Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tidak Seharusnya Ada


__ADS_3

"Bunda-bunda!"


Ara datang dengan berteriak-teriak, memanggil bundanya. Dia ingin menceritakan tentang gelandangan yang baru saja dia temui, bersama dengan teman-temannya tadi.


"Salam dulu Kakak, kalau masuk ke dalam rumah. Bukan teriak-teriak kayak gini," kata bundanya, Anjani, dari arah dapur.


Ara, masih berlihat ngos-ngosan karena berjalan dengan tergesa-gesa, sambil berteriak dan juga mencari-cari keberadaan bundanya.


"Hehehe... emhhh iya Bunda, maaf. Assalamualaikum..."


Akhirnya, Ara melakukan hal yang biasa dia lakukan jika baru saja datang dari sekolah. Dia mengucapkan salam, kemudian menyalami dan juga mencium tangan bundanya.


Ara juga melakukan hal yang sama pada tantenya Sekar, seperti yang dilakukannya pada bundanya tadi.


Tapi tak lama kemudian, tantenya itu justru segera pamit untuk pulang terlebih dahulu.


"Mbak. Sekar pulang dulu ya, lupa jika belum masak," kata Sekar berpamitan.


Sekar juga dengan cepat mengajak anaknya, Miko, yang baru mau bermain bersama dengan Anggi, adiknya Ara.


"Lho, Kamu kan juga baru datang Tante. Minum dulu lah!" sahut Anjani, memanggil adik iparnya itu sebutan Tante sebagai tanda memangil untuk anak-anaknya.


"Besok-besok lagi saja Mbak Sekar mampir lagi. Nanti keburu sore dan papanya Miko pulang. Maaf ya Mbak, Sekar pulang dulu," pamit Sekar, kemudian berpamitan juga pada keponakannya yang baru saja pulang dari sekolah,Ara, dan juga Anggi yang baru membongkar mainan yang terkumpul di kotak kardus.


"Tante pulang dulu ya Sayang."


Sekar mencium kedua pipi mereka berdua, kemudian segera berjalan keluar rumah. Dia benar-benar pulang, tanpa sempat bercerita apa-apa.


Anjani sedikit heran melihat kepulangan adik iparnya itu, sebab, tadi saat baru saja datang, dia mengatakan jika ingin bercerita tentang seseorang yang baru saja dia lihat. "Siapa yang dia lihat ya? kok langsung pamit pulang, setelah Ara datang," batin Anjani dalam hati.


"Ada apa, kok tadi teriak-teriak. Dapat hadiah atau apa?"


Akhirnya, Anjani bertanya pada anaknya, Ara yang tadi saat baru saja datang berteriak-teriak, dan tidak seperti biasanya. Dia juga ingin tahu, apa alasannya Ara bertingkah seperti tadi.


"Itu Bunda. Emhhh, Ara ketemu gelandangan di depan sana!"


Ara menunjuk ke arah luar rumah, kemudian mulai menceritakan tentang kejadian yang dia alami, bersama dengan teman-temannya yang lain, tadi saat pulang dari sekolah.


"Gelandangan? Sepertinya, jalanan menuju ke perumahan ini, tidak ada gelandangan. Pihak keamanan perumahan, akan langsung mengusir mereka, atau menghubungi satpol PP, agar membawanya mereka pergi dari daerah sini," sahut Anjani dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Gak tahu Bunda. Tapi sepertinya dia galak. Tadi minta uang pada Ara dan temen-temen Ara." Akhirnya Ara menceritakan tentang kejadian tadi, di saat dia dan teman-temannya pulang dari sekolah.


"Wah, kok meresahkan begitu. Apa tidak ada keamanan yang lewat atau ada disekitar tempat itu tadi?" tanya Anjani, yang merasa khawatir dengan keselamatan anak-anak.


"Tidak ada Bunda. Apa mungkin gelandangan itu nyasar, atau belum makan? Makanya, dua nekad malak anak-anak supaya bisa beli makanan," jawab Ara, dengan wajah yang tampak sedang berpikir.


Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban dari anaknya itu. Dia memikirkan hal yang sama seperti itu juga. Tapi jika dibiarkan, akan menjadi kebiasaan gelandangan itu, dan bisa-bisa anak-anak akan merasa ketakutan lewat jalan itu juga.


Ini akan mempengaruhi proses perjalanan pulang dan perginya anak-anak ke sekolah.


Anjani berpikir untuk melaporkan semua ini pada pihak keamanan besok pagi. Dia tidak mau, jika anak-anak perumahan ini akan mengalami hal yang sama besoknya lagi.


Ini akan membuat anak-anak jadi ketakutan dan tidak mau berangkat ke sekolah sendiri, seperti biasanya.


