
Dari hasil penyidikan yang dilakukan oleh dua orang. Yang satu mengikuti target hingga sampai ke rumah sakit. Sedangkan yang satunya lagi, mencari keterangan dari pihak petugas rumah tahanan, atau rutan.
Sekarang, mereka berdua sudah ada di kantor polisi. Melaporkan semua keterangan dari hasil penyidikan yang mereka lakukan.
"Wow... jadi benar ya? Dia adalah eks pemilik PT ANTARA GROUPS. Yang tersandung kasus dengan PT SAMUDERA GROUP. Berarti, ini adalah motif balas dendam."
Salah satu temannya, yang tidak ikut terjun langsung dalam penyidikan ke lapangan, memberikan komentarnya. Setelah semuanya dihubungkan.
"Dan yang ada di rumah sakit koma itu adalah, anaknya yang dikabarkan menghilang, setelah kedua orang tuanya tersandung kasus itu." Imbuh orang tersebut mengingat kembali kejadian yang sudah berlalu.
"Iya benar. Dan anaknya itu mengalami kecelakaan beberapa bulan kemarin dengan sebuah mobil trailer. Ini kasusnya juga tidak berlanjut. Karena pihak pemilik dan supir trailer, tidak terbukti bersalah. Tapi korban yang bersalah. Ada bukti cctv di depan sebuah ruko, di mana kecelakaan itu terjadi."
"Itulah sebabnya, mereka hanya memberikan santunan hingga sebulan pasien koma. Karena pihak mereka juga rugi besar. Baik secara fisik, dari supir dan juga materi dari pihak pemilik mobil trailer tersebut."
Mendengar keterangan yang diberikan oleh temannya itu, dua orang tadi mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka ikut merasa prihatin dengan kejadian dan nasib keluarga target mereka.
"Tapi sayang sekali ya, setelah semua kejadian itu, dia malah gak sadar dan mau aja dihasut oleh keinginan untuk balas dendam."
"Itu kan untuk pikiran orang yang masih waras. Ini udah diliputi dengan ambisi dan dendam. Dan itu pasti didukung setan. Makanya mereka gak sadar-sadar juga!"
Mereka semua jadi sahut-sahutan, dalam membicarakan tentang target penyidikan mereka..
"Sudah-sudah. Kita tinggal bikin laporan, dan semuanya dijadikan satu bersama dengan semua hasil penyidikan kemarin. Dengan begini, kita bisa membuatkan surat penangkapan pada orang tersebut."
"Cus lah kita buat. Aku udah gedeg, jika ada kasus yang melibatkan sindikat penjualan manusia."
"Ah, Gue juga. Tuhan aja gak memperjualbelikan ciptaannya yang berupa manusia kok."
"Begitulah kira-kira jenis ciptaan Tuhan ini. Gak pernah ada puasnya dan kebanyakan mengikuti hawa nafsu setan. Tanpa berpikir panjang lagi, bagaimana kebelakang kemudian. Karena penyesalan belum bisa dia tebak bagaimana hasilnya. Jika harus mengikuti kesalahan demi kesalahan dendam itu."
Dan akhirnya, mereka kembali berbicara lagi, tentang banyaknya kasus yang serupa dengan kasus ini.
*****
Di pangkalan barang-barang bekas miliknya Mami.
Nanda datang berkunjung bersama dengan Mita. Untuk memperkenalkan Mita dengan Papa kandungnya, Wawan.
"Papa Kamu sedang dalam perjalanan Nda. Tunggu sebentar ya!"
"Oh ya, ayo duduk sini!" Mami menyambut kedatangan mereka berdua, dengan mempersilahkan mereka untuk duduk terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ya Mi, gak apa-apa."
"Ini pacar Kamu Nda? cantik banget..."
"Teman kuliah ya?"
Mami terus bertanya, dan mengajak anak tirinya itu berbicara.
"Iya Mi. Kenalin ini, namanya Mita."
Akhirnya, Nanda memperkenalkan Mita, dengan Mami. Istri papanya yang sekarang. Yang merupakan pemilik pangkalan barang-barang bekas ini juga.
"Panggil saja dengan sebutan Mami. Sama seperti Nanda juga ya!"
"Iya Mi. Saya Mita."
Mita menyambut uluran tangan Mami, yang mengajaknya bersalaman.
"Bentar ya Nda, nak Mita. Mami buatkan minum dulu," pamit Mami, yang segera beranjak dari tempat duduknya. Kemudian berjalan menuju ke arah dalam rumah.
Sekarang, Mita melihat ke sekeliling pangkalan barang-barang bekas. Tempat ini memang tidak pernah terlihat rapi dan bersih. Karena ada banyak sekali barang-barang bekas, yang teronggok di sana sini.
