
Pagi harinya, keluarga Ara yang lain, sudah meninggalkan hotel satu persatu.
Tinggal ayah, bunda dan adiknya saja yang masih ada di dalam kamar. Menunggu Awan dan Ara yang belum juga keluar dari dalam kamarnya.
"Yah. Siapa tau kak Ara juga nunggu kita di kamarnya Yah?" tanya Anggi, yang tidak sabar ingin segera bertemu dengan kakaknya. Yang sekarang ini sudah menjadi seorang istri.
"Udah Dek. Sabar sebentar ya!" ucap Anjani, menenangkan hati anaknya itu.
"Hemmm..."
Abimanyu hanya bergumam tidak jelas. Karena dia juga tidak tahu, bagaimana cara dia menjelaskan pada anaknya itu.
Tet tet tet!
Tet tet tet!
Pintu kamar hotel yang ditempati oleh Abimanyu bersama dengan istri dan anaknya, kedatangan tamu. Karena ada seseorang yang datang memencet tombol bel pintu.
Anjani bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah pintu. Dia melihat lubang intip yang ada di daun pintu, untuk melihat siapa yang datang ke kamarnya.
Clek!
"Sudah bangun kan Jani?"
Ternyata yang datang adalah mama Amel. Dia datang dan bertanya dengan canggung. Seakan-akan ada sesuatu yang salah.
"Sudah Ma. Ini nunggu Ara datang buat pamit. Kami gak mau datang ke kamarnya. Takutnya ganggu. Hehehe..."
"Sama Mama aja yuk ke kamar mereka!" ajak mama Amel, dengan menarik tangan Anjani.
Sebenarnya Anjani merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh mama Amel. Ini hal yang tidak biasanya.
"Memangnya ada apa Ma?"
Anjani bertanya dengan cemas. Karena raut wajah mama Amel terlihat jelas jika sedang khawatir. Dia takut jika telah terjadi sesuatu pada Ara atau pada Awan.
Karena dia dan yang ada di kama ini, semuanya tidak membawa handphone. Masih ada di kantor polisi, sebagai barang bukti.
Mama Amel agak canggung untuk bercerita. Tapi dengan berbisik-bisik, dia akhirnya mengatakan pada Anjani. Apa yang sudah dia lakukan pada Ara dan juga Awan semalam.
Tentu saja Anjani kaget, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh mama Amel.
Tapi sekian detik kemudian, dia ikut tertawa. Tapi dengan ditutup dengan telapak tangan. Sehingga suara tawanya itu tidak terdengar oleh orang lain.
"Mama aneh-aneh aja sih!"
Hanya itu komentar yang diucapkan oleh Anjani, setelah bisa mengendalikan tawanya.
"Bun!"
Anggi berteriak dari dalam. Dia ingin tahu, kenapa bundanya lama ada di depan pintu.
__ADS_1
"Eh, Oma Amel."
"Bun. Kok Oma Amel gak diajak masuk?" Anggi menegur bundanya, karena melihat mereka berdua masih berdiri di depan pintu.
"Eh, gak usah Anggi. Oma mau ajak bunda Kamu ini ke kamarnya kakak Kamu kok."
"Kalau gitu Anggi ikut!"
Akhirnya, mereka bertiga sepakat untuk datang ke kamarnya Ara dan Awan. Setelah berpamitan dengan Abimanyu.
"Sini Oma, Anggi bawain!"
Anggi meminta tote bag yang di bawa oleh mama Amel.
"Eh, gak apa-apa kok. Ini gak berat."
Mama Amel tidak mengijinkan Anggi untuk membawakan tote bag yang dia tenteng. Dia hanya ingin menyerahkannya kepada Ara nanti. Sekalian meminta maaf.
Tet tet tet!
Anggi langsung memencet bel pintu, begitu mereka bertiga sudah sampai di depan pintu kamar Ara dan Awan.
Tet tet tet!
Anggi kembali memencet bel pintu, karena kakaknya tidak langsung membukakan pintu untuknya. Dia seakan-akan tidak sabar, untuk segera meledek kakaknya yang sedang melakukan malam pertama.
Clek!
Pintu terbuka lebar. Tapi bukan Ara yang membukakan pintu. Tampak Awan yang sudah selesai mandi.
Toh dia ada mobil sendiri, yang sudah dibawakan supir kemarin. Jadi dia tidak perlu khawatir, jika ingin pergi ke mana setelah ini.
"Ihsss... Kak. Masak kita gak di ajak masuk!"
Anggi protes dengan kakak iparnya itu, karena sedari tadi tidak dipersilahkan masuk ke dalam kamar.