"Ya sudah. Semoga besok tidak ada gelandangan itu lagi di sekitar jalanan ini. Kamu cepat ganti pakaian dan makan ya," kata Anjani, mengingatkan anaknya, Ara.


Ara mengangguk mengiyakan perkataan bundanya. Dia segera berjalan menuju ke arah kamarnya sendiri. Dan tidak lama kemudian, Ara kembali ke luar dari dalam kamar, untuk pergi ke ruang makan.


Bundanya sudah menyiapkan makan siang untuknya.


Anggi, yang tadi sedang bermain-main sendiri, ikut duduk bersama dengan Ara di kursi yang lain. Dia mau ikut makan dengan kakaknya itu.


"Tumben adik mau ikut makan lagi bareng kakak? padahal tadi kan sudah makan," tanya Anjani, pada anaknya yang kedua.


"Pengen saja Bunda. Kan kalau siang, gak pernah makan bareng kakak," sahut Anggi dengan mata berbinar-binar. Dia merasa senang bisa menemani kakaknya itu makan, karena biasanya, dia sudah tertidur siang-siang begini.


Anjani pun tersenyum mendengar jawaban dari anaknya itu.


Sekarang, Anjani melihat kedua anaknya itu makan dengan lahap. Dia merasa senang dengan melihat mereka yang akur.


*****


Malam harinya, Anjani menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh anaknya, Ara pada suaminya, Abimanyu.


"Emhhh... kok Ayah gak lihat ya Bun," kata Abimanyu, dengan wajah bingung.


"Mungkin dia sudah pergi Yah. Kan gak mungkin juga dia ada di situ terus. Tapi Bunda takut, jika besok siang dia akan menghadang anak-anak yang lewat di situ lagi. Ini kan bisa membuat mereka ketakutan Yah," kata Anjani, memikirkan nasib anak-anak jika pulang dari sekolah mereka.


Abimanyu terdiam sejenak. Dia juga merasa khawatir jika gelandangan itu hanya berpura-pura saja, dan ada maksud lain.

__ADS_1


Bisa jadi, gelandangan itu menyamar dan dia adalah kelompok dari para penculik anak.


"Kalau begitu, besok Bunda jemput Ara ke sekolah. Ayah takut, jika Ara kenapa-kenapa Bun. Bisa jadi, gelandangan itu menyamar."


Anjani memicingkan mata, memikirkan perkataan suaminya.


"Maksudnya Ayah menyamar bagaimana?" tanya Anjani ingin tahu apa yang sebenarnya dimaksud dengan menyamar tadi.


"Bisa jadi, gelandangan itu adalah kelompok penculik anak Bun. Kan bisa saja, gelandangan itu hanya melihat situasi di sekitar sini terlebih dahulu. Dan jika keadaan memungkinkan, dia bisa langsung melakukan aksinya."


Anjani justru merasa ketakutan dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya. Dia jadi membelalakkan matanya, mendengar semua penjelasan dari Abimanyu.


"Ayah jangan nakut-nakutin Bunda ah! Nanti kita laporkan ke pihak keamanan saja. Biar mereka segera bertindak juga, mengusir mereka yang tidak biasa ada di sekitar sini," kata Anjani, memberi solusi yang seharusnya.


"Iya itu pasti Bun. Tapi besok Kamu pastikan untuk menjemput Ara."


Anjani mengangguk mengiyakan. Dia sudah memikirkan hal ini, tadi siang. Dia juga tidak mungkin membiarkan Ara dan anak-anak yang lain, pulang sendirian dari sekolah mereka.


"Besok Bunda akan menjemput Ara, dan mamastikan bahwa sudah tidak ada lagi gelandangan itu di sekitar sini."


Abimanyu mengangguk sambil tersenyum, mendengar jawaban dari istrinya itu.


Sekarang mereka berdua bersiap-siap untuk tidur.


"Matiin lampunya dulu Bun," pinta Abimanyu, yang memang tidak terbiasa menggunakan lampu terang saat tidur.


Anjani melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Dia mematikan lampu utama, kemudian menggantinya dengan lampu tidur.


Mereka berdua, tidur dengan posisi saling berpelukan dan akhirnya melakukan apa-apa yang seharusnya.


"Kita bisa kayak buat adik lagi gak buat Anggi?" tanya Abimanyu, sebelum semuanya berlanjut.


"Ayah.Kan sudah ada dua anak kita," jawab Anjani sambil cemberut.


"Hahaha... kan biar rame Bun," kata Abimanyu memberikan alasan.


"Lebih ramai jika anaknya kayak Miko Yah. Hihihi..." sahut Anjani cepat sambil tertawa kecil.


Abimanyu ikut tertawa juga, mengingat bagaimana anak dari adiknya, Sekar, yang selalu ada saja alasan untuk bisa membuat anaknya, Anggi, menangis saat bermain bersama dengannya.

__ADS_1


__ADS_2