Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Beda Pemikiran


__ADS_3

Di Atlanta, Ara baru saja selesai dengan sidang, untuk tugas mata kuliah yang harus selesai minggu ini.


"Hai girl. Have you finished the trial?"


Seseorang bertanya pada Ara, yang baru saja keluar dari ruang sidang.


"Yes. I m finish."


"Boleh Saya tahu, bagaimana suasana sidang di dalam ruangan tadi?"


**anggap saja, mereka berdua sedang berbincang-bincang dengan bahasa bule di sana ya 😊😊✌️


Seorang cowok bule, bertanya pada Ara, untuk mengetahui bagaimana keadaan yang ada di ruang sidang.


Mungkin, cowok tersebut merasa penasaran atau bisa juga grogi, karena dia juga sedang menunggu giliran untuk segera masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Biasa saja kok. Yang penting kita harus bisa tenang, dalam menjawab dan menjelaskan setiap jawaban yang kita berikan, atas pertanyaan dosen."


Cowok tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Ara.


"Oh ya, boleh berkenalan? Sepertinya Kamu bukan orang asli Amerika," tanya cowok tersebut, yang ingin tahu tentang siapa cewek yang saat ini ada di depannya, dan bisa menjelaskan bagaimana keadaan di dalam ruang sidang.


"Saya dari Indonesia. Ara."


"Ara?" tanya cowok itu, dengan kening berkerut.


Tapi tidak lama kemudian, cowok itu tersenyum senang.


"Akhirnya, Aku bisa berkenalan dengan Kamu Ara."


Sekarang, ganti Ara yang merasa bingung, atas pernyataan cowok tersebut.


"Kenapa?" tanya Ara penasaran.


"Beberapa hari kemarin, Aku mendengar cewek-cewek, yang sedang membicarakan tentang dirimu di kantin kampus. Apa Kamu tidak tahu?"


Ara mengeleng cepat, mendapatkan pertanyaan yang memang tidak dia ketahui.


"Apa yang mereka bicarakan tentang Saya?"


Akhirnya, Ara bertanya juga. Dia tidak pernah mendengar apa-apa, tentang pembicaraan teman-teman kuliahnya.


Apalagi, Ara tidak banyak punya teman dekat, selama kuliah.


Dia selalu datang dan pergi, bersama dengan ayahnya, atau Awan.


Saat ada di kampus, Ara juga hanya mengikuti kuliah dan jika ada waktu untuk beristirahat, dia akan pergi ke perpustakaan kampus.


Ara tidak pernah pergi ke kantin atau kafe-kafe, yang ada di sekitar kampus.


Ini karena Ara takut, jika makanan atau minuman yang ingin dia beli, tidak diperbolehkan untuk dia konsumsi, sesuai dengan ajaran agama yang dia anut.


Bundanya, Anjani, selalu membawakan makanan dan minuman, di dalam tas yang di bawa Ara.


Dan pada saat menjemput Ara, Awan juga akan membawakan makanan serta minuman untuk kekasihnya itu.

__ADS_1


Karena itu juga, Ara jadi tidak perlu ke mana-mana, untuk mencari makanan dan minuman, untuk mengganjal perutnya sendiri, saat berada di area kampus.


Letak kampus Ara dan Awan, memang tidak terlalu jauh. Dan Awan bisa dengan cepat bisa datang ke kampus Ara, karena dia mengunakan kendaraan bermotor sendiri.


"Mereka, para cewek-cewek itu, membicarakan tentang seorang cewek dari Indonesia, yang mencuri perhatian para dosen."


Ara masih terus menyimak apa yang dikatakan oleh cowok tadi.


Jadi, cewek-cewek yang mengenal Ara, merasa iri karena Ara menjadi prioritas utama para dosen, yang meminta Ara untuk bisa tetap ada pada jalur prestasi di cabang olah raga beladiri juga, selain target utama Ara untuk cepat bisa lulus kuliah.


"Apa ada yang salah?"


Ara bertanya dengan bingung, dengan apa yang dirasakan oleh temannya yang lain.


Dalam pikirannya Ara, semua orang juga ingin segera lulus, dan bebas dari tugas-tugas kampus.


Tapi, jika memang memungkinkan untuk tetap bisa ada dalam jalur olahraga yang membawa masa depan lebih baik, semua orang juga mau seperti itu.


Tapi yang menjadikan mereka iri adalah, Ara jadi perhatian para dosen muda.


"Oh, palingan mereka hanya ingin mendapat perhatian dosen-dosen muda yang tampan."


Akhirnya, Ara mengerti maksud dari pembicaraan mereka, teman-teman ceweknya, yang selama ini tidak diketahui oleh Ara sendiri.


