
Ternyata Abimanyu sudah datang setengah jam yang lalu. Dia sudah bicara dengan kepala sekolah, mengenai maksud dari kedatangannya hari ini.
Dan kepala sekolah, sedang mengurus pihak administrasi office yang membuatkan surat keterangan pindah sekolah untuk Anggi.
"Ayah. Jadi Anggi sudah tidak harus sekolah hari ini?" tanya Anggi, dengan wajah bingung.
"Terserah Adek. Ayah sudah bilang sama kepala sekolah, jika kita pindah ke Indonesia minggu depan. Jadi, jika Adek masih ingin sekolah, kepala sekolah tidak melarang juga."
Sekarang, Anggi melihat ke arah kepala sekolah yang mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya.
Ada wajah bahagia di wajah Anggi yang sedang tersenyum lebar.
Tapi, matanya juga mengembun. Dia merasa sangat sedih. Karena harus meninggalkan sekolahnya ini, hari ini juga.
Di mana dia belajar banyak hal. Punya teman dengan berbagai karakter mereka. Dan yang pasti, di sekolah ini juga, Anggi mengenal Ahmed.
Anggi terisak saat teringat dengan Ahmed.
'Dia pasti sedih saat tau Aku pindah ke Indonesia. Itulah sebabnya, Aku tidak bicara soal ini dengan dia.' Anggi bicara sendiri dalam hati.
Dia tidak tega, melihat teman dekatnya itu bersedih hati. Pada saat tahu jika, dia akan pulang ke Indonesia. Dan kepulangannya kali ini bukan untuk sementara waktu saja. Tapi untuk selamanya.
"Anggi. Jika Kamu masih ingin sekolah hari ini, tidak apa-apa. Saya perbolehkan," ujar kepala sekolah memberikan penjelasan kepada Anggi.
Tapi sepertinya Anggi tidak mau jika teman-temannya jadi ikut bersedih juga. Jika tahu bahwa, dia sudah tidak lagi bersekolah bersama dengan mereka mulai dari hari ini.
Anggi tersenyum kepada kepala sekolah. Dia tidak mau menerima tawaran tersebut.
"Anggi ambil tas dan merapikan loker siswa dulu Yah. Tunggu Anggi Yah!"
Setelah mendapat persetujuan dari ayahnya, Anggi segera pamit untuk keluar dari ruangan kepala sekolah. Langsung menuju ke kelasnya lagi.
Tidak ada acara perpisahan. Anggi hanya mengambil tas, dan pergi ke ruangan loker untuk mengambil barang-barang miliknya.
Tapi ternyata, teman-temannya itu membututi dirinya dari belakang.
"Anggi. U pulang?"
"Kamu sudah tidak lagi sekolah mulai hari ini?"
"Katanya masih seminggu lagi Kamu baliknya ke Indonesia?"
Anggi hanya tersenyum saja, menanggapi semua pertanyaan yang diajukan oleh teman-temannya itu.
__ADS_1
Dengan cekatan, Anggi memasukkan semuanya ke dalam tas ransel dan tas jinjing yang memang ada di loker.
"Anggi!"
Teriak teman-temannya secara bersamaan. Karena merasa diabaikan oleh Anggi.
"Sorry gaes. Anggi tidak tahu jika mulai dari sekarang, Anggi bukan siswa di sekolah ini lagi."
"Tidak ada perpisahan. Tidak ada air mata. Tidak souvernir. Kita masih akan tetap bertemu dan berkomunikasi lewat dunia maya. Ok!"
Teman-temannya itu tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh Anggi.
Mereka semua adalah anak-anak yang tidak cengeng. Mereka selalu ceria. Meskipun sebenarnya mata mereka juga mengembun. Dan detik berikutnya, mereka semua berpelukan secara melingkar, dengan Anggi yang ada di tengah-tengah mereka.
Suasana sedih ini ada di ruangan loker. Dan bukan di ruang kelas. Karena jika di ruang kelas, cctv akan memantau kegiatan mereka ini.
"Sudah-sudah. Aku kan masih bisa ke sini lagi suatu hari nanti. Atau, saat aku kuliah besok. Jadi kita tetap bisa ketemu juga kan? Apalagi dunia Maya itu dua puluh empat jam lho!"
"Hahaha..."
Teman-temannya Anggi tertawa bersama-sama. Saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Anggi barusan.
*****
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Anggi hanya diam saja. Dengan wajahnya yang menunduk. Meskipun ayahnya memberikan banyak pertanyaan atau memintanya untuk menceritakan tentang teman-temannya.
"Adek udah bebas dong, dari segala macam tugas sekolah."
"Katanya tugasnya bikin pusing, capek juga. Tapi sekarang kan udah gak lagi ya?"
