
Besok adalah jadwalnya Yasmin untuk operasi Caesar. Hari ini, dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk operasi tersebut.
Semalam, saat ada di dalam kamar berdua dengan Wawan, Yasmin mengatakan jika biayanya cukup besar. Tapi Wawan bisa menyanggupi untuk menutup semua biaya tersebut. Yasmin jadi merasa sangat senang karena tidak perlu repot-repot meminta bantuan pada ayah atau ibunya. Apalagi minta bantuan pada kakaknya. Dia merasa jika Wawan sudah bisa diandalkan sebagai seorang suami.
"Benarkah Yang? tidak perlu minta bantuan orang tuaku? ahhh, sekarang Yayang banyak uang ya, bisa bahagiain Aku dan anak kita nanti."
Yasmin begitu bangga dengan suaminya, yang sudah berubah dan tidak lagi menjadi seorang pengangguran. Dia juga tidak perlu repot-repot meminta ini itu pada orang tuanya lagi, karena Wawan sudah bisa memenuhi semua keinginannya. Apalagi kemarin, di saat Wawan pulang tidak membawa motornya lagi, tapi bawa sebuah mobil. Meskipun second dan tidak baru, tapi ini sebuah pencapaian yang luar biasa untuk seorang Wawan.
"Tenang saja Yang. Aku bisa kok kalau cuma untuk biaya operasi Caesar Kamu. Kamu mau operasi di mana? sudah Aku sediakan uangnya. Tinggal ambil di ATM."
Begitulah kata-kata Wawan, yang membuat Yasmin berpikir, jika suaminya itu sudah tidak lagi seperti dulu. Wawan sudah berubah, dan mungkin ini karena dirinya dan juga anak yang masih berada di dalam perutnya saat ini.
"Semoga dia lahir sehat ya. Dan Kamu juga. Ini kan lahiran operasi Caesar, Kamu tidak perlu capek-capek mengejan dan kesakitan juga. Jadi masih awet tuh 'barang' Kamu. Aku bisa 'main' dan tidak akan merasa jika ada perubahan nantinya," kata Wawan dengan menaik turunkan alisnya.
"Ihhh, Yayang genit deh!" seru Yasmin dengan manja.
"Oh ya, besok Yayang bisa kan menemani Aku di dalam ruangan operasi? Aku takut Yang," rengek Yasmin, dengan wajah di buat semelas mungkin.
Wawan menghela nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan dari istrinya itu.
"Bisa kok. Tapi kan Kamu di bius total besok? biar tidak merasakan apa-apa," jawab Wawan pada akhirnya. Tapi ada nada yang sedikit cemas saat Wawan mengatakan 'bisa' menemani Yasmin di dalam ruangan operasi. Sepertinya dia tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
Yasmin langsung memeluk suaminya dengan penuh bahagia. Dia hanya berpikir, jika ingin mendapatkan perhatian dan bermanja-manja pada suaminya, apalagi saat operasi besok.
"Ah... pokoknya Yayang harus ikut di dalam, untuk menemani Aku, ya Sayang ya!"
Yasmin berkata tegas saat berada di dalam pelukan suaminya. Dia tidak mau dibantah untuk keinginannya yang satu itu.
"Iya-iya. Aku akan menemani Kamu di dalam. Aku akan lihat semuanya, dan menjadi papa yang paling berbahagia dengan lahirnya anak kita nanti. Seorang Wawan junior akan segera lahir."
Wawan akhirnya mengatakan semua itu, untuk membuat istrinya merasa senang. Dia tidak mau membuat istrinya kecewa, hanya karena keinginannya tidak dituruti. Wawan juga tidak mau, dianggap pengecut, jika hanya tidak mau menemani Yasmin di ruang operasi besok.
"Terima kasih ya Yang. Aku benar-benar bersyukur, Kamu nyatanya bisa berubah. Huh, kak Sekar akan merasakan lebih iri lagi, jika nanti kita sudah punya anak dan Kamu bisa beli rumah yang lebih besar dari ini," ujar Yasmin berandai-andai, sambil tersenyum miring. Membayangkan bagaimana keadaan Sekar saat itu.
__ADS_1
Wawan hanya mengangguk sambil tersenyum, mendengar perkataan istrinya itu. Dia tidak membantah ataupun mengiyakan permintaan Yasmin juga. Biar waktu yang akan menjawab semua. Untuk saat ini, dia hanya bisa diam dan mengangguk saja.
*****
Sore harinya, Yasmin dan Wawan berangkat ke rumah sakit, ditemani ibu Sofie. Ayah Edi dan Sekar akan menyusul nanti malam, bersama dengan Abimanyu dan Anjani.
Mereka semua akan ikut menunggu juga, di saat Yasmin menjalani operasi Caesar. Ini adalah kelahiran cucu pertama mereka, begitulah juga bagi Sekar. Ini keponakannya yang pertama kali.
Meskipun kehadirannya dulu tidak diharapkan, tapi saat waktunya tiba, anak itu diharapkan bisa menjadi penerang dan bisa membawa kebahagiaan untuk keluarga, terutama bagi Yasmin dan Wawan sendiri.
Malam, di saat Yasmin baru saja masuk ke dalam ruangan operasi, ayah Edi baru saja datang. Sekar datang sore, tapi karena ayah Edi ada urusan mendadak, akhirnya dia baru bisa datang saat waktunya sudah mepet. Sedangkan Anjani dan Abimanyu, datang bersama dengan Sekar sore tadi.
"Apa Yasmin sudah di tangani?" tanya ayah Edi pada ibu Shofie. Dia masih tampak ngos-ngosan, karena berjalan dengan tergesa-gesa.
