
Pluk!
Bahu Awan, di tepuk oleh tangan seseorang. Dengan cepat Awan pun akhirnya menoleh, untuk melihat siapa yang sudah menegurnya dengan cara menepuk pundaknya tadi.
"Sama siapa Loe?"
Sebelum Awan mengeluarkan suaranya, orang tersebut sudah terlebih dahulu menegur.
"Eh..."
Awan terkejut, saat melihat keberadaan Dika, yang ada dibelakangnya. Sekarang dia tahu, siapa yang tadi menepuk pundaknya.
"Hahaha... Loe napa!" tanya Dika, di saat melihat wajah Awan yang kaget.
"Gak. Gak apa-apa."
Dika tersenyum tipis, mendengar jawaban yang diberikan oleh Awan. Dia sudah terbiasa menghadapi wajah Awan yang datar, jadi tidak merasa heran, dengan jawaban tersebut.
"Temannya Awan ya?" tanya mama Amel, yang melihat keduanya sedang berbincang-bincang.
"Eh, i_iya Tan_tante." Dika menjawab pertanyaan dari mama Amel. Dika juga gugup, saat menyebut Tante, karena dia tahu, jika Awan sudah tidak memiliki seorang mama.
Itulah sebabnya, Dika bingung untuk sebutan wanita, yang saat ini sedang bersama dengan temannya itu.
"Hehehe... Ini Oma. Omanya Awan. Masak di panggil Tante?"
Dika nyengir kuda, karena merasa canggung dan sungkan, sudah salah menyebut omanya Awan dengan sebutan Tante.
Dari arah belakang mereka, mama dan papanya Dika, datang.
"Lho... Bu Amel?" Papanya Dika menegur mama Amel.
"Eh, ketemu Bu Amel di sini. Sendiri atau bersama dengan siapa Bu?" Ganti mamanya Dika, yang menyapa mama Amel, karena dia juga sudah tahu wajahnya big bos PT SAMUDERA GROUP tersebut.
Mama Amel, yang merasa di sapa oleh dua orang mengalihkan atensinya. Tapi mama Amel tidak langsung menyahuti sapaan mereka berdua.
Setelah diam mengamati, karena tidak mengingat wajah-wajah mereka. Orang yang kemarin itu sudah menyerempet motor karyawan di perusahaan miliknya, yaitu Abimanyu.
"Emhhh... Maaf. Mungkin kita memang saling kenal, tapi Saya yang sudah tua ini sering lupa. Tapi sekali lagi Saya minta maaf. Nama Anda siapa ya?"
Pertanyaan yang diajukan oleh mama Amel pada mama dan papanya Dika, membuat keduanya saling pandang. Ada rasa kecewa, yang terlihat jelas pada wajah mereka berdua, karena tidak di ingat oleh orang yang mereka ingin ajak untuk bekerja sama.
Sedangkan Dika, bingung dengan sikap kedua orang tuanya itu. 'Mama sama papa kenapa sih?' tanya Dika, dalam hati.
Awan, yang sudah tahu jika kedua orang yang menegur omanya adalah mama dan papanya Dika, hanya diam saja, tanpa berusaha untuk menjelaskan pada omanya.
"Kami dari Antara Groups Bu Amel," jawab papanya Dika, setelah terdiam sejenak, dengan memandang ke arah istrinya.
__ADS_1
"Oh... Yang kemarin-kemarin ada inseden nyerempet motornya Abi ya?"
Mama Amel justru mengingat kejadian yang tidak mengenakkan, di banding dengan meeting yang mereka lakukan, untuk kerjasama antara perusahaan PT SAMUDERA GROUP dengan PT ANTARA GROUPS.
'Jadi, yang menyerempet motor om Abi, mobil papanya Dika.' Awan bergumam sendiri, saat mengetahui siapa orang yang sudah menyerempet motor ayahnya Ara.
'Dika tau gak ya?' tanya Awan, di dalam hati.
"Papa sama Mama kenal omanya Awan?" tanya Dika, pada kedua orang tuanya itu.
"Omanya Awan?" tanya mamanya Dika dengan terkejut.
Begitu juga dengan papanya Dika. 'Wow... dan Aku tidak tahu, jika Awan adalah...'
Mereka berdua, kedua orang tuanya Dika, saling pandang dengan wajah yang tidak percaya. Mereka tidak percaya dengan apa yang tadi diucapkan oleh Dika.
Itu di luar dugaan mereka berdua. karena mendengar perkataan yang diucapkan oleh anaknya, Dika, jika Awan adalah cucunya mama Amel. Big bos PT SAMUDERA GROUP, membuat mereka sangat terkejut.
"Oh, jadi kalian berdua dari ANTARA GROUPS, orang tuanya teman cucuku ini?"
Sekarang, gantian mama Amel yang bertanya kepada mama dan papanya Dika.