Dan masih banyak lagi perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh Abimanyu pada anaknya itu.
Tapi karena fokus pada kemudi, Abimanyu tidak memperhatikan bagaimana mata Anggi yang berkaca-kaca. Setiap dia bertanya atau mengatakan tentang sekolah. Tugas sekolah dan beberapa teman-temannya, yang biasa dikeluhkan oleh Anggi selama ini.
Abimanyu hanya ingin mengajak anaknya itu untuk berbicara, supaya melupakan kesedihannya. Itu saja.
Tapi ternyata, usaha yang dilakukan oleh Abimanyu justru membuat Anggi larut dalam kesedihan.
"Dek," panggil Abimanyu pada Anggi.
"Hiks... Adek gak apa-apa Yah. Adek cuma sedih aja kok," sahut Anggi cepat, dengan mata penuh dengan air mata.
"Uhhh... cup cup cup... Kita cari makan atau beli es krim dulu yuk! Biar sedihnya ikut di makan," ujar Abimanyu, yang membuat Anggi tertawa senang.
__ADS_1
"Hahaha... masak sih sedih bisa di makan Yah. Ada-ada aja Ayah nih!"
Tapi ternyata, candaan Abimanyu yang tidak bermutu itu, bisa membuat Anggi tertawa juga. Meskipun air matanya tetap saja mengalir dan belum bisa berhenti begitu saja.
Akhirnya, Abimanyu membelokkan mobilnya ke arah sebuah kafe ala Indonesia. Tapi bukan dengan masakan berat. Hanya ada beberapa camilan dan minuman serta es krim, yang di jual di kafe itu.
Abimanyu ingin menghibur anaknya yang masih kecil itu, supaya tidak bersedih hati lagi.
"Wah, banyak sekali makanan dan minumannya yah!" Anggi berkata dengan kagum.
Dia mengandeng tangan ayahnya, menuju ke arah tempat duduk, yang dekat dengan kolam kecil. Yang ada ikan hias berukuran kecil-kecil juga.
Karena melihat kolam ikan tersebut, Anggi jadi teringat dengan rumah bundanya yang ada di Bogor.
"Yah. Pulang ke Indonesia bisa dipercepat gak Yah?"
Abimanyu tentu saja terkejut, saat mendengar pertanyaan dari anaknya itu. Apalagi, tadi terlihat jelas jika, Anggi sangat sedih karena harus berpisah dengan teman-temannya di sekolah.
Tapi begitu masuk ke kafe dengan nuansa Indonesia, justru minta kepulangan mereka ke Indonesia dipercepat.
"Adek gak kenapa-kenapa kan?" tanya Abimanyu dengan khawatir. Dia melihat Anggi dengan menautkan kedua alisnya.
"Gak. Anggi gak kenapa-kenapa kok. Memang kenapa?"
Abimanyu bingung, menghadapi sikap anaknya yang satu ini. Sebentar mau ini, tak lama kemudian mau yang lainnya juga.
Dengan mengelengkan kepalanya, Abimanyu menjawab pertanyaan dari Anggi yang tadi. "Gak bisa Dek. Kita udah dipesankan pesawat pribadi untuk kepulangan kita ini oleh kak Awan. Jadi harus nurut juga, sesuai dengan jadwal yang kemarin."
"Kenapa Kak Awan gak beli pesawat pribadi aja sih Yah? kan bisa pergi ke mana saja terserah, kapan waktunya." Anggi mengerutu pada ayahnya.
"Hahaha... Dasar Kamu Dek, Adek."
Dengan tertawa lepas, Abimanyu mengetuk-ngetuk meja yang ada di depannya.
"Kamu pikir, keluarga mama Amel. Omanya kak Awan itu tidak punya pesawat pribadi?"
"Mereka juga punya. Ada beberapa biji malah. Tapi, itu juga untuk kepentingan bisnis, dan disewakan juga. Jadi tetap tidak bisa seenaknya aja."
Abimanyu membuat pertanyaan. Tapi dia juga yang memberikan jawabannya. Agar anaknya itu, bisa paham dan tidak bertanya hal yang sama kepada Awan, atau keluarganya yang lain.
Anggi terbelalak kaget, mendengar semua penjelasan yang diberikan oleh ayahnya itu.
Sekarang dia baru tahu kalau, calon kakak iparnya itu, bukan hanya sekedar pengusaha di bidang yang dia ketahui selama ini.
__ADS_1
Tapi ada beberapa usaha keluarga mereka, yang tidak diketahui oleh umum.
Anggi semakin salut dan kagum. Dengan pribadi dari para anggota keluarga calon suami kakaknya, Ara. Yang tenyata jauh lebih sederhana, dibandingkan dengan apa yang mereka miliki pada kenyataannya.