
Selayaknya engkau tahu
Betapa ku mencintaimu
Kau tenangkanku dari mimpi burukku
Selayaknya kau mengerti
Betapa engkau ku kagumi
Kau telah tinggal di dalam palung hati
Betapa hancur hatiku
Melihat engkau bersamanya
Namun ku mencoba tuk tegar menghadapinya
( Lagu by Kangen Band )
*****
Rasa Yang Sebenarnya ada begitu membuncah, sayangnya ada beberapa hal yang tidak bisa diungkapkan dengan mudah.
Dan itu, dirasakan oleh Awan.
Siang ini, Awan sedang berjalan sendiri tanpa ada Dika. Temannya itu, pamit pergi ke kantin saat jam istirahat berbunyi.
Biasanya, Dika menawari Awan, untuk ikut atau mengajaknya. Tapi tumben-tumbenan, tadi Dika buru-buru keluar dari dalam kelas, dan pamit pada Awan, hanya dengan berkata, "Gue ke kantin Wan."
Setelah itu, Dika langsung pergi, tanpa menunggu jawaban dari Awan.
Namun ternyata, Awan melihat Dika sedang duduk-duduk bersama dengan Ara, di taman sekolah. Tak jauh dari jalan menuju ke arah kantin.
Awan, yang sebenarnya ingin menyusul Dika ke kantin sekolah, mengurungkan niatnya, saat dilihatnya pemandangan yang tak pernah dia ingin lihat.
Dika sedang berbicara, dan Ara, tampak tersenyum malu-malu, dengan sesekali menundukkan wajahnya.
Ini membuat Awan merasa aneh. Dia tidak tahu, kenapa ada rasa kecewa dengan mereka berdua, yang saat ini tidak menyadari keberadaannya.
Awan memang tidak ada di dekat mereka berdua. Dia masih ada di ujung lorong sekolah, sebelum sampai di jalan paving, yang menuju ke arah kantin.
Taman sekolah, ada di pinggir-pinggir jalan menuju ke arah kantin. Di taman tersebut, ada beberapa tempat duduk berbentuk panjang, yang terbuat dari bahan beton.
Biasanya, anak-anak banyak yang duduk di sekitar taman, setelah selesai dari kantin. Bisa juga sekedar mencari angin, karena bosan di dalam kelas.
Tapi Awan mengabaikan perasaannya sendiri. Dia menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke arah kantin.
"Woi Wan. Ah, Gue pikir Loe gak ke kantin."
__ADS_1
Dika menyapa Awan, yang lewat di depannya.
Tapi Awan hanya tersenyum tipis, tanpa menyahuti perkataan Dika. Dia juga tidak berhenti, dan terus berjalan menuju ke kantin.
"Tuh anak udah kayak gitu sedari dulu. Gue heran ma dia. Malas bener buat ngomong." Dika berkata, mengomentari tentang Awan, dengan sikapnya yang dingin dan datar.
Ara, yang sebenarnya sudah mengenal siapa Awan, hanya bisa tersenyum saja, tanpa menyahuti perkataan dari si Dika.
"Oh ya, Diyah. Loe kan udah kenal dengan Awan ya, ceritanya gimana tuh? Gue penasaran, dan pengen tanya dari kemarin-kemarin. Sayangnya, Gue gak ada kesempatan. Hehehe..."
Mendengar pertanyaan dari Dika, Ara bingung dengan jawaban yang harus dia katakan. Dia tidak mungkin bercerita, bahwa bundanya pernah menjadi istri dari ayahnya Awan. 'Tidak-tidak,' batin memintanya, agar tidak menceritakan semuanya itu pada Dika.
"Yah. Diyah."
Ara menoleh cepat ke arah si Dika, yang memanggil-manggil namanya.
"Ya Kak. Ada apa?" tanya Ara bingung.
"Malahan ngelamun," tegur Dika, yang merasa jika Ara tidak memperhatikan dirinya, dan juga pertanyaan yang dia ajukan tadi.
"Eh, gak kok. Aku, Aku gak melamun. Ini emhhh, Aku ada tugas. Kok jadi lupa."
Ara menepuk keningnya sendiri, pura-pura jika dia sedang melupakan sesuatu.
"Aku balik ke kelas dulu ya Kak!" kata Ara, pamit pada Dika.
Ara segera berlalu, dan tidak menunggu jawaban dari Dika.
Dika memanggil-manggil nama Ara, supaya berhenti dan menunggu dirinya. Sayangnya, Ara tidak menoleh, ataupun menjawab panggilan dari Dika.