"Maaf ya Dek. Papa Wawan emang hanya bekerja ikut bersama Mami. Melakukan usaha seperti ini."
Nanda memaklumi, jika Mita tidak terbiasa dengan keadaan dan lingkungan yang ada di tempat ini. Pangkalan barang-barang bekas, yang tentu saja, terlihat seperti kumuh.
"Gak apa-apa kok Kak. Yang penting kan papa Wawan udah insyaf."
Mita, tidak mempersoalkan tentang keadaan di tempat pangkalan barang-barang bekas ini. Karena bagaimanapun juga, Kehidupan seseorang tidak ditentukan dengan kekayaan yang dimiliki, dan di mana tempat tinggalnya.
Mita juga mulai banyak belajar, bagaimana cara menilai seseorang. Bukan hanya sekedar penampilan, dan gaya hidup mereka. Tapi dari segi kepribadian seseorang.
Ini Mita pelajari dari kehidupannya sendiri.
Mulai dari mantan kekasihnya yang dulu, yaitu Dika, dengan kekasihnya yang sekarang, yaitu Nanda.
Dia juga membandingkan kehidupan sehari-hari antara Dika dan Awan, yang sangat jauh berbeda sedari dulu.
Mita juga banyak mendapat nasehat dari mama dan papanya. Yang masih ada ikatan persaudaraan dengan keluarganya Awan. Keluarga yang sukses, tapi masih saja hidup dengan gaya yang biasa saja. Tanpa haus akan ketenaran dan penghormatan dari orang lain.
Tak lama kemudian, Mami datang. Dia membawakan minuman untuk kedua tamunya siang ini.
__ADS_1
"Di minum dulu. Seadanya ya Nda, nak Mita."
"Ya Mi. Terima kasih," ucap Nanda, dengan tersenyum tipis.
Begitu juga dengan Mita. Dia mengiyakan perkataan Mami, dengan tersenyum juga.
"Kalian pasti belum makan siang kan? Mau makan apa? Di depan ada banyak warung. Ada gerobak penjual juga yang sering lewat."
"Doyan kan makanan rakyat jelata? hehehe..."
Mami menawari Nanda dan juga Mita, untuk makan siang ditempatnya ini.
"Gak usah repot-repot Mi," ucap Mita cepat.
Dia tidak mau membuat istri dari papanya Nanda ini kerepotan, karena harus menyediakan makan siang untuk mereka berdua.
"Gak apa-apa. Mami gak repot kok. Mami jarang masak. Maklumlah, cuma ada Mami dan papa Wawan saja di rumah."
Mita tersenyum, mendengar alasan yang dibuat oleh Mami.
"Mau makan apa? Mami pesankan. Ayo Nda, mau apa?" Mami kembali bertanya, agar mereka berdua, Nanda dan Mita, menentukan pilihan untuk menu makanan mereka sendiri.
"Ya sudah. Nanda mau apa aja sih Mi. Yang lewat atau warung depan juga gak apa-apa."
Akhirnya, dari pada menolak tawaran Mami. Bisa-bisa, Mami akan tersinggung. Karena di kira tidak doyan dengan makanan rakyat jelata, kata Mami. Jadi Nanda menyerahkan pada Mami, untuk membeli makanan yang ada aja. Tidak perlu repot-repot membelinya jauh dari tempat mereka ini.
"Nak Mita gak milih?" tanya Mami, beralih pada Mita.
"Sama seperti kak Nanda saja Mi."
Akhirnya, Mami mengangguk mengiyakan saja. Kemudian pamit untuk pergi ke depan pangkalan barang-barang bekas miliknya.
"Kamu gak apa-apa kan, makan di tempat seperti ini?" tanya Nanda, yang lebih mengkhawatirkan keadaan Mita.
Nanda tahu, Mita tidak pernah ada di tempat seperti ini. Apalagi, menikmati makanan dengan tempat yang seperti ini juga.
Tapi ternyata Mita mengelengkan kepalanya. Kemudian menjawab pertanyaan dari Nanda. "Gak apa-apa Kak. Mita juga pernah kok, makan di tempat pengungsian. Yang keadaannya jauh lebih berantakan dibandingkan dengan tempat ini."
"Pengungsian?" tanya Nanda bingung.
"Iya. Waktu itu Aku masih kecil. Diajak mama pergi berkunjung ke tenda pengungsi bencana banjir."
__ADS_1
"Dan hujan deras masih turun. Jadi becek dan gak terlihat bersih sama sekali kan?"
Nanda akhirnya hanya bisa mengangguk saja, tanpa bertanya ataupun mengatakan sesuatu lagi.