Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Bukan Jawaban Yang Benar


__ADS_3

Kadang kala, orang baik belum tentu hidupnya lurus, mulus tanpa ada halangan dan rintangan. Justru mereka kadang kala mendapat banyak ujian, dari Tuhannya, untuk melihat, apakah orang tersebut tetap menjadi orang yang baik, atau justru menjadi sebaliknya. Mereka menjadi patah semangat dan melakukan sesuatu yang tidak benar.


Sedangkan orang-orang yang culas, tidak baik dalam menjalani kehidupan ini, mendapat banyak keberuntungan, badan yang selalu sehat dan bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan.


Itu semua hanya ujian juga saru Tuhan, untuk umatnya. Apakah dengan keberuntungan dan badan yang sehat, membuat mereka bersyukur, atau justru sebaliknya. Menjadi sombong dan tidak tahu, jika semua yang mereka dapatkan itu adalah pemberian dari Tuhan.


Lalu, termasuk yang manakah kita?


Yang pasti, kita harus lebih banyak bersyukur, atas nikmat yang sudah diberikan oleh Tuhan, pada kita. Kehidupan kita, dan apa yang kita miliki saat ini.


*****


Tiba di rumah, Nanda dsn Ara langsung masuk ke dalam rumah, yang masih ramai. Meskipun tidak seramai tadi siang, saat mamanya Yasmin, dan adiknya baru saja datang dari rumah sakit.


"Wah... selamat Tante Yasmin. Om Aksan," ucap Ara, sambil mencium pipi tantenya, Yasmin, kemudian beralih pada Aksan. Suaminya Yasmin.


"Terima kasih Sayang. Sehat-sehat dan juga jadi anak yang pintar ya," ujar Aksan, saat Ara menyalami dan mencium tangannya.


Nanda juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Ara.


"Jangan di cium dulu adeknya Nda."


Nanda menoleh ke arah papanya, Aksan, karena melarang Nanda, saat dia ingin mencium pipi adik bayinya itu.


"Kamu belum cuci tangan dan cuci muka. Adik bayi, masih terlalu sensitif terhadap bakteri dan virus, yang bisa jadi Kamu bawa saat ada di jalan tadi." Aksan, melanjutkan kalimatnya, untuk menjelaskan pada anaknya, Nanda.


Sekarang, Nanda menjadi paham dengan maksud perkataan papanya, yang melarangnya untuk mendekat atau mencium adik bayinya.


"Berarti Ara juga tidak boleh ya Om?" tanya Ara, yang merasa jika dia juga baru saja datang dari perjalanan pulang.


"Ya sama. Tidak boleh juga. Kecuali, jika kalian sudah pada cuci tangan atau mandi sekalian. hehehe..."


Aksan terkekeh sendiri, saat menjawab pertanyaan dari Ara.


"Ara. Kamu cuci tangan dulu sana!" Dari arah dapur, bundanya, Anjani, datang menegur Ara.


"Bunda masih di sini?" tanya Ara, yang merasa kaget, dengan keberadaan bundanya di rumah eyangnya ini.


"Iya. Bunda juga baru datang siang kok. Tuh ada adik juga. Lagi main sama Miko di teras samping." Anjani menunjuk ke arah teras samping rumah, di mana ada anaknya, Anggi, yang bermain-main dengan Miko, anaknya Sekar.


"Ihsss... main mulu mereka berdua," sahut Ara, sambil berjalan menuju ke arah teras samping. Dia ingin membuat kejutan untuk kedua adiknya itu.

__ADS_1


Nanda ikut berjalan menuju ke arah teras samping, di mana Ara juga ke sana.


"Dor!"


"Hah!"


"Aduh!"


Anggi dan Miko, terkejut dengan kedatangan Ara, yang tiba-tiba dan mengagetkan mereka berdua.


"Dih Kakak nakal!" teriak Anggi.


"Iya nih. Kak Ara nakal!" kata Miko ikut-ikutan.


"Hehehe..." Ara terkekeh geli, melihat mimik wajah kedua adiknya itu.


"Hahaha..."


Nanda juga ikut tertawa senang, karena tingkah ketiga sepupunya, yang berbeda umur dan jenis kelaminnya.


"Kak Nanda ikut-ikutan nakal juga! huhuhu... Kak Ara nakal! huhuhu..."


Anggi justru baru menangis, saat diledek oleh Nanda, dengan tertawanya tadi.


"Wah, melarikan diri tuh Kak Nanda."


Ara merasa bahwa, Nanda sedang kabur dan tidak mau jika ikut disalahkan. Karena sudah membuat Anggi menangis.


"Cup cup cup. Anggi kan cantik, gak boleh cengeng dong!" bujuk Ara, supaya adiknya itu tidak lagi menangis.


Miko, yang ada di sebelah Anggi yang sedang menangis, menepuk-nepuk pundaknya Anggi. Dia berusaha untuk ikut menenangkan sepupunya itu, supaya tidak lagi menangis.


