
Seminggu kemudian.
Sidang papanya Dika sudah selesai. Dia di putuskan dengan hukuman tujuh tahun. Karena sikap dan perilakunya yang kooperatif. Dia juga mau memberikan keterangan, atas orang-orang yang terlibat dalam perdagangan manusia ke luar negeri. Termasuk anak-anak dan wanita-wanita yang mereka pekerjaan.
Di dalam Pasal 297 mengatur mengenai sanksi tindak pidana perdagangan orang memberikan ancaman pidana maksimal 6 tahun penjara bagi pelaku.
Sedangkan untuk kasus penculikan Ara dan Anggi, seharusnya dia mendapatkan minimal hukuman tiga tahun. Dan maksimal lima belas tahun penjara.
Dengan menjalani hukumannya selama tujuh tahun penjara, diharapkan papanya Dika bisa benar-benar berubah. Baik sikap dan perilaku, juga cara pandang untuk kehidupannya ke depan nanti.
Saat ini Awan, Ara, dan Anggi, sedang menyambangi rumah baru ayahnya di Bogor.
Keluarga besarnya yang lain juga ikut. Seperti ayah Edi dan ibu Sofie. Sekar dan Juna, bersama dengan Miko serta adiknya juga. Di tambah dengan keluarganya Yasmin, yang memang belum kembali ke Jawa timur.
Karena mereka juga baru saja selesai dengan acara melamar Mita, untuk Nanda.
Dan pasangan yang baru saja meresmikan hubungan mereka ke jenjang pertunangan, Nanda dan Mita juga ikut. Dalam acara keluarga mereka kali ini. Yaitu pergi ke Bogor, untuk berkunjung ke rumah barunya Abimanyu dan Anjani.
Tapi keluarga Awan tidak bisa ikut serta.
Mama Amel, papa Ryan dan Elang, sedang berada di Amerika sana. Untuk mengurus segala sesuatunya yang berkaitan dengan kepengurusan baru di perusahaan milik mereka yang ada di sana.
Mereka memang baru bisa ke Amerika, setelah kasus persidangan papanya Dika selesai.
Mereka akan datang ke Bogor sendiri, saat mereka sudah pulang dari Amerika.
Sebenarnya, kunjungan keluarga besarnya ini bukanlah untuk melihat keadaan rumah baru, tapi lebih kepada rasa sayang mereka semua. Untuk memberikan dukungan, atas keadaan Abimanyu saat ini. Karena menurut mereka, saat ini Abimanyu sedang mengalami mental yang buruk.
Kesehatannya yang menurun, membuatnya stress berkepanjangan dan akhirnya mentalnya ikut down.
Dia berpikir jika dirinya banyak menyusahkan orang lain. Terutama istrinya, Anjani.
Sebenarnya Mental down adalah kondisi stres berat yang menimpa seseorang hingga ia tidak bisa menjalankan fungsi normalnya sebagai manusia. Istilah ini sendiri sebenarnya sudah tidak lagi digunakan di dunia medis, karena dirasa kurang spesifik.
Mungkin karena selama hidupnya yang dulu, sebelum menikah, Abimanyu tidak pernah menyusahkan orang lain. Termasuk kedua orang tuanya sendiri.
Tapi begitu dia menikah dengan Anjani, dia merasa telah membuat beban pikiran dan perasaan pada Anjani. Bahkan ini sejak awal pernikahan mereka berdua.
__ADS_1
Mulai dari perlakuan buruk keluarganya, iparnya dan kondisinya sendiri waktu itu. Pada saat dia mengalami kelumpuhan dan hilang ingatan.
Padahal Anjani sudah pernah mengatakan bahwa, dia tidak merasa terbebani dengan semua itu. Dia ikhlas, karena memang kehidupan berumah tangga ada banyak sekali lika likunya.
Manusia biasa seperti mereka tidak mungkin bisa sempurna. Sama seperti para nabi dan Rasul Allah. Padahal, para nabi pun ada kekurangannya, sama seperti manusia biasa.
Tapi karena kondisi tubuhnya yang saat ini tidak sesehat dulu lagi. Abimanyu menjadi merasa jika dia membuat beban lagi.
Itulah sebabnya, dia ingin segera mewujudkan impiannya selama ini. Hidup sederhana di pedesaan dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota.
