
"Mau ngapain ke sini?"
Anggi masih juga bertanya pada Miko, dengan galaknya.
"Mau ngajak muter-muter," jawab Miko, dengan nyengir kuda. Dia pura-pura tidak paham, jika Anggi dalam keadaan bad mood.
"Muter-muter?" Anggi mengulang kembali kata-kata Miko, dengan sebuah pertanyaan.
Miko mengangguk mengiyakan, dengan pasti jika dia tidak berbohong.
"Mau muter-muter naik apa? emang Kamu bisa naik motor?" tanya Anggi menantang Miko.
"Huh, emangnya Kamu! Muter-muter komplek aja gak ajak-ajak," ujar Miko, dengan senyum sinis.
"Hah, Kamu liat ya Miko? kok gak ada tadi?" Anggi merasa bersalah, karena tidak sempat mengajak Miko tadi, saat dia bersama dengan Nanda, muter-muter sebentar.
"Gak sih. Tapi, Aku dengar suara motor Kak Nanda. Waktu Aku keluar rumah, udah kelewat."
Ara kembali merasa sangat bersalah, karena mengabaikan Miko.
"Hehehe... maaf," ucap Anggi, sambil menunjukkan kedua jari tangan membetuk huruf V.
"Hilih..."
Miko tetap saja mencibir Anggi.
"Eh, kita mau muter-muter pakai apa?" tanya Anggi, mengalihkan perhatian dan rasa kesalnya Miko.
"Sepeda."
Anggi melotot, mendengar jawaban yang diberikan oleh Miko atas pertanyaan yang dia ajukan tadi.
"Sepeda? Kan sepeda Kamu gak ada bocengannya Miko. Aku juga gak ada sepeda di rumah."
"Gampang. Ayok!"
Miko tidak menjawab pertanyaan dari Anggi. Tapi dia langsung menarik tangan Anggi, supaya ikut bersama dengannya keluar dari rumah.
Ternyata, Miko tidak datang sendiri ke rumah Anggi. Dia ditemani mamanya, Sekar, dan juga adiknya.
Tapi adiknya Miko sedang tidur, dan ada di pangkuan mamanya, Sekar, yang sedang berbincang-bincang dengan bundanya, Anjani.
"Ma. Miko muter-muter dulu ya sama Anggi," pamit Miko, pada mamanya, Sekar.
"Lho, kan sepedanya gak ada bocengannya Kak?" tanya Sekar, yang tentunya tahu, bagaimana keadaan sepedanya Miko, yang modelnya untuk anak cowok.
Anjani juga terlihat khawatir, karena Anggi tidak akan bisa menyesuaikan dengan kondisi sepeda Miko nantinya.
"Anggi bisa bonceng dengan berdiri di belakang, terus pegangan pundaknya Miko Ma. Kayak anak-anak komplek, jika ada di taman bermain."
__ADS_1
Miko mencoba untuk menjelaskan pada mamanya, dan juga pada bundanya Ara, Anjani.
"Memang Anggi bisa?" tanya Sekar cepat.
Mamanya Miko, tentu merasa sangat khawatir jika Anggi membonceng sepeda Miko dalam keadaan seperti yang dikatakan oleh Miko barusan.
Apalagi selama ini, Sekar juga juga tidak pernah melihat Miko memboncengkan anak lain, dalam posisi yang tadi dia katakan.
"Adek yakin mau mbonceng sepeda Miko seperti itu?" tanya Anjani, memastikan jika Anggi bisa melakukan apa yang dimaksud oleh Miko tadi.
"Bisa Bunda. Tenang aja!"
Anggi menjawab pertanyaan dari bundanya, dengan sangat menyakinkan.
Tapi, kedua wanita tersebut, Sekar dan Anjani, tetap saja tidak percaya, jika anak-anak mereka bisa.
Sekarang, mereka semua keluar dari dalam rumah, dan melihat bukti bahwa, Anggi dan Miko memang bisa naik sepeda dengan membonceng juga.
Meskipun sebenarnya, sepeda milik Miko, tidak ada tempat untuk membonceng penumpang di belakangnya.
Setelah memposisikan diri sedemikian rupa, Anggi dan Miko akhirnya bisa juga menjalankan sepeda tersebut.
"Ma! Bisa kan?"
Miko pamer pada mamanya, jika dia benar-benar bisa membonceng Anggi dengan posisi yang dia kehendaki.
Padahal, Anggi yang ada di belakang Miko, dalam posisi berdiri, dengan kakinya yang seperti mengapit roda sepeda, tampak tersenyum senang.
Akhirnya, keduanya bisa juga naik sepeda dengan posisi yang tidak biasa.
Setelah berputar-putar beberapa kali di depan rumah, mereka berdua pamit untuk berkeliling kompleks.
"Ma, Bunda. Kami muter-muter dulu ya!" pamit Miko, pada mama dan bundanya, Anjani.
