Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Bualan Saja


__ADS_3

Awan tersipu, saat mendengar perkataan dari omanya, yang mengajaknya untuk makan malam terlebih dahulu, sebelum berangkat ke rumah Ara, menjenguk ayahnya, Abimanyu. Perkataan omanya itu, seakan-akan meledeknya, karena tahu bagaimana keadaan hatinya saat ini.


Tak lama kemudian, Awan berjalan menyusul di belakang omanya, menuju ke arah ruang makan, setelah selesai membereskan buku-bukunya yang ada di meja belajar tadi.


Di ruang makan, tampak opanya, papa Ryan, dan juga ayahnya, Elang, sudah menunggu kedatangan mereka berdua. Awan dan mama Amel.


"Opa pikir, tidak mau makan malam lagi," ujar papa Ryan, menegur cucu satu-satunya itu.


"Opa ini. Jangan di ledek lah cucunya. Bisa-bisa, dia malah ngambek dengan makanannya nanti," sahut mama Amel, mengomentari perkataan dari suaminya itu.


Dengan tersenyum canggung, Awan menggaruk-garuk kepalanya, yang tidak gatal. Setelah itu, dia juga pura-pura merapikan rambutnya lagi.


Di tempat duduknya, Elang hanya melihat dengan datar, bagaimana keadaan anaknya, Awan, yang sedang digoda oleh mama dan papanya sendiri. Oma dan opa nya Awan.


"Sudah. Ayo kita makan dulu, nanti keburu malam. Gak enak kan, kalau bertamu kok malam-malam. Kayak mau ngelamar anak orang saja." Papa Ryan, meminta pada mereka semua, untuk segera memulai makan malam. Dia tidak mau terlalu malam untuk bertamu ke rumah Abimanyu.


Jika bertamu malam, tentu saja tidak etis. Selain bukan waktunya untuk berkunjung sebagai seorang tamu, juga menganggu waktu istirahat tuan rumah.


Apalagi, Abimanyu membutuhkan waktu untuk istirahat yang cukup banyak, karena baru saja mengalami kecelakaan.


Awan kembali tersipu, saat mendengar perkataan dari opanya, papa Ryan, yang seakan-akan tertuju padanya.


"Memang mau ke sana nanti?" tanya Elang, yang tidak tahu, jika ada rencana untuk menjenguk Abimanyu. Dia pikir, besok-besok juga bisa menjenguk.


"Iya Lang. Papa Kamu mau pergi ke Jawa Tengah besok pagi. Kapan lagi nengok?"


Elang, mengangguk-angguk mengerti, dengan apa yang dijelaskan mamanya.


Akhirnya, mereka makan malam bersama, sebelum pergi ke rumah Abimanyu, untuk menjenguk dan melihat keadaannya sekarang ini.


"Tapi Elang tidak bisa ikut Ma," ujar Elang memberitahu.


Mama Amel menghentikan kegiatannya menyendok nasi. Dia beralih pada anaknya, Elang.


"Kenapa? Apa Kamu tidak enak, ketemu dengan Anjani?" Mama Amel bertanya, dengan menebak isi pikiran anaknya itu.

__ADS_1


"Bukan. Mama ada-ada saja. Ini, Elang ada pertemuan secara virtual dengan beberapa kolega, yang ada di Amerika sana. Tidak apa-apa kan, kalau Elang tidak ikut?"


Hembusan nafas panjang, terdengar dari arah mama Amel. Dia sebenarnya keberatan dengan Elang, yang tidak bisa ikut datang bersama untuk menjenguk Abimanyu. Tapi dia juga tidak bisa memaksakan kehendak, kepada anaknya, yang memang ada kepentingan lain. Dan itu juga untuk bisnis keluarga mereka.


"Ya sudah Ma, tidak apa-apa Elang tidak bisa ikut. Nanti sama Papa, dan Awan saja. Elang bisa besok-besok lagi. Lagipula, tadi kan juga sudah jenguk waktu ada di klinik dekat dengan kantor," ujar papa Ryan menengahi.


Mama Amel tampak mengangguk. Dia tidak mungkin membantah ataupun memaksa lagi.


Sedangkan Awan, masih meneruskan acara makannya, tanpa terganggu dengan pembicaraan ayahnya dengan Oma dan juga opa_nya.


******


Di jalan menuju perumahan ayah Edi.


Tampak sebuah mobil pick up, terparkir tak jauh dari gerbang perumahan, yang ada pos penjagaannya.


Di dalam pos penjagaan tersebut, tampak Wawan sedang duduk-duduk bersama dengan penjaga keamanan, sambil meminum kopi dan juga menikmati makanan yang tadi dia bawa.


"Wah, sekarang udah jadi bos ini Mas. Keren banget dong!"


"Hahaha... cuma kecil-kecilan aja kok Pak. Tak jauh dari daerah ini ada pangkalan besar sebagai pusatnya. Sedangkan yang ada di Bintaro dan daerah Depok ada juga cabang. Tapi dikelola oleh anak buah. Saya cuma liat-liat aja kalau ke sana."


