Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tetap Betah


__ADS_3

"Eh, dia mana sih, kok gak datang-datang."


Di pinggir jalan, di belakang pasar, di mana Wawan sedang duduk-duduk menuggu istrinya yang berkeliling mencari barang-barang bekas di pasar. Wawan menunggu kedatangan seseorang.


Tapi siang, Wawan mengirim pesan ke handphone anaknya, Nanda, supaya menemui dirinya di pasar ini. Karena dia ada di pasar ini jingga sore hari.


Sayangnya, yang di tunggu-tunggu tidak juga menampakkan diri.


"Ah, mana sih! Apa nomer handphone yang dikasih kemarin itu salah ya?"


Wawan bermonolog sendiri, karena Nanda belum juga datang menemui dirinya. Dia tidak sabar menunggu lebih lama lagi, karena merasa bahwa, waktunya sudah tidak ada. Istrinya akan segera keluar dari pasar, dan itu artinya, Wawan harus sudah siap untuk mengantarnya kembali pulang ke rumah, dengan membawa hasil kerjaan istrinya hari ini.


Yaitu mengumpulkan barang-barang bekas, dengan banyak jenis barang-barang.


Kemarin-kemarin, sebenarnya Wawan sudah bertemu dengan bibi pembantu rumah ayah Edi, saat dia sedang ada keperluan ke luar dari kompleks perumahan.


Dia memaksa pada bibi pembantu rumah tersebut, untuk menyebutkan nomer handphone milik anaknya, Nanda.


Bibi pembantu rumah, sudah bilang jika dua tidak tahu. Dia juga tidak hafal dengan nomer handphone milik Nanda, yang baru saja pulang ke Indonesia. Karena nomer handphone milik Nanda, pastinya sudah ganti, dan tidak lagi sama seperti saat berada di negara Taiwan sana.


Tapi Wawan tidak percaya. Dia merebut dompet bibi pembantu, yang dia tahu jika ada handphone pribadi milik bibi pembantu. Karena Wawan tahu pasti, bibi pembantu akan mencatat semua nomer handphone milik penghuni rumah, termasuk dengan nomer handphone anak-anaknya ayah Edi.


Tapi karena dia hanya butuh nomernya Nanda, dia hanya menyalin nomer handphone tersebut, tanpa ingin mencari tahu nomer handphone milik Yasmin dan yang lainnya juga.


Itulah sebabnya, dia memiliki nomer handphone anaknya, tanpa bertanya kepada orangnya secara langsung.


Wawan juga mengancam bibi pembantu, supaya tidak menceritakan tentang kejadian itu pada orang rumah. Maksudnya ayah Edi ataupun ibu Sofie. Dia juga meminta pada bibi pembantu, untuk tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya.


Dengan ketakutan, tentu saja, bibi pembantu rumah hanya bisa mengangguk dengan wajah yang tidak bisa dibayangkan, bagaimana rasa takutnya itu.


Dan benar saja, bibi pembantu rumah ayah Edi, tidak berani menceritakan tentang pertemuannya yang tidak sengaja dengan Wawan. Dia hanya bisa diam, dan berharap agar Wawan tidak lagi menganggu keluarga majikannya.


"Mas. Mas Wawan. Bantu sini cepat!"


Wawan sadar dari lamunannya, dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.


Di seberang jalan dekat pintu masuk bangunan pasar, istrinya memanggil sambil mengibas-ngibaskan tangan, karena merasa kepanasan.

__ADS_1


Wawan segera berdiri, kemudian berjalan mendekat ke tempat istrinya berdiri.


"Dapat banyak?" tanya Wawan, saat melihat istrinya yang tampak payah dan kewalahan, dengan beberapa barang bekas yang lebih kecil, pada tangannya yang satu lagi.


"Banyak dong. Coba deh lihat!"


Wawan melihat tumpukan kardus dan barang-barang bekas elektronik, yang kemungkinan besar berasal dari beberapa warung yang letaknya ada di dalam pasar.


"Ayo di bawa ke pick up sekarang. Sudah sore juga ini!"


Wawan tampak patuh pada perintah istrinya itu. Dia segera mengangkat barang-barang elektronik, untuk dia bawa terlebih dahulu.


Setelah beberapa kali bolak-balik membawa barang-barang tersebut ke atas mobil pick up, kini dia sudah bersiap-siap untuk pulang. Tapi rasa lapar dan haus, di oleh Wawan saat ini.


"Mi. Makan dulu yuk, Aku lapar nih," ajak Wawan, persis seperti anak kecil yang minta makan pada ibunya.


"Lho, tadi kan sudah makan. Tak kasih uang juga kan buat beli-beli es tadi," sahut istrinya Wawan dengan mengerutkan keningnya, mendengar permintaan dari Wawan. Suaminya yang berusia lebih muda dari pada dirinya.


