
Ara dan Anggi, tiba di rumah lima belas menit kemudian. Dan lima menitnya lagi, mobil yang membawa Awan tiba di rumah.
Dan tentunya, Anjani bersama dengan Abimanyu, juga sudah selesai dengan urusan mereka berdua.
Jadi, anak-anak mereka, tidak ada yang tahu, apa yang terjadi tadi, sebelum mereka berdua tiba di rumah.
"Kak Awan, emang gak bisa gitu, balik ke Amerika nya ditunda hingga besok?" tanya Anggi, yang masih ingin bersama dengan ayahnya, Abimanyu di Indonesia.
"Adek. Kak Awan dan ayah ada kerjaan di sana. Jadi, gak bisa liburan kayak kita," ujar Anjani, memberikan pengertian pada anaknya yang kedua itu.
"Tapi Bun..."
"Adek mau ikut balik ke Amerika? ikut sana sendiri!"
Ara memotong kalimat yang diutarakan oleh Anggi, sehingga dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya, untuk memberikan penjelasan.
Anggi jadi cemberut, karena perkataannya yang dipotong oleh kakaknya itu.
Padahal dia ingin mengatakan bahwa, Jika bisa, pekerjaan dan tugas mereka berdua, ayahnya dan juga Awan, dikerjakan saja melalui online.
Tapi Anggi juga yang tahu jika, tidak semua tugas dan pekerjaan bisa diselesaikan dengan mudah, dengan hanya melalui online.
"Sayang. Tidak semua keinginan kita harus bisa dicapai. Apalagi, untuk liburan. Ada banyak tangung jawab yang besar, yang harus dilakukan oleh ayah ataupun kak Awan."
Sekarang, Anjani kembali berusaha untuk memberikan penjelasan dan pengertian kepada Anggi. Dia berharap agar, anaknya itu bisa mencerna apa yang dia katakan tadi.
Akhirnya, Anggi hanya bisa mengangguk saja, tanpa menyanggah atau mencari kebenaran dengan pendapatnya sendiri.
Itulah yang diinginkan oleh Anjani. Anaknya, meskipun kadang kala bersikap seperti kekanak-kanakan, tapi setidaknya bisa juga diajak bicara dan berpikir layaknya orang dewasa.
Membuang rada egois, dan memaksakan kehendaknya sendiri.
Sekarang, mereka semua bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Mengantar kepergian Abimanyu dan juga Awan.
Ada juga satu mobil lagi, yang ikut serta ke bandara mengantar Abimanyu.
Mobil itu dikendarai oleh ayah Edi, bersama dengan istrinya, ibu Sofie dan juga Nanda. Tapi karena tadi Miko ingin ikut, akhirnya mereka juga menjemput Miko terlebih dahulu, sebelum mereka sampai di rumah Abimanyu.
Di sepanjang jalan menuju ke bandara, Anggi tidak henti-henti mengoceh tentang bagaimana jika ayahnya sendirian di rumah Amerika sana.
Untungnya, tadi Miko tidak bisa ikut berada di mobil yang sama dengan Anggi.
__ADS_1
Tidak bisa dibayangkan bagaimana hebohnya mereka berdua, jika ada di dalam satu mobil.
"Ayah. Apa ayah akan tidur di kantor?" tanya Anggi, yang merasa kasihan kepada ayahnya itu. Karena jika pulang ke rumah, juga tidak ada orang.
"Lho, kenapa tidur di kantor?" tanya bundanya, yang belum tahu bagaimana pikiran anaknya itu.
Akhirnya, setelah Anggi menjelaskan pada yang ada di dalam pikirannya, bundanya itu justru tersenyum.
Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tertawa kecil, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Anggi.
Dia pikir, ayahnya lebih baik tidur di kantor saja, daripada bolak balik pulang, dan tidak ada siapa-siapa juga di rumah.
"Adik. Ada-ada saja sih," sahut Ara, dengan mengelengkan kepalanya beberapa kali, karena merasa aneh dengan usulan dari Anggi.
"Udah biarin aja Anggi mengeluarkan pendapatnya. Itu juga bagus untuk respon otak dan mentalnya, dalam mengeluarkan pendapat."
Awan justru meminta pada Ara, supaya tidak menyalahkan adiknya, meskipun pendapat adiknya itu tidak masuk akal.
"Nah itu betul Kak Ara. Hore, kita tos Kak Awan!"
