeluk cucunya, yang tersenyum dengan meringis karena pelukan omanya itu, membuat luka memar yang ada di lengannya terasa sakit lagi.
"Aduh Oma!"
Awan akhirnya berteriak kesakitan, agar omanya cepat melepaskan pelukannya.
Dan teriakan Awan membuat mama Amel sadar, sehingga melepas pelukannya dengan cepat.
"Maaf-maaf. Oma lupa, karena terlalu senang dengan apa yang Kamu lakukan."
Awan hanya bisa nyengir, mendengar perkataan omanya.
__ADS_1