Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Viral


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, setelah Ara meninggalkan kampus.


"Coba cek berita kampus terbaru!"


Seseorang, berteriak keras, memberitahu pada yang lain, untuk segera melakukan apa yang dia katakan tadi.


Beberapa orang yang mendengar teriakan tersebut, segera membuka handphone, dan meng-klik sebuah aplikasi, yang khusus untuk universitas mereka.


Aplikasi kampus tersebut untuk mempermudah para mahasiswa dan dosen, mengetahui berita dan pengumuman-pengumuman yang terbaru.


Ini bentuk lain dari koran kampus, yang lebih praktis dan bisa di pakai oleh semuanya, di mana saja dan dalam keadaan apapun.


Di dalam berita terbarunya, ada beberapa foto seorang cewek, yang sedang berjalan dan beberapa yang tampak sedang berpelukan dengan seorang cowok di luar pintu gerbang kampus.


Sebenarnya, hal seperti ini bukanlah sesuatu yang baru dan istimewa.


Yang membedakan adalah, cewek tersebut di kenal dengan segudang prestasi yang dia miliki.


Dan karena prestasinya itu, dia ada di kampus ini. Apalagi, cewek itu bukan warga Amerika sendiri.


Dan begitulah akhirnya. Kehebohan kampus, terjadi pada saat sore hari, dan tidak lama kemudian, para dosen pun ikut mendengar dan akhirnya ikut melihat apa yang sebenarnya terjadi, di berita terbaru kampus mereka.


Setelah beberapa dosen melihat apa yang ada di dalam berita tersebut, mereka pun meminta waktu pada pihak dekan dan para petinggi kampus, untuk melakukan rapat mendadak, terkait beasiswa yang mereka berikan pada mahasiswa yang ada di dalam berita heboh tersebut.


"Berita ini merusak citra mahasiswa berprestasi, yang kita pandang sebagai seorang mahasiswi yang bersih. Tapi ini sudah tidak bisa dibiarkan. Bagaimana jika kita panggil Diyah Manuhara besok, untuk menghadap?"


"Tapi, kita tidak bisa menilai secara sepihak. Dan dia masih sangat muda. Kita juga tidak tahu, siapa laki-laki yang sedang bersama dengannya itu."


"Ini harus dihentikan, sebelum melebar ke luar area kampus. Berita ini bisa merusak citra kampus kita."


"Aku tidak yakin, dengan apa yang terjadi di dalam berita itu."


"Itu hanya pelukan biasa. Bahkan, ada beberapa mahasiswa yang sudah melakukan sesuatu, yang lebih dari sekedar pelukan. Apa itu menjadi masalah besar di negara kita ini?"


"Tapi, dia adalah mahasiswa yang punya citra. Seharusnya, dia menjaga image dirinya sendiri."


"Siapa tahu, laki-laki itu adalah saudara laki-lakinya, yang memang sudah lama tidak berjumpa."


"Hemmm... dan siapa yang mengunggah foto dan berita ini?"


"Nah itu, pasti ada sesuatu konspirasi, untuk bisa menjatuhkan Diyah Manuhara."


"Ya-ya. Bisa jadi seperti itu."


Rapat dadakan yang diadakan untuk membahas mengenai foto-foto dan berita tentang Ara, menjadi perdebatan mereka, para dosen.


Ada yang menanganggapinya dengan bijak, emosi dan masa bodoh.


Dan itu, sesuai dengan kedekatan dan cara mereka mengenal Ara selama ini juga.


Pada akhirnya, mereka semua sepakat untuk memberikan panggilan untuk Ara, yang diharuskan untuk bisa datang ke kampus, menjelaskan tentang kekacauan yang disebabkan olehnya, di aplikasi kampus mereka.


Untungnya, ada satu dosen muda, yang cepat memberitahu Ara, melalui pesan email, agar Ara bisa mempersiapkan diri untuk Klarifikasi pada besok pagi.

__ADS_1


Selain keputusan yang diambil para dosen itu, mereka juga membentuk tim khusus untuk menyelidiki, siapa dan apa motif dari pengunggah foto-foto, dan berita tentang Diyah Manuhara.


Aplikasi ini, tidak bisa di akses oleh orang luar, karena untuk aktivasinya, mengunakan id mahasiswa mereka.


Jadi, tidak mungkin jika orang lain yang melakukan semua ini.


Dari id mahasiswa tersebut, juga akan memudahkan pihak kampus, untuk menyelidiki kegiatan apa saja yang dilakukan di aplikasi.


Termasuk jika ada kasus yang sama seperti yang terjadi saat ini.


Dari id mahasiswa, tim khusus itu juga bisa memanggil mereka-mereka yang terlibat dalam segala sesuatunya, untuk klarifikasi.


Baik untuk pembuat berita, dan juga pemeran utama yang ada di dalam foto-foto tersebut.