Abimanyu sudah menyerahkan tabungan pendidikan untuk Anggi. Dia mempercayakan Anggi, untuk dibimbing kakaknya itu.
*****
Rombongan tiba di rumah Abimanyu sebelum waktu dhuhur.
"Wahhh... ini rumah bukan di daerah villa. Tapi lebih bagus dari villa." Mita berdecak kagum, melihat keadaan rumah ayahnya Ara yang baru.
Nanda pun mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh tunangannya itu.
"Iya betul banget."
"Ayah Abi..."
"Bunda Jani..."
Mereka berlomba-lomba untuk bisa masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
Sedangkan orang-orang dewasa lainnya, turun dari mobil, kemudian mengambil barang-barang bawaan yang ada. Karen mereka semua, memang sudah mempersiapkan segala sesuatunya, untuk bisa di nikmati di rumah Abimanyu ini.
Ada berbagai macam jenis makanan dan juga minuman. Sehingga mereka tidak akan repot-repot untuk pergi lagi, hanya untuk mempersiapkan segala sesuatunya nanti.
Padahal, Anjani sudah bilang jika tidak perlu repot-repot untuk membawa semua itu. Dia bisa mempersiapkan segala sesuatunya juga di rumah ini.
Tapi karena mereka tahu jika, Anjani tidak mungkin bisa pergi ke mana-mana, karena keadaan Abimanyu yang tidak bisa dia tinggalkan, mereka pun tidak mempedulikan larangan Anjani.
"Ayah, Ibu. Ini... Anjani kan sudah bilang. Gak usah repot-repot bawa ini semua."
__ADS_1
Mata Anjani berkaca-kaca, menahan rasa haru. Setelah menyalami kedua mertuanya itu.
Dia juga melakukan hal yang sama, pada adik-adiknya Abimanyu yang lain.
Suasana haru pun tidak bisa dihindari. Bahkan, isak tangis kebahagiaan dan keharuan terdengar di saat Abimanyu menyapa semuanya.
Kini, Ara dan Anggi ada di dalam pelukan hangat ayah mereka. Mereka bertiga, sama menangis. Di susul Anjani, yang ikut memeluk anak dan suaminya.
Mereka semua yang melihatnya, jadi ikut meneteskan air mata.
Setelah beberapa saat kemudian, Abimanyu mengajak mereka semua untuk beristirahat. Terserah mereka mau di mana. Karena ruang tamu rumah ini, memang sengaja dibiarkan kosong. Tanpa adanya kursi tamu.
Bale-bale bambu, ada di pekarangan depan, di bawah pohon mangga. Ada juga yang diletakkan di teras depan.
Karena ruang tamu tidak ada kursi, Anjani dibantu Sekar dan Yasmin, mengelar tikar untuk duduk lesehan mereka semua.
Ibu Sofie dan Ara, dibantu cucu-cucunya yang lain, juga ikut membantu menyiapkan bekal yang tadi mereka bawa dari Jakarta.
Dan setelah Anjani bersama kedua adik iparnya selesai menyiapkan tempat untuk lesehan, mereka menata makanan dan minuman untuk ditempatkan di atas tikar.
Baru setelah semuanya siap, mereka memanggil para laki-laki yang sedang duduk-duduk di depan, agar masuk ke dalam rumah.
Sekarang, mereka semua berbincang-bincang dengan santai, sambil menikmati makanan yang sudah ada bersama dengan minumannya juga.
"Nanti sore dan besok pagi, kita masak dari hasil kebun yang sudah bisa di ambil."
"Ada ubi dan jagung, yang dulu di taman pemilik rumah sebelumnya juga sudah bisa diambil," kata Abimanyu memberitahu mereka, yang tentunya di sambut dengan gembira.
"Horeee... kita panen jagung!"
"Kita cabut ubi!"
"Nanti di video ya kak Anggi! biar kayak di film kartun Upin Ipin jika di kebun."
Adik-adik mereka sangat antusias, untuk bisa bermain-main di kebun. Yang memang ada di belakang rumah ini.
Keceriaan tampak jelas di rumah kecil, yang sekarang ini ditempati oleh Abimanyu dan Anjani.
__ADS_1
Wajah-wajah bahagia juga tampak dari mereka semua. Bisa berkumpul, dalam suasana seperti ini.