
Mama Amel, juga tidak membicarakan tentang apa yang dia rencanakan untuk cucunya, Awan, pada suaminya, papa Ryan ataupun dengan ayahnya Awan, Elang.
Dia tidak ingin, mereka berdua tahu dan mengacaukan semua rencananya tadi.
Itulah sebabnya, mama Amel hanya berbicara tentang keinginannya itu pada Abimanyu, selaku ayahnya Ara.
Mama Amel juga tidak memaksa Abimanyu, untuk menyetujui permintaan dan rencananya itu. Karena mama Amel tahu, jika ada banyak hal yang akan terjadi ke depan nanti, dan itu tidak melulu soal pernikahan dan juga cinta.
Dia hanya ingin, Awan mendapatkan jodoh yang menurutnya terbaik. Dari keluarga yang jelas dan baik juga.
Karena selama mengenal Anjani dan juga Abimanyu, mama Amel tahu, jika mereka berdua adalah orang-orang yang baik dan tidak memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya. Seperti kekayaan ataupun kemewahan semata.
"Wan. Oma sudah menyiapkan apartemen yang di Amerika, untuk tempat tinggal Kamu di sana nanti. Atau Kamu ingin tinggal di asrama saja, biar banyak temannya?"
Awan mendengarkan perkataan omanya, yang sepertinya sangat bersemangat untuk rencananya yang akan kuliah dan tinggal di Amerika sana.
"Oma tidak akan kesepian di rumah tanpa Awan?" tanya Awan, dengan tidak menjawab pertanyaan dari omanya yang tadi. Tapi justru dia balik bertanya pada omanya.
"Oma bisa mengunjungimu ke Amerika, jika Oma kangen. Atau bisa juga, semua urusan perusahaan Oma serahkan pada ayah Kamu, dan Oma tinggal bersama Kamu di sana."
Dengan entengnya, mama Amel menjawab pertanyaan yang diajukan oleh cucunya itu.
Dan tentu saja, jawaban yang diberikan oleh omanya itu membuat Awan tersenyum sendiri, mengingat bahwa, omanya itu tidak mungkin bisa berdiam diri, tanpa kesibukan kerja.
"Oma yakin?" tanya Awan memastikan kebenaran rencana omanya itu.
Mama Amel hanya bisa mengangkat kedua bahunya, tanda dia juga tidak merasa yakin, dengan apa yang dia katakan sendiri.
"Hahaha..."
"Hehehe..."
Mereka berdua, mama Amel dengan Awan, justru tertawa-tawa senang. Ini karena mereka sadar jika, sebenarnya mereka berdua sama-sama saling membutuhkan. Untuk saling berbagi dan berbicara hal-hal yang tidak biasa dibicarakan pada saat bekerja ataupun sekolah.
Mama Amel dan Awan, sebenarnya sama-sama kesepian. Karena intensitas pertemuan dengan anggota keluarga yang lain tidak bisa dilakukan oleh mereka berdua.
Yang lebih sering berada di rumah, hanya mama Amel dan juga Awan.
Papa Ryan, sibuk dengan semua usahanya.
Begitu juga dengan Elang, yang tentu saja, dia sibuk membantu papanya, yaitu papa Ryan.
Jadi Awan dan mama Amel, praktis lebih sering berada di rumah hanya berdua saja. Itulah sebabnya, mereka berdua juga lebih dekat, dibandingkan dengan papa Ryan ataupun dengan Elang.
__ADS_1
"Jadi, Kamu mau tinggal asrama, atau di apartemen saja?" tanya mama Amel, pada cucunya, Awan.
"Ada flat yang kecil gak Oma? mungkin itu akan lebih memudahkan Awan, karena ruangannya juga tidak terlalu besar."
"Flat?"
Menurut definisi, secara umum, apartemen adalah sebuah jenis tempat tinggal yang menempati sebagian ruang dari sebuah bangunan. Biasanya satu gedung apartemen terdiri atas puluhan hingga ratusan unit.
Sedangkan istilah flat, digunakan oleh negara Inggris. Mereka menyebut hunian yang ada di dalam gedung bertingkat dengan istilah flat.
Namun oleh masyarakat umum, seperti di Indonesia, flat itu diartikan sebagai apartemen yang lebih kecil ukurannya, dibandingkan dengan sebuah apartemen.
Jadi sebenarnya, flat sama dengan apartemen juga. Yang membedakan hanya ukuran dan bentuk bangunannya saja. Karena lebih kecil dan sederhana.
"Iya Oma. Kan Awan juga cuma numpang tidur aja nantinya. Awan akan lebih banyak di kampus, dari pada di kamar untuk tidur."
Mama Amel tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh cucunya, Awan.
Ternyata, perilaku Elang yang sebenarnya sederhana, sama seperti yang mama Amel ajarkan, menurun juga pada Awan.
Sama seperti yang mama Amel jalani juga selama ini.