Anggi merasa senang, karena dibela oleh Awan. Meskipun dia sendiri tidak tahu, apa yang dimaksud oleh Awan tadi.
Abimanyu dan Anjani, hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, mendengar dan melihat bagaimana anak-anak mereka berinteraksi satu dengan yang lainnya.
Abimanyu memberikan pesan pada istrinya itu, supaya tidak menuruti permintaan Anggi, jika dia masih ingin berada di Indonesia. Padahal waktunya sudah tiba untuk kembali ke Amerika.
Karena jika dituruti, jadwal sekolah dan yang lainnya, akan berdampak juga pada mereka.
"Iya Yah."
Anjani hanya mengiyakan saja, apa yang dipesankan oleh suaminya itu.
Sedangkan Awan, sedari tadi juga tidak melepaskan tangannya dari mengengam tangannya Ara.
Awan seperti tidak rela juga, jika harus pergi ke Amerika sendiri, tanpa ada tunangannya itu.
"Kak," panggil Ara, yang merasa jika, tangannya tidak bisa bebas sedari tadi.
"Hemmm..."
Ara jadi merasa gemas sendiri, mendengar jawaban Awan yang tidak jelas.
__ADS_1
Sekarang, Ara berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Awan.
Tapi karena usahanya itu, Awan justru semakin mempererat genggaman tangannya, agar Ara tidak bisa melepaskan diri.
Ara menoleh ke arah tunangannya itu. Dia juga mengunakan bahasa isyarat matanya, supaya Awan mau melepaskan genggaman pada tangannya.
Tapi Awan tidak bergeming. Dia ada pada mode datar dan tidak menoleh ataupun menjawab bahasa isyarat yang dilakukan oleh Ara.
Ini membuat Ara jadi kesal, tapi juga gemas sendiri.
"Kak," panggil Ara lagi, dengan berbisik pelan. Dia tidak mau jika, suaranya itu terdengar oleh adik ataupun kedua orang tuanya.
"Diam bisa gak Ra. Atau, aku harus peluk Kamu saja?" tantang Awan, agar Ara tidak berusaha lagi untuk melepaskan tangannya.
Akhirnya, Ara pun hanya bisa diam saja. Dan karena Ara sudah tidak lagi protes atau berusaha untuk bisa melepaskan diri, Awan pun tidak lagi memperketat genggaman tangannya. Dia justru melepaskan tangannya, tapi berganti dengan mengelus-elus punggung tangannya Ara.
Ara pun menoleh kembali, menatap wajah tunangannya itu. Dengan tersenyum malu, akhirnya dia kembali menundukkan kepalanya. Dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
Sekarang, dia kembali bicara dengan Anggi, agar tidak ada yang tahu, jika tangannya tidak bisa melakukan apa-apa. Karena sudah dikuasai oleh Awan, yang duduk di sebelahnya.
*****
Di mobil yang dikendarai oleh ayah Edi, Miko mengerutu sendiri, karena tadi, Anggi tumben-tumbenan tidak mau satu mobil dengannya.
"Awas aja tuh si Anggi. Aku ngambek Ama Dia. Gak mau Aku bicara dengannya nanti," oceh Miko, tanpa disahuti oleh kedua eyangnya, ataupun Nanda.
Dia jadi merasa kesal, karena tidak ads yang mendukungnya dalam keadaan seperti sekarang ini.
"Kak Nanda. Kakak kan gak satu mobil dengan kak Ara. Apa Kakak gak kesal, marah?" tanya Miko, yang berusaha untuk memprovokasi Kakak sepupunya itu.
Nanda menolehkan kepalanya, melihat ke arah belakang, di mana Miko yang duduk bersama dengan eyang putrinya, ibu Sofie.
"Kenapa?" tanya Nanda balik.
"Kan biasanya kak Ara bareng Kak Nanda terus," ujar Miko, yang belum mengerti, bagaimana keadaan yang saat ini ada.
Semuanya tidak lagi sama seperti dulu.
Tapi Nanda hanya tersenyum tipis, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Miko, yang tentunya masih kecil dan tidak tahu apa-apa.
Padahal sebenarnya, Nanda juga merasa jika, satu sisi hatinya yang terasa kosong.
__ADS_1
Tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya berusaha untuk tetap bisa tersenyum di depan semua orang. Dia juga harus bisa bersikap, seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya sendiri untuk saat ini.