
Di rumah mama Amel.
Makan malam sudah selesai. Sekarang, mereka semua sedang berbincang-bincang di ruang tengah. Sama seperti biasanya.
"Lang. Bagaimana kelanjutannya? Apa sudah ada kemajuan?" tanya papa Ryan, yang menanyakan tentang kasus penculikan Ara kemarin.
"Belum Pa. Belum ada titik terang. Tapi..."
"Tapi apa Lang?"
"Tapi apa Yah?"
Mama Amel dan Awan, bertanya bersamaan, dan memotong kalimat Elang yang belum selesai.
Sedangkan papa Ryan dan Ara, juga sudah tidak sabar menunggu melanjutkan kalimat yang akan disampaikan oleh Elang.
"Sabar Ma, Wan. Baru juga mau dijelaskan. Aku jadi lupa kan tadi sampai di mana bicaranya," protes Elang. Karena dia jadi lupa, tadi mau bicara apa lagi.
"Titik terang belum ditemukan Yah," ujar Ara, mengingatkan ayah mertuanya itu.
"Nah itu!"
"Iya, sampai pada kalimat itu."
Mama Amel dan juga Awan, kembali berkata bersamaan. Dengan membenarkan perkataan Ara, yang berusaha untuk mengingat kembali. Tapi Elang yang akan memberikan penjelasan.
"Makanya kalian berdua sabar. Biar dia bicara dengan baik. Tidak kalian potong-potong terus!"
Papa Ryan gemas sendiri, karena tingkah istri dan cucunya itu.
Tapi mama Amel dan Awan, hanya menanggapi dengan senyuman nyengir kuda. Tanpa mau meminta maaf. Karena sudah membuat Elang melupakan keterangan yang akan dia sampaikan.
"Udahlah. Pokoknya, dia belum ditemukan. Tapi, tetap ada orang-orang yang ditugaskan untuk mengintai, di beberapa tempat. Yang dicurigai sebagai persinggahan atau tujuan dari target." Elang menyudahi keterangannya, karena memang belum ada kelanjutan dari laporan penyidik.
Awan membuang nafas panjang. Begitu juga dengan mama Amel.
Tapi, papa Ryan dan Ara, mengangguk mengerti. Karena semua memang perlu waktu dan kesabaran. Agar target tidak menyadari jika dalam keadaan dipantau.
Karena jika target menyadari, bisa-bisa dia akan pergi menjauh. Agar terhindar dari penyergapan. Lagipula, pihak kepolisian dan penyidik juga tidak bisa asal menangkap seseorang. Tanpa disertai dengan bukti-bukti yang ada.
"Ya sudah. Semoga saja, semuanya akan baik-baik saja dan orang itu akan segera ditangkap."
Papa Ryan mengucapkan doanya, agar ke depan nanti semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Ayo Ma. kita pergi ke kamar! Papa sudah mengantuk," ajak papa Ryan pada istrinya, mama Amel.
Mereka berdua, akhirnya pamit untuk pergi ke dalam kamar terlebih dahulu. Pada kedua cucunya dan anaknya, yang masih ingin berbincang-bincang.
Setelah mama Amel dan papa Ryan pergi, Ara menyampaikan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk penyidikan.
"Yah. Emhhh... apa di penjara mamanya Dika ada yang besuk?" tanya Ara, mengingat jika, mamanya Dika masih ada di dalam tahanan. kasus yang dia miliki dulu.
"Iya masih Ra. Kenapa?"
Elang menjawab pertanyaan Ara, tapi dia juga bertanya pada menantunya itu. Dia tidak tahu, spa yang ingin disampaikan oleh Ara saat ini.
"Penyidik melakukan pengintaian di sana juga gak Yah?"
Akhirnya, Elang dan juga Awan tahu, ke mana arah pernyataan yang diberikan oleh Ara barusan.
"Iya. Ada yang mengintai di sana. Tapi belum ada laporan. Karena hasil penyidikan yang mengarah pada papanya Dika juga baru tadi Ra," kata Elang memberikan beberapa alasan, mengapa belum ada hasil dari pengintaian yang dilakukan.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga, besok ada berita yang baik dari penyidikan mereka."
Awan mengucapkan harapannya, agar semuanya bisa diatasi dan cepat selesai juga.