Meskipun keduanya sama-sama khawatir, tapi tetap saja tidak bisa mencegah keinginan anak-anak tersebut, yang sudah punya kemauan.
Akhirnya, Sekar hanya bisa menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan Miko.
Anjani juga sama. Dia hanya bisa mengangguk saja, meskipun kekhawatiran tetap saja ada di dalam hatinya.
"Itu mereka beneran bisa keliling komplek dengan posisi seperti itu? Apa gak capek?" tanya Anjani, selepas anak-anaknya pergi dan sudah tidak terlihat lagi.
"Ya gak tau juga Mbak. Paling jika Miko capek atau Anggi yang capek gantian posisi."
"Atau bisa jadi, keduanya justru sama-sama jalan kaki, dan sepedanya justru dituntun begitu saja." Imbuh Sekar, dengan dugaannya.
Anjani hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh adik iparnya itu.
*****
__ADS_1
Di rumahnya Mita.
"Silahkan duduk Mas, Mbak. Saya panggilkan Neng Mita dulu," kata bibi pembantu, yang mempersilahkan Nanda dan juga Ara, supaya duduk terlebih dahulu di ruang tamu, yang mirip dengan ruangan pendopo.
Pendopo adalah tempat menerima tamu. Namun, karena pendopo biasanya luas, bangunan ini difungsikan pula sebagai tempat pertemuan keluarga. Atau bisa juga digunakan untuk kepentingan yang lainnya, jika pendopo tersebut bukan ada di sebuah rumah pribadi.
Ara dan Nanda hanya mengangguk saja, kemudian bibi pembantu kembali berjalan menuju ke arah lorong rumah.
Mungkin, kamar Mita ada di sebelah dalam sana. Atau bisa jadi, kamarnya Mita juga ada di lantai atas, yang ada di bangunan belakang pendopo rumah berbentuk joglo ini.
Setelah beberapa saat kemudian, Mita tampak keluar dari dalam rumah seorang diri.
"Kak Nanda. Ar_Ara kan?"
Mita merasa tidak percaya, dengan apa yang dia lihat saat ini. Ada Nanda dan juga Ara di rumahnya.
Tadi, saat bibi pembantu rumah mengatakan jika ada tamu untuknya. Dan tamu itu adalah laki-laki yang berumur di atas Mita sedikit, dengan seorang cewek seusianya. Mita berpikir jika tamunya itu adalah Dika, yang datang bersama dengan temannya.
Tapi ternyata dugaannya salah besar. Kekasihnya yang sudah tidak berkabar, tidak juga muncul di hadapannya. Bahkan, menelpon atau memberikan pesan juga tidak.
Dan nomer handphone milik Dika, juga tidak bisa dihubungi oleh Mita.
Apalagi, semua akun sosial milik Dika, sudah di non aktifkan juga.
"Maaf ya Mita. Kami berdua datang tanpa memberitahu. Kami jadi ganggu istirahat Kamu ini," tutur Ara, saat dia dan Mita saling berpelukan.
"Hiks... Ra. Aku malah seneng banget Kamu datang Ra. Hiks... Kamu apa kabar?"
Mita berurai air mata haru, karena teman baiknya, Ara, datang berkunjung ke rumahnya. Di saat dirinya sedang merasa kesepian, dalam keadaan tubuhnya yang juga tidak sehat.
Keduanya mengurai pelukan. Dan ternyata, keduanya sama-sama berurai air mata juga.
"Hiks... kok Aku jadi nangis sih!" ujar Ara, dengan menghapus air mata yang menetes tanpa dia sadari.
Begitu juga dengan Mita. Dia menghapus air matanya, yang tetap saja mengalir. Meskipun dia sudah berusaha untuk bisa menahannya.
Keduanya melupakan keberadaan Nanda, yang masih duduk memperhatikan bagaimana keduanya bertemu.
Dua cewek, yang sama-sama mencuri perhatian Nanda. Dan tentunya dalam posisi hati yang berbeda juga.
Setelah beberapa menit mereka masih ada dalam keadaan tidak sadar, jika ada Nanda di antara mereka. Muncul bibi pembantu, yang datang dengan membawa nampan berisi air minum dan juga kue-kue.
"Lho, Neng Mita. Itu Mas nya kenapa hanya diam saja sedari tadi?"
Mita dan juga Ara, baru sadar kalau mereka tidak hanya berdua saja. Ada Nanda, yang tadi datang bersama Ara ke rumah ini.
"Hehehe... maaf Kak. Jadi lupa deh," ucap Ara, dengan meringis, melihat ke arah kakak sepupunya itu.
Sedangkan Mita, juga tersenyum malu-malu. Karena dia tidak sadar, jika ada satu tamu lagi, yang belum dia tegur sedari tadi.
__ADS_1