
Suasana di rumah ayah Edi terlihat ramai, karena kedatangan mama Amel dan juga cucunya, Awan.
Apalagi, ternyata Ara dan Nanda juga menyambut kedatangan Awan dengan ramah. Mereka bertiga, tampak bermain-main bersama dan akur satu dengan yang lain, sambil menikmati Pizza, yang tadi dibawakan oleh mama Amel untuk mereka.
Sedang mama Amel sendiri, sedang berbincang-bincang dengan Abimanyu di ruang tamu. Membicarakan tentang pekerjaan di kantor.
Anjani sedang berada di dapur, membantu bibi pembantu rumah, untuk menyediakan hidangan untuk para tamunya itu.
"Tidak usah non Jani. Bibi bisa kok," kata bibi pembantu, yang merasa sungkan, karena Anjani sering membantu pekerjaannya.
"Tidak apa-apa Bi. Jani juga tidak tahu, apa yang jadi bahan pembicaraan mas Abi dan mama Amel kok. Itu soal kerjaan di kantor. Jadi, Jani tidak tahu apa-apa soal kerjaan mas Abi."
Bibi pembantu mengangguk. Dia akhirnya membiarkan Anjani mengerjakan pekerjaan yang dia inginkan. Sedang dia sendiri, mengerjakan pekerjaannya juga.
Anjani, membuat camilan yang mudah di buat, untuk anak-anak yang sedang bermain-main, dan juga untuk mama Amel beserta suaminya sendiri.
Setelah jadi, dia segera menyuguhkan minuman dan makanan kecil tadi untuk anak-anak, yang sedang bermain dan ada di teras samping.
"Ayo, minum dulu anak-anak," kata Anjani sambil tersenyum dan meletakkan gelas berisi minuman untuk mereka bertiga.
"Asyekkk..."
Mereka bertiga, tampak senang mendapat minuman yang segar, setelah menikmati Pizza.
"Pizza nya kok gak dihabiskan Sayang?" tanya Anjani, karena melihat satu kotak pizza yang masih utuh.
"Gak Bunda. sudah kenyang kok. Itu untuk Bunda sama ayah nanti," kata Nanda memberitahu.
"Iya Tante. Awan juga sudah kenyang kok. Tadi, sebelum ke sini, Awan sudah makan pizza terlebih dahulu." Awan ikut menjawab pertanyaan dari Anjani.
Awan memang yang paling besar diantara mereka. Jadi, mereka bertiga, sama seperti tiga orang kakak beradik.
Akhirnya, Anjani kembali ke ruang tamu, untuk menyuguhkan minuman dan makanan untuk mama Amel yang ada di ruang tamu.
"Maaf Ma. Ini silahkan di minum dulu," kata Anjani menawarkan.
"Terima kasih Jani. Oh ya, bagaimana anak-anak? apa mereka akur?" tanya mama Amel ingin tahu.
Anjani mengangguk mengiyakan, dan menceritakan tentang anak-anak yang bermain-main di teras samping.
__ADS_1
"Syukurlah. Mama pikir, Awan itu terlalu lama tidak bermain dengan anak-anak seusianya. Mama takut, dia tertekan dengan keadaan yang ada kemarin-kemarin. Untungnya, dia hanya menolak untuk sekolah dan tetap bersikap sama seperti anak-anak pada umumnya. Semoga, pertemanan mereka, membuat Awan mau untuk bersekolah lagi."
Mama Amel, mengatakan harapannya, untuk cucu satu-satunya itu. Dia tidak ingin, Awan mengalami trauma yang berarti, karena masalah yang dialami oleh kedua orang tuanya, saat berada dia Batam.
"Dia yayasan tempat anak-anak sekolah ada sekolah dasar juga Ma. Jika Awan mau, siapa tahu karena sudah ada Ara dan Nanda di sana, dia juga mau. Tapi ya begitulah Ma, yayasan tempat anak-anak sekolah, cuma yayasan kecil dan mungkin tidak berkelas, sama seperti yang biasanya Awan sekolah dulu," kata Anjani memberitahu, tentang yayasan sekolah tempat Ara dan Nanda sekolah saat ini.
"Benarkah? Wah, bisa itu nanti di tanyakan pada Awan. Siapa tahu dia mau. Tidak usah yayasan besar atau berkelas, yang penting Awan nyaman. Itu yang penting buat mama," ujar mama Amel, dengan wajah yang terlihat senang.
Akhirnya, mama Amel dan Abimanyu, melanjutkan pembicaraan mereka berdua tadi, tentang beberapa pekerjaan yang akan mulai di lakukan oleh Abimanyu dari rumah.
Pekerjaan itu akan di kirim mama Amel, melalui internet seperti saat Abimanyu, masih menjadi karyawan free dan tidak hanya bekerja di perusahaannya saja.
Setelah semua selesai, mama Amel mengajak Awan untuk pulang.
"Kita pulang ya. Kapan-kapan, kita main lagi ke sini. Awan suka kan ada temannya?" tanya mama Amel, saat mengajak cucunya itu untuk pulang.
