Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Awan Lahir


__ADS_3

Dari hari ke hari, Anjani hanya menghabiskan waktunya di rumah. Dia yang sudah kembali sehat seperti sedia kala, ingin kembali berlatih olah raga beladiri dan juga panjang dinding, yang dia sukai. Dia meminta pada suaminya, agar mau memberikan fasilitas alat-alat olahraga panjat dinding, seperti yang dia miliki dulu, begitu juga dengan tempat latihannya


"Boleh ya Mas?" pinta Anjani suatu hari.


"Buat apa sih, cari capek saja," jawab Elang, tanpa menoleh. Dia masih saja fokus pada layar handphone miliknya.


"Biar Aku tidak bosan, karena hanya berdiam diri saja Mas." Anjani, mengatakan alasannya.


"Latihan memasak atau dandan kan bisa," usul Elang untuk kegiatan Anjani sehari-hari.


"Tapi, Aku ingin latihan gerak yang banyak kayak dulu Mas. Kalau Mas tidak mau, biar Aku ambil ke Bogor saja ya Mas. Sayang juga, alat-alat Anjani ngangur dan tidak terpakai lagi di sana."


Elang, meletakan handphone yang dia pegang. Sekarang, dia menatap ke arah Anjani dengan serius. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya diinginkan oleh istrinya itu.


"Hanya itu, atau ada keinginan yang lainnya?" tanya Elang, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Anjani tadi.


"Maksudnya apa Mas?" tanya Anjani bingung, dengan pertanyaan Elang barusan.


"Pergi ke Bogor," tanya Elang, mengulang kembali perkataan Anjani.


"Ambil alat-alat olahraga Anjani. Kalau medianya, nanti Anjani pasang di teras samping. Tapi pesan dulu itu, gak ada yang jual dengan bebas. Alat itu juga harus dengan uji coba terlebih dahulu, sebelum di pasang untuk media latihan."


Anjani, justru menjelaskan tentang apa saja yang diperlukan untuk latihan panjat dindingnya. Dia tidak mengerti, kemana arah pertanyaan yang diajukan oleh suaminya tadi.


"Kamu mau pulang ke Bogor untuk ambil itu saja atau ada maksud lain lagi?" tanya Elang, setelah Anjani selesai berbicara.


Dengan mengerutkan keningnya, Anjani menatap ke arah Elang. Dia tidak percaya, jika itulah yang dimaksud dari pertanyaan yang diajukan oleh suaminya.


Anjani tidak lagi berkata-kata. Dia terdiam dan menghela nafas panjang, kemudian menyandarkan kepalanya di bantalan sofa yang dia duduki.


"Aku akan meminta pada temanku kemarin, untuk bisa menyakinkan mas Elang, agar mau melepaskan diriku dari pernikahan ini." Anjani, bertekad untuk bisa lepas dari Elang Samudra, suami yang menikahinya, saat dia dalam keadaan koma.


*****


Beberapa minggu kemudian, Andhisti melahirkan bayi laki-laki. Ini membuat semua orang merasakan kebahagiaan, tidak hanya Andhisti dan Elang, tapi juga Anjani dan keluarga Elang, mama dan papanya.


Mama Amel dan sumianya, papa Ryan, datang menjemput Anjani, untuk di ajak serta ke rumah sakit, menengguk Andhisti dan anaknya.


"Mama, Papa," sapa Anjani kaget, karena mereka memang tidak memberikan kabar, jika akan datang menjemputnya.

__ADS_1


Anjani, menyalami mama Amel dan memeluknya, begitu juga dengan papa Ryan.


"Apa kabar Jani? Maaf ya, Papa jarang datang berkunjung. Papa mendekati pensiun dari dunia bisnis, malah semakin sibuk saja ini, hehehe..." papa Ryan, terkekeh sendiri dengan perumpamaan yang dia katakan 'pensiun' dari dunia bisnis.


"Jani baik Pa. Tidak apa-apa jika sibuk. Pengusaha sukses seperti Papa, bisa datang ke rumah Jani adalah suatu kehormatan apalagi ini juga menjemput Anjani, jadi seperti Cinderella saja ini Jani," jawab Jani, ikut-ikutan memberikan perumpamaan tentang 'Cinderella' pada dirinya.


Mama Amel, mengeleng mendengar keduanya, saling melempar perumpamaan kata.


"Ini bukan kelas bahasa yang sedang mencari banyak kosa kata dalam perumpamaan ya, ayok buruan kita pergi, Mama ingin segera melihat cucu Mama!" kata mama Amel, mencegah kedua untuk kembali saling beradu kata.


"Hehehe... itu cucunya Papa juga Ma." Papa Ryan, protes pada istrinya, mama Amel.