*****


Di apartemen, Ara baru saja datang. Dia bersama dengan Awan, sengaja datang bersama untuk membicarakan tentang rencana mereka berdua pada bundanya, Anjani.


Tet tet tet!


Ara memencet bel pintu apartemennya.


Tak lama kemudian, bundanya membukakan pintu.


"Assalamualaikum Bun," ucap Ara, dengan menyalami dan mencium tangan bundanya.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Awan.


Awan mengangguk mengiyakan ajakan Anjani. Dia kemudian duduk, setelah dipersilahkan duduk oleh bundanya itu.


"Terima kasih Bun," ucap Awan, dengan mengangguk.


Setelah berbincang-bincang sebentar, Awan menyampaikan keinginannya, untuk melanjutkan hubungannya dengan Ara ke jenjang yang lebih serius, yaitu bertunangan minggu depan.


"Wah, cepat sekali Wan. Apa tidak terlalu buru-buru?" tanya Anjani, memastikan jika Awan dan Ara memang sudah siap dengan rencana mereka.


"Iya Bun."


"Kita tunggu om Abi dulu ya?"


"Iya. Awan juga akan bertanya pada om Abi Bun. Ini karena Awan ingin meminta pendapat pada bunda Jani saja, bagaimana baiknya."


Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Awan.


"Apa ayah Kamu tahu?"


Tiba-tiba Anjani merasa khawatir, jika ini hanya keinginan Awan sendiri, tanpa bicara terlebih dahulu pada ayahnya, Elang.


"Sudah Bun. Pada oma dan opa juga. Mereka bertiga, setuju dengan rencana ini. Apalagi, jika ada niatan yang baik, sebaiknya juga segera dilakukan. Itu kata opa dan oma."


Anjani tersenyum tipis, mendengar jawaban dan penjelasan Awan.


Meskipun Anjani sedikit heran dan terkejut, tapi karena apa yang dikatakan oleh Awan ada benarnya, dia akhirnya hanya bisa mengangguk saja.

__ADS_1


Dalam hati Anjani, dia sedikit merasa cemas, dengan apa yang dulu pernah dia alami, saat menikah dengan Elang.


'Semoga saja, Ara ataupun Anggi, tidak pernah mengalami hal yang sama seperti yang dulu pernah Aku alami.'


Anjani berdoa dan berharap, agar apa yang dia alami dulu, tidak pernah terjadi pada anak-anaknya ke nanti.


Ketakutan dan trauma itu pasti ada. Meskipun Anjani sudah berusaha untuk bisa melupakan dan mengubahnya menjadi pikiran yang positif.


Tak lama kemudian, Anggi datang. Dia baru saja pulang dari sekolah.


"Yeee.. ada Kak Awan!"


Anggi berteriak senang sambil melompat-lompat kegirangan setelah masuk ke dalam rumah, dan melihat Awan duduk di kursi tamu.


"Adek," tegur Anjani, agar Anggi tidak lagi bersikap seperti anak-anak.


"Apa sih Bun?"


"Kamu sudah bukan anak kecil. Jangan lupa itu!"


Anjani memperingatkan Anggi, jika dia bukan lagi anak kecil, yang harus berjingkrak-jingkrak jika sedang senang.


Wajah Anggi jadi cemberut dan masam. Apalagi, Ara juga mentertawakan dirinya, saat di marahi bundanya.


Tapi dasarnya Anggi, dia tetap saja melakukan hal yang sama, meskipun tidak janua satu dua kali, mendapatkan teguran dari bundanya itu.


*****


Di Jakarta.


Perusahaan mama Amel, yang sekarang ini sudah dipegang oleh anaknya, Elang, sedang ada kekacauan.


Kas perusahaan, ada yang hilang, tanpa diketahui, bagaimana transaksi yang seharusnya.


Elang kalang kabut, karena jumlah kas perusahaan tersebut, bukanlah pada jumlah yang sedikit.


Bahkan, kas yang hilang itu bisa digunakan untuk membayar semua pegawai PT SAMUDERA GROUP, selama satu tahun.


"Bagaimana mungkin ini terjadi!"


Elang marah di ruangannya sendiri, saat memeriksa lagi, berkas-berkas laporan yang saat dia pegang.


"Panggil manager dan bagian keuangan!"


Elang memerintahkan pada sekretarisnya, untuk memanggil orang-orang yang bersangkutan dengan kas perusahaan.


Dia merasa ada sesuatu yang terjadi, dan ini adalah konspirasi untuk bisa membuat perusahaan miliknya jatuh bangkrut dalam sekejap.


"Siapa yang berani melakukan semua ini?" tanya Elang, saat bergumam seorang diri.


Dia tidak pernah menyangka, jika ada salah satu pegawainya, yang melakukan semua ini, untuk keuntungan pribadi.


Hal yang sama juga, dan sudah sangat lama Elang coba untuk melupakan juga dari ingatannya, tentang kelakuan istrinya sendiri, Adhisti, yang dulu pernah menipunya, lewat kas perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2