Wawan justru semakin membual, tentang keadaan dirinya saat ini. Meskipun sebenarnya, penjaga tersebut, tidak percaya 100% dengan apa yang dikatakan oleh Wawan.


Penjaga perumahan, tentu saja tidak percaya penuh dengan cerita Wawan. Dia tahu, bagaimana sepak terjangnya Wawan selama menjadi menantunya ayah Edi dan ibu Sofie.


Kasusnya Wawan, tidak cuma satu atau dua saja, tapi terlalu banyak!


"Kok malam-malam begini masih bawa-bawa pick up Mas? Kan udah jadi bos, pasti ada mobil yang lebih bagus dong, di banding dengan pick up ini? Apalagi, Saya tahu lho, jika mas Wawan itu seleranya tinggi," ujar penjaga, mencoba untuk memancing Wawan yang kebanyakan gengsi.


"Hahaha... iya ada Pak. Sedang di pangkalan. Tadi, Saya kebetulan lewat dari Depok, terus beli martabak telur ini tadi. Eh, pas di jalan ingat, jika sedang tidak ada orang di pangkalan. Gak mungkin dong Saya habiskan sendiri. Makanya tak bawa ke sini saja."


Penjaga perumahan, tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban dari mantan menantunya ayah Edi ini.


Mulut besar Wawan, sepertinya tidak pernah insaf. Masih saja terus membual, meskipun orang yang sedang diajak bicara, tahu betul, bagaimana keadaannya dulu.

__ADS_1


"Oh iya Pak, bagaimana keadaan ayah Edi? Eh, maksud Saya mantan ayah mertua Saya itu?" tanya Wawan, setelah menyeruput kopi di gelasnya.


"Sehat. Ayah Edi sehat-sehat saja. Bahkan tadi siang, baru saja pulang tuh anggota keluarga ayah Edi yang baru lahir."


Wawan mengeryit heran, mendengar jawaban dari penjaga perumahan.


Dia memang tidak tahu, jika Yasmin, mantan istrinya itu sudah ada di Indonesia, dan baru saja melahirkan anak keduanya, dari suami keduanya juga. Yaitu Aksan.


"Maksudnya, keluarga baru bagaimana?" tanya Wawan cepat. Dia ingin tahu, apa yang dimaksud oleh penjaga keamanan tersebut, dengan anggota keluarga yang baru lahir, di keluarga ayah Edi.


"Lho, Mas Wawan tidak tahu?"


"Tau apa?" Wawan balik bertanya pada penjaga tersebut.


Akhirnya, penjaga keamanan perumahan, menceritakan tentang keadaan Yasmin dan Aksan, yang ada di Taiwan.


Penjaga tersebut bercerita bahwa, Aksan itu sudah ada usaha sendiri di Taiwan sana. Sebuah minimarket, yang kemarin-kemarin ditunggui beberapa pegawai, yang diawasi langsung oleh Yasmin dengan Nanda, jika Nanda pulang sekolah atau libur sekolah.


Tapi karena Yasmin hamil dan butuh istirahat yang cukup, akhirnya Aksan menambah karyawan minimarket miliknya. Apalagi, sekarang di tinggal pulang ke Indonesia, saat Yasmin mendekati waktu melahirkan.


"Katanya, Aksan itu juga seorang kontraktor di Taiwan sana lho Mas Wawan!"


Penjaga perumahan tampak antusias, saat bercerita tentang Aksan dan Yasmin. Apalagi, saat menceritakan tentang pekerjaan Aksan, yang cukup sukses di negara Taiwan.


"Memang tahu dari mana Pak, jika suaminya Yasmin yang sekarang itu sukses kayak gitu?" Aksan sepertinya tidak percaya, dengan apa yang baru saja diceritakan oleh penjaga keamanan padanya.


"Dari beberapa pembantu dan tukang sayur di kompleks perumahan ini. Kan biasa itu, banyak pembantu rumah tangga, yang berbincang-bincang sebentar saat belanja gitu. Nah, pembantu di rumah ayah Edi yang cerita."


Wawan hanya mengangguk saja, kemudian berdiri dan pamit untuk pulang terlebih dahulu, dengan alasan bahwa, masih ada beberapa keperluan di rumah.


"Saya pamit dulu ya Pak. Lupa jika ada perlu penting di rumah. Oh ya, jika ketemu dengan Nanda, beritahu jika Saya sekarang ini sudah jadi Bos. Jika ingin bertemu dengan Saya, pergi saja cari di pangkalan, yang ada di jalan menuju ke arah stasiun. Pangkalan yang paling besar ya Pak!"


Penjaga perumahan tampak mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh Wawan.


Meskipun dia tidak yakin, dengan semua yang sudah dikatakan oleh Wawan tadi. Tapi sepertinya, semuanya itu perlu dibuktikan terlebih dahulu, dengan dia datang sendiri besok pagi, setelah pergantian siff dengan temannya.

__ADS_1


"Aku penasaran dengan apa yang dikatakan oleh mantan napi dan penipu itu. Besok, Aku akan pura-pura jalan lewat sana, biar tahu, apa maksud dari kedatangan dia ke sini malam ini. Juga kebenaran tentang semua bulannya tadi."


__ADS_2