Dari cerita cowok tersebut, Ara bisa menarik kesimpulan bahwa, teman-temannya yang lain itu, hanya merasa iri saja, dengan apa yang menjadi keberhasilan Ara, baik dalam bidang prestasi olahraga ataupun pelajaran yang dia miliki.


Tapi ini juga karena soal perhatian, yang diberikan oleh para dosen, yang tidak diterima oleh temannya yang lain.


Karena melihat Ara yang hanya diam saja, cowok tersebut menjadi bingung.


"Apa Kamu tidak merasa risih, dengan apa yang mereka bicarakan?" tanya cowok itu, yang tidak tahu jika, Ara tidak pernah mengurusi sesuatu yang bukan hal penting menurutnya.


Ara balik bertanya, dan cowok itu pun tidak bisa menjawabnya.


Selama di Amerika, dan berada di asmara sekolahnya yang dulu, Ara banyak belajar, bagaimana keadaan dan situasi orang-orang di Amerika.


Dari beberapa nasehat dan pesan pendamping yang ada dj asrama, dia dapat menyimpulkan bahwa, tidak perlu menanggapi setiap kata dari orang lain, yang tidak tahu, bagaimana keadaan kita.


Tidak usah menghiraukan apa yang dibicarakan oleh orang lain, jika tidak bersinggungan secara langsung dengan kita.


Intinya, tidak perlu repot-repot memikirkan apa kata orang. Yang penting, fokus pada tujuan awal.


Selama di asrama, Ara banyak mengambil pelajaran, yang sangat beda di banding saat berada di Indonesia.


Tapi sikap Ara ini, tentu saja berbeda jika dia ada di rumah, atau bersama dengan keluarganya di Indonesia.


Dia harus bisa membedakan, di mana dia sedang berada. Karena budaya yang tentunya saja, tidak sama antara Amerika dengan budaya Indonesia.


Apalagi, Ara hanya ingin belajar di kampus ini. Dan dia tidak perlu memikirkan hal lain, jika itu tidak mendukung tujuan utamanya, ada di kampus ini.


Cowok tadi akhirnya terdiam dan tidak lagi bicara.


Tak lama kemudian, cowok tersebut pamit pada Ara, karena sekarang ini tiba gilirannya untuk masuk ke dalam ruangan sidang.


Ara hanya mengangguk, saat cowok itu pamit.

__ADS_1


Setelahnya, Ara memunggungi Awan, yang sudah berjanji akan menjemput dirinya, saat sidang selesai.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


Tapi sepertinya Awan tidak bisa menjawab panggilan telpon dari Ara.


Namun, tak lama kemudian, telpon Ara yang bergetar.


Drettt drettt drettt!


Ara segera mengalihkan perhatiannya pada layar handphone miliknya. Di layar tersebut, ada nama Awan.


Senyuman terbit di bibir Ara, karena ternyata, Awan menghubungi dirinya, meskipun tadi Awan sempat tidak menghiraukan panggilan telponnya.


..."Halo Kak."...


..."Sudah selesai?"...


..."Iya. Tadi barusan Ara telpon Kakak. Tapi tidak Kakak angkat."...


..."Iya. Ini juga Kakak baru lihat. Kakak baru sampai."...


..."Sampai di mana?"...


..."Depan kampus."...


..."Depan kampus? Kakak baru kuliah?"...


Ara justru salah paham, dengan perkataan Awan. Dia mengira bahwa, Awan baru saja mau ada kelas di kampusnya sendiri.


..."Bukan Ra. Kakak ada di depan kampus Kamu."...


..."Eh, maaf. Ara pikir, Kakak lupa."...


..."Lupa? Lupa dengan janji Kakak gitu? Gak mungkin lah Ra."...


Ara jadi merasa malu sendiri, karena salah sangka. Dia tersenyum sendiri, mendengar perkataan Awan, melalui telpon tersebut.


Sekarang, dia akan berjalan ke arah depan kampus, di mana Awan sedang menunggu dirinya.


..."Ara segera keluar Kak."...


..."iya. Kakak tunggu."...


Klik!


Ara tersenyum, saat panggilan telpon tersebut terputus. Dia tidak sabar, untuk segera bertemu dengan Awan.


"Oh iya, katanya ada yang mau dibicarakan oleh kak Awan nanti. Kira-kira kak Awan mau bicara apa ya?"


Ara bergumam dan bertanya pada dirinya sendiri, sambil berjalan menuju ke depan kampus.


Dia merasa senang, karena Awan selalu menepati janji.

__ADS_1


Ara tidak sadar jika, ada beberapa pasang mata, yang sedang memperhatikan dirinya dari kejauhan.


Entah apa yang mereka inginkan, dari seorang Ara. Yang menurut mereka, Ara bukanlah siapa-siapa di Amerika ini.


__ADS_2