
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Risma kembali memikirkan tentang apa yang tadi dia dengar dari ayah Edi, suaminya ibu Sofie. Tentang Abimanyu yang ternyata sudah menikah dan mempunyai istri yang bernama Anjani.
Dalam ingatan Risma, dia mempunyai teman di masa sekolah dulu dengan nama Anjani. Temannya itu, belum lama menikah jika dihitung dari sekarang. Apalagi, Anjani juga ternyata sudah pernah menikah secara siri dengan seorang pengusaha di Jakarta. "Apa mungkin ini Anjani yang sama?" tanya Risma dalam hati.
Dia kembali berpikir jika nama 'Anjani' itu ada banyak dan bukan hanya satu orang saja, yaitu temannya sendiri di masa sekolah dulu. "Bisa jadi, ini adalah Anjani yang lain. Lagian kata ibu Sofie, Anjani menantunya itu, tidak baik dan mengekang anaknya, Abimanyu. Menantunya itu sok berkuasa dan tidak mau tinggal di Jakarta. Kalau temanku, Anjani itu, tidak mungkin seperti yang diceritakan oleh ibu Sofie. Anjani kan anaknya penurut dan lembut. Dia juga pintar dan luwes dalam segala suasana meskipun terkesan pendiam dan acuh. Dia juga suka sekali dengan memasak, meskipun dia juga suka olahraga yang tidak pada umumnya anak perempuan. Ah, semoga ini adalah Anjani yang lain. Tapi, anaknya ibu Sofie itu memang punya pesona sendiri. Aku pikir tadi, dia bukan Abimanyu yang diceritakan oleh ibu Sofie dan sudah memiliki istri. Hahaha... penampilannya masih seperti pemuda pada umumnya. Ah, kenapa Aku jadi terpesona pada pandangan pertama."
Dalam hati Risma, terjadi percakapan dan dugaan-dugaan yang kadang dia bantah sendiri. Tapi, dia mengakui juga, kalau pesona Abimanyu memang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh hatinya saat ini.
"Ahhh, andai Aku bisa dekat dengan dia dan dia bisa menerima Aku. Emhhh... misalnya Aku di jadikan yang kedua juga mau kok. Toh Aku tidak perlu uang darinya, Aku hanya ingin mendapatkan perhatian darinya saja. Aku lihat dia pecinta sejati, pastinya dia juga orangnya romantis. Ahhh... Aku mulai gila Abi. Kenapa pesona_mu datang begitu saja? Apa Aku masih waras? padahal Aku sadar juga, jika kamu sudah ada yang punya, dan dari sorot matamu itu, saat mendengar perkataan ayah Edi menyebutkan nama Anjani, kamu begitu bahagia. Aku jadi ingin merasakan kebahagiaan itu, menjadi seseorang seperti Anjani juga. Apa Aku bisa?" Risma terus menerus berdialog dengan dirinya sendiri. Dia merasa jika perasaannya sudah mulai goyah.
Dengan mengemudikan mobil dalam keadaan melamun, Risma jadi tidak begitu konsentrasi dengan jalan. Dia menabrak pembatas jalan.
"Aghhh...!"
Bruakkk!
Lampu mobil berkedip-kedip. Mobil Risma bagian depan penyok. Kening Risma, membentur setir mobil dan membuatnya terluka dan tidak sadarkan diri.
Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu, berlarian menuju ke tempat kejadian dan melakukan pertolongan untuk korban.
Ada yang mengeluarkan tubuh korban, dan mencari identitas serta handphone, untuk menghubungi pihak keluarga. Ada juga yang mencari bantuan untuk membawa korban ke rumah sakit atau klinik terdekat agar bisa mendapatkan perawatan medis secepat mungkin.
"Eh, ini ada handphone milik korban," kata salah satu dari sekian orang yang menolong.
"Cari saja pesan terakhir pada siapa atau riwayat panggilan untuk bisa dihubungi!" sahut seseorang yang juga ikut menolong korban, yaitu Risma.
__ADS_1
"Sepertinya ini tidak terlalu parah. Dia hanya pingsan karena luka di kening. Apa dia mengantuk ya tadi, atau mungkin sedang bermain handphone saat menyetir?" kata salah seorang dengan dugaan-dugaan yang ada
"Entah, tapi handphonenya tidak dalam keadaan menyala dan tidak ada riwayat telpon tepat saat tadi kejadian."
