
Ayah Edi dan istrinya belum pernah melihat kemarahan Abimanyu yang seperti tadi. Ini membuat keduanya semakin penasaran, dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar anaknya, Sekar.
Mereka berdua, masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, karena pintu kamar terbuka lebar.
Di dalam kamar tersebut, ada Yasmin juga yang masih dalam keadaan terisak dan memegang pipinya juga. Tapi, dia sudah bisa menjawab perkataan Sekar, sehingga adu mulut tidak bisa dielakkan lagi.
Ayah Edi dan ibu Sofie, masih diam mendengarkan perkataan mereka berdua. Dari apa yang didengar, ayah Edi bisa menyimpulkan sendiri, apa yang sebenarnya terjadi pada kedua anaknya itu.
"Yasmin!" teriak ayah Edi, menghentikan Yasmin, yang masih bicara dan membantah kakaknya, Sekar.
"Keterlaluan Kamu!" kata ayah Edi lagi, melanjutkan kata-katanya, saat Yasmin menoleh padanya.
"Apa benar semua itu Yasmin?" tanya ibu Sofie tidak percaya, jika anaknya itu bisa melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya sendiri.
Ibu Sofie, yang sama tidak suka-nya dengan Anjani, tidak pernah punya pikiran seburuk itu. Tapi ini justru anaknya, yang belum berpengalaman, malah melakukan hal yang bisa dikategorikan sebagai tindakan kriminal.
"Tapi Bu, Yasmin tidak sengaja. Itu hanya Yasmin lakukan untuk uji coba."
Yasmin masih mencoba untuk mencari-cari alasan yang bisa dia katakan.
"Uji coba? Apa maksud Kamu?" tanya ayah Edi cepat.
Yasmin akhirnya bercerita tentang obat yang dia beli dari salah satu temannya. Kata temanya, obat itu sangat manjur. Sayangnya, dia justru tidak jadi mengunakannya, karena terpeleset terlebih dahulu, dan kemudian di bawa ke rumah sakit.
Akibatnya, dia harus di rawat di rumah sakit, dan anak yang masih bisa bertahan. Pacarnya, Wawan, juga sudah ditemukan dan mau bertanggung jawab atas perbuatannya pada Yasmin.
Untuk membuktikan kemanjuran dari obat tersebut, Yasmin akhirnya mencoba untuk dia berikan pada kakak iparnya, Anjani.
Dia hanya ingin tahu, apakah obat itu benar-benar manjur, atau temannya itu hanya membual dan ingin dapat keuntungan saja.
"Kamu pikir, hal semacam itu main-main? Kamu masih waras tidak!" bentak ayah Edi.
Ibu Sofie, yang tidak pernah mendengar perkataan kasar dari suaminya, kaget. Begitu juga dengan kedua anaknya, Sekar dan juga Yasmin.
"Masih untung, mas mu itu hanya marah dan menampar pipimu, kalau Ayah, mungkin akan melaporkan semua perbuatan Kamu pada pihak yang berwajib. Supaya Kamu sadar, jika menghilangkan nyawa seseorang, meskipun itu masih ada di dalam kandungan, adalah tindakan kriminal dan patut untuk di hukum. Kamu, mau merasakan seperti yang dirasakan oleh suami Kamu, Wawan? Uang untuk menebus suamimu saja belum kalian kembali, mau cari masalah lagi."
Kali ini, ayah Edi benar-benar marah dan mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya. Dia sudah tidak bisa diam lagi, mengahadapi kelakuan anaknya yang satu ini.
__ADS_1
"Besok, pergi Kamu dari rumah ini bersama dengan suami Kamu itu. Cari tempat tinggal sendiri, supaya Kamu tahu, bagaimana kehidupan diluar sana."
Setelah mengatakan semua itu, ayah Edi keluar dari kamar Sekar. Dia tidak mau lagi mendengar rengekan Yasmin, yang pastinya akan terjadi, setelah mendapat amarah darinya tadi.
"Huhuhu... Ibu, huhuhu..."
Yasmin, mencoba merengek pada ibunya, yang selalu membelanya selama ini. Tapi, sepertinya dugaannya kali ini salah. Ibu Sofie, langsung pergi menyusul suaminya, dan tidak mau mendengarkan perkataan anak kesayangannya itu.
"Kakak. Kakak harus bertanggung jawab atas segala yang terjadi padaku malam ini, karena semua ini gara-gara Kakak!" Yasmin berkata keras pada Sekar.
"Aku? tidak salah itu? bukannya semua ini Kamu sendiri yang mulai, dasar aneh!"
Sekar tidak menanggapi perkataan Yasmin. Dia juga kembali merapikan beberapa barang yang berserakan karena amukan Yasmin tadi.
"Sudah sana keluar. Urus suami dan anak Kamu, dan bersiap-siap, untuk pergi dari rumah ini besok." Sekar, kembali mengingatkan pada Yasmin, dengan keputusan yang diambil oleh ayahnya tadi.
"Ayah hanya bercanda, tidak mungkin ayah mengusirku." Yasmin berkata dengan yakin.
"Dasar tidak peka. Keluar sana!" Sekar kembali mengusir Yasmin, supaya keluar dari dalam kamarnya.
Di dalam kamar yang lain, ibu Sofie mencoba untuk menenangkan hati suaminya, ayah Edi. Dia juga bertanya, tentang perkataan suaminya yang tadi, tentang Yasmin yang diminta untuk keluar dari rumah ini.
"Kenapa?" tanya ayah Edi acuh.
