
Miko datang ke rumah Anggi, dengan mengunakan sepedanya. Dia ingin tahu juga, apakah sepupunya itu lulus sekolah juga atau tidak.
Tapi menurut Miko, Anggi pastinya lulus juga. Karena Anggi pindahan dari Amerika sana. Jadi, menurut Miko, Anggi tidak mungkin jika tidak lulus.
Sebenarnya, Miko malas untuk bertemu dengan Anggi. Jika hanya bertemu dengan Ara, dia masih merasa senang. Karena kakak sepupunya itu, sering menawarinya untuk makan atau memberinya makanan yang dibawakan oleh Awan.
Apalagi, saat ini Ara sedang hamil muda. Bisa dipastikan, suami dari kakaknya itu akan menyediakan banyak makanan di rumah.
"Moga aja yang ada di rumah kak Ara, bukannya Anggi." Miko bergumam seorang diri, untuk harapan yang dia inginkan.
"Hufh... akhirnya sampai juga."
Miko menyadarkan sepedanya di dekat pagar rumah, baru kemudian mengetuk pintu.
Tok tok tok!
"Kak! Kak Ara!" panggil Miko, dengan mengetuk pintu rumah.
"Kok sepi?"
Tok tok tok!
"Kak! Kak Ara! Anggi!"
Sekarang, Miko tidak hanya memanggil nama Ara saja. Tapi dia juga memanggil nama Anggi.
Tapi dia tetap berharap agar bukanlah Anggi yang sedang berada di rumah saat ini.
Tet tet tet!
Akhirnya, Miko memencet bel pintu. Karena dia merasa jika hanya mengetuk pintu saja, orang yang ada di dalam rumah tidak ada yang bisa mendengar ketukannya.
Dan benar saja, tak lama kemudian pintu rumah dibuka dari dalam.
Clek ceklek!
Clek!
Anggi muncul, dengan tangan yang sedang mengucek mata.
"Eh, Kamu Miko. Ngapain? ganggu orang tidur aja Kamu."
'Hufhhh... ternyata justru Anggi yang ada di rumah.' batin Miko, yang merasa kecewa karena Anggi yang membuka pintu.
"Heh! Bengong aja. Ngapain?" tanya Anggi lagi, dengan nada judes.
"Kak Ara ke mana?" Miko justru bertanya balik, dan itu bukan sesuai dengan permintaan mamanya, Sekar.
"Kak Ara pergi periksa kandungan sama kak Awan."
Mendapatkan jawaban yang tidak dia inginkan, membuat Miko merasa kecewa untuk kedua kalinya.
"Masa kak Awan periksa kandungan juga?"
"Ihsss... ini anak gak tahu apa ya! Bukan kak Awan lah. Dia cuma mengantar kak Ara aja."
"Ohhh..."
Mulut Miko membola, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Anggi padanya. Soal periksa kandungan yang dilakukan oleh kakaknya.
"Kamu mau ngapain ke sini?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Anggi, membuat Miko teringat dengan pesan mamanya.
__ADS_1
"Aku diminta mama, untuk bertanya tentang kelulusan sekolah Kamu."
"Kamu lulus kan?" tanya Miko, yang juga penasaran karena ingin tahu.
"Hemmm..."
Gumamam Anggi yang tidak jelas, membuat Miko mengerutkan keningnya. Memikirkan apa kira-kira jawaban yang akan dia dengar dari mulutnya Anggi kali ini.
"Aku... Aku ti... eh Aku lulus kok!"
Mata Miko berbinar seketika. Saat mendengar jawaban Anggi, yang seperti sedang memencet jerawat di wajah.
Gemes banget. Karena Anggi dengan sengaja membuat jawabannya itu lamban.
"Ihhh..."
Miko menarik tangan Anggi, untuk keluar dari dalam rumah. Karena saat ini, mereka berdua masih dalam keadaan berdiri di depan pintu.
"Ehhh... ehhh! apaan sih?"
"Kamu sih! Jawab gitu aja bikin penasaran."
"Hahaha... ya maap!"
Sekarang, mereka berdua berbincang di kursi yang ada di teras depan rumah. Membicarakan tentang rencana mereka berdua, untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya.
"Anggi. Ambilin minum dong!"
"Ambil sendiri ah," sahut Anggi cepat.
"Ihhh, masak tamu di suruh ambil sendiri sih?"
"Siapa tamu?" tanya Anggi dengan bingung.
"Tamu kok tiap hari? Cihhh!"
Anggi justru mencibir jawaban yang diberikan oleh Miko barusan. Dia memang tidak pernah menganggap Miko sebagai tamu di rumahnya ini.
"Hehehe...."
Tapi bukannya marah, Miko justru terkekeh sendiri. Karena memang apa yang dikatakan oleh Anggi memang benar.