Akhirnya, ada mobil yang mau berhenti untuk membawa Risma ke klinik terdekat. Ada seseorang juga yang menghubungi nomer di handphone milik korban, yang bisa diminta untuk bisa datang atau setidaknya mengurus kelanjutannya di klinik nanti.
*****
Di rumah, ibu Sofie dan ayah Edi sudah bersiap untuk segera tidur. Ibu Sofie ada di kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan ayah Edi sedang, memeriksa handphone sebelum di letakkan di meja.
Tiba-tiba, handphone milik istrinya, ibu Sofie, berdering. Dia melihat ke layar handphone tersebut, dan ada nama Risma, yang memangil.
"Risma? bukannya tadi dia baru pulang, kenapa telpon? ini juga paling masih ada di jalan kalau tidak salah." Ayah Edi, mengerutkan keningnya memikirkan teman istrinya itu, karena dia menduga jika Risma saat ini masih dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Bu. Ada telpon dari teman Kamu tadi!" teriak ayah Edi, memangil istrinya yang sedang berada di kamar mandi.
Akhirnya, ayah Edi yang menerima panggilan telpon tersebut.
..."Ya halo."...
..."Maaf, apa Anda kenal dengan pemilik handphone ini?"...
Ayah Edi kaget saat mendengar suara seorang laki-laki dan bukan perempuan yang tadi dia kenal.
..."Ya, dia Risma, teman istriku. Tadi dia baru saja dari rumah kami."...
__ADS_1
..."Dia mengalami kecelakaan Pak. Sekarang ada di klinik dekat jalan XXXX, setelah lampu merah pertigaan. Kami harap Anda bisa datang bersama dengan istri. Ini karena nomer istri Anda yang ada di riwayat panggilan terakhir kali."...
..."Oh ya-ya. Terima kasih atas berita ini. Saya akan segera memberitahukan kepada istriku."...
Panggilan terputus. Ayah Edi segera memangil istrinya lagi. "Bu, teman Kamu kecelakaan. Dia ada di klinik dekat lampu merah pertigaan jalan XXXX. Cepat kami datang!" teriak ayah Edi, agar istrinya itu segera menyelesaikan urusannya di kamar mandi.
Clek!
Pintu kamar mandi terbuka. Wajah ibu Sofie terlihat kaget dan tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Ayah jangan bikin ibu jantungan ah! Mana ada Risma kecelakaan?" tanya ibu Sofie tidak percaya dengan berita yang disampaikan oleh suaminya sendiri.
"Ada orang yang telpon tadi. Coba cek sendiri, tadi itu benar nomer Risma atau bukan yang telpon Ibu," jawab ayah Edi, menyerahkan handphone milik istrinya yang dia pegang.
Ibu Sofie, menerima handphone miliknya. Dia memeriksa riwayat panggilan terakhir. Memang benar itu adalah nomernya Risma. Dia jadi panik, dan meminta suaminya itu untuk mengantarnya ke klinik, tempat Risma di rawat saat ini.
"Yah, ayo kita ke klinik itu. Kasihan Risma Yah. Dia tidak ada sanak saudara di Jakarta ini!" ajak ibu Sofie pada ayah Edi.
"Tapi Aku sedang capek Bu. Tadi kan baru juga datang," jawab ayah Edi memberikan alasan. Dia ingin menolak tapi juga enak hati. Tapi, dia benar-benar dalam keadaan capek dan tidak mungkin menyetir saat ini, karena matanya juga sudah mengantuk.
"Ibu ajak Abi saja kalau begitu." Ibu Sofie, memutuskan untuk mengajak anak laki-lakinya yang sedang ada di rumah.
"Bu... emhhh, ya sudah ayo. Biar Abi yang nyetir. Ayah temani Ibu," ucap ayah Edi. Dia merasa tidak enak sejak tadi masuk ke dalam rumah untuk pertama kalinya dan ada Risma di ruang tamu, bersama dengan istri dan Abimanyu juga.
"Jadi Ayah masih mau ikut?" tanya ibu Sofie memastikan.
__ADS_1
"Iya. Ayah ikut, tapi yang nyetir Abi. Ayah gak mungkin nyetir sendiri, lagipula ini sudah malam. Ayah mengantuk, takutnya malah kita kenapa-kenapa nanti."
Akhirnya, ibu Sofie memangil Abimanyu untuk di ajak ke klinik, untuk menjenguk Risma yang sedang di rawat karena kecelakaan yang di alami saat pulang dari rumah mereka.