Bukan karena apa-apa, jika keluarga Samudra selama ini tidak terlihat glamor. Mereka hanya terbiasa, dengan kebiasaan kehidupan keluarga mereka, yang sedari dulu memang sudah sederhana. Dan tidak menampakkan diri sebagai orang yang kaya raya.
Ada juga peribahasa yang hampir sama artinya, yaitu di atas langit masih ada langit.
Itu mengartikan bahwa, sekaya atau sehebat apapun kita, masih ada orang lain yang lebih kaya dan lebih hebat dibanding dengan diri kita.
Jadi intinya adalah, tidak usah bertingkah laku sombong.
Mama Amel mengangguk mengerti, dengan apa yang dikatakan oleh cucunya itu.
Mama Amel juga merasa senang, karena melihat Awan yang tidak ngelunjak. Meskipun sebenarnya, keinginan untuk kuliah ke Amerika adalah usulan dari dirinya, dan bukan murni keinginan dari Awan sendiri.
"Kamu beneran gak apa-apa kan ke Amerika? emhhh... maksud Oma, misalnya Kamu punya pacar, terus pacar Kamu itu keberatan bagaimana?"
Awan mengeryit heran, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh omanya.
"Kamu tidak ada pacar ya?"
Mama Amel kembali bertanya, memancing hatinya Awan, agar bisa curhat kepada dirinya.
"Emhhh..."
__ADS_1
Awan belum sempat menjawab dengan benar, saat Ayahnya, Elang, datang bersama dengan papa Ryan. Opanya Awan.
"Sedang apa Wan, Ma? kok kayaknya serius begitu?" Elang menyapa mamanya, dengan sebuah pertanyaan, yang membuat Awan tidak meneruskan kalimatnya, untuk menjawab pertanyaan dari omanya tadi.
"Eh, kan jadi diam mereka berdua. Gara-gara kita datang nih," ucap papa Ryan, yang tahu betul bagaimana kedua orang yang saat ini saling pandang, karena ketahuan sedang berbincang-bincang berdua.
Dan sepertinya itu adalah rahasia mereka. Karena setelah pertanyaan yang diajukan oleh Elang, dan menyadari kedatangan mereka berdua, Elang dan papa Ryan, Awan dan juga mama Amel terdiam.
"Emhhh... gak apa-apa kok Pah. Ini tadi, Awan cuma Mama tanya aja, mau makan malam dengan menu apa? Eh, belum di jawab, Elang memotong kalimat Awan."
Mama Amel tidak kehilangan akal, untuk menjawab pertanyaan dari suaminya.
Tentunya, mama Amel tidak mau jika, suaminya itu, tahu apa yang sebenarnya tadi dia bicarakan dengan Awan. Yaitu soal pacar.
'Huh! Kan Aku jadi gak tau aja nih, apa dan bagaimana perasaan Awan yang sebenarnya.'
Mama Amel, mengerutu sendiri dalam hati. Dia tidak mungkin mengatakannya secara langsung. Karena itu bisa membuat Awan ngambek, dan tidak mau bicara lagi dengan dirinya.
"Oh... kalau Papa yang pesen menu buat makan malam bagaimana?" tanya papa Ryan, saat mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya.
"Memang Papa mau makan apa?" sahut mama Amel, mengikuti ke mana arah pembicaraan, yang sudah dia belokan.
"Emhhh..."
"Awan ke kamar dulu ya Oma, Opa, Yah," pamit Awan, pada ketiga orang yang saat ini jadi memandang dirinya dengan bingung.
Tapi Awan hanya berlalu begitu saja, dengan sedikit membungkuk sopan.
Elang, melihat bagaimana cara Awan bertingkah saat ini, menjadi bertanya-tanya, pada dirinya sendiri. Tentang apa yang sebenarnya terjadi tadi, antara mamanya, mama Amel, bersama dengan anaknya itu.
Setelah Awan berlalu menuju ke arah kamarnya sendiri, Elang bertanya pada mama Amel.
"Ma. Emhhh... tadi, tadi itu Mama sedang bicara soal apa dengan Awan Ma?"
"Apa Lang? Mama tadi kan sudah jawab juga ya? Gak ada apa-apa. Kamu ini, gak usah curiga dan berpikir yang aneh-aneh gitu."
Meskipun pada akhirnya Elang tidak lagi bertanya-tanya, tapi di dalam hatinya, Elang tetap merasa curiga dengan keyakinan yang saat ini dia miliki.
Apalagi sekarang ini, Mamanya itu, mama Amel, sering berbicara dengan Awan.
Tapi setelah ada yang nimbrung, misalnya papa Ryan atau Elang sendiri, Awan dan juga mama Amel akan terdiam, sehingga memberikan teka-teki, pada Elang sendiri, dan juga papanya, papa Ryan.
"Ya sudah. Tadi mau request makan malam apa?"
__ADS_1
Akhirnya, untuk mengalihkan perhatian papa Ryan dan juga Elang, mama Amel berusaha untuk mengingatkan kembali, ke asal pembicaraan yang mereka lakukan saat ini, dengan alasan yang tadi dia sebutan.