
Dua dokter keluar dari dalam ruang operasi. Mereka berdua, berhenti di depan pintu, dengan menatap ke arah keluarga pasien, yang tadi doa operasi di dalam ruangan tersebut.
"Suaminya ibu Yasmin?" tanya salah satu dari dokter tersebut.
"Sa_saya Dok!"
Aksan maju, karena dia juga sudah berdiri sejak kedua dokter itu.keluar dari dalam ruangan. Sama seperti semua orang, yang langsung berdiri juga. Menunggu bagaimana dokter tersebut menjelaskan tentang keadaan di ada dalam ruang operasi.
"Selamat ya Pak. Anak dan istri Anda berhasil di selamatkan. Anda memiliki jagoan baru," ucap dokter, yang tadi bertanya.
Semua orang bernafas lega, setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut. Terutama Aksan dan Nanda.
Mereka berdua, langsung sujud syukur, atas semua yang nikmat dari Tuhan, yang sudah mereka dapatkan saat ini.
Dua dokter tadi, meninggalkan tempat, di mana anggota keluarga pasien sedang berbahagia karena mendapatkan kabar baik, untuk anggota keluarganya yang tadi sedang berjuang di meja operasi.
"Alhamdulillah... selamat ya!"
"Selamat ya San, Nda!"
"Selamat untuk kalian berdua!"
Berbagai ucapan selamat dari anggota keluarga yang lain, di untuk Aksan dan juga Nanda. Yang baru saja menjadi seorang ayah dan juga kakak untuk adik kandungnya sendiri.
Anjani tak bisa menahan air mata bahagia. Dia memeluk Nanda dengan tersedu-sedu.
"Terima kasih Bun. Ini juga berkat doa dari Bunda," ucap Nanda, yang ada dalam pelukan Anjani.
Tapi Anjani belum bisa mengeluarkan suara. Dia hanya bisa mengangguk saja, karena masih dalam keadaan menangis.
Semua orang, saling berpelukan dalam kebahagiaan dan keharuan.
Tapi hingga sepuluh menit kemudian, Yasmin dan anaknya, belum juga keluar dari ruangan operasi.
Mereka berdua, masih dalam tahap pengawasan dari perawat, yang tetap berjaga-jaga di ruang operasi juga.
"Apa Aku tidak bisa melihat istri dan anakku?" tanya Aksan, yang tidak sabar untuk bertemu dengan Yasmin, bersama dengan anaknya yang baru saja lahir.
"Sabar San. Mereka pastinya sedang dalam perawatan, sebelum diperbolehkan untuk pindah ke kamar pasien biasa."
Ayah Edi, berusaha untuk menenangkan hati dan pikiran menantunya, yang tentu saja masih merasa khawatir, cemas dalam kebahagiaan yang baru dia rasakan sekarang ini.
Aksan akhirnya menghirup udara sebanyak-banyaknya, agar memenuhi rongga paru-parunya, kemudian melepaskannya secara perlahan-lahan. Mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya sendiri.
Dengan demikian, Aksan bisa mengontrol diri untuk bisa menahan keinginannya yang tadi.
__ADS_1
Hampir setengah jam kemudian, bayi Yasmin di bawa keluar, oleh seorang perawat, kemudian diserahkan kepada ayahnya, untuk di adzan kan sebagai biasanya orang-orang Islam pada umumnya.
Dengan penuh kebahagiaan, Aksan menerima bayi tersebut, yang merupakan anak pertamanya dengan Yasmin.
Kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan selama hidupnya, karena sekarang ini untuk yang pertama kalinya. Dan sekarang, dia sudah menjadi seorang ayah, dari bayi laki-laki pertamanya itu.
Nanda memeluk papa tirinya, kemudian mengucapkan selamat. "Selamat Pa. Sekarang, Papa menjadi seorang Papa dari adiknya Nanda."
Ketika mereka melepas pelukannya. Aksan membalas ucapan selamat dari Nanda.
"Hahaha... Iya. Papa sudah menjadi papa untukmu, dan sekarang, menjadi papa untuk adikmu. Ya-ya. Papa juga mengucapkan selamat untukmu Nda. Kamu sudah menjadi kakak sekarang."
Kebahagiaan mereka berdua, ikut dirasakan oleh semua orang, yang ada di ruang tunggu, di depan ruangan operasi. Sedangkan bayinya, sudah di minta lagi sama perawat, untuk ditempatkan di box bayi.
*****
Bruummm!
Tin tin!
Suara motor berhenti, membuat Anggi bangun dari tempat duduknya. Dia berlari ke luar rumah, untuk melihat siapa yang datang kali ini.
"Kak Ara! Kak Ara!"
Dari dalam rumah, Miko ikut berlari keluar, untuk melihat kedatangan kakak sepupunya, kakaknya Anggi juga.
"Lho, bukan dengan kak Nanda. Pacar kak Ara baru ya?" tanya Miko pelan, untuk dirinya sendiri, saat melihat seorang cowok, tapi bukan kakak sepupunya yang lain. Yaitu Nanda, yang biasa bersama dengan Ara.