"Ya sudah. Ayah mau ke kamar dulu. Kalian berdua juga, pergilah tidur juga!"
Ara dan Awan, sama-sama mengiyakan perkataan ayahnya. Yang menyuruh keduanya untuk segera pergi beristirahat di kamar. Karena hari juga sudah malam.
Tak lama setelah Elang pergi dari ruang tengah, Ara mengajak suaminya itu untuk masuk ke dalam kamar.
"Kak. Ayo kita tidur juga!"
"Gak ahhh," sahut Awan cepat.
"Kok gak?" tanya Ara bingung dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya itu.
"Iya ngapain cepat-cepat masuk ke kamar. Nganggur juga ini."
Ara mengerutkan keningnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Awan barusan. Dia tidak tahu, apa yang dimaksud oleh suaminya. Karena sikap Awan ini, tidak seperti biasanya.
*****
Di rumah sakit. Di depan ruang ICU.
Papanya Dika berusaha untuk menghubungi beberapa saudaranya. Baik dari pihak keluarganya sendiri, maupun dari pihak keluarga istrinya.
__ADS_1
Dia meminta bantuan dana, pada saudara-saudara itu. Karena kondisi Dika yang memang membutuhkan biaya besar.
Dari beberapa saudara yang dia hubungi, memang tidak semuanya bisa memberikan bantuan. Karena ada beberapa saudara juga, yang bukanlah orang-orang dari golongan berada. Tapi mereka memang hanya bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga mereka saja.
Tapi mereka yang tidak bisa membantu, hanya bisa mendoakan. Supaya Dika akan segera kembali sadar.
Bantuan yang sudah diberikan oleh saudara-saudaranya, jika dikumpulkan, ternyata hanya bisa membiayai fasilitas yang disediakan untuk Dika beberapa hari kedepannya.
Tentu ini tidak cukup banyak. Papanya Dika harus kembali berpikir. Dari mana uang yang harus dia sediakan untuk biaya pengobatan anaknya itu.
"Aku harus minta pekerjaan pada Bos lagi. Jika seperti ini terus, Aku juga akan kehilangan uang. Untuk bisa tetap menjaga Dika dan bertahan hidup."
Sekarang, papanya Dika berusaha untuk menghubungi Bos nya, untuk meminta pekerjaan yang biasa dia lakukan Tapi dengan imbalan yang setimpal dari pekerjaannya juga.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Panggilan telpon tersebut belum juga diterima. Papanya Dika, berharap-harap dengan perasaan yang cemas.
Tut tut tut!
"Ayo Bos... angkat!" guman papanya Dika kesal.
Tapi setelah beberapa menit dia memutuskan hubungan panggilan, yang belum juga diterima oleh Bos nya. Papanya Dika beralih pada suster yang berjaga di ruangan ICU. Karena dilihatnya jika, kedua suster tersebut, mendorong brangkar pasien dengan tergesa-gesa.
Mungkin pasien tersebut sudah sada. Atau bisa juga, pasien tadi sudah tidak bisa tertolong.
Dengan perasaan yang tidak menentu, papanya Dika masuk ke dalam kamar ganti. Untuk mengenakan pakaian khusus, yang digunakan saat memasuki ruangan ICU.
Dia ingin melihat keadaan anaknya. Dia berharap agar anaknya itu bisa kembali bangun, dan juga sehat lagi seperti dulu. Di mana pada waktu itu, dia dan istrinya tersandung kasus yang melibatkan mereka berdua.
"Dik. Maafkan Papa."
"Papa gagal menjagamu. Sama seperti yang dipesankan oleh mama mu."
Papa nya Dika, tampak jelas bahwa dia sedang bersedih hati. Melihat bagaimana keadaan anaknya yang tidak mati. Tapi juga tidak mau hidup.
"Dika. Cepat sadar nak. Kita berdua harus bisa membalaskan dendam Kamu dan juga kita semua Dik!"
Setiap kata yang diucapkan oleh papanya Dika, ditekan sedemikian rupa. Menggambarkan bagaimana perasaan yang saat ini ada di dalam dadanya.
Penuh sesak dan sulit untuk dijabarkan.
__ADS_1
Amarah, kesedihan dan juga dendam yang menjadi satu.