
Hampir dua minggu lamanya Yasmin ada di rumah sakit. Padahal, bayinya sudah diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu, karena tidak ada kelainan ataupun sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Anjani ikut merawat anaknya Yasmin dengan baik di rumah, bersama dengan baby sitter yang di tugaskan Wawan.
Wawan sengaja mempekerjakan seorang baby sitter, untuk menjaga anaknya, karena tahu, jika di rumah semua sibuk dengan pekerjaannya di luar. Meskipun ada Anjani di rumah, tapi dia tidak mau merepotkan kakak iparnya itu, yang dalam keadaan hamil juga.
Padahal, Anjani mengatakan tidak apa-apa, tapi Yasmin juga dengan sombong mengatakan jika suaminya itu masih sanggup membayar seorang baby sitter untuk mengurus anaknya sendiri.
"Mas Wawan masih sanggup membayar baby sitter, tidak udah merepotkan Mbak Jani. Dia sudah payah dengan perutnya sendiri, nanti jika terjadi sesuatu pada dirinya dan kandungannya, bisa-bisa anakku yang disalahin, karena dia harus merawatnya. Jadi lebih baik mas Wawan bayar baby sitter saja, itu akan lebih baik."
Begitulah kira-kira apa yang dikatakan oleh Yasmin, saat ibu dan ayahnya memberikan beberapa masukan. Padahal, pikiran mereka berdua adalah untuk meringankan beban biaya bagi Wawan sendiri. Apalagi kemarin, untuk biaya operasi dan perawatan Yasmin serta anaknya, Wawan mengeluarkan biaya yang sangat banyak.
Pada saat Abimanyu dan ayah Edi memberikan sumbangan untuk meringankan beban biaya tersebut, Yasmin dengan tegas menolak. Dia mengatakan jika suaminya, Wawan, sudah menyediakan semuanya, dan tidak perlu ikut repot memikirkan mereka berdua.
Ayah Edi hanya menggeleng, mendengar perkataan anaknya itu. Sedangkan Abimanyu, tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk dan bersyukur jika suami adiknya sudah mampu memenuhi kebutuhan mereka, meskipun dengan jumlah yang sangat besar.
"Seharusnya Kamu tidak berkata seperti itu Yasmin. Mas_mu kan ingin membantu. Biarkan saja, toh bisa Kamu tabung atau untuk kepentingan yang lain nanti," kata ibu Sofie menasehati anaknya.
"Tidak mau Bu. Nanti apa kata mbak Jani. Dia pikir nanti Aku dan mas Wawan masih merepotkan terus menerus. Aku tidak mau, jika dia berpikir seperti itu. Toh mas Wawan bisa kok, kecuali mas Wawan tidak mampu memenuhi kebutuhan Kami, baru Yasmin terima."
Akhirnya, ibu Sofie hanya mengangguk dan tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia tidak ingin membuat anaknya itu menjadi kesal, karena berbeda pendapat dengan dirinya saat ini.
Sekarang, Yasmin sudah ada di rumah. Menyusui Nanda, anaknya. Dia sedikit meringis, karena merasa sakit pada ****** ***********, akibat disusu oleh anaknya. Kemarin-kemarin, dia hanya memompanya untuk ditaruh dalam botol-botol dan di kirim ke rumah, untuk diberikan kepada anaknya itu.
"Ihhh, sakit!"
Teriakan Yasmin, terdengar oleh telinga Anjani yang sedang lewat menuju ke arah teras samping. Saat ini, Yasmin sedang berada di ruang tengah, menyusui bayinya.
"Ada apa Yasmin?" tanya Anjani khawatir. Dia takut jika terjadi sesuatu pada adik iparnya itu.
"Ini Nanda, nyusunya bikin sakit payudaraku," jawab Yasmin dengan masih meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Oh, itu perlu adaptasi. Nanti kalau sudah terbiasa juga tidak terasa sakit kok," ujar Anjani, memberitahu.
"Mana bisa begitu. Bisa-bisa lecet ini payudaraku Mbak!" ucap Yasmin dengan kesal.
"Tidak apa-apa, nanti juga sembuh kok. Kan ada salep untuk itu. Sekarang, apa-apa itu mudah karena ada obatnya Yasmin," kata Anjani menenangkan kekhawatiran adik iparnya, Yasmin.
"Hah, sok tahu. Punya anak saja belum, kok kasih nasehat."
Sekar, yang baru keluar dari kamarnya dan ingin berangkat ke kampus jadi berhenti dan mendengarkan perkataan mereka berdua. Dia merasa kesal karena adiknya itu tidak bisa dikasih tahu, apalagi kelakuannya itu tidak ada sopan-sopan_nya sama sekali.
"Yasmin. Seharusnya Kamu itu berterima kasih pada Mbak Jani. Dia ikut merawat Nanda, masih mau kasih nasehat juga. Kamu itu malah begitu tanggapannya. Dasar!"
Dengan kesal, Sekar menegur adiknya sendiri. Dia merasa Yasmin perlu di nasehat dengan tegas, supaya sadar dan bisa berubah.
"Kakak apa-apaan sih! Ikut campur saja," jawab Yasmin dengan cemberut. Dia merasa kesal karena kakaknya, Sekar, ikut-ikutan dalam keadaan seperti saat ini. Dirinya yang sedang berdebat bersama dengan Anjani, kakak ipar mereka.
"Kamu itu masih beruntung. Kakak tidak lapor pada ayah ataupun mas Abi. Kalau Kakak mau, dan melaporkan semua kelakuan Kamu itu, bisa dipastikan Kamu akan diusir dari rumah ini secepatnya." Sekar mencoba untuk mengancam adiknya, supaya tidak banyak tingkah dan mengintimidasi kakak iparnya, Anjani.