"Kasihan Nanda Yah," jawab ibu Sofie, mengatasnamakan cucunya, yang masih bayi.
"Kalau ibu merasa kasihan dan tidak tega, ikut saja dengan mereka tinggal di luar sana," Ayah Edi, justru memberikan pilihan pada istrinya, supaya ikut anak kesayangannya itu.
"Tapi Yah, Wawan baru saja bekerja, lalu bagaimana mereka makan dan mengontrak rumah nanti?" tanya ibu Sofie lagi, karena merasa khawatir dengan keadaan anak dan cucunya nanti.
"Oh ya, ibu bilang pada Wawan dan Yasmin. Batas waktu mereka untuk keluar dari rumah ini, sampai besok sore."
Ayah Edi tidak menanggapi perkataan istrinya. Dia justru membuat keputusan dan memberikan pesan pada istrinya, agar memberikan kabar ini pada Yasmin.
Ibu Sofie tentu merasa tidak tenang. Dia benar-benar dalam keadaan yang tidak bisa membela anaknya itu, disaat kemarahan suaminya sedang memuncak. Padahal, selama berkeluarga, ayah Edi adalah seorang suami dan ayah yang penyabar. Dia tidak pernah berkata kasar dan keras, apalagi sampai main tangan. Oleh karena itu, ibu Sofie tidak lagi berani membantah dan membela Yasmin di depan suaminya saat ini.
*****
__ADS_1
Yasmin menangis sendirian di dalam kamar. Anaknya, Nanda sudah tertidur. Dia sudah tidak lagi mempekerjakan baby sitter, karena tidak lagi bisa mengaji_nya.
Tak lama kemudian, Wawan baru pulang dan masuk ke dalam kamar. Wawan melihat istrinya yang sedang menangis. Wawan jadi bingung sendiri, kemudian bertanya kepada istrinya itu, "Kamu kenapa Sayang? kok nangis? ada sesuatu yang terjadi?"
"Mas, kemarin katanya mau beliin rumah, sudah ada belum?" tanya Yasmin, yang tidak mempedulikan pertanyaan yang diajukan oleh Wawan.
"Rumah?" tanya Wawan pendek. Dia lupa, jika pernah menjanjikan untuk membeli sebuah rumah yang lebih besar dari rumah ayahnya ini.
"Iya, rumah untuk kita Mas," jawab Yasmin dengan merengek, mengingatkan kembali pada suaminya itu dengan janjinya untuk membeli sebuah rumah yang besar.
"Emhhh, Kamu kan tahu sendiri Sayang, kalau sekarang mas cuma jadi kuli biasa di percetakan. Mana ada uang untuk beli rumah," kata Wawan menjelaskan tentang keadaannya yang sekarang.
"Kalau pun ada uang, Mas pasti akan membelinya untuk kita. Dan mengembalikan uang yang pernah dipakai untuk menebus Mas kemarin itu," kata Wawan lagi, menjelaskan pada istrinya, jika saat ini dia benar-benar tidak ada uang lebih, seperti kemarin saat masih bekerja di dealer.
Yasmin kembali menangis. Dia bercerita pada suaminya itu, tentang perkataan ayahnya, yang memintanya untuk keluar dari rumah dan tinggal sendiri di luar.
"Ayah mengusir kita Mas," kata Yasmin mengadu.
"Terus?" tanya Wawan dengan terkejut.
Wawan tidak pernah menyangka, jika ayah mertuanya bisa berbuat setega itu pada anaknya. Apalagi sekarang mereka juga punya anak yang masih bayi.
"Mas bisa nyari kontrakan rumah yang layak untuk kita tempati kan?" tanya Yasmin memastikan.
Wawan terdiam untuk beberapa saat. Dia tidak tahu, harus mencari kemana rumah yang bagus tapi harganya juga murah untuk dia tempati bersama dengan istri dan anaknya.
"Mas," panggil Yasmin, menyadarkan Wawan dari lamunannya.
"Eh, emhhh...ya nanti Mas coba cari-cari ya. Mas akan tanya-tanya dulu pada teman-teman yang tahu soal ini," jawab Wawan, mencoba untuk menenangkan hati istrinya.
Tiba-tiba, Wawan teringat dengan sesuatu, kemudian bertanya kepada Yasmin.
"Sayang, rumah mas Abi kan belum ditempati, bagaimana kalau kita pinjam untuk ditempati terlebih dahulu," kata Wawan memberikan usulan pada istrinya. Dia tidak tahu, jika Abimanyu sudah pindah ke rumah tersebut malam ini juga.
"Justru kita diminta keluar dari rumah ini karena mas Abi dan istrinya sudah pindah malam ini Mas." Yasmin berkata dengan kesal, karena merasa jika suaminya itu tidak bisa memberinya yang terbaik, meskipun hanya sebuah rumah kontrakan saja.
"Emhhh... ya sudah. Mas mah keluar lagi kalau begitu. Mas mau cari-cari info. Semoga saja ada yang cocok untuk kita tempati, atau setidaknya untuk sementara waktu. Yang penting, kita bisa pindah kan dari rumah ini?"
__ADS_1
Yasmin mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Dia membiarkan suaminya itu untuk pergi lagi malam ini, tanpa berpikir jika akan terjadi sesuatu pada suaminya itu. Dia lupa, jika suaminya sudah sering membohongi dirinya dengan berbagai cerita manis yang hanya bisa didengar saja, tanpa adanya bukti yang bisa dilihat. Dia lupa, dengan sifat asli pria yang mendampingi dirinya saat ini.