Dia setiap hari datang ke rumah sepupunya ini. Meskipun hanya sekedar mampir saja, Du saat dia pulang dari sekolah.
Dan tentu saja, dia tidak bisa dikatakan sebagai seorang tamu. Karena sedari kecil, dia juga sudah akrab dan memang terbiasa berada di rumah ini.
Perdebatan mereka berdua, berakhir pada saat mobil Awan datang.
"Yeee... kak Ara datang!"
"Kak Awan juga," sahut Anggi cepat.
Karena memang bukan hanya Ara saja yang datang. Tapi tentunya bersama dengan Awan juga.
"Hai Miko," sapa Ara, begitu dia turun dari dalam mobil. Dan melihat keberadaan Miko di rumahnya.
"Aku gak di hai?"
Anggi cemberut, karena tidak di sapa. Dan diabaikan begitu saja oleh kakaknya.
"Hahaha... adiknya kakak."
Ara pun jadi tertawa senang, melihat Anggi yang sedang ngambek seperti ini.
__ADS_1
Awan sudah selesai memarkan mobilnya, agar tidak menghalangi jalan mereka. Jika ingin keluar atau masuk ke dalam rumah.
Setelah itu, Awan keluar dari dalam mobil. Dengan membawa dua kotak Pizza yang mereka beli tadi.
"Wahhhh... kak Awan tau aja sih, jika Miko ingin makan pizza." Miko tersenyum senang, melihat dua kotak Pizza tersebut.
Pluk!
Anggi melempar Miko dengan dahan bunga, yang secara kebetulan ada di atas meja.
"Eh!"
Miko kaget dan langsung berdiri. Wajahnya tampak pias. Dia berpikir jika tadi adalah sesuatu...
"Hahaha... Syukurin! Makan aja yang dipikirin. Weekkk..." Anggi benar-benar puas, karena berhasil membuat Miko terkejut dengan apa yang dia lempar tadi.
'Ah, kena lagi Aku dikerjain dia,' batin Miko tersungut-sungut.
"Udah yok! Ini di makan bareng-bareng."
Miko dengan cepat mengalihkan perhatiannya dari Anggi ke Ara. Dia memang sudah menunggu ajakan dari kakak sepupunya itu, untuk bisa ikut menikmati pizza tersebut.
Awan hanya tersenyum saja, melihat kebiasaan adik-adiknya itu. Dengan semua keunikan mereka juga.
*****
Di rumah Abimanyu, yang ada di Bogor.
Saat ini, mereka berdua sedang menikmati makan malam. Dengan menu makanan yang seadanya.
Ada oseng kangkung, tempe goreng, sambel dan juga kerupuk.
Semuanya dari hasil kebun di pekarangan rumah. Terkecuali dengan tempe dan kerupuknya. Karena Anjani, harus membelinya terlebih dahulu. Ke warung yang ada, tak jauh dari rumahnya juga.
"Bun. Kamu gak apa-apa kan, makan setiap hari seperti ini?" tanya Abimanyu, saat Anjani meletakan piring yang berisi nasi di depannya.
"Yah. Ini sudah lebih dari cukup Yah. Apa sih fungsi dan manfaat dari makanan yang kita makan?"
Abimanyu mengengam tangan istrinya itu, di saat piring sudah diletakkan di atas meja.
"Bun. Terima kasih untuk semua cinta yang Bunda berikan untuk Ayah selama ini."
Anjani pun membalas genggaman tangan tersebut, dan tersenyum mendengar perkataan suaminya.
"Bunda juga mengucapkan banyak terima kasih Yah. Untuk kehidupan kita selama ini."
Keduanya sama-sama saling menggenggam tangan, dan meresapi kebahagiaan yang mereka miliki selama ini.
Meskipun dulu mereka hidup di kota, bahkan di luar negeri. Tapi hidup sederhana seperti inilah, yang justru mereka berdua inginkan.
"Bagaimana jika liburan sekolah tahun ini, Anggi ajak ke sini Bun. Dia kan udah lulus sekolah."
"Tapi Yah. Dia kan harus melakukan pendaftaran sekolah dan yang lainnya juga. Tapi, nanti coba kita hubungi ya! Siapa tahu, dia mau juga hidup sederhana seperti ini. Dan sekolah di sini juga."
Anjani pun mengangguk, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh Abimanyu. Dia juga berharap demikian. Karena dia ingin berada di dekat anaknya yang masih kecil itu.
Jika untuk Ara, dia sudah tidak terlalu khawatir. Karena sudah ada Awan sebagai suaminya Ara.
Meskipun mereka berdua mau dan bersedia untuk merawat dan menjaga Ara. Tapi tetap saja, di dalam hatinya Anjani ada sesuatu yang tidak bisa dia katakan.
Mungkin begitu juga dengan Abimanyu. Hanya saja, dia tidak mau mengatakannya juga.
Sama seperti yang dirasakan oleh Anjani.
__ADS_1