"Apa maksud Kakak?" tanya Yasmin cepat. Dia tidak tahu, apa yang dikatakan oleh Sekar.
"Aku tidak mengerti apa yang Kakak katakan."
Yasmin benar-benar tidak tahu, apa yang dimaksud oleh Sekar dari ancamannya tadi.
"Sudah-sudah. Sekar, Yasmin. Kaliaan berdua tidak perlu bertengkar seperti ini. Kakak tidak apa-apa kok."
Anjani melerai pertikaian kedua adik iparnya itu. Dia merasa tidak enak hati, karena secara tidak langsung, dialah yang menjadi penyebab keduanya bertengkar seperti ini.
"Tapi Mbak, dia itu perlu di kasih pelajaran sekali-kali. Biar kapok dan bisa mikir juga itu otaknya. Jangan hanya hal buruk saja yang dia pikirkan!" Sekar masih merasa kesal dengan sikap adiknya, Yasmin.
Tapi kerena melihat Anjani yang menggelengkan kepalanya, akhirnya Sekar diam dan tidak meneruskan kalimatnya lagi. Begitu juga dengan Yasmin. Dia diam dan hanya bergumam lirih dan tidak jelas.
__ADS_1
Di saat Anjani sudah pergi dan tidak terlihat lagi oleh mereka, Sekar langsung mendekat ke tempat duduknya Yasmin, yang masih menyusui bayinya.
"Ingat Yasmin. Bukti kesalahan yang Kamu lakukan pada mbak Jani, ada padaku. Jika Kamu masih macam-macam, Aku akan melaporkan semua pada mas Abi, dan dengan demikian bisa dipastikan jika Kamu tidak akan mendapat maaf darinya."
Perkataan kakaknya, Sekar, membuat Yasmin mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang sebenarnya dimaksud oleh kakaknya itu. Tapi, karena saat itu Nanda menangis dengan keras, dia tidak jadi bertanya, dan mengurus bayinya terlebih dahulu.
Namun, begitu dia selesai mendiamkan bayinya, ternyata Sekar sudah keburu pergi. Dia tidak jadi bertanya dan mencari tahu, apa maksud dari perkataan kakaknya, Sekar. "Apa yang dia maksud tadi? Aku tidak tahu apa maunya dia." Gumam Yasmin dengan penasaran.
Tak lama, Yasmin masuk ke dalam kamar. Dia ingin beristirahat sebentar untuk melupakan kejadian yang tadi. Dia benar-benar tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh Sekar.
"Dia punya bukti apa coba? berani-beraninya dia mengancamku seperti tadi. Dasar kak Sekar gak jelas nih."
Yasmin pun tertidur di samping bayinya. Dia tidak mau tahu, apa yang sudah dirahasiakan Sekar, yang katanya bisa jadi bukti untuk membuatnya bisa keluar dari rumah ini.
*****
Malam, saat berada di dalam kamar. Anjani sedang berbincang dengan Abimanyu sebelum tidur. Dengan posisi berbaring yang saling berhadap-hadapan, mereka berdua berbicara dari hati ke hati, seperti biasanya.
"Sayang. Kapan kita pindah ke rumah sendiri? Kami kan bisa dengan bebas menentukan segala hal yang Kamu sukai," tanya Abimanyu, yang sudah tidak sabar untuk bisa tinggal di rumah sendiri. Rumah yang sudah dia beli, meskipun tidak sebesar rumah ayahnya ini, tapi cukup untuk keluarga kecil mereka nanti.
"Nanti Aku kesepian Mas di rumah sendirian," jawab Anjani, yang merasa tidak enak jika harus pergi dari rumah mertuanya. Dia takut dikira tidak mau tinggal bersama dengan mereka.
"Atau Kamu mau tinggal di rumahmu, yang milik Kamu dulu, yang dari mas Elang?" tanya Abimanyu mengingat lagi. Dia berpikir kalau Anjani menginginkan bisa tinggal di rumah yang besar sehingga anak-anak bisa bermain-main dengan bebasnya, dan bukan kecil seperti yang dia beli.
"Gak Mas. Aku justru berpikir untuk mengembalikan rumah itu pada mama Amel. Aku merasa tidak ada hak dengan kepemilikan rumah itu Mas. Bagaimana menurut Mas Abi?" tanya Anjani, meminta pendapat pada suaminya.
"Itu terserah Kamu Sayang. Tapi, Aku berpikir jika tante Amel akan merasa tersinggung, jika Kamu mengembalikan pemberiannya. Apalagi, itu adalah rumah di saat Kamu masih menjadi istri anaknya, mas Elang. Jadi lebih baik tidak, daripada membuat tante Amel marah."
Anjani mengangguk setuju dengan perkataan suaminya. Jadi dia tidak lagi membahas tentang rumah itu lagi.
"Kita pindah ke rumah kita, nanti kalau Aku sudah melahirkan saja Mas. Aku takut kesepian dan jadi sering mengantuk jika ada di rumah sendirian." Anjani akhirnya memberikan keputusan untuk kepindahan mereka ke rumah sendiri.
__ADS_1
Abimanyu setuju dengan perkataan istrinya. Dia juga berpikir hal yang sama seperti yang dipikirkan oleh Anjani. Dia tidak mau, jika Anjani jadi kesepian di saat dia sedang hamil seperti sekarang ini. Jadi lebih baik, mereka berdua pindah ke rumah mereka, nanti setelah anak mereka lahir.
Anjani pun tersenyum senang, karena suaminya itu setuju dengan pendapatnya. Kini, mereka berdua tidur dengan posisi saling berpelukan. Mereka berdua ingin selalu bisa saling mendukung satu sama lain, dalam keadaan apapun nanti.