"Hehehe... data handphone tiba-tiba habis tadi, jadi di pake buat beli. Tuh, di konter pulsa sebelah sana!"


Wawan menunjuk ke arah sebuah toko, yang berukuran lebih kecil, dibanding dengan toko-toko yang lain di sebelah-sebelahnya.


Istri Wawan marah-marah karena, kebiasaan Wawan, yang suka main game dan lupa untuk membantunya bekerja.


"Selingan Mi. Bosen juga kan kayak gini terus." Wawan ngeles saja dengan alasan yang dibuat-buat.


"Ya sudah, kita makan di warung yang sebelah sana aja. Di sini menunya gitu-gitu aja!"


Wawan bersorak kegirangan dalam hati. Dia tahu, jika istrinya ini juga doyan makan, dan sering kali mencoba mencari warung-warung dengan menu yang berbeda-beda.


Itulah sebabnya, Wawan betah mendampingi istrinya itu, meskipun terkesan galak dan judes, sama seperti mertua pada menantu, jika ada di sinetron-sinetron televisi.


*****


"Terima kasih Kak. Mampir dulu gak?"


"Kakak langsung pulang saja deh Ra. Nanti Anggi malah bikin repot jika Kakak mampir dulu. Hehehe..."

__ADS_1


"Hihihi... iya sih. Ya sudah, hati-hati ya Kak."


"Ya. Nanti malam, kita chat aja ya!"


Ara mengangguk mengiyakan perkataan dari Nanda. Mereka berdua, memang terbiasa berbincang-bincang lewat chat, atau pesan singkat dari wa.


Apalagi, Nanda tidak mampir dulu ke rumah Ara, begitu Ara turun dari boncengan motornya. Tidak ada kesempatan untuk berbincang lebih lama, karena mereka tidak melakukan perbincangan saat diperjalanan.


Akan sangat tidak nyaman, saat berbicara, dengan naik motor. Karena selain bising dengan suara motor dan mobil yang lewat, angin juga tidak baik, saat masuk ke dalam mulut yang sedang berbicara. Sedangkan jika mengunakan masker, tentu saja, yang diajak berbicara tidak bisa mendengar dengan jelas.


Nanda tidak mau mampir terlebih dahulu karena alasan Anggi. Adiknya Ara itu, akan minta diajak untuk berkeliling kompleks, dengan mengunakan motornya.


Anggi beralasan bahwa, dia tidak pernah naik motor sport seperti milik kakak sepupunya itu, karena motor milik ayahnya berbeda dengan miliknya Nanda.


Apalagi jika di tambah dengan adanya Miko. Mereka berdua, Anggi dan Miko, akan minta berkeliling lagi, dan tidak cukup hanya dua kali berkeliling.


Di saat motor sport Nanda meninggalkan rumah Ara, Anggi tampak berlari-lari kecil, dari dalam rumah.


"Kak Nda, kak Nanda! Ihsss... kenapa gak nunggu Anggi keluar sih!"


Ara berlalu begitu saja, tanpa menghiraukan Anggi. Dia masuk ke dalam rumah, sedangkan Anggi, berdiri dengan kesal di depan pintu.


"Kakak-kakak!"


Anggi berteriak keras, memangil kakaknya, yang saat ini sudah berada di dalam kamar.


Tadi, Ara tidak menemukan bunda ataupun ayahnya. Mungkin mereka sedang berada di dalam kamar, sedangkan Anggi di kamar sendiri. Dan saat mendengar suara motor sport Nanda, dia keluar untuk bertemu dengan kakak sepupunya itu.


"Anggi, jangan berteriak-teriak kayak gitu Sayang."


"Ihhh, Bunda. Kak Ara tuh!"


Anjani menyipitkan matanya, saat mendengar perkataan dari anaknya yang kedua.


"Kak Ara sudah pulang?" tanya Anjani, yang tidak tahu, jika Ara sudah pulang sekolah.


Akhirnya Anggi bercerita pada bundanya, Anjani, tentang kakak sepupunya, Nanda, yang langsung pergi dan tidak masuk ke dalam rumah mereka terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bagus dong. Dengan begitu, kak Nanda tidak tahu keadaan ayah. Kan kuta sedang bermain petak umpet, supaya yang lain tidak tahu, jika ayah ada di rumah, dan sedang sakit."


Akhirnya Anggi tidak lagi terlihat marah. Dia mengangguk mengiyakan perkataan bundanya itu. Tadi, dia sempat lupa, dengan apa yang sudah disepakati bersama, oleh anggota keluarga yang ada di rumah ini. Yaitu merahasiakan kejadian yang dialami oleh ayahnya. Ayah Abi.


__ADS_2