"Dia baru saja masuk, ditemani Wawan. Sesuai dengan permintaan Yasmin sendiri," jawab ibu Sofie, yang merasa ada sesuatu pada ayah Edi.
"Kamu kenapa Yah?" tanya ibu Sofie, melanjutkan kata-katanya lagi.
"Oh, emhhh... tidak. Tidak apa-apa. Ayah hanya ikut merasakan ketegangan. Kamu tahu sendiri, kalau ada kata operasi ayah akan merasa takut dan juga cemas seperti ini."
Ibu Sofie yang tahu betul bagaimana keadaan suaminya itu jika mendengar kata operasi, hanya mengangguk saja. Dia memaklumi kondisi suaminya itu, karena dulu juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang dialami Yasmin sekarang ini.
Kehamilan ketiga ibu Sofie, saat mengandung Yasmin, sedikit bermasalah. Tali pusar melilit tubuh Yasmin, sehingga dia tidak bisa keluar dengan normal dan harus operasi Caesar juga. Sama seperti yang dialami Yasmin sekarang, saat mengandung. Selain anaknya sungsang, tali pusar juga melilit leher bayi sehingga harus menjalani operasi Caesar juga.
Itulah sebabnya, ayah Edi merasa cemas dan ikut tegang, menunggu Yasmin mengalami hal yang sama seperti waktu dia lahir dulu.
"Tenang Yah. Ini sudah canggih dan tidak lagi sama seperti dulu. Medis dan penanganan kesehatan sudah modern. Yasmin pasti akan cepat sehat dan anaknya juga tidak kenapa-kenapa."
Ibu Sofie, mencoba untuk menenangkan hati suaminya. Dia merasa sangat senang karena ayah Edi terlihat peduli terhadap Yasmin.
Begitulah orang tua. Meskipun banyak kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak, mereka akan tetap berusaha menutupi dan melindunginya, meskipun taruhannya adalah dirinya sendiri.
"Mas. Aku jadi takut jika melahirkan nanti," kata Anjani, sambil memegang tangan suaminya, Abimanyu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kamu harus yakin dan percaya jika semua akan baik-baik saja. Hati dan pikiran kadang mempengaruhi keadaan, jadi tetaplah berpikir positif," jawab Abimanyu sambil tersenyum, dan menepuk-nepuk punggung tangan istrinya. Memberikan semangat dan motivasi yang baik agar Anjani tidak merasa takut mulai dari sekarang.
*****
Setengah jam kemudian, operasi Caesar selesai. Semua sudah dibersihkan dan bayinya Yasmin juga sudah ditaruh di box bayi. Diruang khusus untuk bayi-bayi, yang ada disebelah ruangan bersalin. Sedangkan Yasmin, masih diberikan waktu untuk beristirahat sebentar sebelum dibawa ke ruang pasien pasca melahirkan.
Semua orang ikut berbahagia melihat bayi mungil yang sehat dan dan menangis dengan kencang.
Oek... oek... oek!
"Wah kencang sekali nangisnya," seru Sekar kaget.
"Iya, dia kan cowok. Pasti kencang nangisnya," kata ibu Sofie, membela cucunya yang baru saja lahir.
"Apa bedanya Bu? bukannya yang lebih suka menangis dan cengeng itu cewek?" tanya Sekar heran dengan jawaban ibunya itu.
"Tapi bagaimana pun juga, laki-laki itu lebih kuat dari pada cewek Sekar. Itulah sebabnya, cowok lebih baik jadi pemimpin dibanding dengan cewek yang lebih banyak mengunakan perasaan saja. Ahhh, ibu senang sekali karena cucu pertama ibu ini cowok. Semoga saja, anaknya Anjani juga cowok nanti."
"Ibu, siapa yang bisa merubah takdir? Mau cowok ataupun cewek sama saja. Tidak usah seperti itu," kata ayah Edi, memperingatkan istrinya, agar tidak berkata-kata lagi seperti itu lagi.
"Hemmm..." ibu Sofie hanya bergumam lirih dan tidak jelas.
Di tempatnya duduk, Anjani meringis canggung, mendengar perdebatan ayah dan ibu mertuanya itu.
Abimanyu, hanya menggeleng sambil menepuk-nepuk punggung tangan Anjani, supaya tidak memikirkan apa yang dikatakan oleh ibunya tadi.
"Apapun jenis kelamin anak kita nanti, itu tidak masalah untuk kita. Yang penting, dia lahir dengan selamat dan sehat. Kamu juga tidak perlu banyak pikiran ya Sayang," ujar Abimanyu, dengan melihat ke arah istrinya dengan senyum yang menenangkan.
Anjani akhirnya mengangguk. Dia merasa sangat beruntung bisa mendapatkan suami yang pengertian dan penyabar seperti Abimanyu. Dia tidak mau jika Abimanyu akan berpikir yang tidak-tidak, jika dia terus mengeluhkan tentang sesuatu yang diminta ibu mertuanya, ibu Shofie.
Tak lama dokter yang tadi sudah keluar dari ruang operasi, masuk lagi ke dalam. Dia berjalan dengan tergesa-gesa, karena mendapat panggilan dari perawat yang masih menjaga Yasmin.
Ibu Sofie dan yang lainnya terkejut dengan kedatangan dokter tersebut. Mereka jadi berpikir bahwa telah terjadi sesuatu pada Yasmin yang masih berada di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya ibu Sofie cemas dengan keadaan anaknya.
"Tidak tahu Bu. Kita tunggu saja kabar dari dokter," jawab ayah Edi, yang juga merasakan hal yang sama seperti istrinya.