Awan hanya mengangguk saja. Dia merasa sangat senang, karena sudah memiliki dua teman, meskipun usia mereka ada di bawah usianya sendiri.
Dan begitulah akhirnya, mama Amel berpamitan, pada Anjani dan Abimanyu, juga anak-anak mereka, Ara dan Nanda.
Awan juga melakukan hal yang sama. Dia menyalami Anjani dan Abimanyu. Setelahnya berbicara ala anak-anak, dengan Ara dan Nanda.
*****
Mereka berdua berbincang-bincang seperti biasa, sambil duduk-duduk di atas tempat tidur.
"Jika Mas sudah kerja lagi, keuangan kira bisa normal lagi seperti dulu. Kamu bisa minta apa saja sayang," kata Abimanyu, sambil mengengam tangan istrinya, Anjani.
"Tidak usah mikir yang tidak-tidak dulu lah Mas. Yang penting, buat pengobatan Mas dulu," jawab Anjani, sambil ikut mengengam tangan suaminya, yang sedang mengengam, dengan tangan yang lainnya.
"Iya, Mas tahu. Tapi selama ini, semua yang Kamu lakukan untuk menjaga dan merawat Mas itu tidak ternilai. Dan seumur hidup, mungkin Mas gak bisa ganti."
Anjani tersenyum mendengar perkataan suaminya. Dia memeluk Abimanyu sebentar, kemudian mengubah posisi duduknya dengan menghadap ke arah suaminya tersebut.
"Mas. Kita ini suami istri. Kita itu satu. Bukan Aku dan Kamu. Kita sudah ada Ara juga. Susah senang, kita harus hadapi bersama. Anjani ingin seperti ini untuk selamanya Mas."
Kini, keduanya saling berpelukan dengan semua perasaan yang mereka miliki.
*****
__ADS_1
Di rumah mama Amel, Awan ternyata tetap menolak tawaran omanya, untuk bersekolah di yayasan yang sama dengan Ara dan juga Nanda.
Padahal, mama Amel sudah membujuknya, supaya dia juga bisa berinteraksi dengan orang lain. Tidak hanya berada di rumah dan berinteraksi dengan orang-orang yang sama setiap harinya, yaitu orang-orang yang ada di rumahnya ini.
Itu juga yang menjadi pikiran mama Amel. Sebenarnya, dia sudah meminta pada seorang guru privat, untuk melakukan homeschooling bagi Awan.
Tapi jika anak seusianya yang seharusnya banyak berinteraksi dengan orang-orang seusianya, mama Amel takut jika Awan akan menjadi pribadi yang tertutup karena kurangnya pergaulan
"Kalau Awan tidak mau sekolah yang sama dengan adik-adik tadi. Siapa ya namanya, Oma lupa?" mama Amel, pura-pura lupa anaknya Anjani, untuk mengingatkan Awan, dengan nama teman-teman barunya.
"Ara dan Nanda Oma," jawab Awan pendek.
"Oh iya. Ara dan Nanda. Kenapa Kamu tidak mau Sayang? kan mereka berdua juga ada di sana sekolahnya," tanya mama Amel lagi. Dia ingin tahu, apa alasan dari cucunya itu yang sebenarnya.
"Mereka kan masih kecil. sekolah mereka juga tingkatannya masih tanam kanak-kanak. Beda dengan Awan. Itu sama Saja mereka bukan teman Awan di sekolah."
Awan memberikan alasannya, kenapa dia tidak mau bersekolah yang sama seperti teman-temannya yang baru saja dia kenal.
"Oh iya-iya, Oma lupa. Ya sudah, terpaksa manggil guru ke rumah ya kalau begitu?"
"Tidak usah Ma. Besok, biar Elang ajak di ke yayasan sekolah milik teman Elang. Di sana, satu guru cuma megang lima anak. Jadi, mereka benar-benar diperhatikan."
Tiba-tiba, Elang yang baru saja datang dari arah kamarnya, menyela pembicaraan mereka berdua.
"Ayah!"
Awan berteriak senang, saat melihat kedatangan ayahnya.
"Kamu sudah enakkan kepalanya? apa perlu ke dokter lagi?" tanya mama Amel, saat melihat anaknya, yang sudah keluar dari kamar.
"Sudah baikan Ma. Maaf ya Ma. Mama jadi repot ngurus Awan," kata Elang meminta maaf pada mamanya.
"Ck, ya gak lah. Dia kan cucu Mama. Tentu saja Ma juga khawatir, jika dia keterusan tidak mau sekolah Lang."
Sekarang, Awan meminta duduk di pangkuan ayahnya, Elang.
"Ayah jangan sakit lagi ya. Elang tidak ada temannya kalau Ayah sakit," kata Awan merajuk.
"Iya. Ayah gak sakit-sakit lagi kok," jawab Elang, sambil memeluk anaknya, yang sekarang ini, sudah duduk di atas pangkuannya.
__ADS_1