
Malam yang sepi dan sunyi, menggambarkan keadaan hati Elang. Semua yang dia dengar dari mulut istrinya, Adhisti Andriani, yang sudah mengakui semua perbuatan yang dilakukannya selama ini, membuat Elang merasa kecewa tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Atas desakan Elang, akhirnya Adhisti mengakui semua perbuatan yang sudah dia rencanakan sedari awal, yang membuat perusahaan Elang terancam bangkrut. Meskipun dia juga membela diri dengan mengatakan, jika dia tidak bermaksud untuk membuatnya hancur. Itu diluar rencananya sendiri.
"Maaf Mas. Aku tidak bermaksud untuk menghancurkan usaha kita. Bukankah kita merintisnya bersama dengan sudah payah dari bawah? Aku tidak mungkin setega itu Mas," kata Adhisti, membela diri dengan mengatakan alasan yang sama sekali tidak dipercaya oleh Elang.
"Lalu, apa yang membuatmu melakukan ini, sedari dulu. Ini bukan hanya karena alasan tentang Anjani lagi kan?" tanya Elang, mendesak Andhisti agar mau terbuka.
"Aku... Aku hanya tidak ingin hidup serba kekurangan lagi Mas. Kamu tahu sendiri jika selama ini Aku hidup di panti asuhan, yang semuanya serba terbatas. Ya, Aku memang salah. Aku memanfaatkan perasaan cintamu untuk kepentingan pribadi yang tidak seharusnya. Aku tidak berpikir, jika semua ini adalah hal yang buruk, apalagi mama dan papa Kamu, tidak menyukaiku sedari awal. Itulah sebabnya, Aku mendukung rencanamu untuk membuka usaha sendiri. Aku rela, ikut berjuang membesarkan nama perusahaan, dengan menjadi modelnya juga, itu karena Aku ingin mendapatkan lebih banyak keuntungan. Seandainya Kamu tidak jadi menikah denganku, Aku tidak masalah, karena sudah memiliki modal. Tapi ternyata, cintamu benar-benar besar untukku. Kamu berjuang mendapatkan restu dari mama dan papa. Aku merasa senang karena itu. Perasaan senang itu ternyata tidak berlangsung lama. Kejadian kemarin, sewaktu kecelakaan itu, kembali membuatku berpikir, jika Aku harus melanjutkan rencana awal yang sudah Aku persiapkan. Apalagi, saat Anjani pergi dan Kamu terlihat sangat kecewa. Aku sadar jika Kamu telah membagi cinta. Aku ingin suatu hari nanti, seandainya kita sampai berpisah, dengan modal yang sudah ada, bisa Aku pakai untuk membuka usaha sendiri setelah berpisah denganmu. Aku tidak berpikir panjang, dengan adanya Awan dalam hidup kita ini. Aku terlalu egois dan ingin memiliki Kamu secara utuh."
Adhisti merasa bersalah dengan semua yang dia lakukan selama ini. Dia menunduk, menunggu suaminya, Elang, mengatakan sesuatu, setelah mendengar semua pengakuannya tadi. Tapi ternyata Elang hanya diam. Dia tidak mengatakan apa-apa.
"Pergilah tidur. Kamu sudah terlalu capek juga mengurus Awan dan semua yang Kamu lakukan selama ini."
Setelah beberapa saat kemudian, Elang justru meminta Adhisti untuk kembali ke kamar dan tidur.
Adhisti, menatap Elang dengan wajah bingung. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia benar-benar merasa bersalah dan juga malu. Selama ini, dia selalu mencurigai Anjani yang ingin menguasai suaminya, tapi dia tidak sadar, jika ambisinya sendirilah yang telah menghancurkan kepercayaan suaminya saat ini. Tapi, dia juga tidak mau membatah lagi dengan perintah Elang. Adhisti, berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke dalam rumah, menuju ke kamar.
__ADS_1
Andhisti juga sedih, memikirkan bagaimana dengan pendapat mama dan papa mertuanya, yang memang sedari awal tidak menyukai hubungan mereka berdua. "Apakah mama dan papa akan meminta Mas Elang untuk menceraikan diriku? jika iya, Aku benar-benar rugi. Semua sudah ketahuan. Aku pasti tidak akan mendapatkan apapun dari semua ini, dan Awan, mereka pasti akan merebutnya dariku. Bagaimana nasibku kedepannya nanti?" tanya Adhisti dalam hati, saat dia sudah ada di dalam kamar.