"Eh, kenapa?"


Dari dalam rumah, Sekar muncul dan bertanya, kenapa Anggi menangis.


Miko dengan cepat menceritakan tentang kejadian tadi, hingga Anggi menangis.


Sekar tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, mendengar penjelasan dari anaknya itu.


"Sudah-sudah. Cup cup cup. Ara, sana Kamu ke dapur. Di cari Bunda tadi." Sekar berusaha mendiamkan tangisan Anggi, dan juga memberitahu pada Ara, jika dia dicari-cari oleh bundanya, Anjani.

__ADS_1


Ara pun tersenyum canggung, karena merasa bersalah atas perbuatannya pada Anggi dan Miko. "Maaf ya. Kakak cuma bercanda kok tadi," ucap Ara, meminta maaf pada kedua adiknya, Anggi dan Miko.


Tanpa menunggu jawaban dari kedua adiknya, Ara berbalik, kemudian berjalan menuju ke arah dapur, di mana bundanya berada. Seperti yang tadi dikatakan oleh tantenya, Sekar.


"Bunda cari Ara?" tanya Ara, begitu sampai di dapur, dan menemukan bundanya itu sedang membantu bibi, mencuci beberapa peralatan makan.


"Iya Kak. Habis ini kita pulang. Sebentar lagi malam. Bantu Anggi untuk membereskan mainannya dulu ya," jawab bundanya, dengan tersenyum ke arah Ara.


"Iya Bun."


Ara pun patuh pada apa yang dikatakan oleh bundanya. Dia segera kembali ke teras samping rumah, untuk mengajak adiknya, Anggi, membereskan barang-barang dan juga mainnya, agar kembali rapi dan tidak berantakan saat di tinggal pulang.


"Ayo Dek kita bereskan. Setelah itu kita pulang. Bunda yang ajak lho, bukan Kakak." Ara menjelaskan pada adiknya, Anggi.


"Lho, gak nunggu ayah Abi Ra?" tanya tantenya, Sekar, yang juga ikut membereskan mainan. Karena Anggi bermain bersama dengan anaknya, Miko.


"Mungkin ayah pulangnya malam tante. Jadi, bunda ajak Ara dan Anggi pulang dulu. Kita kan belum mandi. Padahal sebentar lagi sudah malam."


Sekar mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan dari keponakannya itu. Dia juga sebenarnya mau pulang, tapi karena tadi suaminya sudah memberikan kabar pada dirinya, jika saat ini sudah ada di perjalanan, dan dia diminta untuk menunggu di rumah ayahnya saja. Rumah ayah Edi.


Tak lama kemudian, Anjani dan kedua anaknya, pamit untuk pulang terlebih dahulu.


"Gak nungguin Abi dulu Jani?" tanya ibu Sofie, dengan wajah heran. Dia tidak mendengar kabar tentang anaknya, Abimanyu, seharian ini. Anjani juga tidak berbicara apa-apa, tentang apa yang terjadi pada suaminya itu.


"Gak Bu. Nanti, jika mas Abi pulang, dia pasti ke sini. Ta_tapi sepertinya dia ada tugas kantor ke_keluar kota. Jadi mungkin besok-besoknya baru pulang."


Anjani menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya itu, dengan terputus-putus. Dia yang tidak terbiasa dengan jawaban yang tidak benar, menjadi gugup, saat memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataannya.


Tapi Anjani tidak mau membuat semua orang merasa khawatir, dengan keadaan Abimanyu.


Itulah sebabnya, dia menjawab seperti tadi. Entah besok-besok, jika mereka tahu. Pasti dia juga yang akan disalahkan, karena harus menutupi semua ini.


Bukan keinginan Anjani untuk berdusta. Ini atas permintaan dari suaminya sendiri, Abimanyu, yang tidak mau jika keluarganya sampai tahu bahwa, dia mengalami kecelakaan tadi pagi.


Sebenarnya Anjani tidak nyaman, saat menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya itu.


"Di antar mas Aksan Mbak Jani. Ini orangnya baru pergi mandi. Nanda juga sedang mandi."


"Tidak usah Dek, dekat ini kok. Kami jalan kaki saja." Anjani menolak tawaran dari Yasmin. Dia tidak mau merepotkan adik iparnya itu, yang tentunya juga merasa sangat capek, karena baru saja pulang dari rumah sakit, bersama dengan Yasmin tadi.


"Bunda. Ayah tidak pamit, jika akan pergi tugas ke luar kota. Memangnya kapan ayah pergi?" Ara bertanya kepada bundanya, saat berjalan menuju ke arah rumahnya.

__ADS_1


Anjani tidak menjawab pertanyaan dari Ara. Dia hanya tersenyum tipis, karena tidak bisa menjelaskan bahwa ayahnya sebenarnya ada di rumah.


Biar ayahnya saja, nanti yang menjelaskan pada kedua anaknya itu, supaya tidak bercerita pada orang lain, dengan keberadaannya di rumah.


__ADS_2