"Eh, iya-iya. Yok-yok, masuk!"
Awan gugup dan tidak bisa menolak permintaan Anggi. Dia pun akhirnya mempersilahkan tamu-tamunya yang datang kepagian, untuk segera masuk ke dalam kamar.
Padahal, begitu melihat keberadaan Omanya, Awan sudah mengeleng sebagai tanda jika, dia tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh omanya itu semalam. Tapi karena ada Anjani dan Anggi, Awan tidak langsung menegur kelakuan omanya.
Ternyata di dalam kamar, Ara juga sudah mandi. Tapi dia mengenakan pakaian miliknya Awan, yang terlihat kebesaran. Karena menang bukan ukurannya.
"Kak Ara so sweet banget sih! Apa gak cukup dengan semalaman udah di peluk kak Awan? sekarang mesti pakai pakaiannya juga. Hahaha..."
Anggi langsung mengomentari penampilan kakaknya, yang dia rasa sangat romantis.
Tentu saja, perkataan yang diucapkan oleh Anggi membuat Ara malu. Apalagi, ada Omanya Awan dan juga bundanya, Anjani.
"Adek. Apaan sih!"
__ADS_1
Ara langsung menegur Anggi, dengan meringis canggung.
Dia tentu merasa sangat malu, dengan apa yang dikatakan oleh adiknya itu barusan. Padahal yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu.
"Emhhh... Ra. Maaf. Maafkan Oma ya, hehehe..."
Anjani hanya tersenyum tipis, mendengar ucapan permintaan maaf, yang diucapkan oleh mama Amel untuk anaknya, Ara.
Sedangkan Anggi, yang tidak tahu menahu, hanya bisa melihat dengan penuh tanda tanya.
"Makanya Oma. Jangan aneh-aneh deh. Hahaha..."
Awan menanggapi perkataan yang diucapkan oleh omanya itu, dengan tertawa.
Sedang Anjani, yang sudah tahu kalau mama Amel semalam mengerjai sepasang pengantin baru ini, hanya senyum-senyum saja.
Beberapa saat kemudian.
Anggi ikut tertawa terbahak-bahak, saat mama Amel menceritakan tentang yang dia inginkan.
"Hahaha... jika Anggi yang jadi Oma, malah gak usah di ganti. Ambil aja sekalian kopernya. Hahaha..." Anggi benar-benar merasa sangat senang, karena kakaknya saat ini sudah menutupi wajahnya dengan kaos oblong yang dia kenakan.
"Adek," tegur Anjani, agar anaknya itu tidak lepas kontrol.
"Maaf-maaf. Hehehe... abisnya lucu sih!"
Awan hanya meringis saja, mendengarkan tawa Anggi yang terdengar sangat bahagia.
"Oma. Kenapa gak ajak Anggi sih? Anggi kan pengen juga segera punya ponakan yang imut-imut. Terus busa di ajak tik tok kan gitu.
"Atau bisa di ajak jadi YouTubers gitu deh. Kayak anak-anak artis." Anggi terus saja berbicara, mendominasi pembicaraan mereka semua.
Anjani kembali mengingatkan pada Anggi, supaya tidak terus menerus bicara. Dia menggeleng, untuk memberikan isyarat pada anaknya itu.
"Ya begitulah yang sebenarnya Oma inginkan. Cepet punya cucu. Eh, cicit."
"Lho, kok Oma udah tua banget ya? bukan cucu lagi ini, tapi cicit. Hihihi..."
Mama Amel justru terkikik geli, saat sadar jika dia sudah tidak lagi muda. Karena jika Awan dan Ara sudah punya anak, dia bukan lagi sebagai Oma. Tapi Oma buyut.
"Emang udah tua Oma. Kenapa baru sadar?" tanya Awan menimpali.
"Ah, kamu. Tapi Oma kan ingin tetap tampil muda. Menolak tua gitu! hehehe..."
"Hahaha... Oma-oma."
Anjani hanya tersenyum tipis, ikut merasakan kebahagiaan yang ada pagi ini.
"Eh iya. Tapi Wan, Kamu udah berhasil kan?"
Tiba-tiba, mama Amel mengajukan pertanyaan kepada cucunya, Awan.
__ADS_1
"Berhasil apa Oma Amel?" tanya Anggi kepo. Dia memang selalu ingin tahu dalam segala hal.
"Eh, masih bocil gak usah kepo!" tegur Ara gemas. Karena menurutnya, adiknya itu gede karena karbitan. Padahal, banyak orang-orang dewasa yang justru bertingkah seperti anak-anak kecil.