Dia tidak bisa tertidur dengan cepat, meskipun badannya terasa lemas, memikirkan bagaimana esok hari yang akan dia lalui.
*****
Elang, dibantu oleh pengacara, mengurus semua dana yang sudah keluar dari perusahaan dan masuk ke dalam rekening bank tanpa kejelasan yang pasti.
Dia membekukan dana dan beberapa aset yang sudah dikuasai Adhisti. Begitu juga dengan sertifikat rumah dan dua mobil yang ada. Perhiasan dan emas yang ditabung Andhisti di bank, juga sudah diambil alih oleh Elang.
"Mas, kita masih bisa memperbaiki semua ini kan?" tanya Adhisti suatu hari, saat Elang baru mau berangkat ke kantor.
"Bisa. Jika Kamu benar-benar menyesali semua perbuatan yang sudah Kamu lakukan selama ini," jawab Elang, dengan merapikan dasinya sendiri.
"Aku benar-benar kecewa Dhis. Kamu memanfaatkan cintaku padamu. Kamu melukai perasaan hatiku. Aku sungguh kecewa, tapi jika Kamu benar-benar menyesalinya, Aku akan usahakan untuk tetap mempertahankan dirimu, demi Awan. Karena sesungguhnya, Aku tulus mencintaimu. Tapi karena kejadian ini, tentu saja Aku tidak lagi seperti dulu. Ada banyak hal yang tentunya tidak akan sama lagi."
Adhisti sadar, jika apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar. Dia masih beruntung, karena tidak diusir dari rumah ini. Dia juga tidak dilaporkan ke pihak kepolisian dan namanya tetap bersih sebagai istrinya Elang. Bahkan Elang juga tidak ada rencana untuk menceraikan dirinya. Dia hanya tidak tidur di rumah jika malam hari. Dia akan pergi ke rumah depan, dan tidur di sana. Di rumah Anjani.
__ADS_1
"Terima kasih Mas. Aku akan buktikan, jika Aku juga memiliki cinta yang sama besarnya denganmu. Mungkin, kemarin itu hanya keserakahan dan ambisi, untuk bisa memberikan bukti pada mama dan papa, jika Aku juga layak untuk menjadi menantu mereka."
Elang menyipitkan matanya, mendengar perkataan istrinya itu. Dia menggeleng sambil tersenyum miring, karena alasan istrinya yang terdengar tidak masuk akal.
"Sudahlah. Kamu fokus saja membesarkan Awan. Aku fokus kerja dan mengembangkannya lagi. Tidak usah berpikir yang lain." Elang, meminta Adhisti agar tidak lagi berpikir macam-macam.
"Aku berangkat dulu," pamit Elang pada Adhisti.
Sekarang, mereka berdua hidup seperti orang asing. Meskipun dari luar terlihat baik-baik saja, tapi tidak secara hubungan mereka sebagai sepasang suami istri setelah semuanya terjadi.
Setiap harinya, mereka berdua hanya bertegur sapa seadanya, tidak ada lagi kata-kata mesra, perlakuan manis layaknya suami-istri seperti dulu. Ini ibarat sebuah kerjasama untuk membesarkan Awan saja, hanya itu, meskipun status mereka sebagai sepasang suami istri tetap tercantum resmi.
Adhisti menghela nafas panjang. Dia sekarang bisa merasakan, bagaimana perasaan Anjani beberapa bulan kemarin. Menjadi istri tapi tidak berperan sebagaimana seharusnya.
"Maaf Jani. Aku benar-benar kecewa pada diriku sendiri. Aku ingin, semua kembali seperti dulu lagi. Apa itu mungkin?" tanya Adhisti dalam hatinya sendiri.
Di lain pihak, hati Elang merasa hampa. Meskipun dia yakin jika cintanya pada Andhisti masih ada, tapi kecewa yang dia rasakan lebih besar lagi. "Apa Aku bisa, mencintai dia lagi seperti dulu?" tanya Elang ragu. Dia mencoba untuk meraba perasannya sendiri.
__ADS_1