
Di bangunan sekolah yang lain, tepatnya di seberang, yang terdapat sekolah tingkat SMA, di salah satu kelas sebelas.
Awan sedang mengeluh pada temannya, jika dia merasa sedikit pusing dan juga mual.
"Emang Loe tekdung ya Wan, kok keluhan Loe pagi-pagi, pusing dan mual aja," komentar dari temannya Awan, yang membuat Awan merenggut kesal kepadanya.
"Ah, tau ahhh! Orang lagi pusing kok dibencandain. Gak mood Gue." Awan kesal, karena merasa tidak ada rasa simpati dari temannya itu.
"Hahaha... udah sarapan belum tadi?"
Temannya itu, justru tertawa senang, melihat Awan yang sedang kesal, karena perkataannya yang tadi.
"Belum. Gak sempet tadi."
Jawaban dari Awan, membuat temannya itu mengangguk-angguk mengerti. Bisa jadi, Awan merasa pusing karena perutnya yang bekum terisi, dan masih kosong.
"Makan gih ke kantin!" kata temannya itu, memberikan usul.
"Udah sono, Loe pergi aja ke kantin. Makan atau beli apa kek sana! terus istirahat dulu di UKS. Mumpung gurunya juga belum datang ini," ujar temannya Awan, memberikan perintah.
Guru yang bertugas pagi ini, kemungkinan terlambat atau bisa juga karena ada kepentingan lain, sehingga belum masuk ke dalam kelas.
"Terus gimana kalau dicariin guru nanti?" tanya Awan bimbang.
"Udah, urusan Gue itu!"
Dengan sedikit ragu Awan berdiri juga dari tempat duduknya. Temannya, juga mengibas-ngibaskan tangan, agar Awan segera berangkat.
Suasana sekolah sudah sepi, karena sekarang memang bukan jam istirahat. Tapi baru satu jam yang lalu bel masuk berbunyi. Masih sangat pagi, jika ingin beristirahat.
Tapi karena rasa pusing dan mual, Awan terpaksa mengikuti saran dari temannya tadi.
Sekarang, dia berjalan seorang diri ke arah kantin sekolah, yang kemungkinan besar juga belum buka, dan belum ada banyak makanan yang tersedia. Karena penjualnya, tentu masih mempersiapkan segala sesuatu, untuk di masak.
"Hai, Kamu! Mau kemana?"
__ADS_1
Awan berhenti dan menoleh ke arah sumber suara, yang memangil dirinya. Ternyata, ada penjaga sekolah, yang bersiap untuk membersihkan taman, yang ada di sepanjang jalan menuju ke arah kantin.
"Mau ke kantin Pak, sebelum ke UKS. Kepala Saya pusing dan rasanya mual. Mungkin maag Saya kumat," jawab Awan memberi alasan, pada penjaga sekolah, supaya tidak bertanya-tanya lagi.
"Oh gitu. Makanya, kalau punya maag, harusnya sarapan dulu sebelum berangkat. Besok-besok jangan lupa sarapan ya!"
Penjaga sekolah memberi nasehat pada Awan. Dan Awan hanya mengangguk saja, kemudian kembali berjalan menuju ke arah kantin sekolah.
Setelah sampai di kantin, Awan memesan teh hangat dan mengambil sebungkus roti, untuk mengganjal perutnya, yang terasa tidak nyaman.
Begitu selesai mengisi perutnya, Awan pergi dari kantin sekolah dan berjalan menuju ke arah UKS.
"Semoga saja sepi, jadi Aku bisa tidur-tiduran sebentar," gumam Awan, dengan terus melangkah.
Tok tok tok!
Awan masuk ke dalam UKS, tapi dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tapi, pada saat Awan masuk, ternyata sudah ada seseorang yang sedang tidur di tempat tidur ruang UKS, yang terpisah-pisah dengan ditutup tirai, berwarna putih.
"Pagi-pagi udah ada yang tidur aja nih," kata Awan sendiri.
Di UKS tersebut, ada beberapa tempat tidur yang tersedia. Ada satu perawat yang bertugas setiap harinya. Ada juga dokter jaga, tapi hanya akan datang dua kali dalam seminggu.
Dan hari ini, hanya ada perawat saja, karena bukan jadwal kedatangan dokter yang bertugas.