"Maaf ya Ma, Jani mau ganti baju dulu. Mama kan tidak bilang-bilang kalau mau datang menjemput. Jani sudah ikut di rumah sakit, menunggu mbak Adhis saat melahirkan kemarin."


"Iya gak apa-apa. Kami memang sengaja datang, sekalian ada yang mau di omongin juga," kata mama Amel, memberikan penjelasan pada Anjani, maksud dari kedatangannya ini.


Dengan berjalan menuju ke kamarnya, untuk berganti pakaian, Anjani berpikir tentang apa yang akan dibicarakan oleh mama Amel padanya. "Apa ini tentang keinginanku kemarin?" tanya Anjani, dalam hatinya sendiri.


*****


Beberapa hari kemudian, Andhisti sudah kembali ke rumah. Dia bersama dengan Elang dan satu baby sitter, turun dari mobil.


"Wah, jagoan sudah pulang. Selamat datang di rumah!" kata Anjani, sambil mendekat ke arah Andhisti dan mencium anaknya yang berada dalam gendongan.


"Selamat ya Mbak," ucap Anjani dengan tersenyum pada Andhisti.


"Terima kasih Jani," jawab Andhisti pendek, kemudian berlalu dengan membawa anaknya untuk masuk ke dalam rumah.


Anjani, jadi merasa tidak enak hati, karena tanggapan Adhisti yang datar. "Ah mungkin mbak Adhis sedang capek, dia kan habis melahirkan. Tentu saja dia tidak memikirkan hal lain." Anjani, berusaha untuk berpikir positif pada sikap Andhisti tadi.


Elang, sibuk membantu baby sitter, mengeluarkan kereta bayi, dan barang-barang bawaan dari rumah sakit.


"Ada yang bisa Jani bantu?" tanya Anjani menawarkan diri.


"Tidak Jani. Ini sudah selesai kok," jawab Elang, kemudian menutup bagasi mobil.


"Mbak, ini di bawa di dalam semua ya!" kata Elang, memberitahu pada baby sitter.


"Iya Tuan," jawab baby sitter patuh.

__ADS_1


"Ayok! Kamu mau lihat Awan kan?" tanya Elang pada Anjani. Awan, adalah anaknya dengan Andhisti yang baru lahir dan pulang tadi.


"Iya Mas," jawab Anjani, kemudian melangkah beriringan dengan Elang menuju ke dalam rumah.


Adhisti sudah meletakkan Awan ke box bayi. Dia sendiri sedang membersihkan diri di kamar mandi.


"Wah, lucu ya, mirip siapa ya kira-kira Mas?" tanya Anjani dengan tersenyum penuh kebahagiaan, melihat Awan yang sedang tertidur pulas.


"Tebak, mirip siapa coba?" jawab Elang, balik bertanya.


"Kalau wajahnya lebih ke mbak Adhis, tapi... tidak tahu juga, kan masih bayi. Besok-besok, bisanya akan berubah lagi, hehehe..."


Elang ikut tersenyum, melihat Anjani yang antusias melihat Awan yang tertidur.


"Mas, Aku ingin Mas mau melepas Aku, dan fokus pada mbak Adhis serta Awan. Ini pasti akan membuat Mas Elang tidak lagi kerepotan dan meringankan beban Mas juga."


Tiba-tiba, Anjani mendekat dan berkata demikian. Dia meminta pada Elang, untuk menceraikannya lagi.


Elang, menatap ke arah Anjani dengan intens. Dia mengerutkan keningnya, menyelidik dengan permintaan Anjani ini.


"Kamu kenapa bicara seperti itu lagi. Aku sudah bilang, jangan bahas masalah ini lagi." Elang, menjawab pertanyaan Anjani dengan tegas.


"Tapi Mas, Aku..."


"Sudah, pulanglah! Aku tidak ingin mendengar permintaanmu lagi," kata Elang memotong perkataan Anjani yang belum selesai.


Anjani, diam di tempat. Dia belum sempat selesai bicara, dan Elang sudah memotong, dan malah mengusirnya juga.


Dari balik pintu kamar, Andhisti mendengar semua pembicaraan mereka yang sedang tidak baik-baik saja.


*****


Dua hari kemudian, Elang jatuh sakit dan harus di rawat di rumah sakit.


Adhisti, yang baru saja melahirkan, tentu saja tidak bisa menjaganya, jadi Anjani yang selalu ada di rumah sakit, menuggui Elang.


Ini, justru mendekatkan mereka berdua lagi, membuat Andhisti merasa tidak nyaman.


"Kenapa justru mereka menjadi lebih dekat lagi dengan sakitnya mas Elang?" tanya Adhisti dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2