Bahkan, langkah Ara tampak lebih cepat, saat suara Dika masih terdengar jelas di telinganya.
Entah apa yang terjadi pada Ara, sehingga secepatnya ingin pergi dari taman sekolah, dengan meninggalkan Dika sendiri di taman tersebut.
Dari kejauhan, Awan yang baru saja mau keluar dari dalam kantin sekolah, mengurungkan niatnya. Dia berhenti, dan hanya berdiri di teras kantin, dengan botol air mineral yang dia beli.
Awan menatap kepergian Ara, yang seperti tergesa-gesa. Apalagi, Awan juga melihat temannya, si Dika, yang berusaha untuk menghentikan langkahnya Ara, tapi tidak berhasil.
"Ara kenapa? Diapain sama Dika dia?"
Bermacam-macam pertanyaan, muncul di benak Awan. Karena apa yang dia lihat, tidak wajar, menurut Awan sendiri.
"Ah, sial! Gue belum juga ada kesempatan untuk bicara soal hati Gue. Udah pergi aja Diyah nya."
Si Dika mengerutu sendiri, setelah Ara pergi dan dia tidak bisa mencegahnya.
"Eh Wan!"
Dika memanggil-manggil nama Awan, karena Awan sudah melewati dirinya, tanpa menoleh, ataupun menegurnya.
__ADS_1
"Aduh... hari ini kenapa hari sial buat Gue!" gerutu Dika, yang merasa jika keberuntungan belum bisa berpihak kepada dirinya.
*****
Di dalam kelas, Nanda sedang membaca buku, yang sedang ada kaitannya dalam tugasnya nanti.
Dia tidak pergi ke kantin, ataupun menemui Ara, sama seperti biasanya.
"Nanda!"
Di pintu kelas, ada seseorang yang memanggil namanya.
Nanda mendongak, melihat ke arah sumber suara, yang memanggil namanya.
Ternyata, itu adalah kakak kelasnya, yang saat ini menjabat sebagai ketua OSIS tingkat SMA, di sekolah ini.
Seorang cewek cantik, yang tentunya juga berotak encer.
"Iya Kak, ada apa?" tanya Nanda, saat cewek tersebut berjalan ke arahnya.
"Kamu sudah tau kan, jika nama Kamu ada dalam nama-nama kandidat ketua OSIS untuk periode tahun ini?"
Nanda mengerutkan keningnya, mendengar perkataan dari kakak kelasnya itu. Dia tidak pernah mendapat kabar atau pemberitahuan sebelumnya, dengan pencalonan dirinya, sebagai ketua OSIS untuk pemilihan yang akan dilakukan beberapa hari ke depan.
Karena Nanda terdiam, kakak kelasnya itu melanjutkan kata-katanya lagi.
"Iya. Ada nama Kamu kok. Kakak lihat kemarin, dan hari ini, adalah rapat terakhir, yang akan memutuskan nama-nama peserta yang memang memenuhi syarat."
Nanda mengangguk mengerti. Tapi dia tidak pernah punya keinginan untuk ikut dalam pemilihan ketua OSIS.
"Siapa yang kasih nama Aku Kak? maksudnya yang nyalonin Nanda," tanya Nanda ingin tahu.
Dia merasa tidak pernah menyalon_kan dirinya sendiri, untuk maju dalam pemilihan ketua OSIS besok.
Akhirnya, cewek kakak kelasnya itu menceritakan kepada Nanda, siapa yang mencantumkan namanya di daftar calon peserta ketua OSIS untuk periode tahun ini.
"Jadi, cewek-cewek di kelas Kamu dan kelas lain banyak yang usul dengan nama Kamu Nda."
"Tapi Kak..."
"Udah. Pokoknya, Kamu ikut datang nanti, sepulang sekolah untuk seleksi."
Nanda menghela nafas panjang, saat kakak kelasnya itu berkata demikian.
Apalagi, setelah itu, cewek tersebut juga pergi dari kelasnya, tanpa berpamitan.
Sama seperti kedatangannya, yang tanpa permisi. Cewek itu juga pergi, tanpa memberitahu pada Nanda.
Nanda juga tidak tahu, apa alasan cewek-cewek di kelas ataupun sekolah ini, mencalonkan dirinya sebagai ketua OSIS.
__ADS_1
Padahal, Nanda tidak tertarik dengan acara-acara seperti ini.
"Bagaimana mana ini ya?"