"Pusing Mbak. Mual juga," jawab Awan, sambil mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan meja perawat.
"Punya maag?" Perawat bertanya lagi.
Awan hanya mengangguk, dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Tapi dia berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur, yang masih kosong.
"Saya tidur sebentar ya Mbak. Tidak usah diperiksa. Nanti juga sembuh sendiri kok," ujar Awan, sambil terus berjalan masuk ke dalam tirai berwarna putih itu.
"Sepertinya yang tidur cewek nih. Tadi, di rak sepatu depan UKS juga sepatu cewek. Ya udah, sebelah sana aja."
__ADS_1
Akhirnya, Awan memilih tempat tidur yang berjarak satu tirai lagi, karena berpikir bahwa, yang saat ini tidur di UKS adalah seorang cewek. Dia tidak mau, jika nanti pada saat istirahat, ada teman-teman cewek tersebut yang datang dan akhirnya menjadi berisik.
Begitulah pemikiran Awan, yang sudah hafal dengan kelakuan cewek-cewek di sekolahnya ini. Apalagi jika ada cowok yang mereka incar, sama seperti Awan, bisa-bisa, mereka malah mengerubungi Awan, dengan banyak pertanyaan demi mendapat perhatian dari dan simpati dari Awan sendiri.
"Huh! Kadang susah juga jika ada banyak cewek-cewek, yang heboh. Untung aja, mereka sedikit kesal, karena selama ini tidak Aku respon. Hehehe... tapi sayangnya, ada satu cewek yang Gue pikirkan, tapi justru udah punya pacar. Bengek sendiri kalau begini ceritanya."
Awan terus saja bergumam sendiri. Padahal, dia juga berusaha untuk memejamkan matanya, supaya bisa cepat tertidur dan tidak lagi merasa pusing.
Tapi sepertinya, Awan juga kesulitan untuk memejamkan mata, karena pikirannya juga sedang tertuju pada seseorang.
Ting!
Handphone yang ada di kantong celana Awan berdenting. Notifikasi pesan masuk berbunyi.
Awan mengeluarkan handphone tersebut, dan membaca pesan dari siapa yang masuk.
Oma; 'nanti sore ikut Oma ke ulang tahun putrinya om Abi. Cepat pulang ya, gak usah pergi main-main. Kita akan pergi bersama dengan opa dan ayah Kamu juga'
Awan memicingkan mata melihat pesan dari omanya itu. "Ulang tahun? putrinya Om Abi? emhhh... yang kemarin ketemu di kantor itu ya, yang katanya ayah, suami dari mantan istrinya ayah, bunda Jani. Oh iya, kata Oma, Aku juga sudah pernah ketemu dengan putrinya waktu kecil. Tapi... ah mana Aku ingat."
Dengan berpikir jika untuk menghormati mantan istri daru ayahnya, yang katanya baik dan pernah ikut merawatnya juga, Awan menyetujui permintaan dari omanya itu.
Apalagi, yang ikut pergi ke pesta ulang tahun tersebut, bukan hanya dia dan omanya saja. Tapi ada opanya dan juga ayahnya, Elang.
Awan berpikir jika, keluarga Anjani dan Abimanyu pasti mempunyai pikiran yang terbuka. Nyatanya, mereka masih berhubungan baik dengan keluarga ayahnya. Bahkan, Abimanyu juga masih mau bekerja di perusahaan milik omanya, dan Anjani juga masih mau mengundang keluarga mereka, pada saat ada pesta ulang tahun anaknya.
Awan; 'Ok Oma. Tapi kadonya sekalian oma yang beli ya. Awan gak sempet nyari.'
Send...
Tak lama, pesannya sudah dibaca oleh omanya.
Ting!
Oma; 'Beres. Putri om Abi juga masih kecil. Biar nanti Oma yang pesan buat kadonya, biar diantar sekalian ke rumah om Abi.'
__ADS_1
Awan tersenyum. Itu artinya, dia tinggal berangkat saja, ikut bersama dengan oma dan opanya.
"Oh ya, ayah kan juga ikut. Bagaimana perasaan ayah ya, jika bertemu dengan bunda Jani!" gumam Awan bertanya kepada dirinya sendiri Dia merasa penasaran, dengan sikap ayahnya itu, seandainya berhadapan dengan mantan istrinya, yang sekarang ini hidup bersama dengan karyawan omanya.