"Eh, iya Bu Amel. Saya mamanya Dika," jawab mamanya Dika, dengan tersenyum senang.
Tampak senyuman kebahagiaan, terpancar dari wajah mamanya Dika. Dia juga tersenyum senang, melihat ke arah Awan, yang tetap diam saja sedari tadi.
"Beruntung ini Ma. Dika bisa berteman dengan pewaris tunggal SAMUDERA GROUP."
Mereka berdua, mama dan papanya Dika, saling berbicara dengan berbisik-bisik.
Sedangkan mama Amel, merasa jika basa-basi yang tadi dilakukan sudah selesai, kembali bertanya pada Awan. "Jadi, mau tas ini apa yang lain?"
Awan menoleh ke arah omanya, yang saat ini masih memegang tas, yang tadi disarankan sebagai hadiah untuk Ara.
Bahkan sekarang ini, omanya itu juga memegang satu tas lagi, tapi dengan model yang berbeda.
"Harus ya Oma?" tanya Awan, yang tidak tahu, bagaimana caranya dia harus memberikan tas tersebut kepada Ara nantinya.
"Bu Amel, kami ke sana dulu."
Mamanya Dika, berpamitan pada mama Amel. Karena merasa sungkan, untuk berada di antara Awan dan juga omanya itu.
Dia juga merasa sangat menyesal, karena meremehkan Awan sedari dulu. Dia tidak tahu, jika Awan adalah cucu dari pemilik SAMUDERA GROUP, yang sedang dus incar untuk bisa melakukan kerja sama, dengan perusahaan miliknya yang masih belum seberapa, jika dibandingkan dengan usaha keluarga Samudra.
"Bro. Gue cabut dulu ya!"
Dika juga akhirnya berpamitan, pada temannya, Awan. Dia harus mengikuti mama dan papanya, karena ada sesuatu yang ingin dia minta pada mereka berdua.
__ADS_1
*****
"Ma, beliin itu lah!"
Dika merengek pada mamanya, untuk dibelikan sebuah jaket cewek, yang sedang trend saat ini.
"Dika. Kamu ini masih normal kan?"
Mamanya justru merasa khawatir, dengan kondisi anaknya. Ini karena Dika meminta sebuah jaket, yang seharusnya untuk cewek.
"Apaan sih Ma. Normal lah!" jawab Dika dengan wajah cemberut.
"Itu kan jaket buat cewek. Terus ngapain Kamu minta buat beli?" tanya mamanya Dika, yang bingung dengan tingkah anaknya itu.
"Dika... Dika mau kasih ke... ke temen."
Jawaban yang diberikan oleh Dika, membuat mamanya merasa curiga.
"Kamu kenapa tidak bilang, jika Awan itu keluarga Samudra?" tanya mamanya lagi, dengan tidak menghiraukan permintaan dari anaknya yang tadi.
"Dika juga tidak tahu Ma. Yang Dika tau, cuma mana Awan ada Samudra nya. Kan dulu pernah, Dika ngomong sama mama," sahut Dika, yang tidak mau disalahkan, atas hubungan antara Awan, dengan SAMUDERA GROUP.
"Udah-udah Ma. Sekarang yang penting kita udah tau aja sih," kata papanya Dika, menengahi perdebatan antara anak dan istrinya.
"Tapi Pa, gara-gara mama gak tau kalau Awan itu dari keluarga SAMUDERA, mama jadi ketus gitu kemarin-kemarin sama tuh anak!"
Ternyata, mamanya Dika merasa ketakutan, seandainya Awan tahu bagaimana sikapnya selama ini, saat ada Awan yang datang ke rumahnya dulu.
Dulu-dulu, Awan emang sering ke rumah Dika. Dan baru beberapa bulan terakhir ini saja, Awan tidak pernah datang lagi ke rumah mereka. Tidak tahu kenapa, Awan sekarang ini tidak pernah tampak dekat dengan anaknya, Dika.
Kemarin-kemarin, mamanya Dika merasa senang, karena Dika tidak lagi akrab dengan Awan.
Tapi sekarang, dia justru kecewa, karena dia sendiri yang sudah berusaha untuk menjauhkan anaknya itu dengan temannya, Awan.
"Ma. Boleh ya, ambil jaket itu?"
Lamunan mamanya Dika buyar, ketika pertanyaan yang sama, kembali dia dengar. Dan itu karena permintaan dari anaknya, yang minta dibelikan sebuah jaket cewek.
"Tidak usah kasih hadiah yang mahal Dika. Nanti malah tuh cewek memanfaatkan kesempatan, untuk bisa dekat dengan Kamu."
Dika menggelengkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh mamanya.
"Gak Ma. Justru dia ini cuek gitu Ma sama Dika."
"Kamu, dicuekin cewek? Cari yang lebih cantik dari dia!"
Mamanya Dika, tampak geram saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh anaknya.
__ADS_1