Miko berpikir bahwa, cowok yang sekarang bersama dengan kakaknya, Ara, adalah pacar barunya. Dan Miko semakin merasa yakin, saat mendengar perkataan dari Ara, untuk cowok itu.
"Masuk sebentar Kak," kata Ara, yang menawari Awan.
Tadi, Ara di antar pulang ke rumah oleh Awan. Tapi karena rumah Ara sepi, dan tidak ada orang, akhirnya Ara mengatakan jika kemungkinan besar, adiknya ada di rumah tantenya Sekar.
Itulah sebabnya, Awan mengantarkan Ara lagi, ke rumah saudaranya. Dan ternyata benar, Anggi ada di rumah Miko, sejak dia pulang dari sekolah.
"Kakak langsung pulang saja deh. Sudah malam ini Ra," jawab Awan, yang merasa sungkan untuk mampir. Apalagi, pandangan kedua adiknya Ara, yang terkesan menyelidik curiga padanya.
Di tambah lagi, hari sudah mulai gelap. Sore sudah berganti dengan malam.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya Kak. Terima kasih udah antar Ara pulang. Salam buat Oma Amel dan om Elang juga." Ara mengucapkan terima kasih, serta menitip salam, buat mama Amel, omanya Awan, dan juga papanya Awan, yaitu Elang.
Awan hanya mengangguk saja. Dia kembali memakai helm full face-nya, dan menghidupkan mesin motornya.
Saat motor melaju pelan, meninggalkan halaman rumah Sekar, Awan melambaikan tangan kepada Ara, dan kedua adiknya, Anggi dan Miko.
__ADS_1
"Yeee, kak Ara pacarnya ganti ya?" tanya Miko ingin tahu.
Sedangkan Anggi, menatap wajah kakaknya, dengan harapan dapat mendengar jawaban dari kakaknya itu. Dia juga ingin tahu, siapa sebenarnya pacar kakaknya.
Tapi ternyata, Ara tidak menjawab pertanyaan dari Miko. Dia justru masuk ke dalam rumah Miko, dan mencari keberadaan bibi pembantu rumah, yang sedang menyiapkan malam untuk mereka bertiga.
"Kakak!"
"Ihhh! Kak Ara!"
Anggi dan Miko, sama-sama memangil Ara, yang tidak memperdulikan semua pertanyaan yang mereka berdua ajukan.
Ara justru berjalan menuju ke arah dapur, untuk mengambil minum. Dia merasa sangat haus, karena menahan diri untuk tidak berbincang-bincang dengan Awan.
Dan ternyata, semua usahanya untuk bisa diam dan tidak mengajak Awan berbicara, membutuhkan energi yang besar dan membuatnya kehausan. Bahkan dia juga merasa lapar.
"Bibi masak apa?" tanya Ara, dengan memperhatikan bibi pembantu yang sedang memasak.
"Neng Ara mau makan?" tanya bibi pembantu rumah, dengan melihat ke arah Ara.
Ara mengangguk cepat. Dia memang merasa lapar saat ini. Apalagi tadi saat istirahat siang, dia tidak pergi ke kantin, untuk mengisi perutnya.
Ara keasyikan berbalas pesan dengan Nanda, yang sedang menungu mamanya, Yasmin, yang sedang menjalani operasi Caesar, untuk dapat melahirkan adiknya Nanda.
"Makan dulu Neng Ara. Ini udah selesai kok. Tinggal menunggu martabak mininya selesai."
Bibi pembantu, menyiapkan piring untuk Ara, yang sudah duduk di kursi makan. Dia menuggu bibi pembantu, selesai dengan pekerjaannya.
Anggi dan Miko, juga ikut duduk di kursi makan. Mereka berdua, juga mau ikut makan, bersama dengan kakaknya, Ara.
"Kita pulang kapan Kak?" tanya Anggi, ingin tahu.
"Nunggu bunda dan ayah pulang dari rumah sakit." Ara menjawab pertanyaan dari adiknya, dengan menyendok nasi ke piring kedua adiknya itu.
"Gak usah pulang Anggi. Tidur sini aja, bareng Miko," kata Miko memberikan usulan.
"Gak mau. Kamu tidurnya gak anteng! Entar malah Kamu nendang-nendang pas tidur!"
Dengan cepat, Anggi menolak tawaran dari Miko, yang memberikan usulan, supaya dia menginap di rumahnya saja.
Bibi pembantu dan Ara, tersenyum mendengar jawaban dari Anggi. Sedangkan Miko, cemberut karena ditolak oleh Anggi.
"Ada-ada saja kalian berdua," gumam Ara, sambil menggelengkan kepala.
"Sudah-sudah. Ayok den Miko, Neng Anggi, ayo di makan. Neng Ara juga. Jangan berdebat terus. Nanti, kalau bunda dan ayahnya neng Anggi pulang, dan menjemput untuk pulang ke rumah, sudah pada kenyang. Tinggal tidur deh!"
__ADS_1